Kabut Asap Palembang, BNPB Tebar 2,4 Ton Dry Ice
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 39 menit yang lalu
- visibility 5
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : bnpb.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID -Kabut asap Palembang masih menjadi perhatian setelah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mengganggu jarak pandang di Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II. Di tengah kondisi tersebut, pantauan di kawasan Kalidoni, Sabtu (17/10/2026) pukul 13.50 WIB, memperlihatkan langit tampak kusam dengan rona kecokelatan.
BNPB sebelumnya mengerahkan operasi modifikasi cuaca (OMC) menggunakan 2,4 ton dry ice untuk membantu menangani dampak asap.
Berdasarkan data cuaca yang tersedia untuk Kalidoni sekitar waktu tersebut, suhu udara mencapai 34 derajat Celsius dengan kondisi diklasifikasikan sebagai cerah berkabut. Namun, pengamatan visual di lokasi menunjukkan langit tampak berbeda, dengan warna kecokelatan yang menyerupai lapisan asap.
Warna langit tersebut belum cukup untuk memastikan sumber kabut berasal dari karhutla. Kepastian kondisi udara memerlukan dukungan data kualitas udara dan informasi resmi dari instansi terkait.
Gangguan asap sebelumnya berdampak terhadap jarak pandang di Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II. Dalam pemantauan pada 15 Oktober 2026, data BMKG mencatat jarak pandang pukul 13.00 WIB berada di angka 1.000 meter.
Sekitar pukul 14.30 WIB, jarak pandang meningkat menjadi 1.500 hingga 2.000 meter. Perubahan juga tercatat setelah pelaksanaan sorti kedua operasi modifikasi cuaca. Jarak pandang dilaporkan berada di kisaran 2.800 meter, kemudian meningkat menjadi 3.000 meter sekitar dua jam berikutnya. Kondisi tersebut cenderung stabil hingga pukul 20.30 WIB.
Meski perkembangan positif, peningkatan jarak pandang itu belum dapat dipastikan sebagai dampak langsung penyemaian dry ice. Perubahan arah angin, kelembapan, dan dinamika atmosfer juga berpotensi memengaruhi konsentrasi asap di sekitar bandara.
BNPB Kerahkan 2,4 Ton Dry Ice
Untuk mendukung penanganan dampak karhutla, BNPB melaksanakan operasi modifikasi cuaca selama dua hari berturut-turut, yakni 15–16 Oktober 2026.
Pesawat OMC diberangkatkan dari Bandara Raden Inten II, Bandar Lampung, dengan total tiga sorti dan waktu terbang mencapai 7 jam 3 menit. Sepanjang operasi tersebut, bahan dry ice yang digunakan mencapai 2,4 ton.
Pada sorti pertama, sebanyak 800 kilogram dry ice disemai di sekitar Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, mulai pagi hingga siang hari.
Penyemaian ini dilakukan sebagai salah satu upaya untuk memengaruhi proses fisik di atmosfer. Meski demikian, efektivitasnya dalam membantu mengurangi kepekatan kabut asap di lapisan permukaan masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
Langit Kusam, Dampak Asap Perlu Diwaspadai
Kondisi langit yang tampak kecokelatan dan kusam di Kalidoni menjadi alasan untuk mencermati perkembangan lingkungan, terutama ketika karhutla masih menjadi persoalan di Sumatera Selatan.
Selain mengurangi jarak pandang, asap kebakaran lahan dapat membawa partikel yang berisiko mengganggu kesehatan masyarakat. Paparan asap perlu diwaspadai, khususnya bagi warga yang beraktivitas di luar ruangan.
Masyarakat dapat memantau perkembangan kualitas udara melalui informasi resmi, termasuk data indeks standar pencemar udara (ISPU), serta mengurangi aktivitas luar ruangan apabila kualitas udara memburuk.
Kepala BNPB Minta Karhutla Segera Diatasi
Kepala BNPB Letjen TNI Kristomei Sianturi menegaskan penanganan karhutla harus dilakukan secepat mungkin agar masyarakat tidak terus terdampak.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah pelantikannya sebagai Kepala BNPB di Istana Negara, Jakarta, Kamis (15/10/2026).
“Targetnya as soon as possible, secepat mungkin. Jangan sampai rakyat terus terdampak,” ujar Kristomei mengutip laman resmi bnpb, sabtu.
Penanganan karhutla membutuhkan langkah menyeluruh, mulai dari pemadaman titik api, pemantauan kondisi cuaca dan kualitas udara, hingga perlindungan masyarakat dari paparan asap.
Operasi modifikasi cuaca menjadi salah satu upaya pendukung. Namun, pengendalian sumber kebakaran tetap menjadi kunci agar kabut asap tidak terus mengganggu penerbangan dan aktivitas warga di Palembang serta wilayah sekitarnya. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
