Api di OKI Padam, Bara Gambut Kalteng Belum Jinak
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 51 menit yang lalu
- visibility 5
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : kehutanan.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Api di Talang Rimba, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), telah padam. Namun, berakhirnya kebakaran di salah satu wilayah Sumatera Selatan (Sumsel) itu belum menjadi gambaran menyeluruh penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia.
Bahkan, di Kalimantan Tengah, petugas masih berjibaku memadamkan api yang bertahan di bawah permukaan lahan gambut.
Perbedaan kondisi itu terlihat dalam laporan Posko Pengendalian Kebakaran Hutan Kementerian Kehutanan. Di Sumsel, kebakaran di Talang Rimba telah dinyatakan padam. Sementara di Jambi, api di Desa Tanjung, Kabupaten Muaro Jambi, juga berhasil dipadamkan.
Meski demikian, Simpang Datuk masih menyisakan spot asap tipis yang terus dipantau Manggala Agni bersama tim gabungan.
Di Kalimantan Tengah, pekerjaan petugas masih jauh dari selesai. Pemadaman berlangsung di kawasan Taman Nasional Sebangau, tepatnya di Sungai Koran dan Tjilik Riwut KM 32, Palangka Raya. Kedua lokasi berada di lahan gambut dan masih membutuhkan penanganan lanjutan.
Situasi serupa ditemukan di Kabupaten Pulang Pisau. Manggala Agni Kementerian Kehutanan melakukan pembasahan dan patroli di KHDTK Tumbang Nusa, sekaligus menangani kebakaran di Jabiren, Sei Hambawang, Sakakajang, dan Tanjung Taruna.
Kepulan dan titik asap masih ditemukan di sejumlah lokasi. Hujan yang sempat turun pun belum sepenuhnya menghentikan kebakaran bawah permukaan gambut. Ancaman yang tidak selalu terlihat dari permukaan inilah yang membuat petugas harus melanjutkan pembasahan dan penyisiran.
Sementara di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting, Kabupaten Kotawaringin Barat, kondisi belum sepenuhnya berbeda. Kebakaran di kawasan Sei Sekonyer-Tanjung Harapan masih berlangsung pada lahan gambut dengan tipe kebakaran bawah.
Selain itu, perkembangan di Kalimantan Selatan memperlihatkan gambaran yang lebih beragam. Api di Nusa Indah, Tanah Laut, Batulicin, Tirawan, dan Tanjung Dewa telah dinyatakan padam. Namun, asap masih ditemukan di beberapa titik Landasan Ulin Barat.
Petugas juga menghadapi kendala medan terjal saat melakukan pemadaman di kawasan Hutan Lindung Gunung Batu Kura. Kondisi tersebut menyebabkan belum seluruh titik api dapat dijangkau.
Di tengah operasi lapangan yang masih berlangsung, data satelit mencatat 160 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence) di seluruh Indonesia hingga Jumat (30/10/2026) pukul 21.00 WIB. Bertambahnya enam titik dibandingkan sehari sebelumnya yang mencapai 154 titik.
Khusus di enam provinsi prioritas pengendalian karhutla, terdeteksi 13 hotspot high confidence. Sebanyak 12 titik berada di Kalimantan Tengah dan satu titik di Kalimantan Selatan. Kalimantan Barat, Jambi, Sumatera Selatan, dan Riau tidak mencatat hotspot dalam kategori tersebut.
Menariknya lagi, jumlah hotspot di Kalimantan Tengah justru turun dari 17 menjadi 12 titik. Namun, penurunan angka itu belum sejalan dengan berakhirnya pekerjaan pemadaman di lapangan. Sejumlah kawasan gambut masih membutuhkan pembasahan, penyisiran bara, dan pendinginan.
Karakter gambut
Kementerian Kehutanan mengingatkan hotspot bukanlah hitungan langsung kejadian kebakaran ataupun luas lahan yang terbakar.
Data tersebut merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20. Karena itu, setiap indikasi tetap harus diperiksa melalui patroli dan groundcheck.
Karakter lahan gambut menjadi salah satu tantangan utama. Bara dapat bertahan di bawah permukaan tanah meskipun hujan turun atau nyala api tidak lagi terlihat. Tanpa penanganan lanjutan, api berpotensi kembali muncul.
Untuk itu, Manggala Agni Kemenhut bersama BNPB, TNI, Polri, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, Masyarakat Peduli Api, dunia usaha, relawan, dan unsur terkait terus melakukan patroli, pemadaman, pembasahan, mopping up, serta pendinginan di wilayah terdampak.
Penanganan dari udara juga tetap disiagakan. Sebanyak 61 unit armada udara mendukung operasi karhutla, terdiri atas 24 unit pesawat untuk patroli/CASA dan Operasi Modifikasi Cuaca serta 37 unit helikopter untuk water bombing. Operasi udara berjalan berdampingan dengan penanganan darat, menyesuaikan cuaca dan kebutuhan masing-masing wilayah.
Oleh sebab itu, berkurangnya hotspot bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Pekerjaan baru benar-benar tuntas ketika api dan bara padam seluruhnya, kebakaran tidak kembali muncul, masyarakat terlindungi, serta kawasan hutan dan keanekaragaman hayati tetap terjaga. (***)/diolah dari sumber utama kementerian kehutanan.
- Penulis: Irwan Wahyudi
