891 Titik Panas di Sumsel, OKI Jadi Episentrum Karhutla
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 1 menit yang lalu
- visibility 4
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : ist
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) menjadi wilayah dengan konsentrasi titik panas tertinggi di Sumatera Selatan (Sumsel) di tengah upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Data Sistem Pemantauan Karhutla (Sipongi) Kementerian Kehutanan per 14 Oktober 2026 mencatat, dari total 891 titik panas di Sumsel, sebanyak 625 titik berada di OKI.
Angka tersebut menempatkan OKI sebagai wilayah yang paling menonjol dalam sebaran hotspot di Sumsel. Kondisi ini menjadi tantangan bagi pemerintah dan tim penanggulangan karhutla, terutama dalam menangani kebakaran di lahan gambut yang berpotensi menyisakan bara api di bawah permukaan tanah.
Di tengah situasi tersebut, Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menkopolhukam) RI, Dudung Abdurachman, menegaskan penanganan karhutla tidak boleh dilakukan setengah-setengah. Respons cepat, tindakan tegas, dan penanganan yang tepat menjadi kunci untuk menekan dampak kebakaran. Hal itu disampaikan Dudung dalam rapat koordinasi penanganan karhutla di Griya Agung, Palembang, Rabu (14/10/2026).
Ia juga mengingatkan pentingnya keterbukaan informasi mengenai upaya petugas di lapangan agar masyarakat mengetahui langkah yang dilakukan pemerintah dalam menghadapi karhutla. “Kerja keras seluruh personel perlu diketahui masyarakat sebagai bentuk komitmen pemerintah dalam menangani karhutla,” tegas Dudung.
Tak hanya mengandalkan pengerahan personel, katanya, pemerintah juga menyiapkan langkah penindakan terhadap perusahaan yang terbukti melakukan pembakaran lahan. Dudung menegaskan, sanksi tegas akan diberikan untuk menimbulkan efek jera sekaligus mencegah kejadian serupa kembali terulang.
Selain penegakan hukum, lanjut menteri, penanganan dampak karhutla turut menjadi perhatian. Dudung menyampaikan rencana meninjau sekaligus meluncurkan teknologi dry ice yang diharapkan membantu mengatasi kabut asap akibat kebakaran. Langkah tersebut menjadi salah satu upaya yang disiapkan di tengah dampak karhutla yang dirasakan sejumlah wilayah di Sumatera Selatan.
Sementara itu, Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru menjelaskan, tantangan penanganan kebakaran tidak hanya terletak pada api yang terlihat di permukaan. Kebakaran di lahan gambut membutuhkan pemantauan berkelanjutan karena asap dan bara api masih dapat bertahan di bawah permukaan tanah. Kondisi tersebut membuat proses deteksi dan pemadaman harus dilakukan secara cermat agar titik kebakaran tidak luput dari pemantauan.
Berdasarkan data Sipongi per 14 Oktober 2026, sebaran titik panas di Sumsel terdiri atas 625 titik di OKI, 126 titik di Banyuasin, 53 titik di Musi Banyuasin, 47 titik di Muara Enim, serta masing-masing 15 titik di Ogan Ilir dan OKU Timur. Untuk menghadapi situasi tersebut, ungkapnya Pemerintah Provinsi Sumsel mengerahkan 12.710 personel yang berasal dari Satgas BPBD provinsi dan kabupaten/kota serta berbagai unsur terkait.
Upaya lain dilakukan, tambahnya melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Herman Deru juga menyebutkan, hingga 13 Oktober 2026, operasi tersebut telah mencapai 75 sorti dengan total bahan semai natrium klorida (NaCl) sebanyak 70.400 kilogram.
Berbagai langkah tersebut ditempuh untuk mendukung penanganan karhutla, mulai dari pemantauan titik panas, penanggulangan kebakaran di lahan gambut, hingga upaya mengurangi dampak asap. Besarnya jumlah titik panas di OKI menjadi salah satu tantangan utama yang perlu ditangani secara berkelanjutan. Pemerintah pun menekankan pentingnya koordinasi lintas unsur, respons cepat di lapangan, serta penegakan hukum terhadap pihak yang terbukti melakukan pembakaran lahan. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
