Hotspot Sumsel Meledak, Palembang Diselimuti Udara Berbahaya
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 48 menit yang lalu
- visibility 7
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : sumselterkini
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Karhutla di Sumatera Selatan (Sumsel) belum menunjukkan tanda benar-benar mereda, meski jumlah titik panas atau hotspot secara nasional mengalami penurunan, Sumsel justru bergerak berlawanan dengan lonjakan hotspot yang cukup tajam.
Berdasarkan pemantauan Sistem Informasi Deteksi Dini Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) Kementerian Kehutanan hingga Sabtu (3/10/2026) pukul 21.10 WIB, Sumatera Selatan mencatat 254 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence).
Angka tersebut melonjak dibandingkan sehari sebelumnya yang tercatat 83 hotspot.
Kondisi ini membuat Sumatera Selatan menjadi provinsi dengan jumlah hotspot tertinggi di antara enam wilayah prioritas pengendalian karhutla.
Secara nasional, jumlah hotspot high confidence justru turun dari 1.271 titik pada Jumat (2/10) menjadi 666 titik pada Sabtu (3/10) atau berkurang 605 titik.
Namun, penurunan nasional tersebut tidak terjadi merata.
Selain Sumsel yang naik dari 83 menjadi 254 titik, Riau juga mengalami peningkatan dari nihil menjadi 32 titik dan Jambi dari nihil menjadi 3 titik.
Sebaliknya, hotspot di Kalimantan Tengah turun dari 355 menjadi 96 titik, Kalimantan Barat dari 246 menjadi 26 titik, sedangkan Kalimantan Selatan turun dari 42 menjadi 18 titik.
Dengan demikian, enam provinsi prioritas secara keseluruhan mencatat 429 hotspot high confidence, turun dari 726 titik sehari sebelumnya.
Palembang Berhadapan dengan Udara Berbahaya
Ancaman karhutla tidak hanya terlihat dari angka hotspot. Dampaknya juga mulai terasa pada kualitas udara di Palembang.
Data resmi BMKG menunjukkan konsentrasi partikulat halus PM2.5 di Musi 2 Palembang mencapai 630,1 mikrogram per meter kubik, sedangkan pemantauan di Talang Betutu mencapai 524,3 mikrogram per meter kubik.
Keduanya berada dalam kategori berbahaya menurut klasifikasi kualitas udara BMKG.
PM2.5 merupakan partikel berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan. Konsentrasi yang sangat tinggi menjadi perhatian serius, khususnya bagi kelompok rentan.
Data tersebut memperlihatkan bahwa persoalan karhutla di Sumsel bukan lagi hanya mengenai titik api di kawasan lahan, tetapi juga berpotensi berdampak langsung terhadap masyarakat yang berada di wilayah perkotaan.
BMKG: Kondisi Kering Masih Jadi Perhatian
Situasi tersebut berlangsung ketika kondisi atmosfer di sejumlah wilayah Indonesia masih relatif kering.
Dalam prospek cuaca periode 2–8 Oktober 2026, BMKG menyebut kondisi kering masih berlangsung di sejumlah wilayah. Hasil pemantauan Hari Tanpa Hujan (HTH) hingga Dasarian II September juga menunjukkan masih banyak wilayah mengalami periode tanpa hujan kategori panjang hingga ekstrem panjang.
BMKG mencatat kondisi kering tersebut berimplikasi terhadap masih tingginya jumlah hotspot. Pada 30 September 2026, misalnya, terdeteksi 159 hotspot di Sumatera, 193 di Kalimantan, serta 322 titik di Papua dan Maluku.
BMKG juga memperkirakan sekitar 79,65 persen wilayah Indonesia mengalami curah hujan kategori rendah, 0–50 milimeter per dasarian, pada Dasarian I Oktober 2026.
Kondisi atmosfer yang relatif kering ini membuat wilayah yang memiliki lahan mudah terbakar, terutama gambut dan semak belukar, tetap perlu mendapat perhatian.
Meski demikian, BMKG menegaskan potensi hujan masih ada secara lokal. Hujan ringan hingga sedang dapat terjadi di sejumlah wilayah dan tidak serta-merta mengakhiri kondisi kering secara luas.
Pemerintah Tetap Siagakan Operasi Darat dan Udara
Kementerian Kehutanan memastikan pengendalian karhutla tetap dilakukan secara terpadu bersama BNPB, TNI, Polri, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, relawan, dunia usaha, dan pihak terkait lainnya.
Sebanyak 61 unit armada udara disiagakan. Rinciannya, 17 unit digunakan untuk patroli dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), sementara 44 unit disiapkan untuk operasi water bombing.
Perhatian khusus diberikan pada kawasan gambut. Api di lahan gambut dapat bertahan dan menjalar di bawah permukaan meskipun kobaran di atas tanah telah menghilang.
Karena itu, pemadaman tidak cukup hanya menghilangkan api yang terlihat. Pendinginan dan pembasahan harus dilakukan hingga bara di dalam tanah benar-benar dipastikan aman.
Hotspot Bukan Berarti Jumlah Kebakaran
Kementerian Kehutanan mengingatkan bahwa angka hotspot tidak dapat secara langsung disamakan dengan jumlah kejadian kebakaran maupun luas lahan yang terbakar.
Hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang dideteksi satelit. Satu kejadian kebakaran dapat menghasilkan beberapa titik panas.
Setiap indikasi karena itu tetap membutuhkan verifikasi di lapangan atau groundcheck untuk memastikan kondisi sebenarnya dan menentukan langkah penanganan.
Warga Diminta Tidak Membakar Lahan
Penurunan hotspot secara nasional juga tidak berarti ancaman karhutla telah berakhir.
Dengan Sumatera Selatan justru mencatat kenaikan hotspot hingga 254 titik dan kualitas udara Palembang berada pada kategori berbahaya berdasarkan pemantauan PM2.5 BMKG, kewaspadaan tetap diperlukan.
Masyarakat dan pelaku usaha diminta tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar.
Warga di wilayah terdampak asap juga diminta memantau perkembangan kualitas udara. Jika kondisi udara memburuk, aktivitas di luar ruangan perlu dikurangi dan penggunaan masker dianjurkan saat harus berada di luar.
Perhatian lebih juga diperlukan terhadap anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan atau penyakit kronis.
Karhutla di Sumsel kini menghadirkan dua angka yang sama-sama mengkhawatirkan: 254 hotspot high confidence dan PM2.5 Palembang yang menembus lebih dari 500 mikrogram per meter kubik di dua titik pemantauan BMKG. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
