Kamis, 15 Okt 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » OKI Terkini » Inovasi Petani Milenial OKI Soal Ini

Inovasi Petani Milenial OKI Soal Ini

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Rabu, 13 Jul 2022
  • visibility 816
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

JANGAN bilang anak muda sekarang enggan turun ke sawah. Hal itu dibuktikan Novriansyah (35) seorang petani milenial Desa Lubuk Seberuk, Kecamatan Lempuing Jaya, Kabupaten Ogan Komering Ilir mampu hasilkan beras organik pari pupuk yang dibuat sendiri.

Novriansyah menyatakan bahwa peralihan pupuk kimia ke pupuk organic baru dijalani sekitar 4 tahun terakhir dengan luasan lahan yang digarap sekitar satu hektar.

“Jadi sampai sekarang lahan yang benar-benar full organik seluas seperempat hektar, sisanya ¾ hektar statusnya masih semi organik,” ujarnya saat ditemui, Selasa (12/7/2022) pagi.

Dimana saat awal perubahan pemberian pupuk organik terdapat kendala yang dirasakan karena hasil panen jauh menurun.

“Pada tahun pertama peralihan pemberian pupuk organik satu hektar hanya menghasilkan sekitar 4 ton gabah kering giling (GKG).
Tetapi di tahun kedua, ketiga semakin meningkat dan untuk tahun ke empat kemarin sudah kembali normal seperti saat memakai pupuk kimia yaitu 6 -7 ton,” ungkapnya.

Dia mengatakan kedepan bakal ada penambahan jumlah lahan yang akan menerapkan pemupukan secara organik.

“Insyaallah kedepan ada penambahan dari lahan persawahan milik tetangga kiri maupun kanan. Sekitar 7 – 8 he

Diceritakan beras organik memiliki kualitas yang bagus dengan rasa yang lebih segar dan wangi. Apalagi sudah dijamin lebih sehat untuk dikonsumsi.

“Kalau untuk sementara ini, rata-rata langganan yang membeli hanya sebatas orang kantor ataupun warga yang mapan. Kalau masyarakat untuk banyak yang enggan beli beras ini dikarenakan harga jual lebih mahal yaitu Rp 15.000 perkilogram,” katanya cukup sulit memasarkan beras organik.

Menurutnya cukup sulit beradaptasi lahan yang sebelumnya diberi pupuk kimia dan beralih dengan pemberian pupuk organik dikarenakan kadar residu dari zat-zat kimia yang telah tercampur kedalam tanah.

Masalahnya banyak lahan-lahan disini yang masih sakit. Jadi kita harus nyari-nyari lahan yang sehat atau bukaan baru.

Dimana kalau lahan lama sudah terlalu banyak residu dari zat-zat kimia jadi agak susah untuk proses organiknya,” jelas dia.

Berbekal pengalaman dan pelatihan yang telah di Ikuti selama ini. Novriansyah mampu membuat sendiri 4 macam jenis pupuk cair dan 1 macam pupuk padat dengan bahan-bahan utama yang didapatkan dari sekitar rumahnya.

Mulai dari pupuk padat bernama kohe, pupuk cair urea, fosfat, pengganti KCL, dan pupuk PGPR.

“Bahan pembuatan pupuk organik cair (POC) urea yaitu rumput-rumput lalu dicacah dan ditambahi dengan gula cair dan bakteri EM4 dan tunggu dipersentasikan selama kurang lebih 15 – 30 hari,”

“Lalu POC fosfat dengan bahan bonggol pohon pisang kemudian dicacah halus dan diberikan molase (gula cair) serta tambahkan bakteri EM4 secukupnya tunggu selama 1 bulan,”

Kalau pupuk pengganti KCL bisa diolah dari serabut kelapa dicacah lalu diberi air tambahkan juga gula cair dan beri bakteri EM4 dan fermentasi juga selama 1 bulan,” sebutnya.

Terakhir pembuatan POC PGPR agak ribet bahannya yaitu dari akar-akar bambu, akar putri malu atau akar pisang yang banyak mengandung bakteri.
“Lalu dicampur air matang dan direndam selama 5 hari setelah dapat biangnya dapat barulah dicampur dedak yang sudah direbus dan tambahkan terasi serta campurkan dengan gula cair. Tinggal tunggu selama 15 – 30 hari baru siap disemprotkan,” tuturnya.

Dengan sistem pembuatan pupuk organik ini, dirinya dapat melakukan penghematan biaya perawatan sawah miliknya.

Dimana seluruh pembuatan POC tersebut hanya membutuhkan molase (gula cair) dan bakteri EM4.

“Jadi hanya dua bahan yang dibeli yaitu gula cair perliter Rp 20.000 dan bakteri EM4 perbotol hanya Rp 35.000. Sedangkan bahan baku lainnya bahan dari sekitar atau mudah didapat,” terangnya biaya jauh lebih irit jika dibandingkan membeli pupuk kimia.

Dirinya berharap agar pemerintah ataupun pihak terkait dapat membantu dari segi pemasaran beras organik tersebut. Agar lebih banyak petani yang beralih memakai pupuk organik.

“Kalau bisa kami ini diarahkan dimana tempat penjualan yang mau menerima beras organik dalam jumlah banyak. Serta diberikan bantuan untuk mengurus ijin untuk mendapatkan label beras organik dan Standar Nasional Indonesia (SNI),” tuturnya.[***]

#dra

 

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Menengok Aksi  Produk Halal RI di Pameran Terbesar di Dunia the 9th OIC Halal Expo

    Menengok Aksi  Produk Halal RI di Pameran Terbesar di Dunia the 9th OIC Halal Expo

    • calendar_month Selasa, 29 Nov 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.866
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, Istanbul, Turki – Indonesia hadir pada pameran produk halal terbesar dunia, the 9th OIC Halal Expo yang diselenggarakan, 24–27 November 2022, di Istanbul, Turki. Keikutsertaan Paviliun Indonesia tahun ini merupakan yang kedua kalinya, buah kerjasama KBRI Ankara, KJRI Istanbul dan Kementerian Perdagangan RI. Paviliun Indonesia pada pameran ini diikuti oleh 34 entitas peserta yang terdiri dari pelaku usaha […]

  • Gubernur Respon Keluhan Warga Muba Terkait Krisis Energi Listrik

    Gubernur Respon Keluhan Warga Muba Terkait Krisis Energi Listrik

    • calendar_month Rabu, 19 Jan 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 836
    • 0Komentar

    GUBERNUR Sumatera Selatan (Sumsel) H. Herman Deru menerima  aspirasi masyarakat Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) terkait dengan  permasalahan krisis kelisstrikan disejumlah  Kecamatan didaerah itu. Saat menerima audiensi sejumlah tokoh masyarakat Muba diruang audiensi Gubernur, Senin (18/1) siang. Gubernur merespon laporan tokoh masyarakat Muba yang terdiri atas Anggota DPRD Prov. Sumsel, Ahmad Toha, Kepala Desa Peninggalan, Ajusman, Tokoh […]

  • Layanan GeNose C19 Hadir di 44 Stasiun Kereta Api

    Layanan GeNose C19 Hadir di 44 Stasiun Kereta Api

    • calendar_month Rabu, 31 Mar 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.025
    • 0Komentar

    UNTUK meningkatkan pelayanan kepada pelanggannya, PT. Kereta Api Indonesia (KAI) hadirkan Layanan GeNose C19 di 44 Stasiun kereta api di Pulau Jawa. Hal ini akan memudahkan pelaku perjalanan dalam negeri, yang sesuai dengan SE Satgas Penanganan COVID-19 No. 12/2021 yang mulai berlaku pada 1 April 2021, memperbolehkan tes hasil negatif dari GeNose C19 digunakan sebagai syarat […]

  • Belajar Daring Masih Dibutuhkan, 17 Tahun Televisi Edukasi, Kembangkan Inovasi Wujudkan Merdeka Belajar

    Belajar Daring Masih Dibutuhkan, 17 Tahun Televisi Edukasi, Kembangkan Inovasi Wujudkan Merdeka Belajar

    • calendar_month Kamis, 14 Okt 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 598
    • 0Komentar

    SEIRING dengan semangat peningkatan mutu pendidikan dan kebudayaan, serta mengembangkan inovasi untuk bergerak serentak mewujudkan Merdeka Belajar, perayaan Hari Ulang Tahun ke-17 Televisi Edukasi dimeriahkan dengan tayangan siniar spesial ulang tahun TV Edukasi. Turut hadir dalam siniar tersebut Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), Suharti; Kepala Pusat Data Statistik Pendidikan (Kapusdatin), […]

  • Nah, Puluhan Warga Desa di OKI Ini Blokir Akses Pembangunan Tol Kayuagung-Jakabaring, Bahkan Ancam Bakal Temui Presiden, Apa Alasannya ?

    Nah, Puluhan Warga Desa di OKI Ini Blokir Akses Pembangunan Tol Kayuagung-Jakabaring, Bahkan Ancam Bakal Temui Presiden, Apa Alasannya ?

    • calendar_month Sabtu, 10 Agt 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.087
    • 0Komentar

    DINILAI mengingkari janji kesepakatan yang dibuat secara bersama, puluhan Warga Desa Kijang kembali menutup akses Jalan Pembangunan Proyek Tol Kayuagung – Jakabaring, yang berada di Desa Terusan Laut Kecamatan SP Padang Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sabtu (10/8/2019). Bahkan warga juga akan melakukan aksi yang lebih nekat lagi dengan cara menemui Presiden Republik Indonesia, Ir. […]

  • Bingung Mau Sarapan Pagi, Coba Ni Nasi Goreng Jengkol

    Bingung Mau Sarapan Pagi, Coba Ni Nasi Goreng Jengkol

    • calendar_month Rabu, 22 Nov 2017
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 4.014
    • 0Komentar

    Nikmat pastinya. Bagi anda penggemar si bau nan nikmat ini pasti penasaran banget sama rasanya. Coba buat sendiri di rumah yuk.

expand_less
WordPress Archive WPQA – Builder forms Addon For WordPress WProtect – WordPress Automatically Append Copyright Notice on Copied Content WPRuby – WooCommerce Restricted Shipping and Payment Pro WPtouch Pro | Mobile Suite for WordPress WriteKit – Content Writing Services Agency Elementor Template Kit Writepress Personal Blog and Magazine WordPress Theme Writer – Journalist Blog + Bookstore Theme Writica – Content Writing Services Elementor Template Kit Writingg – Content Copywriting Services Elementor Template Kit Wrote – Content Writing & Copywriting Template Kit