Kredit Bank Sumsel Babel Tumbuh 10%, Ini Strateginya
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 28 menit yang lalu
- visibility 6
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : banksumselbabel.com/id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Kredit Bank Sumsel Babel (BSB) tumbuh sekitar 10 persen secara tahunan per Agustus 2026, masih di bawah pertumbuhan kredit nasional sebesar 13,65 persen.
Guna menjaga bisnis, bank plat merah milik pemerintah daerah Sumsel dan Babel ini mendorong pembiayaan produktif, mulai dari sektor komersial hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Pemimpin Divisi Sekretaris Perusahaan Bank Sumsel Babel, Teddy Kurniawan, menyampaikan hal tersebut saat menjawab pertanyaan resmi melalui pesan WhatsApp (WA), Selasa (20/10/2026).
Berdasarkan Laporan Publikasi Bulanan Agustus 2026, total kredit dan pembiayaan BSB berada di kisaran Rp27 triliun hingga Rp28 triliun, dengan pertumbuhan sekitar 9,5–10,5 persen secara year-on-year (yoy).
Menurut Teddy, pertumbuhan tersebut masih sejalan dengan target Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2026 sebesar 10-12 persen. Target itu ditetapkan dengan mempertimbangkan proyeksi pertumbuhan kredit industri perbankan sebesar 8-12 persen.
Meski katanya, masih tumbuh positif, laju kredit BSB mengalami perlambatan dibandingkan Semester I 2025. Salah satu tantangannya adalah struktur portofolio yang masih didominasi kredit konsumtif, terutama pembiayaan bagi aparatur sipil negara (ASN).
Berdasarkan estimasi tren hingga Agustus 2026, kredit konsumtif masih mencakup sekitar 62-65 persen dari total portofolio BSB, dengan pertumbuhan 5-6 persen yoy.
Sementara itu, lanjutanya, kredit UMKM diperkirakan tumbuh 2,5-3 persen yoy, sedikit di atas pertumbuhan nasional sebesar 2,38 persen. Kredit korporasi dan komersial menjadi segmen dengan pertumbuhan tertinggi, yakni sekitar 15-18 persen yoy.
Peralihan menuju pembiayaan produktif juga sejalan dengan arahan Gubernur dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), agar BSB meningkatkan dukungan terhadap kegiatan usaha yang mendorong perekonomian daerah.
Sektor perdagangan besar, konstruksi, dan jasa menjadi sektor dengan pertumbuhan relatif tinggi. Adapun pertanian dan industri pengolahan menghadapi perlambatan, meski diperkirakan masih tumbuh positif pada level satu digit rendah.
Sultan Muda hingga Pembiayaan Konstruksi
Untuk memperluas pembiayaan produktif, BSB mendorong kredit investasi konstruksi dan modal kerja perdagangan. Perseroan juga menghadirkan Kredit Sultan Muda 2026 yang menyasar wirausaha muda.
Selain itu, Kredit Serba Guna Motor Tanpa DP menjadi salah satu produk untuk mendukung pembiayaan konsumtif. Penyaluran kredit ASN juga didukung mekanisme pembayaran melalui payroll guna membantu menjaga kualitas pembayaran.
BSB turut mendorong sinergi dengan pemerintah daerah dan pengembangan ekosistem desa melalui Sistem Keuangan Desa (Siskeudes) dengan skema non-tunai.
Untuk 2027, BSB memproyeksikan pertumbuhan kredit sebesar 11-13 persen, lebih tinggi daripada target tahun ini.
Proyeksi tersebut ditopang oleh keberlanjutan insentif Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) Bank Indonesia, potensi pemulihan dana pihak ketiga (DPK), peluang penurunan biaya dana, serta pengembangan hilirisasi perkebunan sawit dan karet di Sumsel.
Tantangan BSB ke depan adalah memperbesar pembiayaan produktif dan menjaga kualitas aset dan keseimbangan pendanaan agar pertumbuhan kredit berlangsung secara berkelanjutan. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
