Jurus BNNP Jabar Lawan Narkoba, Ngawih Sunda Jadi Senjata Andalan
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month Jumat, 4 Sep 2026
- visibility 27
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : bnn.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Melawan narkoba tidak selalu harus dilakukan dengan kampanye yang serius dan formal. Di Jawa Barat, pesan itu justru coba disampaikan lewat suara anak muda yang melantunkan tembang Sunda.
Pendekatan inilah yang dikembangkan Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Barat melalui Lomba Pasanggiri Agung Ngawih Sinom “Narkoba Musuh Bangsa”. Seni tradisional dijadikan pintu masuk untuk mengenalkan pesan bahaya narkotika kepada anak-anak dan remaja.
Cara tersebut mendapat respons cukup besar. Sebanyak 180 peserta tercatat mengikuti perlombaan setelah pendaftaran dibuka selama 21 hari, mulai 10 hingga 31 Agustus 2026.
Peserta berasal dari dua kategori, yakni umum dan pelajar. Mereka tidak sekadar dituntut mampu bernyanyi atau menembang dalam bahasa Sunda, tetapi juga harus menyampaikan pesan antinarkoba melalui karya yang dibawakan.
Dari ratusan peserta itu, persaingan kemudian mengerucut setelah proses penjurian digelar pada 2 September 2026. BNNP Jawa Barat melibatkan unsur akademisi seni dari Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Fakultas Seni Pertunjukan untuk menilai penampilan para peserta.
Hasil seleksi menetapkan 16 peserta terbaik untuk melaju ke tahap berikutnya. Masing-masing delapan finalis berasal dari kategori umum dan delapan lainnya dari kategori pelajar.
Para finalis dinilai mampu memadukan kemampuan dalam seni ngawih dengan pesan moral yang ingin disampaikan melalui tema “Narkoba Musuh Bangsa”. Penilaian juga dilakukan dengan mengacu pada ketentuan yang telah ditetapkan dalam perlombaan.
Menariknya, ada karya khusus yang menjadi materi wajib dalam ajang tersebut. Lagu “Narkoba Musuh Bangsa” merupakan ciptaan Kepala BNNP Jawa Barat Brigjen Pol. Sulistyo Pudjo Hartono, S.I.K., M.Si.
Karya tersebut terdiri atas dua stansa dan saat ini tengah diproses untuk mendapatkan perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI).
Namun, tujuan karya itu tidak berhenti pada panggung pasanggiri. Setelah proses perlombaan, “Narkoba Musuh Bangsa” direncanakan diserahkan kepada Kepala BNN RI untuk menjadi bagian dari program nasional Ananda Bersinar.
Karya yang sama juga diproyeksikan masuk dalam materi Inovasi Keluarga Anti Narkoba (IKAN). Materi tersebut nantinya direncanakan diserahkan kepada Gubernur Jawa Barat untuk dikembangkan sebagai bagian dari muatan lokal (Mulok).
Langkah itu membuat lomba ngawih memiliki tujuan yang lebih panjang. Seni tradisi tidak hanya digunakan sebagai hiburan, tetapi diarahkan menjadi media untuk menyampaikan edukasi antinarkoba di lingkungan keluarga dan pendidikan.
Kini perhatian beralih kepada 16 finalis yang akan menentukan siapa yang paling layak membawa pulang Piala Gubernur Jawa Barat.
Babak puncak dijadwalkan berlangsung pada 14 September 2026 di Gedung Pertunjukan Kesenian, Jalan Naripan-Braga, Kecamatan Sumur, Kota Bandung. Gubernur Jawa Barat bersama unsur Forkopimda Jawa Barat turut diagendakan menghadiri kegiatan tersebut.
Bagi BNNP Jawa Barat, pendekatan melalui budaya diharapkan membuat pesan pencegahan narkoba tidak berhenti sebagai slogan. Pesan itu diharapkan bisa lebih mudah diterima karena disampaikan melalui sesuatu yang sudah akrab dengan masyarakat.
Dari lantunan ngawih Sunda, kampanye antinarkoba pun mendapat ruang baru untuk menjangkau generasi muda Jawa Barat. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
