Kepala BMKG Tegaskan Respons Gempa Harus Lebih Cepat, Sekat Antarbidang Dihapus
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 13 menit yang lalu
- visibility 6
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto :humas bmkg/bmkg.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani meminta seluruh bidang di BMKG bergerak lebih cepat saat gempa terjadi. Ia menilai koordinasi antara meteorologi, klimatologi, dan geofisika tidak boleh terhambat oleh batas bidang ketika masyarakat membutuhkan informasi kebencanaan.
Faisal menyampaikan hal tersebut saat menutup rangkaian Hari Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (HMKG) ke-79 di Jakarta, Selasa (18/8/2026).
Menurut dia, setiap bidang di BMKG perlu saling memahami dan memperkuat kemampuan masing-masing. Pasalnya, ketika bencana terjadi, masyarakat tidak melihat pembagian tugas di dalam lembaga, melainkan membutuhkan BMKG hadir dengan informasi yang cepat dan jelas.
“BMKG seharusnya tidak dibatasi oleh sekat-sekat yang tinggi antara meteorologi, klimatologi, dan geofisika,” ujar Faisal.
Pernyataan itu menjadi perhatian setelah gempa bumi dan tsunami melanda Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8/2026). Dalam situasi seperti ini, Faisal menegaskan BMKG harus mampu memberikan peringatan dini sesegera mungkin sekaligus menjelaskan kondisi yang terjadi di lapangan.
BMKG juga masih memantau gempa susulan di wilayah tersebut. Faisal menyebut aktivitas gempa susulan diperkirakan masih berlangsung hingga beberapa pekan ke depan.
“Ketika terjadi gempa, peran BMKG sangat krusial untuk menjelaskan kondisi di lapangan serta memberikan arahan dan rekomendasi kepada pemerintah daerah dan masyarakat,” katanya.
Faisal juga menyoroti peran empat unit pelaksana teknis (UPT) BMKG yang berada di Pulau Flores. Keempat UPT tersebut bukan stasiun geofisika, melainkan stasiun meteorologi penerbangan. Namun, petugas di sana tetap ikut menyebarluaskan informasi terkait kondisi kegempaan kepada masyarakat.
Bagi Faisal, keterlibatan tersebut menunjukkan bahwa kemampuan menghadapi bencana tidak seharusnya hanya menjadi tanggung jawab satu bidang. Personel BMKG di berbagai unit perlu terus belajar agar dapat saling mendukung ketika kondisi darurat terjadi.
Ia pun mengapresiasi dedikasi pegawai BMKG yang tetap menjalankan tugas di tengah situasi bencana.
“BMKG seharusnya tidak dibatasi oleh sekat-sekat yang tinggi antara meteorologi, klimatologi, dan geofisika, tapi satu sama lain harus terus belajar, karena pada akhirnya masyarakat hanya memandang satu, yaitu BMKG,” tegas Faisal.
Pesan tersebut menjadi salah satu penekanan dalam penutupan HMKG ke-79. Rangkaian kegiatan HMKG berlangsung sejak 21 Juli hingga 18 Agustus 2026 dan diisi berbagai agenda, mulai dari upacara, perlombaan olahraga, seni, hingga kegiatan akademik.
Ketua Pelaksana HMKG ke-79 Irwan Slamet mengatakan seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar. Selain kegiatan internal, panitia juga menggelar penggalangan dana untuk membantu korban gempa bumi dan tsunami di Pulau Flores, NTT.
Rangkaian HMKG tahun ini mengusung tema “BMKG Hebat, Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur”. Melalui momentum tersebut, BMKG mendorong penguatan kerja bersama agar informasi meteorologi, klimatologi, dan geofisika dapat semakin cepat menjangkau masyarakat. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
