Hujan Guyur Sumsel, Api Karhutla di Lahan Gambut Belum Padam
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 19 menit yang lalu
- visibility 7
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : kehutanan.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang mengguyur sejumlah wilayah Sumatera Selatan (Sumsel) belum sepenuhnya menghentikan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Di Talang Rimba, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), api masih bertahan di lahan gambut. Petugas gabungan harus melanjutkan pemadaman meski hujan telah turun sejak siang hingga sore hari.
Kondisi itu menjelaskan hujan tidak selalu menjadi akhir dari kebakaran, terutama di kawasan gambut. Api dapat bertahan di bawah permukaan tanah dan terus membara meskipun kondisi di atasnya terlihat basah. Karena itu, petugas masih melakukan penyekatan, memutus penjalaran api, serta memadamkan titik kebakaran dari beberapa sisi.
Manggala Agni Kementerian Kehutanan bersama TNI, Polri, Regu Pemadam Kebakaran (RPK), dan unsur terkait terus menangani kebakaran di lokasi tersebut. Pemadaman dilakukan secara bertahap untuk memastikan api tidak kembali menjalar dan bara yang tersisa dapat dituntaskan.
Situasi serupa juga menjadi perhatian dalam pengendalian karhutla di Jambi. Api di Simpang Terusan, Kabupaten Batang Hari, telah berhasil dipadamkan. Namun, operasi belum selesai di Simpang Datuk, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, serta Desa Tanjung, Kabupaten Muaro Jambi. Kedua lokasi tersebut berada di kawasan lahan gambut dan hingga laporan terakhir masih membutuhkan penanganan karena api belum sepenuhnya padam.
Sementara perkembangan pemadaman di Sumsel menjelaskan hasil berbeda. Kebakaran di Timbangan, Kabupaten Ogan Ilir, telah berhasil dipadamkan. Tim gabungan masih menghadapi kebakaran bawah di Talang Rimba, OKI, yang membutuhkan penanganan lanjutan meskipun hujan telah turun.
Karhutla di daerah lain di Indonesia
Upaya pemadaman juga berlangsung di Kalimantan Selatan. Tim gabungan menangani kebakaran di Landasan Ulin Barat, Banjarbaru. Api pada area yang ditangani telah berhasil dikendalikan, tetapi asap tebal masih terpantau di beberapa titik. Pemantauan dan penanganan lanjutan tetap dilakukan untuk memastikan kondisi benar-benar aman.
Sedangkan, di Kalimantan Timur, kebakaran di Sambaliung, Kabupaten Berau, telah berhasil dipadamkan sepenuhnya. Manggala Agni Kementerian Kehutanan bersama Disdamkarmat, TNI, Polri, Tagana, dan unsur lainnya terlibat dalam operasi tersebut.
Penanganan juga masih berlangsung di Sulawesi Tengah, tepatnya di Desa Berdikari, Kabupaten Sigi, serta Desa Matialemba, Kabupaten Poso. Hingga laporan terakhir, api di kedua lokasi belum sepenuhnya padam sehingga operasi lapangan dilanjutkan.
Pemantauan satelit justru mencatat peningkatan hotspot secara nasional. Data Sistem Pemantauan Karhutla (SiPongi) Kementerian Kehutanan berdasarkan satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20 menunjukkan terdapat 118 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi pada Rabu, 28 Oktober 2026 pukul 21.00 WIB.
Jumlah tersebut meningkat 39 titik dibandingkan pemantauan sehari sebelumnya yang mencatat 79 hotspot.
Papua Selatan menjadi wilayah dengan jumlah hotspot tertinggi, yakni 84 titik. Kalimantan Timur menyusul dengan 24 titik, kemudian Sulawesi Selatan lima titik, Sulawesi Tengah empat titik, dan Sulawesi Barat satu titik.
Sebaliknya, enam provinsi prioritas pengendalian karhutla, yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan, tercatat nihil hotspot high confidence selama dua hari berturut-turut.
Meski demikian, angka nol pada pemantauan satelit tidak serta-merta menandakan seluruh kebakaran di wilayah tersebut telah berakhir. Sejumlah lokasi masih membutuhkan pemadaman, penyisiran bara, pembasahan, hingga pendinginan, terutama pada lahan gambut yang berpotensi menyimpan api di bawah permukaan.
Papua Selatan juga menjadi perhatian tersendiri. Selain mencatat hotspot terbanyak dalam pemantauan nasional, provinsi tersebut saat ini berada dalam status tanggap darurat karhutla hingga 28 November 2026 berdasarkan laporan Posko Pengendalian Kebakaran Hutan Kementerian Kehutanan.
Untuk mendukung penanganan di berbagai wilayah, sebanyak 61 unit armada udara telah dikerahkan. Jumlah tersebut terdiri atas 24 unit pesawat untuk patroli/CASA dan Operasi Modifikasi Cuaca serta 37 unit helikopter yang mendukung operasi water bombing.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni sebelumnya juga meminta agar potensi hujan hingga awal November dimanfaatkan secara maksimal untuk memperkuat pembasahan di wilayah rawan kebakaran. Arahan itu disampaikan saat meninjau penanganan karhutla di Jambi bersama pemerintah daerah, TNI, Polri, dan unsur terkait pada 27 Oktober.
Setelah periode potensi hujan tersebut, patroli gabungan akan diperkuat untuk mencegah munculnya kembali titik api, khususnya di kawasan rawan dan lahan gambut.
Manggala Agni Kementerian Kehutanan bersama BNPB, TNI, Polri, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, Masyarakat Peduli Api, dunia usaha, relawan, dan berbagai unsur lainnya terus menjalankan patroli, pengecekan lapangan atau groundcheck, pemadaman langsung, penyekatan penjalaran api, pembasahan, penyisiran bara, mopping up, hingga pendinginan.
Kementerian Kehutanan menegaskan bahwa keberhasilan pengendalian karhutla tidak cukup diukur dari naik atau turunnya jumlah hotspot. Hal terpenting adalah memastikan api dan bara benar-benar padam, kebakaran tidak kembali muncul, dampak asap berkurang, masyarakat terlindungi, serta kawasan hutan dan keanekaragaman hayati tetap terjaga.(***) /diolah dari sumber kehutanan.
- Penulis: Irwan Wahyudi
