Wartawan Udin Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional, Kemensos Beri Dukungan
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 20 menit yang lalu
- visibility 6
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : kemensos.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Fuad Muhammad Syafruddin atau Udin, wartawan Harian Bernas yang dibunuh pada 1996, diusulkan mendapat gelar Pahlawan Nasional.
Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono mendukung usulan tersebut dan meminta Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) menyiapkan dokumen serta kajian sejarah untuk pengajuan pada 2027.
Dukungan itu disampaikan Agus Jabo dalam Seminar Nasional PWI Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Kamis (29/10/2026).
Ia menilai Udin telah menunjukkan keberanian dalam menjalankan tugas jurnalistik, terutama ketika menyampaikan kritik terhadap kekuasaan.
Nama Udin lekat dengan pemberitaan kritis mengenai dugaan transaksi jabatan yang melibatkan seorang petinggi militer dan anggota keluarga penguasa Orde Baru. Setelah menulis laporan-laporan tersebut, Udin menjadi korban pembunuhan pada 1996.
Hampir tiga dekade berlalu, namanya kembali diperbincangkan dalam konteks perjuangan kebebasan pers. PWI kini mendapat dukungan pemerintah untuk mengusulkan wartawan asal Bantul itu sebagai Pahlawan Nasional.
Namun, pengajuan gelar tersebut tidak bisa dilakukan hanya berdasarkan dukungan. Ada tahapan penelitian dan persyaratan administratif yang harus dipenuhi sesuai Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan.
Agus Jabo menjelaskan, PWI dapat menyampaikan usulan melalui Pemerintah Kabupaten Bantul. Pemerintah daerah kemudian membentuk Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD) untuk menelusuri riwayat hidup, jasa, dan perjuangan Udin.
Hasil penelitian itu akan dibawa ke tingkat provinsi sebelum diteruskan kepada Kementerian Sosial. Buku, arsip pemberitaan, kliping koran, serta bukti pendukung lainnya perlu dikumpulkan untuk memperkuat pengajuan.
Pengusulan untuk 2027 menjadi pilihan karena proses penganugerahan Pahlawan Nasional tahun ini telah rampung. Menurut Agus Jabo, nama-nama yang diproses pada 2026 sudah berada di meja Presiden.
Ia meminta PWI tidak menunda persiapan agar seluruh tahapan di tingkat kabupaten dan provinsi bisa dijalankan dengan baik.
“Jadi silakan diproses, teman-teman PWI, bekerja sama dengan tim yang ada di Bantul. Nanti saya tunggu di Kemensos setelah melalui proses di tingkat kabupaten dan provinsi,” ujarnya.
Bupati Bantul Abdul Halim Muslih juga menyatakan dukungan terhadap pengusulan tersebut. Ia menilai Udin memiliki tempat penting dalam sejarah daerah, terutama melalui keberanian dan integritasnya sebagai wartawan.
Menurut Halim, nilai kejujuran, keberanian, dan tanggung jawab yang ditunjukkan Udin perlu dikenalkan kepada generasi muda. Pemkab Bantul, kata dia, siap mendukung penyusunan dokumentasi sejarah, kajian akademis, kesaksian, dan bukti autentik yang diperlukan.
Halim juga mengingatkan penghormatan terhadap Udin tidak semestinya berhenti pada urusan gelar. Perlindungan terhadap wartawan dan kebebasan pers harus menjadi bagian dari upaya menjaga warisan perjuangannya.
“Penghormatan tertinggi kita kepada almarhum Udin tidak hanya berhenti pada pengusulan gelar pahlawan semata, melainkan harus diwujudkan dalam aksi nyata melalui dukungan terhadap kemerdekaan pers dan perlindungan keselamatan bagi para wartawan,” katanya.
Selain gelar Pahlawan Nasional, Agus Jabo mengusulkan agar nama Udin digunakan sebagai nama jalan atau gedung. Menurut dia, penghargaan semacam itu dapat menjadi pengingat atas kontribusi Udin bagi dunia jurnalistik Indonesia.
Seminar tersebut dihadiri Ketua PWI Pusat Ahmad Munir, Ketua PWI DIY Hudono, serta sejumlah akademisi dan narasumber, di antaranya Prof. Dr. Muhammad Najib Askar, Putut Wirjawan, Ahmad Subagio, dan Octo Lampito. (***) /diolah dari sumber utama kemensos
- Penulis: Irwan Wahyudi
