32 Proyek Infrastruktur Indonesia Dibawa ke Tokyo, Investor Jepang Mulai Bidik Peluang Baru
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 17 menit yang lalu
- visibility 3
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : ekon.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Sebanyak 32 proyek infrastruktur strategis Indonesia ditawarkan kepada investor Jepang dalam pertemuan bisnis di Tokyo bahkan sembilan BUMN dan BUMD membawa proyek dari berbagai sektor untuk dijajaki bersama calon mitra Jepang.
Agenda itu berlangsung melalui Indonesia-Japan Infrastructure and Transportation Business Forum and Business Matching di KBRI Tokyo pada 27–28 Agustus 2026.
Minat terhadap agenda itu terlihat dari kehadiran lebih dari 50 perwakilan dari sekitar 36 perusahaan dan institusi Jepang. Sejumlah nama yang hadir antara lain Sumitomo Corporation, Toyota Tsusho, Mizuho Bank, Tokyu JR East, SMBC dan Penta Ocean.
Mereka berasal dari kalangan pelaku usaha, calon investor, lembaga keuangan serta institusi Jepang yang memiliki kepentingan terhadap pengembangan infrastruktur.
Proyek yang diperkenalkan Indonesia mencakup jalan dan jalan tol, kawasan hunian, properti komersial, perkeretaapian dan Transit-Oriented Development (TOD), pelabuhan dan logistik, serta fasilitas fabrikasi baja.
Dari pihak pemilik proyek, manajemen PT PII, PT SMI, PT KAI, PT Pelindo, PT Hutama Karya, PT Jasa Marga, PT Wijaya Karya, PT Waskita Toll Road dan PT MRT Jakarta hadir langsung dalam forum.
Sedangkan PT PP dan Perumnas memaparkan proyeknya melalui project showcase secara daring.
Pertemuan tersebut kemudian diarahkan pada proses business matching antara pemilik proyek Indonesia dengan calon mitra Jepang. Penjajakan kerja sama dan pengembangan investasi menjadi tindak lanjut yang diharapkan dari pertemuan tersebut.
Kuasa Usaha Ad Interim (KUAI) KBRI Tokyo DCM Maria Renata Hutagalung mengatakan hubungan Indonesia dan Jepang telah berlangsung sekitar tujuh dekade.
Menurutnya, Jepang merupakan salah satu mitra yang konsisten mendukung pembangunan Indonesia. Kerja sama tersebut antara lain terlihat pada proyek MRT Jakarta dan Pelabuhan Patimban.
Melalui kerja sama yang telah terjalin, Indonesia dan Jepang juga memiliki ruang untuk memperkuat investasi, pengembangan kapasitas, serta transfer pengetahuan dan teknologi.
Sementara itu, Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha BUMN Kemenko Perekonomian Ferry Irawan menyampaikan kondisi perekonomian Indonesia dalam forum tersebut.
Pada semester I 2026, ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen, dengan inflasi sebesar 3,34 persen secara tahunan. Realisasi investasi juga telah melampaui Rp1.010 triliun.
Ferry menyebut fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat meski perekonomian global masih menghadapi ketidakpastian.
Peringkat utang Indonesia juga dipertahankan pada level BBB dengan stable outlook oleh S&P Global Ratings. Dari sisi perusahaan Jepang, Survei JETRO FY2025 mencatat 69,1 persen perusahaan Jepang di Indonesia memperkirakan akan membukukan laba operasi.
Pemerintah sendiri menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 8 persen pada 2029. Untuk mendukung target tersebut, investasi produktif didorong agar mampu meningkatkan produktivitas, mempercepat transfer teknologi dan menciptakan lapangan kerja berkualitas.
Pembahasan investasi turut berlangsung melalui sesi Business Forum on Strengthening Strategic Partnership between Indonesian SOEs/ROEs and Japanese Investors.
Sesi tersebut menghadirkan pembicara dari Direktorat Promosi Wilayah Asia Timur, Asia Selatan, Timur Tengah, dan Afrika BKPM, PT PII, JICA dan JETRO, serta dipandu Direktur Pembiayaan dan Investasi PT SMI.
Pembahasan berfokus pada peluang investasi dan penguatan kemitraan antara BUMN/BUMD Indonesia dengan investor Jepang.
Dengan puluhan proyek yang telah diperkenalkan kepada calon mitra, proses berikutnya bergantung pada hasil penjajakan masing-masing proyek, termasuk peluang kerja sama dan investasi yang dapat ditindaklanjuti setelah forum di Tokyo. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
