Karhutla Sumsel Masih Bakar 1.900 Hektare, Prabowo Cari Cara Jinakkan Api, Ujungnya Muncul “Ubi Bombing”
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 4 jam yang lalu
- visibility 6
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto :setneg.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatra Selatan belum sepenuhnya reda. Sekitar 1.900 hektare lahan masih terbakar dan Presiden Prabowo Subianto meminta pemadaman dipercepat.
Namun, rapat penanganan karhutla di Posko Utama Satuan Tugas Karhutla Sumsel, Palembang, Senin (24/8/2026), tidak hanya membahas bagaimana api dipadamkan. Prabowo juga mendorong jajaran pemerintah mencari cara baru agar penanganan kebakaran bisa lebih cepat dan efektif.
Prabowo meminta setiap kendala yang ditemukan petugas di lapangan segera dievaluasi. Jika masih membutuhkan dukungan tambahan dari pemerintah pusat, ia meminta kebutuhan tersebut segera diajukan.
“Kalau begitu saya tekankan, usahakan yang sekarang ini 1.900 hektare ini bisa segera dipadamkan. Apa saja nanti kendala yang kalian hadapi di lapangan, Anda evaluasi dan kalau perlu tambahan bantuan dari atas, ya kita akan usahakan segera mungkin,” ujar Prabowo.
Presiden kemudian mengarahkan BNPB dan BRIN untuk ikut mencari kemungkinan bahan pemadam alternatif. Ia membayangkan ada material yang bisa digunakan lebih praktis oleh petugas, misalnya dalam bentuk tabung semprot seperti alat pemadam kebakaran.
Menurut Prabowo, cara seperti itu bisa membantu petugas ketika menghadapi titik api, terutama jika bahan yang digunakan memang terbukti lebih efektif dalam memadamkan api atau mencegah kebakaran meluas.
“Seperti alat pemadam kebakaran, ya yang kita bayangkan, itu kan yang keluar kan zat kimia. Benar nggak? Ya, coba dicek ya. Mungkin BRIN, coba dicek BRIN ya,” katanya.
Pembahasan soal bahan pemadam itu kemudian mengarah pada satu inovasi yang cukup berbeda. Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyampaikan adanya bahan pemadam yang menggunakan tepung ubi atau singkong sebagai bahan baku.
Bahan tersebut disebut berpotensi membantu mencegah penyebaran api dengan memisahkan unsur-unsur yang mendukung proses pembakaran. Selain untuk mencegah api merambat, bahan itu juga dapat digunakan untuk membantu memadamkan api pada tahap awal.
Pangdam II/Sriwijaya Mayjen TNI Ujang Darwis kemudian melaporkan inovasi tersebut sudah dipaparkan kepada jajaran terkait dan disampaikan kepada BNPB. Produksinya memang masih terbatas, tetapi hasil penggunaannya dinilai cukup efektif sehingga terbuka peluang untuk dikembangkan lebih besar.
Kata Prabowo, ide tersebut menarik, karena bahan bakunya berasal dari komoditas yang mudah ditemukan.
“Menarik sekali. Bahan bakunya dari ubi, dari singkong. Coba diproduksi dalam skala besar. Ajukan biaya untuk produksinya. Kita usahakan semua upaya,” ujar Prabowo.
Danmuncul istilah yang kemudian mencuri perhatian dalam rapat tersebut.
“Berarti yang kita waterbomb bukan waterbomb, ubi bombing. Ubi bombing,” kata Prabowo.
Istilah “Ubi Bombing” merujuk pada gagasan penggunaan bahan pemadam berbasis ubi atau singkong sebagai alternatif dalam penanganan karhutla. Prabowo tidak ingin inovasi tersebut berhenti sebagai bahan pembicaraan. Ia meminta produksi segera diperbesar dan kebutuhan anggarannya diajukan.
Pemerintah juga diminta melakukan riset dan pengujian lebih lanjut untuk mengetahui seberapa efektif bahan tersebut ketika digunakan dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan dalam skala yang lebih besar.
Artinya, inovasi bahan pemadam berbasis singkong itu masih harus melewati tahap pengembangan dan pengujian. Jika hasilnya sesuai harapan, bahan tersebut berpotensi menjadi salah satu alternatif yang bisa dibawa petugas ketika menghadapi titik api.
Selain mencari bahan pemadam baru, Prabowo meminta Panglima TNI menguji kemampuan Tim Alpha untuk membantu penanganan karhutla di Sumatra Selatan.
Berbagai metode akan terus dievaluasi, terutama untuk memastikan pemadaman berjalan lebih cepat di tengah kondisi lahan yang masih terbakar. Pemerintah juga diminta mengoptimalkan seluruh sumber daya, teknologi, dan inovasi yang tersedia.
Untuk saat ini, fokus utamanya tetap sama: memadamkan 1.900 hektare lahan yang masih terbakar. Tetapi dari rapat tersebut, muncul satu kemungkinan baru yang tidak biasa, bukan hanya mengandalkan waterbombing, melainkan mencoba mengembangkan “Ubi Bombing” berbahan singkong. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
