Api Bromo Terkendali, Bara Masih Diburu Petugas hingga 17 Agustus
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 6
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : kehutanan.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Kebakaran yang melanda kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur, memang telah berhasil dikendalikan. Namun, petugas belum sepenuhnya meninggalkan lokasi. Hingga Senin, 17 Agustus 2026, penyisiran dan pendinginan masih dilakukan untuk memastikan tidak ada bara tersembunyi yang kembali memicu kebakaran.
Operasi mopping up tersebut dilakukan Manggala Agni Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara (Dalkarhut Jabalnusra) bersama Balai Besar TNBTS, TNI, Polri, BPBD Jawa Timur, relawan, serta masyarakat.
Petugas menyisir area yang sebelumnya terbakar sekaligus melakukan pembasahan pada titik-titik yang masih berpotensi menyimpan panas. Langkah ini dinilai penting karena padamnya kobaran api belum otomatis berarti seluruh sumber panas di bawah permukaan benar-benar hilang.
Kondisi vegetasi di kawasan yang terbakar menjadi salah satu alasan proses pendinginan masih dilakukan. Area tersebut terdiri atas savana, cemara gunung, pakis, semak belukar hingga lapisan serasah yang cukup tebal. Material kering itu memungkinkan bara bertahan lebih lama meski api sudah tidak terlihat.
Petugas juga meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan kondisi angin di lapangan. Pusaran angin lokal atau dust devil dapat mengangkat material ringan dan berpotensi membawa bara ke bagian kawasan lain sehingga memunculkan titik api baru.
Kebakaran di kawasan Bromo sendiri telah berlangsung sejak Senin, 3 Agustus 2026. Setelah hampir dua pekan operasi, fokus penanganan kini bergeser dari mengejar kobaran api ke memastikan seluruh area terdampak benar-benar aman.
Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan Dwi Januanto Nugroho mengatakan kondisi terkendalinya api belum berarti ancaman kebakaran sepenuhnya berakhir. Menurut dia, pengalaman dari Bromo menjadi pelajaran penting untuk memperkuat pencegahan kebakaran hutan dan lahan selama musim kemarau.
“Api mungkin sudah terkendali tetapi ancaman karhutla belum selesai,” kata Dwi.
Ia menekankan pentingnya pencegahan dari tingkat tapak dengan melibatkan masyarakat sekitar kawasan. Masyarakat dinilai memiliki posisi strategis karena berada paling dekat dengan kawasan hutan dan dapat menjadi pihak pertama yang mengetahui adanya gangguan atau potensi kebakaran.
Sementara itu, Direktur Pendayagunaan Sumber Daya dan Pengamanan Hutan Suharyono mengapresiasi personel yang masih bertugas setelah hampir dua pekan menghadapi kondisi medan kebakaran.
Menurut Suharyono, terkendalinya api bukan menjadi tanda bahwa seluruh pekerjaan telah selesai. Petugas masih harus memastikan tidak ada bara yang kembali menyala dan menjalar ke kawasan yang belum terdampak.
Kepala Balai Dalkarhut Jabalnusra Bambang Setyo Antoko menambahkan, penanganan kebakaran Bromo melibatkan banyak unsur di lapangan. BBTNBTS, BPBD Jawa Timur, relawan, dan masyarakat turut mendukung kebutuhan air, logistik, akses menuju lokasi, hingga penyampaian informasi kepada petugas.
Penanganan di Bromo sekaligus menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat pengendalian karhutla selama musim kemarau 2026. Kesiapan personel Manggala Agni, deteksi dini, patroli, respons cepat, serta koordinasi lintas sektor menjadi perhatian untuk mencegah kebakaran berkembang dan menimbulkan kerusakan ekologis yang lebih luas. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
