El Niño Diprediksi Bertahan hingga Awal 2027, Apa Dampaknya bagi Indonesia?
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 11
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : bmkg.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Fenomena El Niño kembali menjadi perhatian setelah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan kondisi tersebut masih akan berlangsung hingga awal kuartal pertama 2027, sebagian orang, kabar ini mungkin terdengar mengkhawatirkan. Namun, apakah itu berarti Indonesia akan terus mengalami kekeringan hingga tahun depan?
Jawabannya tidak sesederhana itu. El Niño memang memengaruhi pola iklim global, tetapi dampaknya di Indonesia sangat bergantung pada musim yang sedang berlangsung. Ketika fenomena ini bertepatan dengan musim kemarau, curah hujan cenderung berkurang sehingga risiko kekeringan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), hingga gangguan terhadap sektor pertanian meningkat.
Apa Itu El Niño?
El Niño adalah fenomena iklim yang terjadi ketika suhu permukaan laut di bagian tengah hingga timur Samudra Pasifik mengalami pemanasan lebih tinggi dari kondisi normal. Perubahan suhu tersebut memengaruhi sirkulasi atmosfer dan mengubah pola pembentukan awan serta distribusi hujan di berbagai wilayah dunia, termasuk Indonesia.
Dalam kondisi El Niño, wilayah Indonesia umumnya menerima curah hujan yang lebih sedikit dibandingkan kondisi normal. Akibatnya, musim kemarau bisa berlangsung lebih kering atau lebih lama di sejumlah daerah.
Meski demikian, tidak semua wilayah mengalami dampak yang sama. Tingkat pengaruhnya dipengaruhi oleh kondisi atmosfer dan fenomena iklim lain yang terjadi pada waktu yang bersamaan.
Mengapa Dampak El Niño Baru Terasa Saat Musim Kemarau?
BMKG menjelaskan bahwa pengaruh terbesar El Niño terhadap Indonesia muncul ketika fenomena tersebut bertemu dengan musim kemarau.
Saat memasuki musim hujan, pembentukan awan dan curah hujan masih dipengaruhi banyak faktor lain sehingga dampak El Niño tidak selalu dominan. Sebaliknya, ketika musim kemarau tiba, berkurangnya pasokan uap air membuat hujan semakin jarang terjadi sehingga kondisi kering menjadi lebih nyata.
Karena itu, meskipun El Niño diperkirakan bertahan hingga awal 2027, dampak utamanya diperkirakan terkonsentrasi pada periode musim kemarau di Indonesia.
Kemarau Diperkirakan Lebih Kering
Berdasarkan pemantauan BMKG, sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan mengalami musim kemarau yang lebih kering dibandingkan kondisi normal. Selain curah hujan yang menurun, sejumlah daerah juga diperkirakan mengalami durasi kemarau yang lebih panjang.
BMKG juga memproyeksikan puncak musim kemarau terjadi pada Agustus hingga September, sehingga periode tersebut menjadi waktu yang perlu diwaspadai oleh masyarakat maupun pemerintah daerah.
Kondisi ini dapat menyebabkan berkurangnya ketersediaan air di sungai, waduk, embung, maupun sumber air masyarakat apabila hujan tidak segera turun.
Potensi IOD Positif Dapat Memperkuat Kekeringan
Selain El Niño, BMKG juga memantau peluang munculnya fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) Positif pada September hingga Desember 2026.
IOD Positif merupakan kondisi ketika suhu permukaan laut di Samudra Hindia bagian barat lebih hangat dibandingkan bagian timur. Fenomena ini dapat mengurangi peluang terbentuknya hujan di Indonesia.
Jika El Niño dan IOD Positif terjadi pada saat yang bersamaan ketika musim kemarau berlangsung, peluang terjadinya kekeringan di sejumlah wilayah dapat meningkat.
Risiko Karhutla Semakin Tinggi
Salah satu dampak yang paling sering muncul saat musim kemarau panjang adalah meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan.
Vegetasi yang mengering lebih mudah terbakar, terutama di kawasan gambut yang banyak terdapat di Sumatra dan Kalimantan. Kondisi tersebut membuat titik panas atau hotspot cenderung bertambah selama periode kemarau.
Karena itu, wilayah yang selama ini memiliki riwayat kebakaran hutan memerlukan pengawasan lebih intensif agar api tidak meluas dan menimbulkan kabut asap.
Dampaknya Tidak Hanya pada Lingkungan
Kemarau panjang juga memengaruhi berbagai sektor kehidupan, di bidang pertanian, berkurangnya curah hujan dapat menghambat pertumbuhan tanaman apabila pasokan air tidak mencukupi. Karena itu, penyesuaian jadwal tanam dan pemilihan varietas yang lebih tahan terhadap kondisi kering menjadi salah satu langkah yang dapat dilakukan.
Di sektor sumber daya air, pengelola waduk dan bendungan perlu memperhitungkan cadangan air agar kebutuhan masyarakat, irigasi, hingga pembangkit listrik tenaga air tetap dapat terpenuhi.
Sementara itu, kualitas udara juga berpotensi menurun apabila kebakaran hutan meningkat. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), serta memperbesar kemungkinan terjadinya heat stroke ketika suhu udara menjadi sangat panas.
Langkah Mitigasi yang Dilakukan BMKG
Untuk mengurangi dampak kekeringan dan karhutla, BMKG memperkuat pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di sejumlah wilayah prioritas.
Operasi ini dilakukan dengan memanfaatkan potensi awan yang tersedia untuk membantu meningkatkan peluang terjadinya hujan pada daerah yang membutuhkan. Selain mendukung upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan, OMC juga diarahkan untuk membantu menjaga ketersediaan air di beberapa daerah tangkapan air, waduk, dan danau.
Pelaksanaan OMC dilakukan melalui koordinasi dengan berbagai instansi, termasuk BNPB, Kementerian Kehutanan, TNI, Polri, serta pemerintah daerah.
Apa yang Bisa Dilakukan Masyarakat?
Menghadapi musim kemarau yang lebih kering, masyarakat dapat melakukan berbagai langkah sederhana untuk mengurangi dampaknya.
Menghemat penggunaan air bersih menjadi salah satu cara paling efektif, terutama di daerah yang mulai mengalami penurunan debit air. Selain itu, masyarakat diimbau menghindari pembakaran lahan atau sampah secara terbuka karena dapat memicu kebakaran yang sulit dikendalikan saat vegetasi mengering.
Pada saat kualitas udara memburuk, penggunaan masker ketika beraktivitas di luar ruangan dapat membantu mengurangi paparan asap. Sementara itu, saat cuaca sangat panas, menjaga asupan cairan dan membatasi aktivitas berat di bawah terik matahari juga penting dilakukan untuk mencegah gangguan kesehatan.
El Niño diperkirakan bertahan hingga awal 2027 tidak berarti Indonesia akan terus-menerus mengalami kekeringan sepanjang periode tersebut. Dampak terbesarnya muncul ketika fenomena ini berlangsung bersamaan dengan musim kemarau.
Kewaspadaan perlu ditingkatkan terutama pada masa puncak kemarau, ketika risiko kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, serta gangguan terhadap sektor pertanian dan sumber daya air cenderung meningkat. Dengan memahami cara kerja El Niño dan mengikuti informasi cuaca dari BMKG, masyarakat maupun pemerintah dapat mengambil langkah antisipasi lebih dini untuk mengurangi dampaknya. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
