Rabu, 19 Agu 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Peristiwa » “Ular, Biawak & Kantor Jadi Kandang: Ketika Satwa Dilindungi Dianggap Kos-Kosan”

“Ular, Biawak & Kantor Jadi Kandang: Ketika Satwa Dilindungi Dianggap Kos-Kosan”

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Jumat, 8 Agt 2025
  • visibility 813
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

DI sebuah rumah dua lantai yang juga merangkap kantor di Remu Utara, Kota Sorong, ternyata sedang berlangsung bisnis properti yang… tidak biasa, bukan rumah kost, bukan juga indekos pejabat, melainkan semacam “Airbnb” khusus bagi ular dan biawak dari yang hijau semlohai sampai yang eksotis dari pulau seberang.

Namanya T (42), bukan singkatan dari “Tuan Tanah” atau “Tukang Ternak”, tapi bisa jadi singkatan dari “Tersangka” kalau kasus ini bergulir ke meja hijau.

Ia diduga menyulap kantor CV miliknya menjadi safehouse bagi 169 satwa dilindungi. Iya, seratus enam puluh sembilan ekor yang terdiri dari berbagai jenis reptil yang kalau dikumpulin bisa bikin kebun binatang mini ala Jurassic Park, minus efek CGI.

Suasana penggerebekan malam hari oleh tim Polairud, pukul 10 malam WIT, ketika warga lain sedang rebahan nonton sinetron, para penegak hukum malah nonton “Reptil Show” di lantai dua rumah T. Saat pintu kamar dibuka paksa dengan izin pemilik tentunya terkuaklah isi lemari kehidupan

Ada 62 Ular Sanca Hijau (yang mungkin sedang bersantai di tiang jemuran), 54 Biawak Hijau (mungkin sedang work from home), 46 Biawak Waigeo (entah sedang meeting Zoom atau sekadar tebar pesona), 6 Biawak Misool (kelompok elit, mungkin punya kamar sendiri), dan 1 Biawak Aru (si satu-satunya yang paling senior dan mungkin admin grup WA).

Ini bukan sekadar penemuan biasa,  semacam “kontrakan eksotis” yang dihuni  makhluk-makhluk langka, yang menurut hukum tak boleh disimpan, apalagi dipelihara tanpa izin. Tapi toh, mereka malah dikurung ramai-ramai di kamar atas seperti peserta pelatihan motivasi bertema “Bertahan Hidup dalam Kandang”.

T (42) bilang, binatang itu dititipkan masyarakat, dari Raja Ampat, Maybrat, Tambrauw, titipan katanya. Kalau benar begitu, berarti si T ini semacam “penitipan hewan eksotik”, bukan tukang jual reptil. Tapi ya, titipan tanpa izin resmi tetap saja seperti parkir di jalur busway tetap salah meski niatnya baik.

Pepatah lama bilang “Kandang emas tetaplah kandang”. Mau rumah dua lantai atau CV pribadi, kalau isinya satwa dilindungi tanpa izin, tetap saja itu pelanggaran.

Bahkan kalau reptil-reptil ini bisa ngomong, mungkin mereka sudah protes “Bro, kami dilindungi, bukan ditangkepin buat dijadiin koleksi di pojok kamar!”

Perdagangan satwa liar itu ibarat es batu di atas wajan panas: cepat melelehkan kepercayaan, meninggalkan kerusakan, sekali saja jalur ilegal dibuka, maka ekosistem bisa berantakan.

Reptil-reptil itu bukan sekadar hewan biasa, mereka bagian penting dari rantai makanan dan keseimbangan alam. Kalau habis, jangan salahkan tikus-tikus liar naik pangkat jadi penghuni tetap dapur warga.

Belum lagi potensi penyakit yang bisa muncul dari perdagangan ilegal hewan eksotik, dari flu burung sampai virus-virus eksotis yang bisa bikin WHO ketar-ketir lagi.

Kasus ini menyadarkan kita semua, konservasi itu bukan cuma urusan LSM, bukan cuma tema lomba mural di kampus, tapi tanggung jawab bersama, jangan sampai karena tergiur cuan atau sensasi, kita jadi pelanggar hukum yang merusak alam.

Buat yang masih mikir punya biawak di kamar itu keren, mari kita ubah mindset.
Kalau mau hewan peliharaan, banyak pilihan legal kucing manja, kelinci lucu, atau ikan cupang dengan sirip mengibas bak balerina. Tapi ular sanca hijau? Biawak Waigeo?,  bukan buat disayang-sayang di kosan,  buat dijaga di alamnya di hutan, di pohon, di mana mereka bisa hidup tanpa bau AC dan lampu LED.

Jangan sampai anak cucu kita cuma tahu biawak Misool dari gambar di Google, atau belajar suara ular dari ringtone HP. Bumi kita bukan supermarket reptil, alam punya aturannya, dan manusia seharusnya jadi penjaga, bukan penjagal. Jadi, mari jaga alam seperti kita jaga hati saat jatuh cinta dengan tulus, dengan izin, dan jangan dipaksa masuk ke dalam kandang

“Kalau alam dijaga, dia akan membalas dengan senyum hujan, pelukan angin, dan nyanyian burung. Tapi kalau dirusak, balasannya bisa jadi air mata bencana”

Ssst… dan ingat!, kalau suatu malam kamu dengar suara “sssss” di kamar, pastikan dulu itu AC bocor, bukan ular sanca kiriman dari kamar tetangga.[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • “Buaya Nganggur, Nelayan Bingung: Kupang Belajar Evakuasi Satwa Laut, Tapi Jangan Sampai Buaya Magang di Warung Kopi”

    “Buaya Nganggur, Nelayan Bingung: Kupang Belajar Evakuasi Satwa Laut, Tapi Jangan Sampai Buaya Magang di Warung Kopi”

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 495
    • 0Komentar

    DI KUPANG, sekelompok orang serius berkumpul, bukan untuk demo minyak goreng atau seminar motivasi ala MLM. Mereka sedang belajar… cara menghadapi buaya!, bukan buaya darat ya, tapi yang beneran hidup di air, punya gigi tajam, dan bisa bikin kocar-kacir satu kampung kalau tiba-tiba nongol di sungai sebelah rumah. Yes, inilah kisah tentang “Bimbingan Teknis Respon […]

  • Di Nilai Baik Dalam Pembangunan, Palembang Peroleh Penghargaan

    Di Nilai Baik Dalam Pembangunan, Palembang Peroleh Penghargaan

    • calendar_month Jumat, 23 Apr 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.110
    • 0Komentar

    PEMBUKAAN Musyawarah Perencanaan Pembangunan Rencana Kerja Perangkat Daerah (RKPD) Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2022, Pemerintah Kota Palembang kembali  menerima Penghargaan sebagai kota dinilai terbaik dalam Pembangunan. Penganugerahaan peringkat pertama  pemenang Penghargaan Pembangunan Daerah (PPD) Kabupaten/Kota Sumatera Selatan Tahun 2021, Penghargaan Kota Palembang diberikan lansung Gubernur Sumsel, H. Herman Deru di Hotel Santika Premier, Jumat [23/4 […]

  • Miris, Lansia Miskin Beserta 2 Orang Anaknya Yang Alami Gangguan Jiwa Tinggal Di Rumah Tak Layak Huni

    Miris, Lansia Miskin Beserta 2 Orang Anaknya Yang Alami Gangguan Jiwa Tinggal Di Rumah Tak Layak Huni

    • calendar_month Sabtu, 6 Feb 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.492
    • 0Komentar

    SATU keluarga miskin di Kota Pagaralam Sumatera Selatan mengeluhkan minimnya bantuan dampak pandemi covid -19. Keluarga miskin itu pun mengaku di pandemi ini, hanya satu kali menerima bantuan berupa beras sebanyak 5 kg, 1 kg tepung terigu, dan 1 kg minyak goreng. Hal itu tak cukup meringankan bebannya yang menghidupi dua orang anak dan dua […]

  • PKK Muba Gelar Senam Lansia

    PKK Muba Gelar Senam Lansia

    • calendar_month Selasa, 26 Nov 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 930
    • 0Komentar

    KETUA Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kabupaten Musi Banyuasin Hj Thia Yufada Dodi Reza membuka sosialisasi senam Diabetes Melitus (DM) dan senam lansia untuk Kader PKK dalam rangka meningkatkan lansia sehat, aktif dan produktif se Kabupaten Muba, di Pendopoan Griya Bumi Serasan Sekate, Selasa (26/11/2019). Menurut Ketua TP PKK Muba kegiatan tersebut dianggap penting […]

  • Tekan Kekerasan terhadap Anak, Pemkab Muba Lakukan Ini

    Tekan Kekerasan terhadap Anak, Pemkab Muba Lakukan Ini

    • calendar_month Sabtu, 6 Mei 2023
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 837
    • 0Komentar

    Komisi Perlindungan Anak Daerah(KPAD) dibentuk oleh Pemerintah Daerah. Terbentuknya KPAD ini sebagai wujud keseriusan pemerintah untuk meminimalisir kekerasan terhadap anak. “Saya sebagai pimpinan di Kabupaten Muba sangat mendukung serta mengapresiasi keberadaan KPAD. Kinerja dari KPAD untuk memberikan pengawasan dan juga perlindungan terhadap anak. Untuk itu, silahkan berkoordinasi dengan OPD terkait, lakukan juga kerjasama dengan instansi […]

  • Seniman Muda Minta Restu Walikota Palembang

    Seniman Muda Minta Restu Walikota Palembang

    • calendar_month Selasa, 30 Jul 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 863
    • 0Komentar

    SEJUMLAH perwakilan seniman muda Palembang meminta restu kepada Walikota Palembang untuk maju pada pencalonan kepengurusan Dewan Kesenian Palembang (DKP) periode mendatang. Masa kepengurusan DKP saat ini akan berakhir pada September 2019. Hal ini disampaikan saat perwakilan seniman muda Palembang yang dipimpin Cek Daus dan kawan-kawan beraudiensi dengan Walikota Palembang H Harnojoyo, di ruang kerja Walikota Palembang, […]

expand_less
WordPress Archive Conult – Consulting Business WordPress Themes Converio – Responsive Multi-Purpose WordPress Theme Conversi – Professional Conversion WordPress Landing Page Conversion Goals Tracking for AMP Convert Pro Addon Converting Landing Page ConvertKit Jetpack CRX Addon ConvertPlus – Popup Plugin For WordPress Convocation – Event and Conference WordPress Theme Conztrukta – Construction Service Elementor Template Kit