Sabtu, 15 Agu 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Pendidikan » Ketika AI Makin Canggih, Mengapa Pramuka Justru Makin Penting bagi Generasi Muda?

Ketika AI Makin Canggih, Mengapa Pramuka Justru Makin Penting bagi Generasi Muda?

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month 32 menit yang lalu
  • visibility 5
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

SUMSELTERKINI.CO.ID – Pramuka di era digital menghadapi tantangan yang berbeda dari generasi sebelumnya. Anak muda kini tumbuh bersama kecerdasan buatan (AI), media sosial, dan arus informasi yang nyaris tanpa batas. Namun, di tengah teknologi yang semakin pintar, ada satu hal yang tidak bisa begitu saja diserahkan kepada mesin, yaitu pembentukan karakter manusia. Pada tahap ini Pramuka dan generasi muda kembali menemukan jati dirinya.

Pramuka mungkin identik dengan seragam cokelat, kegiatan di alam terbuka, tali-temali, perkemahan, dan upacara. Tetapi jika dilihat lebih jauh, nilai yang dibangun dalam kegiatan kepramukaan sebenarnya jauh lebih besar daripada sekadar keterampilan tersebut.

Pramuka mengajarkan anak muda untuk disiplin, bekerja sama, mengambil keputusan, bertanggung jawab, menghadapi kesulitan, dan peduli kepada orang lain.

Nilai-nilai itu justru semakin penting ketika kehidupan anak muda semakin dekat dengan teknologi.

Teknologi Boleh Semakin Pintar, Karakter Jangan Tertinggal

Kehadiran AI membuat banyak hal menjadi lebih mudah. Mencari informasi, membuat tulisan, menerjemahkan bahasa, belajar sesuatu yang baru hingga menyelesaikan berbagai pekerjaan kini dapat dilakukan dalam waktu singkat.

Namun, teknologi tidak otomatis membuat seseorang menjadi lebih disiplin, gigih atau memiliki empati.

Seorang anak muda bisa saja sangat mahir menggunakan teknologi, tetapi belum tentu mampu bekerja dalam tim. Seseorang bisa mendapatkan informasi dalam hitungan detik, tetapi belum tentu mampu membedakan mana yang benar dan mana yang menyesatkan.

Karena itu, pendidikan karakter generasi muda tetap menjadi pekerjaan penting.

Sekolah memiliki peran besar, tetapi pembentukan karakter tidak berhenti di dalam ruang kelas. Karakter tumbuh dari pengalaman, kebiasaan, lingkungan, keteladanan dan kesempatan untuk menghadapi situasi nyata.

Di sinilah kegiatan Pramuka memiliki ruang yang kuat.

Pramuka Bukan Sekadar Ekstrakurikuler

Pandangan bahwa Pramuka hanya kegiatan ekstrakurikuler perlahan perlu diperluas.

Kegiatan kepramukaan pada dasarnya merupakan ruang belajar yang memberikan pengalaman langsung kepada peserta. Mereka tidak hanya mendengar tentang kerja sama, tetapi mengalaminya. Tidak sekadar belajar tentang kepemimpinan, tetapi diberi kesempatan untuk memimpin. Tidak hanya memahami kepedulian sosial melalui teori, tetapi terlibat dalam kegiatan bersama masyarakat.

Pesan tersebut kembali mengemuka dalam peringatan Hari Pramuka ke-65 dan Jambore Nasional ke-XII di Bumi Perkemahan dan Graha Wisata Cibubur, Jakarta Timur, Jumat, 14 Agustus 2026.

Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia Erick Thohir yang mewakili Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa Pramuka tidak seharusnya hanya dipandang sebagai kegiatan pelengkap di sekolah. Pramuka perlu menjadi bagian penting dari pendidikan dan pembentukan karakter generasi muda Indonesia.

Pesan tersebut sebenarnya relevan jauh melampaui momentum Hari Pramuka.

Sebab, tantangan generasi muda tidak hanya soal kemampuan akademik. Dunia yang semakin kompleks membutuhkan anak muda yang mampu beradaptasi sekaligus memiliki pegangan nilai.

Tiga Karakter Generasi Muda yang Tidak Boleh Hilang

Dalam amanat Presiden yang dibacakan Erick Thohir, terdapat tiga karakter penting yang perlu dimiliki pemuda Indonesia, yakni patriotik, gigih, dan berempati.

Ketiganya terdengar sederhana, tetapi justru menjadi semakin penting di tengah perubahan zaman.

Patriotik bukan sekadar hafal simbol-simbol kebangsaan. Patriotisme dapat diwujudkan melalui kepedulian terhadap lingkungan, menghargai perbedaan, menjaga persatuan, dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Gigih berarti tidak mudah menyerah ketika menghadapi kegagalan. Di tengah dunia yang serba instan, kemampuan untuk bertahan, mencoba kembali, dan menyelesaikan sesuatu hingga tuntas menjadi keunggulan tersendiri.

Sementara empati mengingatkan bahwa kemajuan tidak boleh membuat manusia kehilangan kepedulian. Teknologi dapat menghubungkan jutaan orang, tetapi hubungan antarmanusia tetap membutuhkan perhatian, rasa hormat, dan kepedulian yang nyata.

Tiga karakter tersebut juga menunjukkan bahwa generasi muda Indonesia tidak cukup hanya dipersiapkan untuk menjadi tenaga kerja yang kompeten. Mereka perlu tumbuh sebagai manusia yang memiliki tanggung jawab terhadap lingkungan sosial dan bangsanya.

Mengapa Pramuka Masih Relevan di Era AI?

Pertanyaan ini justru penting ketika teknologi berkembang begitu cepat.

Jawabannya bukan karena Pramuka harus bersaing dengan AI. Sebaliknya, Pramuka dapat menjadi salah satu ruang untuk memastikan teknologi tetap digunakan oleh manusia yang memiliki karakter.

AI dapat membantu mencari solusi. Tetapi manusia tetap harus menentukan apakah solusi tersebut digunakan dengan benar.

AI dapat membuat pekerjaan lebih cepat. Tetapi manusia tetap membutuhkan ketekunan untuk menyelesaikan pekerjaan yang sulit.

AI dapat menghasilkan berbagai informasi. Tetapi manusia tetap membutuhkan kemampuan berpikir kritis untuk menilai informasi tersebut.

Dan AI dapat berkomunikasi dengan manusia, tetapi empati, solidaritas dan kepedulian sosial tetap membutuhkan pengalaman manusia.

Karena itu, Pramuka di era AI tidak harus menjadi Pramuka yang meninggalkan tradisi. Yang dibutuhkan adalah Pramuka yang mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai dasarnya.

Dari Perkemahan hingga Kehidupan Nyata

Ada alasan mengapa kegiatan yang tampak sederhana seperti perkemahan, kerja kelompok atau kegiatan sosial tetap memiliki nilai pendidikan.

Ketika berada di alam terbuka, anak muda belajar menghadapi kondisi yang tidak selalu sesuai rencana. Ketika bekerja dalam kelompok, mereka belajar bahwa tidak semua orang memiliki cara berpikir yang sama. Ketika diberi tanggung jawab, mereka belajar bahwa keputusan memiliki konsekuensi.

Pengalaman semacam itu membentuk sesuatu yang tidak selalu bisa diperoleh melalui teori.

Karakter tumbuh melalui latihan dan pengalaman yang berulang.

Karena itulah pembentukan karakter generasi muda tidak bisa dilakukan dalam satu hari. Tidak cukup hanya melalui satu mata pelajaran, satu seminar atau satu kegiatan seremonial.

Dibutuhkan lingkungan yang terus melatih anak muda untuk menjadi pribadi yang bertanggung jawab.

Menyiapkan Generasi Menuju Indonesia Emas 2045

Indonesia Emas 2045 bukan hanya tentang gedung tinggi, ekonomi besar atau teknologi canggih.

Di balik semua itu ada manusia yang akan menjalankannya.

Generasi muda yang hari ini duduk di bangku sekolah dan perguruan tinggi akan menjadi bagian penting dari perjalanan Indonesia menuju 2045. Mereka yang nantinya akan menjadi pemimpin, profesional, pengusaha, ilmuwan, pendidik, pekerja kreatif hingga penggerak masyarakat.

Karena itu, investasi terhadap generasi muda tidak cukup hanya dengan meningkatkan kemampuan teknologi.

Pendidikan karakter, kepemimpinan dan kepedulian sosial juga harus mendapatkan tempat yang sama pentingnya.

Sinergi antara Kementerian Pemuda dan Olahraga, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, serta Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi menjadi penting agar pembentukan karakter tidak berjalan sendiri-sendiri.

Sekolah memberikan pengetahuan. Perguruan tinggi memperkuat kompetensi. Lingkungan sosial memberikan pengalaman. Sementara berbagai kegiatan kepemudaan, termasuk Pramuka, dapat menjadi ruang untuk menguji semuanya dalam kehidupan nyata.

Pramuka Harus Berubah, tetapi Nilainya Jangan Hilang

Generasi muda hari ini bukan generasi yang sama dengan beberapa dekade lalu.

Mereka hidup dalam dunia yang cepat, terkoneksi dan penuh pilihan. Karena itu, pendekatan pendidikan kepemudaan juga perlu mengikuti perubahan tersebut.

Pramuka bisa memanfaatkan teknologi, mengenalkan literasi digital, mengajarkan kemampuan menghadapi informasi palsu, bahkan memanfaatkan AI sebagai alat belajar.

Namun ada hal yang tidak perlu berubah: disiplin, gotong royong, kemandirian, kepemimpinan dan kepedulian terhadap sesama.

Justru nilai-nilai itulah yang membuat Pramuka tetap relevan.

Sebab pada akhirnya, masa depan tidak hanya membutuhkan generasi yang pintar menggunakan teknologi. Indonesia membutuhkan generasi yang tahu untuk apa teknologi digunakan dan kepada siapa manfaatnya diberikan.

Di tengah dunia yang semakin digital, mungkin inilah alasan mengapa Pramuka masih dibutuhkan.

Bukan untuk membawa anak muda kembali ke masa lalu, tetapi untuk memastikan mereka melangkah ke masa depan dengan karakter yang kuat.

AI boleh semakin canggih. Teknologi boleh terus berubah. Tetapi generasi muda Indonesia tetap membutuhkan kemampuan untuk memimpin, bekerja sama, bertahan dalam kesulitan, dan peduli kepada sesama.

Dan nilai-nilai itulah yang membuat Pramuka tetap punya tempat dalam perjalanan menuju Indonesia Emas 2045.(***)

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dorong Tradisi Gelaran “Midang Bebuke” Ini Kata Bupati OKI

    Dorong Tradisi Gelaran “Midang Bebuke” Ini Kata Bupati OKI

    • calendar_month Selasa, 25 Apr 2023
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.009
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id,OKI – Bupati Ogan Komering Ilir, Iskandar mendorong gelaran “midang bebuke” [karnaval muda-mudi berpakaian adat pada lebaran idul fitri] dilaksanakan pada tahun ini agar seluruh masyarakat bisa kembali menikmati adat budaya yang digelar pada hari ketiga dan keempat lebaran idul fitri ini.   “Bagian dari upaya kita melestarikan adat budaya yang menjadi kearifkan lokal dan […]

  • 5 Poin Penting Vaksinasi Gotong Royong

    5 Poin Penting Vaksinasi Gotong Royong

    • calendar_month Selasa, 2 Mar 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 750
    • 0Komentar

    UNTUK membantu percepatan pelaksanaan vaksinasi COVID-19 serta tercapainya herd immunity (kekebalan kelompok), pemerintah menetapkan adanya pelaksanaan Vaksinasi Gotong Royong berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 10/2021. Beberapa hal yang perlu kita ketahui terkait program Vaksinasi Gotong Royong ini di antaranya: pelaksanaannya gratis karena ditanggung oleh perusahaan atau badan hukum yang melaksanakan, juga menggunakan jenis vaksin yang berbeda, […]

  • Fogging massal di OKI, putus mata rantai DBD

    Fogging massal di OKI, putus mata rantai DBD

    • calendar_month Sabtu, 20 Jan 2024
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 790
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, – Penjabat Bupati Ogan Komering Ilir, Ir. Asmar Wijaya, M. Si memimpin langsung pengasapan dan fogging massal untuk pemberantasan sarang nyamuk. Kegiatan fogging massal tersebut dilaksanakan serentak di 33 puskesmas di 18 Kecamatan se Kabupaten OKI, Jum’at (3/11/2023) pagi. Pj. Bupati, Asmar mengatakan fogging serentak merupakan bagian dari upaya Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN)  agar […]

  • Hadiri Opening GATF 2018, Alex Noerdin Diserbu Pengunjung Mall

    Hadiri Opening GATF 2018, Alex Noerdin Diserbu Pengunjung Mall

    • calendar_month Jumat, 16 Mar 2018
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.176
    • 0Komentar

    Garuda banyak memberikan kontribusinya mendukung pariwisata di Sumsel.

  • “Kuota Haji Tak Hangus Lagi, Digitalisasi Bantu Jemaah Indonesia”

    “Kuota Haji Tak Hangus Lagi, Digitalisasi Bantu Jemaah Indonesia”

    • calendar_month Rabu, 18 Feb 2026
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 111
    • 0Komentar

    JUTAAN calon jemaah haji dan umrah Indonesia kini bisa bernapas lega. Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) memastikan kuota yang batal berangkat tidak lagi otomatis hangus, berkat sistem digital baru yang terintegrasi dengan Arab Saudi. Selain itu, pembayaran Dam Tamattu kini lebih mudah dan cepat melalui platform online, menjanjikan pengalaman ibadah yang lebih nyaman dan aman. […]

  • Gubernur  Libatkan Petani Milenial Sukseskan Gerakan Sumsel Mandiri Pangan 

    Gubernur  Libatkan Petani Milenial Sukseskan Gerakan Sumsel Mandiri Pangan 

    • calendar_month Rabu, 22 Des 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 744
    • 0Komentar

    MEMPERCEPAT terwujudnya gerakan Sumsel Mandiri Pangan (SMP), Gubernur Sumsel H. Herman Deru melakukan berbagai cara. Tak hanya melibatkan perusahaan swasta, BUMN dan BUMD untuk pemberian bantuan bibit, benih, pupuk dan lainnya, tapi  Ia juga melibatkan petani milenial di berbagai daerah di Sumsel. Seperti pada Selasa (21/12) siang, di sela kunkernya ke Kabupaten OKU Timur, Gubernur […]

expand_less
WordPress Archive Easy Digital Downloads Acquisition Survey Addon Easy Digital Downloads ActiveCampaign Easy Digital Downloads Add to Cart Popup Addon Easy Digital Downloads Advanced Reports Addon Easy Digital Downloads Advanced Sequential Order Numbers Easy Digital Downloads All Access Easy Digital Downloads Amazon S3 Easy Digital Downloads Authorize.net Payment Gateway Easy Digital Downloads AWeber Easy Digital Downloads Braintree