Rabu, 28 Okt 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Pojok Fisip UIN Raden Fatah » Aku, Salamku, dan Salam Agamamu

Aku, Salamku, dan Salam Agamamu

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Selasa, 13 Des 2022
  • visibility 2.204
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Belakangan ini kita sering sekali mendengar kalimat Moderasi Beragama, bahkan gaungnya sudah sampai ke pelosok desa, di semua sektor khususnya di bawah naungan Kementerian Agama sudah fasih sekali dengan slogan moderasi beragama. Sering sekali kita lihat dari televisi atau juga secara langsung  kebiasaan para pejabat Muslim mengucapkan salam pembuka semua agama dalam acara resmi maupun acara-acara lainnya. Tentunya hal ini menjadi polemik dan perdebatan tersendiri dalam masyarakat khususnya khususnya umat Islam. Karena banyak orang yang meyakini kalau kita melakukan salam lintas agama dinilai syubhat yang dapat merusak kemurnian dari agama penganutnya. Karena salam merupakan doa yang tidak dapat terpisahkan dari ibadah yang merujuk kepada keyakinan agama masing-masing.

Salam lintas agama yang dimaksud adalah ucapan salam yang berasal dari agama-agama di Indonesia, seperti assalamua’alaikum warahmatullahi wabarokatuh. (Islam), salam sejahtera bagi kita semua (Kristen), Shalom (Katolik), Om Swastiastu (Hindu), Namo Buddhaya (Buddha) dan Salam Kebajikan (Konghucu). Salam lintas agama ini baru popular belakangan di era reformasi. Dimaksudkan sebagai salam penghormatan kepada seluruh pemeluk agama, sekaligus sebagai simbol kerukunan dan toleransi beragama. Dalam pandangan Islam, salam adalah penghormatan sekaligus doa keselamatan dan kebaikan. Islam adalah agama kedamaian yang menganjurkan umatnya untuk menebar kedamaian (ifsyaa’u al-salaam) kepada siapa pun, muslim dan non muslim. Hubungan dengan non-muslim dibangun di atas prinsip kebaikan dan keadilan. Karena prinsipnya selama tidak berbenturan dengan akidah tentunya itu adalah hal yang lumrah karena Indonesia sendiri adalah masyarakat majemuk yang terdiri dari banyak suku, ras, bahasa dan agama. Pastinya tidak ada larangan berlaku baik dan adil terhadap mereka. Namun, melihat persoalan ini tentunya harus ada kriteria dan batasan dalam implementasi toleransi agar tidak merusak kemurnian ajaran agama. Undang-undang menjamin setiap warganegara untuk menjalankan agamanya sesuai keyakinan masing-masing. Kemudian juga Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga terdepan memiliki tanggungjawab moril untuk menegakkan kemurnian ajaran agama. Persoalannya, bagaimana menengahi ketegangan antara keinginan untuk setia pada ajaran agama masing-masing dengan keinginan untuk ramah terhadap pemeluk agama lain dalam hidup bernegara.

Bila ditilik dari redaksinya, tampaknya hanya dua dari lima salam pembuka agama yang dinilai berpotensi ‘merusak’ akidah seorang muslim bila diucapkan, yaitu salam Hindu (Om Swastiastu) dan salam Buddha (Namo Buddhaya). Tiga salam lainnya; salam Katolik (Shalom), salam Kristen (salam sejahtera bagi kita semua) dan salam Khonghucu (salam kebajikan), tidak membawa nama Tuhan. Makna dan maksudnya kurang lebih sama dengan assalamu’alaikum. Hanya beda redaksi. Ikhtilaafun fil lafzhi, ittifaaqun fil ma’naa. (Keduanya merupakan dua kata yang berbeda secara pelapalan, tetapi sama secara makna).

Dalam tradisi Hindu, kata Om simbol atau aksara suci untuk Tuhan. Dan arti dari salam ini adalah ‘semoga ada dalam keadaan baik atas karunia Hyang Widhi’. Demikian pula dengan Namo Buddhaya yang artinya terpujilah Buddha. Memang begitulah faktanya. Disinilah letak masalah salam lintas agama yang dipersoalkan banyak pihak, yang tentunya memunculkan banyak perdebatan menanggapi persoalan ini. Bersalam kepada non-Muslim dan mengucapkan salam non-Muslim adalah masalah khilafiah. Sebagian kalangan melarangnya dan sebagian kalangan lainnya membolehkan. Karena salam adalah penghormatan bagi sesama muslim, dan jaminan keamanan bagi non-muslim yang hidup berdampingan. Atas dasar itu, doa dan penghormatan kepada non-muslim bisa menggunakan kata salam, dan bisa juga menggunakan redaksi lain sesuai adat dan kebiasaan masyarakat, selama tidak mengandung kalimat atau makna yang diharamkan. Tapi disisi lain mengucapkan salam lintas agama juga masih menjadi polemik tersendiri di sebagian kalangan, sebab disitu terdapat nama Tuhan dalam keyakinan agama lain. Apakah  itu berarti kita meminta kepada Tuhan mereka? Tentu kembali lagi kepada niat saat berucap. Yang pasti semua agama mayakini Tuhan Yang Maha Esa. Zat yang Wajibul-wujud (Maha Ada). Nama, sifat dan cara meyakininya bisa berbeda. Selama merujuk ke situ, maka tak mengapa berbeda nama, tapi tujuan sama. Apalagi di Indonesia kita mempunyai semboyan Bhinekka Tunggal Ika yang menjadi motto untuk persatuan semua lapisan masyarakat Indonesia.

Terkait salam lintas agama, kalau pendekatannya teologis memang pelik. Tetapi dengan pendekatan sosiologis, kita akan mudah menemukan jalan tengah. Apalagi dalam kehidupan bersosial di Indonesia dengan masyarakatnya yang majemuk. Masing-masing pemeluk agama berhak atas klaim kebenaran agamanya, tanpa menafikan eksistensi lainnya. Setiap pemeluk agama harus setia pada kebenaran tunggal yang diyakininya. Selain saling mendoa dan menebar damai, salam lintas agama yang sering diucap pejabat hanyalah sebuah tegur sapa dan bentuk penghormatan kepada semua pemeluk agama sebagai warga bangsa Indonesia yang telah berkomitmen untuk hidup rukun bersama. Dan tidak sampai pada masalah keyakinan. Terlalu jauh bila dimaknai sebagai pangakuan dan permohonan doa kepada Tuhan selain Allah yang manyalahi akidah. Tetapi inilah polemik yang sering kali terjadi di berbagai kalangan masyarakat bahkan terkadang berakhir dengan debat kusir.

Menyikapi persoalan ini Majelis Ulama Indonesia juga pernah menghimbau kepada seluruh masyarakat  bagi imannya akan terganggu bila ia mengucap salam lintas agama. Dan tidak ada kepentingan dengan salam tersebut. Sebaiknya tidak perlu ikut-ikutan mengucapkannya. Namun, jangan juga larang atau ragukan iman orang yang karena tuntutan hubungan pergaulan harus berucap. Dalam situasi seperti ini, kita harus berupaya menemukan jalan tengah. Konsep moderasi beragama seperti inilah yang harus kita tegakkan dalam beragama. Intinya, dalam beragama diperlukan sikap luwes dan bijaksana sehingga antara berIslam dan bernegara bisa saling bersinergi. Demkian, wallahu a’lam bis showab ~

 

Penulis : Putri Citra Hati, M.Sos

Dosen Prodi Ilmu Komunikasi FISIP UIN Raden Fatah Palembang.

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • BI Genjot Pariwisata Ramah Muslim, Bidik Pasar Global

    BI Genjot Pariwisata Ramah Muslim, Bidik Pasar Global

    • calendar_month Jumat, 16 Okt 2026
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 25
    • 0Komentar

    SUMSELTERKINI.CO.ID – Bank Indonesia (BI) menggenjot pengembangan pariwisata ramah Muslim (PRM) guna merebut peluang pasar global senilai US$424 miliar pada 2029. Strategi ini diarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, memperluas peluang usaha, dan memperkuat rantai nilai halal nasional. Peluang tersebut semakin terbuka setelah Indonesia naik ke peringkat kedua dunia dalam Global Muslim Travel Index (GMTI) […]

  • Sukseskan HUT Kemerdekaan, Gubernur Sumsel Kukuhkan Paskibraka

    Sukseskan HUT Kemerdekaan, Gubernur Sumsel Kukuhkan Paskibraka

    • calendar_month Sabtu, 14 Agt 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 846
    • 0Komentar

    GUBERNUR Sumsel H Herman Deru mengukuhkan langsung Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Peringatan HUT RI ke-76 Tahun. Upacara pengukuhan tersebut dilakukan di Griya Agung Palembang, Jum’at (13/8). Setidaknya, ada 50 orang siswa dan siswi dari berbagai daerah di Sumsel yang dikukuhkan sebagai paskibraka di Griya Agung. Dimana pasukan tersebut akan bertugas mengibarkan dan menurunkan  bendera […]

  • 125 Satwa Dilindungi Disita, Pelaku di Amankan

    125 Satwa Dilindungi Disita, Pelaku di Amankan

    • calendar_month Selasa, 30 Mar 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.165
    • 0Komentar

    TIM Operasi Pengamanan Peredaran Satwa Dilindungi Balai Gakkum KLHK Wilayah Jabalnusra bersama Polresta Surakarta menyita barang bukti berupa 125 satwa dilindungi dan mengamankan tersangka berinisial YAS (22), pada 27 Maret 2021 di Desa Karangasem, RT/RW 01/01, Laweyan Surakarta. Saat ini Tim Penyidik Balai Gakkum KLHK Jabalnusra masih memeriksa pelaku dan barang bukti yang diamankan sementara di […]

  • Inflasi 3,04% & Pasar Murah Sumsel yang Nyata

    Inflasi 3,04% & Pasar Murah Sumsel yang Nyata

    • calendar_month Jumat, 19 Sep 2025
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.261
    • 0Komentar

    DI ATAS kertas, angka inflasi tahunan Sumatera Selatan per Agustus 2025 tercatat 3,04 persen (yoy), bagi sebagian orang, angka ini hanyalah statistik dingin dalam laporan resmi. Namun di balik deretan digit itu, ada senyum lega para ibu yang pulang dari pasar murah di Terminal Sako, Palembang, dengan tangan menenteng beras, minyak, dan telur dengan harga […]

  • NET

    Positif Covid -19 di Sumsel Total 1.498 Kasus, Tambahan 50 Kasus Baru Didominasi Palembang, Bagaimana PSBB II Sukseskah ?  

    • calendar_month Selasa, 16 Jun 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.406
    • 0Komentar

    UPDATE Covid -19 Selasa [16/6/2020], kasus positif covid-19 di Sumsel bertambah 50 kasus, sehingga total menjadi 1.498 kasus, lantas sukseskah Pembatasan Sosial Berskala Besar [PSBB] tahap II yang hari ini Selasa [16/6/2020] baru berakhir dan Pemkot Palembang sendiri  segera melakukan beberapa pembahasan dari hasil pelaksanaan PSBB tersebut. Hanya masukan dan saran berbagai kalangan para ahli […]

  • PMI Muba  Apresiasi Upaya PT Hindoli dalam Penanganan Covid-19

    PMI Muba  Apresiasi Upaya PT Hindoli dalam Penanganan Covid-19

    • calendar_month Minggu, 10 Mei 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.276
    • 0Komentar

    BENI Hernedi  Ketua Palang Merah Indonesia Kabupaten Muba menerima bantuan terkait pencegahan dan penanganan Virus Corona (Covid-19) dari PT Hindoli, di Kantor PT Hindoli Kecamatan Sungai Lilin, Jumat (8/5/2020). Bantuan yang diterima tersebut diserahkan oleh Presiden Direktur PT Hindoli Anton Bagus Asmara berupa satu unit mobil ambulance, beras 3 ton, minyak sayur 2004 liter, dan […]

expand_less
WordPress Archive Gravity Forms Agile CRM Addon Gravity Forms Authorize.net Addon Gravity Forms Autocomplete (+address field) Gravity Forms Batchbook Addon Gravity Forms Breeze Addon Gravity Forms Campfire Gravity Forms CleverReach Addon Gravity Forms Constant Contact Addon Gravity Forms Count Files Gravity Forms Coupons Addon