Warga Pulau Sukun Harus Naik ke Tempat Tinggi Cari Sinyal, BNPB Datang Bawa Starlink Usai Gempa Flores
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 3 menit yang lalu
- visibility 5
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : bnpb.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID -Warga Pulau Sukun, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, sebelumnya harus mencari tempat yang lebih tinggi hanya untuk mendapatkan sinyal komunikasi setelah gempa M 7,7 Flores. Kini, akses komunikasi mulai mendapat dukungan setelah BNPB membawa perangkat internet berbasis satelit Starlink ke pulau tersebut.
Bantuan itu dikirim BNPB melalui Posko Pendamping Nasional (Pospenas) di Maumere pada Minggu (23/8). Ini menjadi kali kedua bantuan dikirim ke Desa Samporong, Kecamatan Alok, yang berada di Pulau Sukun.
Pengiriman dipimpin Direktur Penanganan Darurat Wilayah III BNPB Nelwan Harahap. Bantuan diterbangkan menggunakan helikopter Kementerian Perhubungan dan mendarat di lapangan Desa Samporong.
Kedatangan tim BNPB disambut warga yang telah menunggu. Sekitar 300 kepala keluarga terdampak gempa berada di wilayah tersebut dan menjadi bagian dari sasaran pelayanan selama masa tanggap darurat.
Bagi warga Pulau Sukun, perangkat Starlink bukan sekadar tambahan bantuan. Keterbatasan jaringan komunikasi membuat warga sebelumnya harus menuju dataran yang lebih tinggi ketika ingin menghubungi keluarga atau berkomunikasi dengan pihak di luar pulau.
Dengan adanya internet berbasis satelit, komunikasi di wilayah terdampak diharapkan menjadi lebih mudah dan stabil. Akses tersebut juga penting untuk mendukung koordinasi antara warga, pemerintah desa, tenaga kesehatan, dan petugas penanganan darurat.
Kebutuhan kesehatan turut menjadi perhatian. BNPB membawa paket medis dan obat-obatan untuk mendukung pelayanan tenaga kesehatan yang sudah berada di lokasi.
Nelwan mengatakan obat-obatan tersebut juga merupakan titipan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka untuk masyarakat terdampak.
Pengiriman bantuan ke Pulau Sukun sebelumnya dilakukan pada Jumat (21/8). Saat itu, BNPB bersama pemerintah daerah menggunakan kapal cepat untuk membawa logistik dan berbagai kebutuhan dasar masyarakat.
Bantuan yang disalurkan antara lain beras, sembako, minyak goreng, air mineral, selimut, telur, popok bayi, terpal, mi instan, sabun, pasta gigi, tikar, suplemen kesehatan, hingga obat-obatan.
Kondisi geografis menjadi tantangan tersendiri dalam memastikan bantuan sampai kepada warga. Karena itu, penanganan tidak hanya diarahkan ke wilayah daratan Flores, tetapi juga menyasar masyarakat yang tinggal di pulau-pulau dengan akses terbatas.
BNPB Minta Warga Tetap Tenang
Di tengah penanganan pascagempa, BNPB meminta masyarakat tetap tenang sekaligus waspada terhadap kemungkinan gempa susulan.
Menurut BNPB, aktivitas gempa susulan menunjukkan kecenderungan menurun. Meski demikian, warga diminta tetap mengikuti informasi resmi pemerintah dan BMKG serta mengutamakan keselamatan dalam beraktivitas.
Selain kebutuhan dasar dan kesehatan, pemulihan aktivitas pendidikan juga mulai dipikirkan. Kegiatan belajar mengajar diharapkan dapat kembali berjalan secara bertahap setelah kondisi memungkinkan.
Untuk sementara, proses belajar dapat dilakukan di tempat yang dinilai aman, seperti tenda darurat atau ruang terbuka yang tidak memiliki risiko terhadap keselamatan siswa maupun guru.
Langkah tersebut diharapkan membantu anak-anak kembali menjalani rutinitas setelah menghadapi situasi darurat akibat gempa.
BNPB terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah, BPBD, TNI, Polri, tenaga kesehatan, dan unsur lainnya untuk memantau kebutuhan masyarakat.
Penyaluran bantuan ke Pulau Sukun menjadi bagian dari upaya memastikan warga di wilayah kepulauan tidak terlewat dalam penanganan pascagempa.
Bukan hanya membawa logistik, kehadiran tim di pulau tersebut juga menjawab persoalan yang tidak kalah penting bagi warga: bagaimana tetap terhubung ketika jaringan komunikasi sulit dijangkau.
Dengan dukungan komunikasi, layanan kesehatan, dan pemenuhan kebutuhan dasar, penanganan diharapkan dapat berjalan lebih merata hingga ke wilayah yang secara geografis paling sulit dijangkau. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
