Rendang Jadi Logistik Bencana, 2,2 Ton dari Sumbar Dikirim untuk Penyintas Gempa NTT M7,7
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 10 menit yang lalu
- visibility 5
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : bnpb.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Bantuan untuk penyintas gempa bumi dan tsunami Nusa Tenggara Timur (NTT) datang dari Sumatera Barat dalam bentuk yang cukup khas: rendang. Sebanyak 2,2 ton makanan khas Minang itu dikumpulkan untuk membantu memenuhi kebutuhan pangan warga yang terdampak gempa NTT M7,7.
Sebagian bantuan tersebut mulai bergerak ke wilayah terdampak. Sebanyak 500 kilogram rendang dibawa menuju Pos Kabupaten Manggarai setelah sebelumnya diserahkan kepada BNPB di Posko Aju 1 Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Selasa (25/8/2026).
Pengiriman rendang ini bukan hanya soal membawa makanan dari satu daerah ke daerah lain. Di tengah kondisi pascabencana, makanan praktis dan dapat disimpan lebih lama menjadi salah satu kebutuhan penting bagi masyarakat yang belum sepenuhnya kembali menjalani aktivitas normal.
Rendang dinilai memenuhi kebutuhan tersebut. Makanan ini relatif tahan lama, memiliki kandungan gizi dan dapat dikonsumsi bersama nasi tanpa membutuhkan proses pengolahan yang rumit. Karena itu, makanan yang identik dengan Sumatera Barat tersebut dipilih sebagai bagian dari bantuan pangan untuk NTT.
Bantuan 2,2 ton rendang itu dihimpun oleh BPBD Provinsi Sumatera Barat dari donasi aparatur sipil negara (ASN) serta masyarakat. Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah kemudian menyerahkannya kepada BNPB untuk didistribusikan ke wilayah yang membutuhkan.
Saat berada di Pos Kabupaten Manggarai, Mahyeldi bersama Deputi Bidang Pencegahan BNPB Abdul Muhari berdialog dengan Bupati Manggarai Herybertus G.L Nabit. Dalam pertemuan itu, Mahyeldi menyampaikan bahwa bantuan tersebut merupakan bentuk kepedulian masyarakat Sumatera Barat terhadap warga NTT yang sedang menghadapi bencana.
“Kami membawa rendang yang dikumpulkan oleh pegawai-pegawai di Sumatera Barat dan masyarakat,” ujar Mahyeldi.
Menurut dia, bantuan tersebut menjadi tanda bahwa masyarakat NTT tidak menghadapi masa sulit ini sendirian. Kepedulian dari daerah lain di Indonesia, kata Mahyeldi, merupakan bentuk solidaritas antarmasyarakat yang ikut merasakan duka akibat bencana.
“NTT tidak sendirian, masih ada saudara-saudara kita di belahan pulau lain di Indonesia turut merasakan,” katanya.
Mahyeldi juga memastikan dukungan dari Sumatera Barat tidak berhenti pada pengiriman kali ini. Pemerintah daerah bersama masyarakat masih melakukan koordinasi dan pengumpulan dukungan sehingga bantuan tambahan masih terbuka untuk disalurkan apabila diperlukan.
BNPB Pastikan Bantuan Tetap Bergerak
Banyaknya bantuan yang datang dari berbagai daerah membuat proses distribusi menjadi bagian penting dalam penanganan pascabencana. BNPB memastikan bantuan yang dititipkan melalui jalur distribusi mereka akan diteruskan kepada masyarakat terdampak secara bertahap.
Deputi Bidang Pencegahan BNPB Abdul Muhari mengatakan bantuan dari Sumatera Barat memperlihatkan kuatnya semangat gotong royong antardaerah ketika bencana terjadi.
“Kami di BNPB bertugas menyampaikan amanah dari Sumatera Barat, provinsi lain, lembaga dan entitas lain, agar sampai di tangan masyarakat terdampak,” ujar Abdul.
Ia menjelaskan, distribusi bantuan tidak selalu dapat dilakukan sekaligus karena harus menyesuaikan kondisi dan kebutuhan di lapangan. Karena itu, para pihak yang memberikan bantuan diminta memahami bahwa terdapat tahapan sebelum logistik benar-benar diterima oleh warga.
Untuk bantuan yang masuk melalui Pos Halim, Labuan Bajo maupun Maumere, BNPB menyatakan distribusi akan terus dilakukan menuju wilayah yang membutuhkan.
Untuk Sumatera Barat, 2,2 ton sendiri, rendang tersebut bukan hanya kiriman makanan. Bantuan itu menjadi cara masyarakat di daerah lain ikut mengambil bagian dalam membantu warga NTT melewati masa sulit setelah gempa dan tsunami. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
