Pojok Fisip UIN Raden Fatah

Tasawuf Politik

TASAWUF dan politik diibaratkan dua hal yang dianggap tidak dapat dipertemukan apalagi disatukan. Tasawuf “menjauhi” urusan dunia, sementara politik berusaha “meraih” dunia. Tasawuf menjaga jarak dengan kekuasaan bahkan cenderung memusuhinya, sementara politik “mengejar” dan selalu berusaha berada dekat dalam lingkarang kekuasaan dengan cara apapun. Tasawuf “Memilih” hidup miskin, sedangkan politik menjadikan harta atau kekayaan sebagai salah satu tujuannya. Pakaian para sufi (orang yang menempuh jalan tasawuf) sangat sederhana, sedangkan pakaian para politikus sangatlah mewah dan serba megah.

Inti dari ajaran tasawuf adalah menjaga hati dari segala hal yang dapat mengotorinya, karena hatilah yang menentukan baik atau buruknya sikap dan perilaku, hatilah yang menjadi pengendali semua anggota tubuh.

Hati yang bersih dan suci diterangi oleh cahaya ilahi sehingga hidup menjadi lapang dan bersahaja, meskipun secara materi sangatlah sederhana. Sebaliknya, hati yang kotor menyebabkan hidup menjadi sempit dan serba kekurangan, meskipun secara materi sebenarnya sangat melimpah. Jalan menuju hati yang suci adalah dengan selalu mengingat Tuhan (dzikir) dalam keadaan apapun dan dimanapun, sehingga akan terasa selalu dekat dengan Allah SWT.

Esensi politik adalah memperjuangkan kepentingan, keinginan dan harapan rakyat bukan untuk diri atau kelompok. Keinginan dan harapan rakyat relevan dengan pesan-pesan Tuhan dalam syariat yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw yakni kehidupan yang adil, makmur, dan sejahtera.

Disinilah relevansinya slogan politik yang menyatakan “suara rakyat adalah suara Tuhan”, artinya, memperjuangkan kepentingan rakyat berarti bagian dari mengingat dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Oleh sebab itu, politik dapat juga menjadi jalan “Penyucian” hati dan media pendekatan diri kepada Allah Swt. Ketika berada ditempat dan menggunakan fasilitas mewah, seorang politisi tadaklah menjadikan dirinya lupa kepada Tuhan dan rakyatnya, dia juga tidak akan tega membangun fasilitas mewah ditengah rakyat miskin, tidak akan tega pula menggunakan kendaraan mewah ketika melintasi tempat yang kumuh dan hidupnya tidak akan pernah nyaman sebelum semua itu mendapatkan keadilan dalam kesejahteraan. [***]

 

 

 

Oleh: Taufik Akhyar

Dosen : Dosen Ilmu Politik, Fisip UIN Raden Fatah Palembang

 

Comments

Terpopuler

To Top
WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com