Hotspot Karhutla Sumsel Anjlok Jadi 11 Titik, Kalimantan Melonjak
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 25 menit yang lalu
- visibility 8
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : kehutanan.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Hotspot Karhutla Sumsel turun tajam dalam pemantauan terbaru. Dari 34 titik sehari sebelumnya, jumlah hotspot high confidence di Sumatera Selatan kini tersisa 11 titik.
Penurunan titik panas karhutla di Sumsel ini terjadi ketika kondisi nasional justru bergerak berlawanan. Jumlah hotspot high confidence secara nasional naik dari 569 titik menjadi 688 titik dalam pemantauan hingga Jumat, 11 September 2026 pukul 21.15 WIB.
Dengan demikian, Sumsel mengalami penurunan 23 titik dalam sehari atau sekitar 68 persen.
Perubahan tersebut menjadi salah satu perkembangan yang menonjol di tengah situasi karhutla yang masih dinamis. Sebab, ketika angka di Sumsel turun, sejumlah wilayah Kalimantan justru mencatat lonjakan hotspot cukup besar.
Kalimantan Tengah menjadi wilayah dengan jumlah hotspot high confidence tertinggi di antara enam provinsi prioritas. Angkanya melonjak dari 96 titik menjadi 271 titik.
Kenaikan juga terjadi di Kalimantan Barat, dari 39 menjadi 51 titik. Sementara Kalimantan Selatan meningkat tajam dari 9 menjadi 47 titik.
Berbeda dengan tiga provinsi tersebut, Sumsel justru bergerak turun. Riau dan Jambi bahkan tidak mencatat hotspot high confidence dalam pemantauan terakhir. Sehari sebelumnya, Riau masih memiliki 18 titik dan Jambi dua titik.
Data tersebut tercatat dalam sistem SiPongi Kementerian Kehutanan yang menggunakan hasil pemantauan satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20.
Sumsel Turun, Bukan Berarti Karhutla Selesai
Turunnya hotspot di Sumsel menjadi kabar positif, tetapi kondisi tersebut belum bisa diartikan sebagai berakhirnya ancaman kebakaran hutan dan lahan.
Perubahan cuaca dan kondisi bahan bakar di lapangan dapat membuat situasi berubah cepat. Karena itu, pemantauan tetap dilakukan bersamaan dengan patroli, groundcheck, pemadaman darat, penyekatan penjalaran api, mopping up, hingga pendinginan.
Kementerian Kehutanan juga mengingatkan bahwa hotspot bukan berarti jumlah kejadian kebakaran. Hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit.
Satu kejadian kebakaran dapat menghasilkan beberapa hotspot. Sebaliknya, sebuah hotspot juga masih harus diverifikasi untuk memastikan kondisi sebenarnya di lapangan.
Karena itu, angka 11 hotspot di Sumsel tetap perlu dibaca bersama hasil pemeriksaan lapangan dan perkembangan kondisi cuaca.
Kalimantan Jadi Perhatian Utama
Di saat Sumsel mencatat penurunan, konsentrasi pengendalian karhutla kini lebih berat mengarah ke sejumlah wilayah Kalimantan, terutama Kalimantan Tengah.
Pemerintah telah menyiagakan 53 armada udara untuk mendukung operasi pengendalian karhutla di enam provinsi prioritas. Sebanyak 34 armada digunakan untuk water bombing, sedangkan 19 armada lainnya mendukung patroli udara dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Kekuatan udara tersebut mendapat tambahan dukungan dari Jepang.
Tiga helikopter CH-47 Chinook milik Japan Ground Self-Defense Force (JGSDF) telah tiba di Kalimantan Barat menggunakan kapal JMSDF JS Kunisaki melalui Terminal Kijing.
Ketiga Chinook tersebut dipersiapkan untuk mendukung operasi water bombing di wilayah yang sulit dijangkau melalui jalur darat. Sebelum digunakan dalam operasi, kesiapan teknis dan keselamatan penerbangan harus melalui tahapan persiapan dan flight test.
Dukungan Jepang juga melibatkan sekitar 180 personel. Dalam pelaksanaannya, TNI menangani pengawasan operasional, termasuk aspek keamanan, flight clearance, dan penempatan Safety Officer. Sementara misi penerbangan dikoordinasikan bersama BNPB.
Asap dan Kualitas Udara Masih Dipantau
Pengendalian karhutla tidak hanya berfokus pada jumlah hotspot. Kualitas udara, sebaran asap, jarak pandang, curah hujan, arah angin, serta kondisi api di lapangan juga menjadi pertimbangan dalam menentukan prioritas operasi.
Pemantauan PM2,5 menunjukkan kualitas udara di Indonesia masih bervariasi. Sebagian besar wilayah berada pada kategori baik hingga sedang, tetapi sejumlah kawasan di Sumatera dan Kalimantan masih mengalami kondisi tidak sehat hingga sangat tidak sehat. Beberapa bagian Kalimantan bahkan sempat berada pada kategori berbahaya.
BMKG pada 11 September juga mencatat jarak pandang yang berubah-ubah di sejumlah wilayah Kalimantan.
Di kawasan Pelabuhan Dwikora, Pontianak, udara sempat terpantau kabur dengan jarak pandang sekitar 1–3 kilometer pada beberapa periode pengamatan. Di Banjarmasin, jarak pandang sekitar 4 kilometer pada awal periode kemudian membaik hingga sekitar 10 kilometer.
Kondisi tersebut dapat berubah mengikuti konsentrasi asap, arah dan kecepatan angin, kelembapan, hujan, serta perkembangan kebakaran.
Hotspot Sumsel Turun, Pencegahan Tetap Jalan
Penurunan hotspot di Sumsel dari 34 menjadi 11 titik menjadi sinyal positif dalam pemantauan terbaru. Namun, upaya pencegahan tetap diperlukan untuk menjaga agar kondisi tidak kembali memburuk.
Pemerintah bersama TNI, Polri, BNPB, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, Manggala Agni, masyarakat, dunia usaha, dan pihak terkait lainnya terus melakukan pengendalian sesuai perkembangan di lapangan.
Masyarakat juga diingatkan untuk tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar.
Jika menemukan asap, titik api, atau indikasi kebakaran, masyarakat diminta segera melapor agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin sebelum api meluas. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
