Rabu, 26 Agu 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Seni & Budaya » Gitar Tunggal Sahilin pun Terbelenggu Pandemi

Gitar Tunggal Sahilin pun Terbelenggu Pandemi

  • account_circle Nasir Nasir
  • calendar_month Selasa, 25 Mei 2021
  • visibility 4.501
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

PANDEMI terasa membenamkan petikan gitar tunggal irang batanghari Sahilin. Yang biasanya nyaring kini menjadi seakan sedikit fals. Gulana terbelenggu protokol kesehatan membuatnya menjadi demikian.

Sosok Sahilin bagi masyarakat Sumatera Selatan demikian melekat. Teristimewa bila bicara soal kesenian Batanghari Sembilan yang menjadi ciri khas daerah ini. Namun, pandemi telah mengobrak-abrik semua harapannya. Di awal pandemi, bahkan pernah gagal tampil daerah.

Jangankan dibayar, karen tak jadi tampil, untuk pulang pun tak diantar oleh yang punya hajat. Sahilin pun, seakan sudah lupa kapan terakhir dia manggung. Karena, sedih dirasanya kalau mengingat nikmatnya naik panggung sudah lama tak dirasakannya lagi.

Sekalipun untuk menuju ke rumahnya harus melalui lorong sempit di atas rawa-rawa di kawasan 35 Ilir Palembang, mencari Sahilin tidaklah sulit. Mulai dari jalan raya di depan Pelabuhan 35 Ilir Palembang, nama pria eksentrik ini sudah dikenal. H

anya saja, karena banyaknya gang kecil dan persimpangan, menanyakan anak kedua dari sembilan bersaudara ini tidaklah cukup bila sekali, terutama bagi yang baru pertama kali datang ke sini.

Di rumah panggung yang sederhana di sebuah gang sempit, Sahilin hidup bersahaja bersama istrinya, Semah dan tiga anaknya —Saidina, Sulaiman, Syarwani— serta seorang menantu. Demikian sederhananya kediaman berukuran 5×8 meter di atas rawa itu, karena hampir tanpa penyekat, kecuali dinding pemisah ruang depan, ruang tidur, dan dapur.

Rumah ini konon dibeli Sahilin dari hasil rekaman lagu-lagu daerah yang dilantunkannya itu
Terlebih saat pandemi melanda, laki-laki tuna netra ini memang lebih banyak di rumah. Kesehariannya, kini banyak memandang gitarnya yang tergantung di dinding. Mau dipetik, kalau bukan untuk diperdengarkan bagi orang lain, tentu terasa berat.

Di antara banyaknya seniman pelantun Batanghari Sembilan, nama Sahilin tetaplah menjadi maskot.
Ketekunannya menggeluti kesenian tradisional ini membuat simpati banyak kalangan, termasuk akademi dan lembaga dari dalam maupun luar negeri seperti Philip Yampolsky dari Ford Foundations, yang pernah melakukan penelitian tahun 1992.

”Rasanya senang dan bangga didatangi orang-orang besar seperti itu. Saya tidak menyangka jika keberadaan saya di kesenian tradisional ini menjadi perhatian mereka,” kata Sahilin kepada penulis yang mengunjungi kediamannya di Lorong Kedukan Bukit, 35 Ilir Palembang, belum lama ini.

Asal-Usul

Selama ini memang belum jelas betul dari mana asal-usul nama kesenian ini sampai dinamakan kesenian Batanghari Sembilan. Yang jelas, penamaan itu tidak lepas dari keberadaan daerah ini sebagai daerah Batanghari Sembilan (sembilan sungai yang semuanya bermuara ke Sungai Musi). Namun menurut Sahilin, istilah ini pertama kali diperkenalkan (alm) Djaafar Malik, seorang seniman asal Lahat.

Kesenian Batanghari Sembilan berisikan pantun-pantun kehidupan sehari-hari, mulai dari masalah cinta, derita dan nasib kehidupan, pengalaman pribadi, sampai fenomena yang terjadi di masyarakat. Biasanya pantun dibawakan dengan iringan petikan gitar tunggal, lantunan jenaka, sampai lantunan mendayu-dayu penuh ratapan. Ciri khas Sahilin lainnya di setiap penampilannya adalah kaca mata hitam untuk menutup matanya yang buta.

Sejak berusia lima tahun, pria kelahiran 1948 Dusun Benawe, Kecamatan Tanjung Lubuk, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) ini, mengalami kebutaan akibat penyakit cacar yang diidapnya. Ketika ayahnya, Muhammad Saleh, wafat, pria yang buta huruf (baik latin maupun braile) ini dibesarkan oleh Demah, ibunya. Pedih dan pahitnya kehidupan yang dialaminya tertuang dalam lagunya Sukat Malang.

Sahilin juga piawai membawakan pantun atau syairnya yang lucu tentang keseharian muda-mudi atau orang yang sedang jatuh cinta, seperti lagu Buruk Tegantung yang populer lima tahun belakangan ini. Bahkan ungkapan buruk tegantung yang menyindir lelaki terlambat kawin alias bujang lapuk (bujang tua) ini, telah menjadi bahasa gaul yang sangat populer di daerah ini.

Syair-syair lagunya semua hasil karyanya. Umumnya syairnya cukup panjang. Lagu Sukat Malang, misalnya, terdiri dari 10 bait. Bahkan ada juga syairnya yang mencapai 20-30 bait.

Petani Karet
Bakat seni Sahilin didapat dari ayahnya, Muhammad Saleh, seorang petani karet yang pernah menjadi tentara musik untuk Jepang. Pemberian gitar ayahnya menjadi kenangan yang tidak terlupakan karena dari sinilah dia mulai tertarik menembang. Sejak itulah, saat orang tuanya pergi ke kebun menyadap getah karet, dia menghibur diri dengan bermain gitar.

”Sejak bisa main gitar itulah saya bisa nembang lagu. Terkadang ayah saya main gitar dan saya yang bernyanyi,” kata anak kedua dari sembilan bersaudara ini, mengenang. Dalam setiap pementasan, dan sejak dikenal luas sebagai pelantun lagu-lagu daerah tahun 1974, dia hampir selalu didampingi pedendang perempuan. Dari sekian banyak rekan duetnya, yang paling lama adalah Siti Rohmah yang menemaninya sejak 1972 sampai sekarang. Nama lainnya antara lain Robama, Layani, Zainab, Solbani, Ridaw, Chadijah, dan Cik Misah.

Petikan gitarnya yang monoton namun jernih dan unik, membuat banyak penonton terkesima. Walapun masih berada di pinggiran, belakangan Kesenian Batanghari Sembilan berhasil mencuri simpati kalangan anak muda. Mereka tidak lagi menempatkan seni ini sebagai jenis seni kampungan.

“Walaupun aransemen dan syairnya sederhana, justru itulah daya tariknya. Di tengah maraknya berbagai kesenian instan saat ini, kesenian daerah ini masih menarik,” ujar Andi Liso, seorang musisi muda di Palembang.

“Saya terinspirasi dari Sahilin yang menjadi maestro,” tambah Randi Putra Ramadan, seorang pemusik milenial yang basicnya pemain Dulmuluk, namun kemudian menguasai petikan irama batanghari sembilan.
Sama seperti seniman lainnya, Sahilin memang terdampak. Ruang dan peluang berkarya melalui daring atau dunia maya, juga tak dipahaminya. Mentas di panggung semakin menjauh, semoga Covid 19 pun tak menghampiri.[***]

[muhamad nasir]

  • Penulis: Nasir Nasir

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Polri Dirikan Gerai Vaksin Presisi di Polres-Polsek, Gratis dan Tanpa Syarat KTP Domisili, Cara Cepat Tekan Covid

    Polri Dirikan Gerai Vaksin Presisi di Polres-Polsek, Gratis dan Tanpa Syarat KTP Domisili, Cara Cepat Tekan Covid

    • calendar_month Senin, 28 Jun 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 904
    • 0Komentar

    KAPOLRI Jenderal Listyo Sigit Prabowo telah menginstruksikan kepada seluruh jajaran di Polda, Polres dan Polsek untuk membuka gerai vaksin Presisi guna memfasilitasi masyarakat yang belum disuntik vaksin Covid-19 atau virus corona. “Polri mendirikan gerai vaksin Presisi seluruh Polda, Polres, Polsek di Indonesia. Gerai vaksin Presisi akan melayani masyarakat yang belum vaksin,” kata Sigit dalam keterangan […]

  • Update Sementara Jumlah Korban Tsunami Selat Sunda

    Update Sementara Jumlah Korban Tsunami Selat Sunda

    • calendar_month Minggu, 23 Des 2018
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 972
    • 0Komentar

    Jakarta – Dampak tsunami yang menerjang wilayah pantai di Selat Sunda, terutama di daerah Pandeglang, Lampung Selatan dan Serang terus bertambah. Hingga pukul 07.00 WIB, Minggu (23/12/2018). Berikut kami sampaikan update data pada minggu pkl 15.00 WIB Korban selamat : *157* orang (termasuk korban luka berat) (PLN dan Keluarga) Korban meninggal : *29* orang (PLN […]

  • Peningkatan Ekonomi Keluarga, TP PKK Muba Gelar Pelatihan Pengembangan Kreativitas melalui Potensi Sumber daya yang Dimiliki

    Peningkatan Ekonomi Keluarga, TP PKK Muba Gelar Pelatihan Pengembangan Kreativitas melalui Potensi Sumber daya yang Dimiliki

    • calendar_month Sabtu, 29 Jun 2024
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.098
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, -Tim Penggerak PKK Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) menggelar Pelatihan Pengembangan Kreativitas dalam Pengelolaan Ekonomi Keluarga Melalui Potensi Sumber daya yang Dimiliki guna memanfaatkan secara maksimal potensi sumber daya yang ada. Sumber daya dikelola,  optimalkan sebagai upaya dalam pengembangan kreativitas keluarga. Acara  dibuka  Pj Ketua TP PKK Kabupaten Muba Hj Triana Sandi Fahlepi diwakili Sekretaris […]

  • Sejak Zaman Nenek Moyang, Alex :  Sumsel-China Sudah Jalin Hubungan Bisnis

    Sejak Zaman Nenek Moyang, Alex :  Sumsel-China Sudah Jalin Hubungan Bisnis

    • calendar_month Jumat, 27 Apr 2018
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.528
    • 0Komentar

    “Dari dulu kita sudah bisnis sekarang tinggal melanjutkan lagi. Kerajaan Sriwijaya inikan luas, perdagangan globalnya luar biasa,”

  • 2019, Jalan Provinsi Nyaman dan Layak

    2019, Jalan Provinsi Nyaman dan Layak

    • calendar_month Sabtu, 27 Okt 2018
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 826
    • 0Komentar

    SUMSELTERKINI.CO.ID,PALEMBANG – Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) Herman Deru menyatakan seluruh jalan provinsi di Sumatera Selatan 2019 nyaman dan layak. Pernyataan tersebut diungkapkannya saat memberikan kata sambutandi Griya Agung Sabtu (27/10/2018), usai mendampingi Menteri Perhubungan Republik Indonesia Budi Karya Sumadi melakukan kunker ke Sumsel. “Saya mendampingin Pak Menteri sejak pagi karena beliau sayang dengan kita, manfaat […]

  • Tahun Depan, Muba Kembali Gelar Asia  Supermoto, Motokhana dan Reli

    Tahun Depan, Muba Kembali Gelar Asia  Supermoto, Motokhana dan Reli

    • calendar_month Minggu, 1 Nov 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 772
    • 0Komentar

    TIGA event motorsport yakni Asia Supermoto, Motorkhana (pengganti Auto Gymkhana) dan Reli akan digelar di Musi Banyuasin (Muba), Sumatera Selatan pada 2021. Hal itu disampaikan Riduan Tumenggung, Staf khusus Bupati Muba, setelah berkoordinasi para advisor di Bandung Selasa, (27/10/2020) dan Jakarta, Jumat (30/10/2020) kemarin. “Sesuai dengan arahan Bupati Muba Pak Dodi Reza Alex dan koordinasi […]

expand_less
WordPress Archive Meddaz – SaaS Medical Elementor Template Kit MedGlow – Healthcare & Medical WordPress Theme Medi – Medical Clinic WordPress Theme Medi Plus – Health Care WordPress Theme Media Boxes Portfolio – jQuery Grid Gallery Plugin Media Boxes Portfolio – WordPress Grid Gallery Plugin Media Center – Electronic eCommerce HTML Template Media Consult – Business WordPress Theme Media Grid | Overlay Manager Add-on Media Grid – WordPress Responsive Portfolio