Sabtu, 5 Sep 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Pojok Fisip UIN Raden Fatah » Antara Popularitas & Substansi: Dilema Kepemimpinan di Era Media Sosial

Antara Popularitas & Substansi: Dilema Kepemimpinan di Era Media Sosial

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Selasa, 6 Mei 2025
  • visibility 902
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sumselterkini.co.id, – FENOMENA kepala daerah yang aktif di media sosial telah menjadi tren yang semakin menonjol dalam lanskap politik Indonesia. Aktivitas mereka di platform digital telah menciptakan dinamika baru dalam hubungan antara pemimpin dan masyarakat. Fenomena ini memiliki dimensi yang kompleks dan perlu dilihat secara komprehensif.

Transformasi Ruang Publik Politik

Media sosial telah mentransformasi cara pemimpin berkomunikasi dengan publik. Dalam perspektif ilmu politik, hal ini dapat dilihat sebagai bentuk evolusi dari konsep “ruang publik” . Ruang publik digital ini memungkinkan interaksi langsung antara pemimpin dan masyarakat, potensial mendemokratisasi komunikasi politik. Namun, pertanyaan kritisnya adalah: apakah interaksi ini substantif atau hanya bersifat performatif?

Dualisme Performativitas dan Substansi

Kepala daerah yang aktif di media sosial sering terjebak dalam “politik performatif” – situasi di mana tindakan politik lebih diarahkan untuk konsumsi visual daripada penyelesaian masalah. mereka berada dalam “panggung depan” (front stage) yang terus-menerus, di mana citra dan kesan menjadi lebih penting daripada substansi.

Di sisi lain, kepala daerah yang bekerja dalam diam mungkin fokus pada “politik substantif” – penyelesaian masalah nyata masyarakat. Namun, dalam era di mana visibilitas menjadi ukuran legitimasi, mereka berisiko kehilangan dukungan publik karena kurangnya eksposur.

Populisme Digital dan Alienasi Politik

Fenomena ini berkaitan erat dengan munculnya “populisme digital” – strategi politik yang memanfaatkan media sosial untuk membangun hubungan langsung dengan masyarakat sambil mengabaikan institusi perantara.

Dalam konteks Indonesia, populisme digital seringkali ditandai dengan kebijakan yang mengedepankan solusi cepat, terlihat, dan menghibur.

Paradoksnya, meskipun publik merasa lebih “dekat” dengan pemimpin, mereka mungkin justru semakin teralienasi dari proses pembuatan kebijakan yang sesungguhnya. Konten yang menghibur di media sosial dapat mengalihkan perhatian dari diskusi substantif tentang kebijakan publik.

Distorsi Agenda Kebijakan

Dalam perspektif teori agenda-setting, media sosial dapat mendistorsi prioritas kebijakan. Kepala daerah mungkin cenderung memprioritaskan kebijakan yang “terlihat baik” di media sosial daripada kebijakan yang benar-benar dibutuhkan masyarakat. Ini menciptakan bias sistemik terhadap kebijakan yang bersifat jangka pendek, visual, dan mudah dikomunikasikan.

Masalah struktural yang kompleks—seperti ketimpangan ekonomi, reformasi birokrasi, atau perencanaan infrastruktur jangka panjang—mungkin terabaikan karena tidak memberikan konten yang menarik untuk media sosial.

Tantangan bagi Literasi Politik

Fenomena ini menimbulkan tantangan serius bagi literasi politik warga. Publik perlu mengembangkan kemampuan untuk membedakan antara kebijakan substantif dan kebijakan performatif. Literasi politik di era digital tidak hanya berarti memahami sistem politik, tetapi juga kemampuan kritis untuk melihat melampaui kemasan visual kebijakan.

Dalam perspektif demokrasi deliberatif, diskusi publik seharusnya berfokus pada argumentasi dan pertukaran ide tentang kebaikan bersama, bukan pada personalitas atau citra pemimpin. Media sosial cenderung mendorong ke arah yang sebaliknya.

Menuju Keseimbangan Baru

Tantangan bagi pemimpin dan masyarakat adalah menemukan keseimbangan baru. Kepala daerah perlu memanfaatkan media sosial untuk transparansi dan akuntabilitas, sambil tetap memprioritaskan kebijakan substansial. Di sisi lain, masyarakat perlu mengembangkan kewaspadaan kritis terhadap konten politik di media sosial.

Pendekatan yang ideal adalah integrasi antara komunikasi politik yang efektif dan kebijakan yang substansial. Kepala daerah dapat menggunakan media sosial tidak hanya untuk menampilkan aktivitas, tetapi juga untuk melibatkan masyarakat dalam proses pembuatan kebijakan yang sebenarnya.

Catatan Akhir

Fenomena kepala daerah yang aktif di media sosial mencerminkan transformasi yang lebih luas dalam komunikasi politik di era digital. Meskipun menawarkan potensi untuk transparansi dan keterlibatan yang lebih besar, fenomena ini juga membawa risiko penyederhanaan masalah publik dan pengalihan dari isu-isu substantif.

Masyarakat perlu mengembangkan literasi politik yang kritis untuk tidak terjebak dalam pesona visual media sosial. Mereka harus mampu mengevaluasi kebijakan berdasarkan dampaknya terhadap masalah nyata, bukan berdasarkan seberapa baik kebijakan tersebut dipresentasikan di media sosial.

Pada akhirnya, kualitas demokrasi akan ditentukan oleh kemampuan kolektif kita untuk melampaui politik performatif dan mengembangkan diskusi publik yang substantif tentang masa depan bersama. Media sosial bisa menjadi sarana untuk memperkuat demokrasi, tetapi hanya jika digunakan secara bijaksana oleh pemimpin dan masyarakat.[***]

 

Oleh : 

Yulion Zalpa ( Peneliti Politik Pusat Riset Sosial Politik, Ekonomi dan Kemasyarakatan /PROSPEK) & Dosen FISIP UIN Raden Fatah Palembang

 

 

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Faktor Cuaca, Arif Dwi Pangestu Gagal Raih Prestasi

    Faktor Cuaca, Arif Dwi Pangestu Gagal Raih Prestasi

    • calendar_month Selasa, 27 Jul 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 841
    • 0Komentar

    PELAJARAN pemanah muda Indonesia Arif Dwi Pangestu di Olimpiade 2020 Tokyo terhenti. Atlet yang berusia 17 tahun ini harus mengakui kehebatan wakil dari Jerman Florian Unruh dengan skor 2-6 (24-28, 28-26, 24-28, 25-27) pada pertandingan babak pertama recurve perorangan putra di Yumenoshima Archery Park Field, Tokyo, Jepang, Selasa (27/07). Arif Dwi mengaku sempat galau karena […]

  • Mau Tahu Gak Alasannnya, Kenapa Politeknik Energi dan Pertambangan di Bangun di Kota Prambumulih ?

    Mau Tahu Gak Alasannnya, Kenapa Politeknik Energi dan Pertambangan di Bangun di Kota Prambumulih ?

    • calendar_month Selasa, 20 Agt 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 817
    • 0Komentar

    Keberadaan Politeknik Energi dan Pertambangan  ini nantinya dapat meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) di Sumsel.

  • Hadir di Wisuda Mahasiswa AKN, Bupati Banyuasin Pesan Ini

    Hadir di Wisuda Mahasiswa AKN, Bupati Banyuasin Pesan Ini

    • calendar_month Selasa, 17 Sep 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.600
    • 0Komentar

    “Pendidikan di luar domisili AKN Banyuasin ini sudah menjadi Poltek terbaik se-Indonesia. Oleh sebab itu kami minta kepada Politeknik Negeri Sriwijaya (POLSRI) jika sudah sah pergantian menajemen nanti Politeknik Sriwijaya ditambahkan Banyuasinnya,”

  • TNI dan Polri Terus Laksanakan Pengamanan, PON Papua Berlangsung Kondusif

    TNI dan Polri Terus Laksanakan Pengamanan, PON Papua Berlangsung Kondusif

    • calendar_month Kamis, 7 Okt 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 920
    • 0Komentar

    KEPOLISIAN Republik Indonesia (Polri) memastikan bahwa situasi keamanan di empat klaster penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua dalam kondisi aman dan kondusif. “Penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional masih berjalan, dan keamanan sangat kondusif,” kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal Rusdi Hartono saat memberikan keterangan pers secara virtual, Rabu (6/10/2021). Dilansir dari […]

  • MoLiNas Resmi Diluncurkan, Industri Motor Listrik Indonesia Punya Modal Besar

    MoLiNas Resmi Diluncurkan, Industri Motor Listrik Indonesia Punya Modal Besar

    • calendar_month Jumat, 14 Agt 2026
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 17
    • 0Komentar

    SUMSELTRKINI.CO.ID – Motor Listrik Nasional (MoLiNas) resmi diluncurkan Presiden Prabowo Subianto di fasilitas produksi ALVA, Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Kamis (13/8/2026). Peluncuran ini menjadi bagian dari upaya pemerintah mendorong Indonesia tidak sekadar menjadi pasar kendaraan listrik, tetapi juga mampu memproduksi sekaligus mengembangkan teknologinya sendiri. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan pengembangan MoLiNas harus dibarengi […]

  • Terkait New Normal, Begini Kata Gubernur

    Terkait New Normal, Begini Kata Gubernur

    • calendar_month Rabu, 27 Mei 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 752
    • 0Komentar

    RENCANA pemerintah pusat menerapkan new normal di beberapa daerah di Indonesia agar tetap produktif dalam aktivitas ditanggapi bijak Gubernur Sumsel H.Herman Deru. Herman Deru mengapresiasi terobosan yang sudah didengungkan Presiden Jokowi sejak beberapa waktu terakhir. Gubernur Sumsel H.Herman Deru bahkan mengatakan, upaya penerapan kebijakan oleh pemerintah tersebut menjadi berita gembira baginya sebagai kepala daerah. Pasalnya […]

expand_less
WordPress Archive Cobble – Flooring & Construction WordPress Theme + AI Coca – Architecture Cocco - Kids Store and Baby Shop Theme Cocco – Kids Store and Baby Shop WordPress Theme Coch – Business Coach Elementor Template Kit Codagraph – Photography & Portfolio Elementor Template Kit CodBe – Software Landing Page and IT Solutions WordPress Theme Code Shop – WordPress Plugin Code Snippets Pro Coder – Syntax Highlighter for Elementor