Aktivis Jerman “Bule Sampah” Turun ke Sungai Musi, Pesannya Bikin Penasaran
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 15 menit yang lalu
- visibility 4
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto :ist
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Aktivis lingkungan asal Jerman, Benedict Wermter, yang dikenal dengan julukan “Bule Sampah”, turun langsung membersihkan Sungai Musi di kawasan 7 Ulu, sekitar Jembatan Ampera, Palembang, Sabtu (12/9/2026).
Benedict tidak datang sekadar melihat kondisi sungai, ia ikut memungut sampah bersama sekitar 700 peserta dalam Gerakan Menjaga Sungai Palembang dan Clean Up Sungai Musi.
Peserta aksi berasal dari berbagai unsur, mulai dari pemerintah, relawan, komunitas, mahasiswa, pemuda hingga masyarakat.
Di tengah aksi tersebut, Wali Kota Palembang H Ratu Dewa, M.Si juga ikut turun langsung membersihkan kawasan bantaran Sungai Musi.
Mengapa Benedict Dijuluki “Bule Sampah”?
Julukan “Bule Sampah” melekat pada Benedict karena aktivitasnya yang konsisten mengajak masyarakat peduli terhadap persoalan sampah dan lingkungan.
Kali ini, ia memilih Sungai Musi sebagai lokasi aksi bersama ratusan peserta.
Benedict ikut mengangkat sampah yang ditemukan di sekitar kawasan sungai. Namun, baginya, persoalan lingkungan tidak selesai hanya dengan membersihkan sampah yang terlihat.
Ada pesan lain yang ingin ia dorong dari aksi tersebut.
“Bule Sampah” Punya Cara Agar Aksi Tak Berhenti
Benedict menilai aksi lingkungan harus dibuat menarik agar lebih banyak orang ikut melihat, membicarakan dan kemudian sadar terhadap persoalan sampah.
Karena itu, ia mendorong aksi bersih sungai tidak hanya dilakukan, tetapi juga didokumentasikan dan disebarluaskan melalui video.
“Menurut saya kita harus membuat aksi, bukan cuma membuat aksi, tetapi juga membuat video, membuatnya viral dan membangun kesadaran,” kata Benedict.
Pesan tersebut menjadi salah satu bagian menarik dari kehadiran aktivis asal Jerman itu di Sungai Musi.
Baginya, semakin banyak orang mengetahui persoalan lingkungan, semakin besar peluang munculnya kesadaran untuk mengubah kebiasaan.
Palembang Hasilkan 1.260 Ton Sampah Setiap Hari
Persoalan yang dibicarakan Benedict bukan tanpa alasan.
Wali Kota Palembang H Ratu Dewa menerangkan berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup, timbulan sampah di Kota Palembang mencapai sekitar 1.260 ton per hari.
Jika dihitung dalam setahun, jumlahnya mencapai lebih dari 460 ribu ton sampah.
Angka tersebut menggambarkan membersihkan sungai dalam satu kegiatan saja tidak akan cukup.
Sampah baru tetap berpotensi muncul jika kebiasaan masyarakat dalam menghasilkan, menggunakan dan membuang sampah tidak berubah.
Sungai Musi Bukan Sekadar Tempat Mengalirnya Air
Ratu Dewa menegaskan Sungai Musi memiliki posisi penting bagi Palembang.
Sungai ini bukan hanya memiliki nilai ekologis, tetapi juga menjadi bagian dari identitas dan sejarah Kota Palembang.
Karena itu, menjaga Sungai Musi tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah.
“Menjaga kebersihan Sungai Musi tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah. Dibutuhkan keterlibatan seluruh lapisan masyarakat agar kepedulian terhadap lingkungan menjadi budaya dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.
Menurut Dewa, kepedulian terhadap sungai harus dimulai dari kebiasaan sehari-hari, bukan hanya ketika pemerintah atau komunitas menggelar aksi bersih-bersih.
PSEL Keramasan Bukan Alasan Buang Sampah Sembarangan
Pemkot Palembang juga memperkuat pengelolaan sampah melalui pembangunan dan pengembangan Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) di Keramasan.
Fasilitas tersebut memiliki kapasitas pengolahan hingga 1.000 ton sampah per hari.
Namun, Dewa mengingatkan keberadaan PSEL tidak boleh membuat masyarakat merasa persoalan sampah sudah selesai.
“PSEL bukan berarti kita boleh terus menghasilkan sampah. Pengurangan dan pemilahan sampah tetap harus dimulai dari rumah, lingkungan dan masyarakat,” tegasnya.
Ia mengajak masyarakat mengurangi penggunaan plastik, memilah sampah dari rumah serta menghentikan kebiasaan membuang sampah ke sungai.
“Jangan buang sampah sembarangan. Mari kita peduli lingkungan dan menjadikannya sebagai budaya. Mulai dari diri sendiri, keluarga, kemudian mengajak masyarakat,” ujarnya.
Aksi 700 Orang Jangan Berhenti di Hari Itu
Koordinator Daerah ICCN Sumatera Selatan Muhammad Hafidz Alfuqan menilai aksi membersihkan Sungai Musi harus dilakukan secara konsisten.
Menurutnya, kegiatan seperti ini jangan hanya ramai ketika digelar, kemudian kembali sepi setelah kegiatan selesai.
“Yang paling penting adalah konsisten. Gerakan ini jangan hanya berhenti pada satu kegiatan, tetapi harus terus dilakukan,” kata Hafidz.
Sekitar 700 peserta yang terlibat menjadi gambaran bahwa persoalan Sungai Musi bisa menggerakkan banyak unsur untuk ikut turun tangan.
Gerakan tersebut turut melibatkan The Guardians of The River – ICCN Sumatera Selatan.
Benedict berharap aksi tersebut tidak berakhir sebagai dokumentasi kegiatan semata.
Ia ingin video dan pesan tentang kebersihan sungai terus menyebar sehingga semakin banyak masyarakat yang ikut peduli.
Pada akhirnya, aksi “Bule Sampah” bersama ratusan peserta di Sungai Musi bukan hanya tentang mengangkat sampah dari bantaran sungai.
Pesan yang lebih besar justru ada setelah sampah diangkat, jangan sampai sampah yang sama kembali datang dari sumbernya. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
