STEM Masuk Sekolah! Bukan Soal Teknologi Mahal, Cara Anak Belajar Ini Mulai Diubah
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month Jumat, 4 Sep 2026
- visibility 25
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto:kemendikdasmen.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – STEM mulai didorong sebagai pendekatan pembelajaran guna mengajak anak agar tidak hanya memahami sains, teknologi, enjinering, dan matematika, sehingga harapannya terbiasa dengan bertanya, mencoba, berpikir kritis, dan mencari solusi dari persoalan yang mereka temui sehari-hari.
Pendekatan ini setidaknya juga mematahkan anggapan pembelajaran STEM harus menggunakan peralatan canggih atau membutuhkan biaya besar. Di sekolah, STEM dapat dimulai dari sesuatu yang sederhana dan dekat dengan kehidupan peserta didik.
Kemendikdasmen memperkenalkan penerapan STEM melalui prinsip 5M, yaitu Mudah, Murah, Menggembirakan, Mindful, dan Meaningful. Prinsip tersebut menjadi salah satu cara agar pembelajaran STEM dapat diterapkan secara lebih sederhana dan relevan di berbagai lingkungan sekolah.
Alih-alih hanya meminta anak menghafal rumus atau konsep, pembelajaran diarahkan agar mereka memahami bagaimana pengetahuan tersebut digunakan untuk menghadapi persoalan nyata.
Misalnya, lingkungan sekitar sekolah dapat menjadi bahan untuk mengamati, mengajukan pertanyaan, melakukan percobaan sederhana, hingga menemukan kemungkinan solusi. Dari proses tersebut, anak tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga belajar bagaimana menggunakan pengetahuan tersebut.
Guru Memegang Peran Penting
Tak berhenti di situ saja, tetapi penerapan STEM juga pada perubahan aktivitas belajar murid. Apalagi guru itu menjadi bagian penting dalam menentukan bagaimana konsep tersebut diterjemahkan menjadi pengalaman belajar yang sesuai dengan usia dan kondisi peserta didik.
Oleh sebab itu, peningkatan kompetensi guru menjadi salah satu bagian dari penguatan Program STEM.
Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) Kemendikdasmen Nunuk Suryani mengatakan, pemerintah menyiapkan berbagai program peningkatan kompetensi dan dapat memperluas pengimbasan pembelajaran STEM.
Sebanyak 3.272 guru menjadi sasaran pengimbasan melalui fasilitator daerah. Sementara itu, Kemendikdasmen telah membentuk 155 Fasilitator Nasional melalui pelatihan yang bermitra dengan Monash University, SEAQIS, dan Korea National University of Education.
Penguatan kompetensi mencakup pelatihan teknis, micro-credential, serta lokakarya lintas jenjang.
Menurut Nunuk, penguatan tersebut diharapkan membantu guru menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada pengetahuan, tetapi juga memberikan pengalaman yang relevan dan berdampak bagi murid.
“Dengan implementasi terarah, pembelajaran STEM dengan prinsip 5M yang erat dengan kearifan lokal diharapkan dapat menjadi pengungkit mutu pembelajaran sekaligus mempersiapkan Generasi Emas bagi terwujudnya Indonesia Emas 2045,” kata Nunuk.
Tidak Harus Dimulai dari Laboratorium
Salah satu kekuatan pendekatan STEM adalah fleksibilitasnya. Guru dapat menyesuaikan kegiatan dengan lingkungan sekolah, usia anak, serta sumber daya yang tersedia.
Dengan prinsip Mudah dan Murah, pembelajaran STEM tidak harus menunggu tersedianya fasilitas khusus. Benda dan persoalan yang ada di sekitar dapat menjadi bagian dari proses belajar.
Prinsip Menggembirakan, Mindful, dan Meaningful juga menempatkan pengalaman anak sebagai bagian penting dalam pembelajaran. Anak diberi ruang untuk terlibat, mencoba, memahami proses, serta menghubungkan apa yang dipelajari dengan kehidupan mereka.
Pembelajaran STEM dapat diterapkan mulai dari jenjang pendidikan anak usia dini hingga jenjang pendidikan berikutnya dengan menyesuaikan bentuk kegiatannya.
Sementara untuk guru sendiri setidaknya pendekatan itu bisa menuntut kemauan guna terus belajar dan bertukar pengalaman.
Fitri Anggraeni, guru RA Miftahul Falah Dawe, mengajak para pendidik untuk terus meningkatkan kemampuan dan saling berbagi pengalaman dalam mengajar.
“Mari kita terus semangat belajar mengasah kemampuan dan saling menginspirasi bertukar pengalaman mengajar untuk memperkaya wawasan dan mencetak generasi unggul,” ujarnya.
Sementara itu, Annisa, guru TKIT Umar bin Khatab, berharap Program STEM Nasional dapat mendorong guru menciptakan pembelajaran yang lebih kreatif dan membantu menumbuhkan pola pikir kritis anak sejak dini.
Kudus dan Jepara Siapkan Penerapan
Penguatan STEM juga mendapat respons dari pemerintah daerah. Kabupaten Kudus dan Jepara menjadi bagian dari daerah yang menyatakan dukungan terhadap penerapan program tersebut.
Pelaksana tugas (Plt.) Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga Kabupaten Kudus, Anggun Nugroho, mengatakan pihaknya mengapresiasi peluncuran Program STEM Nasional.
Penerapannya, kata Anggun, akan dilakukan secara bertahap di berbagai jenjang. Salah satu opsi yang disiapkan adalah melakukan piloting terlebih dahulu di satu atau dua sekolah sebelum diperluas.
“Kami akan mengimplementasikan program ini secara bertahap di semua jenjang. Mungkin akan ada piloting satu atau dua sekolah terlebih dahulu sebelum pelaksanaan secara menyeluruh di Kudus,” kata Anggun.
Ia juga menyatakan kesiapan untuk berkolaborasi dengan berbagai pihak dalam mendukung penerapan STEM di sekolah.
Dukungan juga disampaikan Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Jepara, Adi Hananto. Ia berharap pembelajaran STEM dapat diterapkan secara menyeluruh sehingga peserta didik di Jepara memiliki dasar STEM yang lebih baik.
Jepara akan mendorong penguatan itu melalui komunitas belajar guru. Forum tersebut diharapkan menjadi salah satu jalur untuk berbagi praktik dan mengimbaskan pembelajaran STEM kepada lebih banyak pendidik.
“Kami akan mendukung program ini melalui komunitas belajar (kombel) guru. Harapannya, mereka dapat mengimbaskan STEM ini kepada semua guru yang ada di Kabupaten Jepara,” ujar Adi.
Berawal dari Rasa Ingin Tahu
Oleh karena itu, penerapan STEM di sekolah bukan hanya tentang seberapa lengkap fasilitas yang dimiliki. Hal yang tidak kalah penting adalah bagaimana guru membuka ruang bagi anak untuk memiliki rasa ingin tahu dan keberanian mencoba.
Pertanyaan sederhana tentang lingkungan sekitar dapat menjadi awal sebuah proses belajar. Anak kemudian diajak mengamati, mencari tahu, menguji gagasan, dan memikirkan solusi.
Cara tersebut membuat sains, teknologi, enjinering, dan matematika terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Dengan prinsip 5M, STEM dapat tumbuh dari pembelajaran yang sederhana tanpa harus kehilangan tujuan utamanya, yakni membantu anak membangun kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan mampu memecahkan masalah. Semangat itu terangkum dalam slogan STEM: Berani Mencoba, Kreatif Mencipta. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
