Religi

Herman Deru: Saya Tidak Mau Jadi Gubernur ‘Ketoprak’

Foto : Humas Pemprov Sumsel

Sumselterkini.co.id, Muaraenim – Gubernur Sumsel Herman Deru terus memantapkan komitmennya menjadi kepala daerah yang tak berjarak dengan warga. Tak mengherankan sejak dilantik 1 Oktober 2018 ia terus melakukan kunker berkeliling daerah menyerap langsung aspirasi masyarakat.

Hari Rabu siang (3/4/2019) misalnya, ia melakukan Kunker ke Desa Karang Mulia Kecamatan Lubai Ulu Kabupaten Muaraenim. Selain bersilaturahmi dengan warga setempat, kedatangannya ke desa ini juga sekaligus menghadiri peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW 1440 Hijriah yang digelar di halaman Yayasan Pendidikan Islam Abdul Rahman.

“Saya ini memang suka blusukan ke daerah-daerah. Bukan sekarang saja, dulu zaman menjadi Bupati OKU Timur juga begitu. Makanya sekarang sudah jadi Gubernur saya tetap suka keliling bertemu maayarakat. Kadang ada rasa rindu, kangen. Obatnya gak ada cuma ketemu,” jelasnya.

Menurut Herman Deru sejak menjabat Bupati dirinya memang ingin membuka benteng hubungan antara pejabat dan masyarakat.

“Gak akan ada gubernur kalau tidak ada rakyat. Gubernur tidak ada rakyat sama dengan gubernur ketoprak. Saya gak mau jadi gubernur ketoprak,” ucapnya.

Dilanjutkan HD, kebiasaannya bersilaturahmi  dengan masyarakat pun baru-baru ini menjadi penilaian tersendiri dari Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat di Solo. Sampai-sampai ia diundang khusus ke Keraton untuk kedua kalinya untuk diberikan gelar Kanjeng Raden Aryo Tumenggung Herman Deru Notonegoro.

“Di Indonesia ini ada 34 gubernur tapi kenapa  saya saja yang dilantik. Rupanya karena kedekatan saya dengan masyarakat Jawa di sini. Saya juga ngerti dan bisa bahasa Jawa. Nah ini yang mau saya terapkan bahwa tidak akan ada pengkotakan di Sumsel karena kita ini Indonesia. Suku boleh banyak dan beda,” jelasnya.

Menurutnya silaturahmi tak hanya mendatangkan kebahagiaan tapi juga memanjangkan umur. Oleh karena itu sesuai ajaran agama Islam ia menghimbau masyarakat untuk selalu menjaga kerukunan yang sudah ada. Meskipun diakuinya dalam prakteknya di lapangan banyak juga aliran yang berbeda.

“Peringati Isra Mi’raj adalah momen saat rasul mendapatkan perintah untuk shalat 50 waktu. Rasul yang sangat memahami umatnya berunding dengan Malaikat Jibril sehingga shalat akhirnya diwajibkan 5 waktu sehari. Soal shalat juga banyak yang berbeda, tapi menurut saya semua baik. Yang berdosa itu yang nggak shalat. Makanya ayo kita benerin sama-sama,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Gubernur Sumsel juga memberikan bantuan membangun 3 ruang kelas kantor dan toilet.

“Nanti dari PU akan datang kesini menentukan titik untuk perencanaan selanjutnya. Semoga ini bermanfaat bagi Yayasan Pendidikan Islam Abdul Rahman,” ucapnya.

Sementara itu Ketua Yayasan Pendidikan Islam Abdul Rahman, H.Iskandar mengaku sangat gembira sekali karen Gubernur Sumsel Herman Deru mau datang jauh-jauh ke desanya. Karena sejak didirikan tahun 2001 silam baru sekali ini Gubernu datang ke sekolah yang didirikannya tersebut.

Hingga saat ini dikatakannya tak kurang ada 385 murid yang bersekolah. Sementara jumlah tenaga pendidik sebanyak 34 orang. Mereka ini terdiri dari siswa Paud sampai Madrasah Aliyah setingkat SMA sederajat.

“Selama ini kami tidak memungut bayaran ke siswa semua operasional berjalan atas kemampuan yayasan. Kami butuh perhatian pemerintah untuk membangun WC serta guri honor di yayasan. Untuk bapak ketahui di yayasan ini juga ada 15 orang anak yatim. Kami juga minta bantu perbaikan kebun karet karena sekarang sudah tidak layak lagi untuk produksi,” tutupnya.[**]

 

Penulis : one

 

 

Comments

Terpopuler

To Top
WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com