Sabtu, 19 Sep 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Pojok Fisip UIN Raden Fatah » Belajar Kebahagiaan Kolektif dari Orang-orang di Negara Nordik  

Belajar Kebahagiaan Kolektif dari Orang-orang di Negara Nordik  

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Minggu, 27 Jun 2021
  • visibility 2.286
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

BEBERAPA hari yang lalu, saat sedang makan siang di kampus, saya berseloroh kepada seorang teman “Bener, orang yang punya uang belum tentu bahagia, apalagi gak punya” saya bilang. Saya tidak menduga selorohan barusan akan ditanggapi dengan protes sangat serius oleh teman saya. Ntah ia sedang tidak bahagia karena kesulitan finansial akibat pandemi atau jangan-jangan ia tersinggung karena saya berhasil menebak situasinya saat itu. Begitu suudzan saya. Yang jelas, ia protes keras.

Kemudian, begini ia menceramahi saya. “Apa gunanya punya uang jika tak bahagia. Koruptor-koruptor juga kaya, tapi gak bahagia. Jika kekayaan dan kekuasaan menjamin kebahagiaan, Hitler gak akan bunuh diri. Mafia-mafia Italia dalam film The God Father juga kaya raya, tapi hidup mereka gak pernah tenang. Malah, tetangga saya hidupnya pas-pasan, tapi tampaknya bahagia”.

Merasa belum cukup bukti, ia membuka google dan memperlihatkan pada saya suatu artikel dengan judul “Mengenaskan? 6 Miliarder ini Bunuh Diri Meski Punya Banyak Harta”.

Saya balas, “Ya itu segelintir. Hidupku bahagia setiap baru gajian, tetapi akhir bulan kepala selalu pusing. Bukti yang lain, banyak keluarga muda yang berantem bahkan cerai karena masalah finansial. Kalau masih gak percaya, tanya aja sama orang yang di PHK karna pandemi, bahagia mana dulu dan sekarang?”

 Untuk memperkuat pendapat, saya juga membuka google dan memperlihatkan satu artikel berjudul“Menurut Penelitian, Harta Memang Bisa Membeli Kebahagiaan”.

Dibalik perdebatan yang tampaknya alot, saya tidak benar-benar menanggapi perdebatan ini dengan serius. Karena saya paham betul kami menggunakan indikator berbeda dalam memandang kebahagiaan personal. Saya menggunakan indikator materi dan teman saya (mungkin) menggunakan indikator emosi dan spiritual.

Ingat ya, bukan benar salah. Cuma beda indikator. Itu sangat lumrah dalam diskusi ilmu sosial.

Eh tunggu dulu, jangan segera menghakimi saya sebagai orang yang materialistis. Dalam tulisan ini, saya tidak akan mengulas urusan kebahagiaan personal. Karena kebahagiaan personal punya standar objektivitas yang sebenarnya bersumber dari subjektivitas dan pengalaman masing-masing. Jadi, gak akan ketemu. Saya juga tidak akan ikut campur. Nah, dalam artikel ini saya ingin mengulas tentang kebahagiaan kolektif dan kaitannya dengan materi, kebebasan serta performa negara.

The World Happines Report, membuat indikator-indikator untuk mengukur tingkat kebahagian orang-orang di seluruh negara. Indikator-indikator tersebut: level GDP, harapan hidup, jaminan sosial, dukungan sosial, kebebasan, dan korupsi.

Menurut Laporan The World Happiness Report, sejak tahun 2013 hingga 2021, lima negara Skandinavia (Nordik) -Finlandia, Denmark, Norwegia, Swedia dan Islandia- selalu menempati 10 besar negara dengan penduduk paling bahagia di dunia. Bahkan, tahun 2017, 2018, 2019, tiga teratas selalu diisi oleh negara-negar Nordik. Mengapa warga negara Nordik begitu bahagia dengan hidup mereka?

Singkatnya, faktor-faktor kebahagian kolektif mereka antara lain: jaminan sosial yang kuat, performa negara yang baik (rendahnya korupsi, demokrasi dan institusi pemerintah berjalan dengan baik); kebebasan membuat pilihan dalam hidup, dan kohesi sosial yang kuat.

Pertama, jaminan sosial. Orang-orang Nordik mendapat jaminan sosial terbaik di dunia sebagai hasil dari manajemen tata kelola pajak yang baik. Warga Swedia, Norwegia, Denmark dan Finlandia yang memiliki pendapatan tertinggi membayar pajak hingga 55% dari total penghasilannya (money.kompas.com). Di Indonesia? Maukah konglomerat bayar pajak segitu besar? Belum tentu. Tapi, wajar kalau mereka ogah kalau ujung-ujungnya lari ke kantong Gayus Tambunan.

Di Nordik, pajak dikelola untuk memberikan “welfare benefits” kepada warganya. Maka, jangan bayangkan mereka merasakan kekhawatiran kita yang sering berceloteh “dulu, banyak anak banyak rezeki. Sekarang banyak anak setengah mati”.

Orang-orang Nordik tidak pernah khawatir tentang biaya saat mereka akan memiliki anak. Negara menanggung biaya kelahiran, jaminan gizi baik, kesehatan, pendidikan hingga perguruan tinggi. Bahkan, pengangguran (yang sedang mencari pekerjaan) ditanggung negara hingga mereka bekerja.

Mereka juga tidak perlu pusing tentang pekerjaan. Contohnya, seorang anak muda berumur 30 Tahun di Norwegia memiliki penghasilan siap pakai rata-rata sebesar 814 Milyar Rupiah per tahun (bbc.com). Orang-orang Nordik tidak mengenal cicilan rumah, cicilan mobil atau situasi hati saat “akhir bulan”. Setengah dari total penghasilan bulanan anak muda di Nordik sudah cukup untuk memenuhi biaya bulanan.

Kedua, kebahagiaan kolektif mereka juga terkait dengan performa pemerintah. World Happines Report mengukur performa pemerintah melalui dua dimensi, yaitu kulitas demokrasi dan kualitas menjalankan negara.

Dimensi pertama terkait dengan akses kepada kekuasan seperti peluang warga untuk masuk ke dalam kekuasaan yang adil dan terbuka, pemilihan umum yang fair, tingginya kebebasan berekspresi dan berpendapat, serta stabilitas politik. Kemudian, dimensi kedua terkait dengan pelaksanaan kekuasaan seperti efektivitas pemerintah, kuatnya pengendalian korupsi, keadilan penegakan hukum, pembangunan inklusif, serta pemerintahan yang transparan dan akuntabilitas.

Mungkin kita tidak akan menemukan orang-orang Nordik melakukan demonstrasi akibat pelemahan KPK atau demonstrasi menolak UU Minerba yang dianggap pro kelompok oligarki.

Faktor ketiga, kebebasan membuat pilihan. Orang-orang Nordik (dan negara Eropa lainnya) terkenal dengan karakter liberal dan individualis dalam hal pilihan ekspresi dan identitas hidup. Mereka toleran dan memaklumi pilihan-pilihan privat dari setiap individu.

Oleh karena itu, bisa jadi (saya juga tidak yakin, karena oknum julid mungkin hidup di manapun) kita tidak akan melihat orang yang mengomentari pilihan identitas atau pilihan ekspresi hidup dari orang lain. di Indonesia? Jangan coba-coba keluar dari identitas dan ekspresi mainstream.

Faktor terakhir, kuatnya kohesi sosial. Orang-orang Nordik memiliki kepercayaan yang kuat antara satu dengan yang lain. Contoh kecil kohesi sosial adalah mereka tidak perlu khawatir dompetnya hilang saat tertinggal di kursi taman. Mereka cukup kembali dan menanyakan dompetnya pada petugas keamanan terdekat.

Di Indonesia? Mending langsung datang ke Kantor Polisi untuk mengurus surat kehilangan lalu membeli dompet baru. Meskipun begitu, jika beruntung, ada yang dompetnya kembali.

Itulah kira-kira empat tips belajar kebahagiaan kolektif dari Orang-orang Nordik. Dua indikator pertama dibentuk oleh negara dan dua indikator kedua dibentuk oleh sistem sosial. Berat..

Pada akhirnya, saya tetap bersyukur dan bahagia kok jadi Orang Indonesia, serius. Buktinya, saya gak mau jika disuruh pindah jadi warga Nordik (atau mereka juga gak mau nerima saya). Selain itu, banyak orang-orang disekitar saya yang selalu bahagia dalam kondisi materi bagaimanapun seraya mengatakan “kebahagiaan bisa di dapat dengan bersyukur”. Untuk urusan ini, saya setuju dengan teman saya bahwa kebahagiaan kolektif Orang Indonesia juga dibentuk oleh indikator spiritual. Khusus yang ini, Orang Nordik harus belajar dari kita.[***]

 

 

Oleh: Eko Bagus Sholihin

Dosen : Dosen Ilmu Politik, Fisip UIN Raden Fatah Palembang

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Gempa Bumi M3.0 Terjadi di Banda

    Gempa Bumi M3.0 Terjadi di Banda

    • calendar_month Kamis, 1 Apr 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.036
    • 0Komentar

    BADAN Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika [BMKG] dalam situs resminya melaporkan terjadi gempa bumi magnitudo 3,0 di Banda. Peristiwa itu terjadi pukul 21 : 14 WIB, kamis [1/4/2021], BMKG menyebutkan gempa terjadi dikedalaman 10 km, dengan lokasi 4.55 LS – 129.92 BT. Pusat gempa berada di darat 3 km Tenggara Banda. Dirasakan (Skala MMI): II Banda.[***] […]

  • Penutupan Asian Games 2018, Presiden OCA : Terima Kasih Indonesia, Saya Cinta Kalian

    Penutupan Asian Games 2018, Presiden OCA : Terima Kasih Indonesia, Saya Cinta Kalian

    • calendar_month Minggu, 2 Sep 2018
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 800
    • 0Komentar

    SUMSELTERKINI.CO.ID, JAKARTA – Ada yang menarik saat Presiden Dewan Olimpiade Asia Syeikh Ahmad Al Fahad Al Sabah membuat tepuk tangan seluruh yang hadir dalam acara Penutupan Asian Games 2018 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (2/9/2010). Ia mengucapkan dengan Bahasa Indonesia disebagian  dari  pidatonya tersebut, bahkan  saat mengucapkan Terima kasih kepada seluruh rakyat […]

  • Rp774 Miliar Dicuri di Laut, Wah..Bisa Buat 774 Ribu Anak Tidak Stunting!

    Rp774 Miliar Dicuri di Laut, Wah..Bisa Buat 774 Ribu Anak Tidak Stunting!

    • calendar_month Sabtu, 24 Mei 2025
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 674
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, – “Pak, itu kapal bendera Tiongkok lagi ngambang di selatan Bali, mancing atau nyolong, Pak?”“Kalau dia mancing, kenapa kita yang boncos?”“Lha iya, saya mancing di empang belakang rumah aja disuruh bayar karcis, itu di laut lepas kok gratisan!” Begitulah kira-kira obrolan warung kopi di pinggir dermaga yang belakangan makin panas, bukan karena pemilu atau […]

  • Setiap Tahunnya yang Nikah Itu 2 Juta Orang, Penghulunya Dinilai Belum Ideal, 10 Tahun ke Depannya Bisa Kekurangan, Menag Usul Tambahan Formasi

    Setiap Tahunnya yang Nikah Itu 2 Juta Orang, Penghulunya Dinilai Belum Ideal, 10 Tahun ke Depannya Bisa Kekurangan, Menag Usul Tambahan Formasi

    • calendar_month Selasa, 25 Jan 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.304
    • 0Komentar

    MENTERI Agama Yaqut Cholil Qoumas mengusulkan penambahan jumlah formasi penghulu. Usulan ini disampaikan Menag, mengingat saat ini jumlah penghulu yang ada belum ideal untuk melayani nikah yang mencapai angka dua juta peristiwa per tahun. Wacana penambahan formasi penghulu ini disampaikan Menag dalam Rapat Kerja bersama dengan Komisi VIII DPR RI, di Gedung Parlemen, Jakarta. “Jumlah […]

  • MAKI Sumsel : Ada Baiknya Polisi Tidak Lagi Mengurus Tindak Pidana Korupsi

    MAKI Sumsel : Ada Baiknya Polisi Tidak Lagi Mengurus Tindak Pidana Korupsi

    • calendar_month Kamis, 17 Sep 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.071
    • 0Komentar

    PERNYATAAN Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW), Neta S. Pane, mendesak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tangkap sejumlah oknum Polisi yang meminta paksa sejumlah proyek kepada para Kepala Dinas. Miris dan memilukan dan bagai langit runtuh untuk para pejuang anti korupsi. Aksi meminta dengan paksa jatah  proyek ini diduga merupakan modus korupsi di daerah yang menghancur […]

  • Tanggapi Giring di Podcast Deddy Corbuzier, Andai Giring Masih Penyanyi, Dia Juga Akan Diuntungkan Formula E

    Tanggapi Giring di Podcast Deddy Corbuzier, Andai Giring Masih Penyanyi, Dia Juga Akan Diuntungkan Formula E

    • calendar_month Senin, 4 Okt 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.653
    • 0Komentar

    DALAM Podcast Deddy Corbuzier, Giring Ganesha selaku Plt Ketua Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menuduh acara balapan “Formula E” merugikan hingga ratusan milyar bahkan triliunan rupiah dan tidak bermanfaat bagi masyarakat. Menanggapi Giring, Sismono Laode, Ketua Relawan Pendukung Anies Baswedan “Bala Anies” lagi-lagi tidak bisa memahami alur pikir Giring. Ini penggiringan yang cacat data dan logika. […]

expand_less
WordPress Archive Unded – Creative Agency and Portfolio WordPress Theme Undertone – Business Services & Shop Elementor Template Kit Undo My Vote Addon For BWL Pro Voting Manager Uneet – Apartment & Single Property Real Estate Elementor Template Kit UnGrabber – Content Protection for WordPress Uni CPO | WooCommerce Options and Price Calculation Formulas Unicase – Electronics Store WooCommerce Theme Unicka – Hair Styling & Beauty Salon WordPress Theme Unico – Multipurpose WordPress Theme Unicon | Design-Driven Multipurpose Theme