Tak Hanya Cegah Karhutla, Gambut OKI Didorong Jadi Sumber Ekonomi
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 13 menit yang lalu
- visibility 4
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : ist
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Kawasan gambut di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan (Sumsel) tak hanya diarahkan untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla), tetapi juga bisa dikembangkan sebagai sumber kehidupan ekonomi masyarakat melalui budidaya bambu betung dan jelutung melalui teknik tumpang sari.
Konsep ini menawarkan arah baru dalam pengelolaan gambut, apalagi kawasan yang selama ini identik dengan kerentanan kebakaran dan upaya restorasi mulai dilihat dari potensi lain, yakni pemanfaatannya secara produktif tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan.
Uji adaptasi kedua tanaman ini menjadi bagian dari upaya mencari model budidaya yang sesuai dengan karakteristik ekosistem gambut.
Program ini dibahas dalam kegiatan Uji Adaptasi Tanaman Bambu dan Jelutung Menggunakan Teknik Tumpang Sari untuk Mendukung Pengelolaan Gambut Berkelanjutan dan Penghidupan Masyarakat di OKI, Jumat (30/10/2026).
Gubernur Sumatera Selatan H. Herman Deru mengatakan, pengelolaan gambut harus menghasilkan manfaat yang lebih luas.
Pencegahan kebakaran tetap penting, ungkap dia, tetapi upaya itu perlu berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Menurutnya, Sumsel memiliki komitmen kuat dalam menjaga kawasan gambut. Tim Restorasi Gambut Sumsel hingga kini masih aktif menjalankan berbagai upaya pemulihan dan perlindungan ekosistem.
Komitmen itu juga dibangun melalui koordinasi lintas daerah. Sejak awal pembentukan Badan Pengelola Gambut dan Mangrove, Sumsel mengambil inisiatif mengundang para gubernur yang memiliki kawasan gambut untuk menyatukan langkah dalam pengelolaannya.
Pertemuan tersebut kemudian berkembang hingga Sumsel menjadi tuan rumah Rapat Koordinasi Nasional Gambut. Forum itu secara khusus membahas pencegahan dan penanganan kebakaran hutan dan lahan.
Namun, lanjutnya perlindungan gambut bukan satu-satunya pendekatan yang didorong. Herman Deru juga mengingatkan pentingnya menghidupkan kembali peternakan kerbau rawa sebagai bagian dari kearifan lokal masyarakat.
Dia memaparkan, peternakan sudah menjadi bukti pengelolaan kawasan gambut dapat dikaitkan dengan aktivitas ekonomi yang telah dikenal masyarakat setempat. Potensi lokal semacam ini dinilai perlu mendapat tempat dalam strategi pengelolaan berkelanjutan.
Oleh sebab itu, tambah dia, keberhasilan pendekatan baru ini tidak cukup diukur dari kemampuan tanaman bertahan di lahan gambut.
Aspek manfaat ekonomi, kesesuaian dengan kondisi lingkungan, serta kemampuan masyarakat mengembangkannya juga menjadi faktor penting.
Dengan demikian, gambut tidak semata-mata dipandang sebagai kawasan yang harus dilindungi dari ancaman kebakaran. Ekosistem ini juga memiliki peluang untuk menopang kehidupan masyarakat, selama pemanfaatannya tetap memperhatikan daya dukung lingkungan. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
