Mengapa Narkotika Jenis Baru Sulit Dikenali? Begini Cara Bea Cukai Mengidentifikasinya
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 8
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : ilustrasi/old.beacukai.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Narkotika jenis baru terus berkembang dan menantang pengawasan di perbatasan. Laboratorium Bea Cukai menjadi salah satu garda identifikasi melalui pengujian dan analisis sampel barang.
PERUBAHAN dunia narkotika tidak selalu dilihat dari sesuatu yang baru di permukaan pasalnya di balik nama, bentuk, atau kemasan yang mungkin tampak biasa, bisa terdapat zat dengan karakteristik berbeda dari yang selama ini dikenal.
Hal itu tentunya menjadi salah satu tantangan yang perlu mendapat perhatian serius, salah satunya dengan cara pengawasan peredaran narkotika.
Bahkan butuh mengenali sesuatu yang terus berkembang, pasalnya ketika identitasnya tidak mudah dipastikan hanya melalui pemeriksaan fisik.
Fenomena itu juga dikenal sebagai New Psychoactive Substances (NPS) atau zat psikoaktif baru. Kemunculannya menjadi perhatian otoritas pengawasan di berbagai negara, karena perkembangan jenis dan karakteristik zat menuntut pengetahuan serta kemampuan identifikasi yang terus diperbarui.
Persoalan terkait ini banyak tantangan yang harus diselesaikan dan Bea Cukai pun tidak terbatas pada pemeriksaan barang di perbatasan saja.
Apalagi ada kebutuhan guna memastikan karakteristik suatu sampel melalui pengujian yang dapat dipertanggungjawabkan. Dengan persoalan yang dihadapi saat ini, laboratorium kepabeanan tentu mengambil peran penting.
Salah satu yaitu soal, NPS, NPS merupakan istilah untuk kelompok zat psikoaktif baru menjadi perhatian dalam pengawasan narkotika. Perkembangan kelompok zat ini menghadirkan tantangan tersendiri, karena jenis dan karakteristiknya terus berubah.
Salah satu zat yang turut menjadi perhatian dalam pembahasan perkembangan NPS di kawasan Asia/Pasifik adalah etomidate. Perkembangannya membuktikan pengawasan narkotika tidak cukup hanya mengandalkan daftar zat yang telah dikenal sebelumnya sehingga perlu kemampuan mengenali karakteristik zat sesuai perkembangan.
Persoalannya, identitas suatu zat tidak selalu dapat dipastikan dari nama dagang, bentuk fisik, ataupun kemasan. Dua barang yang tampak serupa belum tentu memiliki karakteristik yang sama. Sebaliknya, suatu zat juga tidak bisa dipastikan identitasnya hanya berdasarkan penampilan. Oleh sebab itu, identifikasi membutuhkan pendekatan ilmiah melalui pengujian sampel.
Mengapa Laboratorium Dibutuhkan?
Dalam pengawasan kepabeanan, tidak semua barang dapat dikenali secara meyakinkan melalui pemeriksaan visual maupun dokumen yang menyertainya. Ada kondisi ketika karakteristik barang perlu dianalisis lebih lanjut untuk memastikan identitas dan sifatnya.
Balai Laboratorium Bea dan Cukai (BLBC) menjalankan fungsi tersebut melalui pengujian dan analisis sampel barang sesuai kewenangannya. Hasil pengujian memberikan dukungan ilmiah dan teknis bagi pelaksanaan tugas kepabeanan dan cukai.
Peran ini penting, terutama ketika petugas berhadapan dengan barang yang memerlukan identifikasi lebih mendalam. Hasil analisis laboratorium dapat membantu mendukung pengawasan terhadap barang berisiko, termasuk narkotika dan bahan kimia berbahaya.
Dengan demikian, laboratorium bukan hanya fasilitas pengujian. Keberadaannya menjadi bagian dari sistem pengawasan yang membutuhkan ketepatan informasi sebelum suatu barang ditindaklanjuti sesuai ketentuan. Fungsi laboratorium kepabeanan sebenarnya tidak hanya berkaitan dengan pengawasan narkotika.
Pengujian juga memiliki peran dalam membantu proses identifikasi karakteristik barang untuk mendukung penetapan klasifikasi berdasarkan Harmonized System (HS). Sistem ini digunakan sebagai dasar pengelompokan barang dalam perdagangan internasional.
Ketepatan klasifikasi menjadi penting karena karakteristik barang dapat memengaruhi penentuan pos tarif dan perlakuan kepabeanannya. Dalam situasi tertentu, informasi dari dokumen atau nama produk saja belum cukup untuk memberikan gambaran menyeluruh mengenai barang yang diperiksa.
Melalui hasil pengujian yang andal, laboratorium memberikan dukungan teknis agar proses identifikasi dan klasifikasi memiliki landasan yang lebih kuat.
Manfaatnya tidak hanya dirasakan dalam pengawasan. Pelaku usaha juga membutuhkan kepastian mengenai karakteristik dan klasifikasi barang agar dapat memenuhi ketentuan kepabeanan secara tepat.
Perkembangan zat psikoaktif baru dan karakteristik barang yang semakin beragam bukan persoalan satu negara saja. Tantangan tersebut membutuhkan pertukaran informasi, pengalaman, serta pengembangan kemampuan analisis lintas negara.
Kerja sama ini menjadi salah satu alasan keberadaan Regional Customs Laboratory (RCL), yaitu laboratorium kepabeanan yang diakui oleh World Customs Organization (WCO) di kawasan masing-masing.
Jaringan RCL berperan dalam memperkuat kapasitas analisis kimia, berbagi informasi dan keahlian, serta mendukung berbagai kepentingan kepabeanan, mulai dari ketepatan klasifikasi tarif hingga pemberantasan penyelundupan narkotika.
Indonesia merupakan salah satu dari sepuluh RCL di dunia. RCL Indonesia berada di bawah Bea Cukai dan telah menjadi bagian dari jaringan laboratorium WCO sejak 2021.
Komitmen penguatan kerja sama tersebut kembali terlihat dalam penyelenggaraan The 5th Regional Customs Laboratories Heads Meeting (RCLHM) pada 7–9 Oktober 2026 di Tangerang Selatan, Indonesia.
Pertemuan tersebut dihadiri perwakilan lima RCL kawasan Asia/Pasifik, yakni Indonesia, China, India, Jepang, dan Korea, bersama Sekretariat WCO serta kantor regional WCO untuk kawasan Asia/Pasifik.
Salah satu pembahasannya adalah perkembangan NPS, termasuk perhatian terhadap etomidate. Para delegasi juga bertukar informasi mengenai metode analisis, inovasi laboratorium, keselamatan kerja, pengelolaan bahan kimia, serta pengembangan kompetensi tenaga ahli.
Selain itu, pembahasan mencakup penerapan standar mutu ISO/IEC 17025:2017, pembaruan kebijakan WCO, HS 2028, dan program pengembangan profesional laboratorium kepabeanan.
Dalam pertemuan tersebut, para delegasi menyepakati pengajuan permohonan bersama kepada WCO untuk menyelenggarakan Pre-Accreditation Workshop. Usulan ini ditujukan untuk mendukung peningkatan kapasitas dan jumlah tenaga ahli laboratorium kepabeanan yang terakreditasi oleh WCO.
Pertukaran metode analisis, seminar regional, dan kegiatan berbagi praktik terbaik juga mendapat dukungan umum. Berbagai inisiatif tersebut diharapkan dapat memperkuat kemampuan laboratorium dalam menghadapi perkembangan tantangan kepabeanan.
Kepala Subdirektorat Humas dan Penyuluhan Bea Cukai, Netty Hartawati, menyampaikan perkembangan barang yang diperdagangkan dan potensi penyalahgunaannya membutuhkan pertukaran informasi serta kemampuan teknis yang terus berkembang.
Menurutnya, penguatan kapasitas laboratorium memberikan manfaat bagi dua kepentingan sekaligus. Bagi masyarakat, kemampuan identifikasi yang lebih baik mendukung pengawasan terhadap barang yang berpotensi membahayakan kesehatan, keselamatan, dan keamanan. Sementara bagi pelaku usaha, hasil pengujian yang akurat membantu memberikan kepastian dalam proses klasifikasi dan pemenuhan ketentuan kepabeanan.
Masalah pengawasan narkotika jenis baru menjelaskan keamanan perbatasan tidak hanya bergantung pada pemeriksaan barang secara fisik. Pengetahuan, kemampuan analisis, teknologi laboratorium, dan kerja sama internasional juga menjadi bagian penting dalam mengenali perkembangan yang terus terjadi.
Melalui penguatan Balai Laboratorium Bea dan Cukai serta peran RCL Indonesia dalam jaringan WCO, Bea Cukai berupaya meningkatkan kemampuan identifikasi dan analisis untuk mendukung pengawasan yang lebih tepat sekaligus menjaga perdagangan internasional tetap aman dan tertib. (***)/diolah dari sumber utama oldbeacukai.go.id
- Penulis: Irwan Wahyudi
