Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Perbankan & Keuangan » “Bye-bye Dolar? ASEAN Kompak Pakai Uang Sendiri”

“Bye-bye Dolar? ASEAN Kompak Pakai Uang Sendiri”

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Minggu, 21 Sep 2025
  • visibility 1.204
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

ASEAN mulai melawan kebiasaan dolar dengan tameng finansial, mata uang lokal, dan fintech. Apa artinya bagi stabilitas kawasan dan kantong rakyat?

MISALNYA kamu lagi nongkrong di angkringan Yogyakarta, kamu pesan kopi klotok harga Rp5 ribu, tapi bayarnya pakai lembaran dolar. Penjualnya langsung bingung dan berkata “Mas, recehnya mana? Mau saya kembalikan pakai permen?”.

Nah, kira-kira kayak gitu perasaan ASEAN selama ini, dikit-dikit transaksi harus lewat dolar. Padahal kita punya mata uang sendiri. Lama-lama repot juga, kayak hidup ngontrak di rumah orang, tiap hari masih minta izin keluar-masuk.

Makanya, di ASEAN Senior Level Committee on Financial Integration (SLC) ke-30 di Yogyakarta, 18–19 September 2025, para bank sentral sepakat, saatnya ASEAN bikin strategi biar nggak terus-terusan nebeng sama greenback.

Pepatah bilang “Sedia payung sebelum hujan”, tapi ASEAN sadar, kalau badai global makin deras, payung bisa bocor. Solusinya bikin tameng finansial.

Isunya banyak rantai pasok yang kayak benang kusut, geopolitik macam sinetron 300 episode, digitalisasi yang ngebut, dan transisi energi yang bikin kepala muter kayak kipas angin rusak. Kalau ASEAN nggak kompak, siap-siap jadi bulan-bulanan krisis global.

Jadi integrasi keuangan bukan cuma soal neraca, tapi jadi sistem imun kawasan, ibarat kos-kosan, kalau ada anak kos bokek, yang lain patungan. Nggak usah tiap kali bokek langsung pinjam sama juragan luar negeri.

Jangan salah paham, ASEAN bukan demo anti-dolar di bundaran HI sambil bawa toa teriak “Down with Dollar!”, ASEAN cuma sadar, ketergantungan kebablasan sama dolar bikin gampang pusing.

Oleh karena itu, ada strategi Local Currency Transaction (LCT), jadi transaksi lintas negara bisa pakai rupiah, baht, dong, ringgit, peso, bukan melulu dolar.

Deputi Gubernur BI, Filianingsih Hendarta, tegas bilang LCT itu bukan cuma hemat biaya transaksi, tapi juga bikin ASEAN lebih tahan banting. Ibarat geng motor, ASEAN akhirnya pakai jaket kebanggaan sendiri, bukan nebeng jaket orang bule.

Kalau ini sukses, jangan-jangan nanti kita bisa ke Thailand, belanja di pasar malam, bayar pakai rupiah langsung tanpa ribet tukar uang di money changer yang kursnya bikin sakit hati.

Kalau dulu duit berputar lewat bank, sekarang duit malah sprint lewat aplikasi. Bayar QRIS dari Indonesia bisa kebaca di Thailand. Transfer lintas negara bisa semudah kirim stiker WA.

ASEAN ngerti, generasi sekarang lebih percaya dompet digital daripada dompet kulit. Makanya integrasi keuangan harus merangkul fintech dan sistem pembayaran digital.

Ibarat bikin jalan tol, fintech itu jalur cepat biar duit ngalir lancar. Kalau bank itu kayak jalan nasional, resmi, tapi kadang macet. Fintech itu kayak tol baru, bayar e-toll, langsung meluncur tanpa hambatan.

Dan jangan lupa, fintech juga bisa jadi magnet investor muda, bayangin startup ASEAN bisa bikin produk pembayaran lintas negara yang gampang, murah, dan aman, ini bisa jadi motor ekonomi digital kawasan.

ASEAN sering dibandingkan dengan Uni Eropa. Memang, Uni Eropa sukses punya euro, tapi mereka juga pernah jungkir balik gara-gara krisis utang Yunani. Ditambah drama Brexit yang kayak sinetron panjang, penuh konflik, banyak air mata.

ASEAN belajar dari situ, pepatah bilang “Belajar dari orang jatuh, bukan untuk ikut jatuh, tapi supaya nggak kepleset di tempat yang sama”.

Makanya ASEAN pilih jalur beda integrasi fleksibel. Nggak perlu mata uang tunggal, cukup harmonisasi sistem. Jadi ASEAN kayak grup dangdut, nadanya beda-beda, tapi kalau nyanyi bareng tetap merdu.

Strategi ini lebih realistis, karena ASEAN isinya negara dengan ekonomi, politik, dan budaya yang super beragam. Daripada ngotot pakai satu seragam, lebih baik bikin “dress code” yang mirip-mirip tapi tetap nyaman.

Kenapa pertemuan penting ini di Yogyakarta, bukan Jakarta?, jawabannya sederhana diplomasi juga butuh suasana adem.

Bayangin diskusi soal krisis global di tengah macetnya Jakarta, bisa-bisa kepala makin panas. Tapi di Yogya, setelah rapat serius, para pejabat bisa jalan-jalan ke Malioboro, jajan bakpia, atau nongkrong sambil makan gudeg. Diplomasi jadi lebih cair, karena perut juga ikut senang.

Pepatah Jawa bilang “Mangan ora mangan, sing penting kumpul”. ASEAN juga begitu kumpul di Yogya, biar makin akrab. Kadang, keputusan besar justru lahir bukan di meja rapat, tapi saat santai makan sate klathak.

Jadi jangan remehkan Yogya, dari kota budaya dan kota pelajar, kini naik level jadi kota diplomasi moneter ASEAN.

Pertanyaan besar semua strategi ini ujung-ujungnya ngaruh nggak ya buat rakyat?, jawabannya iya, pelan-pelan. Kalau LCT jalan, biaya transaksi lintas negara bisa lebih murah. Turis asing bisa lebih gampang belanja di Indonesia, sebaliknya orang Indonesia bisa lebih simpel bayar di luar negeri.

Fintech lintas negara juga bikin UMKM lebih mudah ekspor, fikirkan coba seandainya pedagang batik di Yogya bisa langsung jualan ke Vietnam, bayarnya pakai rupiah, tanpa ribet konversi dolar.

Dan yang paling penting, kalau krisis global datang, ASEAN nggak gampang goyah, sistem keuangan kawasan bisa saling menopang. Artinya, peluang resesi bisa ditekan, ekonomi rakyat tetap lebih aman.

Selama ini ASEAN kayak anak kos yang tiap lapar lari ke warung dolar. Tapi sekarang mulai sadar lebih murah kalau bawa bekal sendiri.

Dari tameng finansial, penggunaan mata uang lokal, integrasi fintech, belajar dari Uni Eropa, sampai menjadikan Yogya panggung diplomasi moneter, semua itu bikin ASEAN lebih siap menghadapi guncangan dunia.

Pesan moralnya sederhana kemandirian itu mahal, tapi jauh lebih mahal kalau kita terus-terusan bergantung pada orang lain.

Dunia boleh gaduh, dolar boleh tetap jadi raja, tapi ASEAN sudah memutuskan untuk tidak lagi jadi pengikut setia tanpa pilihan. Langkah kecil ini bisa jadi titik balik. Pepatah bilang “Sedikit demi sedikit, lama-lama jadi bukit”. Nah, kalau konsisten, bukit ASEAN ini bisa menjelma jadi gunung finansial yang kokoh.

Dan siapa sangka, ceritanya dimulai bukan di Wall Street atau London, tapi di jantung budaya Nusantara, yakni Yogyakarta.[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Simak Pendapat Fraksi DPRD Sumsel, Fraksi Golkar Usulkan Program Sekolah Gratis Ditingkatkan Lagi

    Simak Pendapat Fraksi DPRD Sumsel, Fraksi Golkar Usulkan Program Sekolah Gratis Ditingkatkan Lagi

    • calendar_month Senin, 20 Jul 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.699
    • 0Komentar

    WAKIL Gubernur Sumsel H Mawardi Yahya menghadiri Rapat Paripurna ke XIV  DPRD Sumsel di ruang Rapat Paripurna Gedung DPRD Sumsel, Palembang, Senin (20/7/2020). Rapat paripurna tersebut diketahui beragendakan Penyampaian Pendapat Akhir Fraksi-Fraksi DPRD Sumsel terhadap raperda pertanggungjawaban pelaksanaan APBD Provinsi Sumsel tahun anggaran 2019. Dimana dalam rapat tersebut, sejumlah gagasan, tanggapan, masukan, maupun imbauan disampaikan fraksi […]

  • Genjot Penyerapan Tenaga Kerja Lokal, Pemkab Muba Gelar Job Fair di Muba Expo 2023

    Genjot Penyerapan Tenaga Kerja Lokal, Pemkab Muba Gelar Job Fair di Muba Expo 2023

    • calendar_month Jumat, 27 Okt 2023
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.057
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id,  – Pemerintah Musi Banyuasin (Muba) melalui Dinas Tenaga kerja dan Transmigrasi Kabupaten Muba bakal melaksanakan Job Fair Tahun 2023 secara offline pada tanggal 27 Oktober hingga 2 November 2023 mendatang, pada rangkaian Muba Expo 2023 dalam rangka memeriahkan HUT ke-67 Kabupaten Musi Banyuasin. Kepala Disnakertrans Muba H Mursalin SE MM mengatakan kegiatan ini dimaksudkan […]

  • PMK Tidak Pengaruhi Pengembangan Sapi

    PMK Tidak Pengaruhi Pengembangan Sapi

    • calendar_month Senin, 6 Jun 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 504
    • 0Komentar

    KEMENTERIAN Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) terus berupaya agar kegiatan optimalisasi reproduksi pada Sapi dan Kerbau dapat tetap berjalan meskipun dalam kondisi wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang sekarang ini sedang mewabah. Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Agung Suganda, […]

  • 4 Langkah Strategi Pengembangan Digitalisasi UMKM

    4 Langkah Strategi Pengembangan Digitalisasi UMKM

    • calendar_month Jumat, 27 Nov 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 4.946
    • 0Komentar

    BERBAGAI pengalaman krisis ekonomi mengajarkan Indonesia bahwa UMKM berperan sebagai tulang punggung ekonomi negara. Digitalisasi dapat mendorong UMKM untuk dapat bertahan dan terus maju bahkan di masa pandemi COVID-19. Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Kemenkop UKM) memiliki strategi pengembangan digitalisasi UMKM, yakni meningkatkan SDM dengan mempersiapkan pelaku UMKM agar kapasitasnya bisa meningkat, mengintervensi perbaikan […]

  • Presiden Dijadwalkan Panen Perdana Hingga Resmikan Pabrik Bensin Sawit Muba

    Presiden Dijadwalkan Panen Perdana Hingga Resmikan Pabrik Bensin Sawit Muba

    • calendar_month Kamis, 28 Jan 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.113
    • 0Komentar

    PEMERINTAH Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) adalah kabupaten pertama di Indonesia yang melakukan percontohan  implementasi program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). Program ini diinisiasi Bupati Muba Dr Dodi Reza Alex Noerdin Lic Econ MBA pada Oktober 2017 lalu di lahan seluas 4.446 hektar yang dilaunching secara langsung oleh Presiden RI Joko Widodo. Kini di tahun 2021, setelah […]

  • Panen Raya Mitra PTPN VII

    Panen Raya Mitra PTPN VII

    • calendar_month Rabu, 19 Mei 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.024
    • 0Komentar

    HAMPARAN dengan padi menguning di Desa Bumijaya, Kecamatan Candipuro, Lampung Selatan menenteramkan pandangan. Dari ribuan hektare, 260 hektare diantaranya pembiayaan operasional garapnya dipinjami PTPN VII melalui pola kemitraan. Tujuh hektare diantaranya dipanen Selasa (18/5) dihadiri Sekretaris PTPN VII Bambang Hartawan “Hari ini kami mengadakan seremoni sederhana panen raya padi dari Gapoktan yang berada di Kecamatan […]

expand_less
WordPress Archive Themify Suco WordPress Theme Themify Thememin WordPress Theme Themify Tiles Plugin Themify Tisa WordPress Theme Themify Ultra Premium WordPress Theme Themify WooCommerce Product Filter Themify WooCommerce Shopdock Themify Wumblr WordPress Theme Therapia – Psychologist & Hypnotherapy Elementor Templates Therapica – Mental Health & Psychologist Elementor Template Kit