Senin, 24 Agu 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Nasional » El Niño Diprediksi Bertahan hingga Awal 2027, Apa Dampaknya bagi Indonesia?

El Niño Diprediksi Bertahan hingga Awal 2027, Apa Dampaknya bagi Indonesia?

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Minggu, 2 Agt 2026
  • visibility 26
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

SUMSELTERKINI.CO.ID – Fenomena El Niño kembali menjadi perhatian setelah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan kondisi tersebut masih akan berlangsung hingga awal kuartal pertama 2027, sebagian orang, kabar ini mungkin terdengar mengkhawatirkan. Namun, apakah itu berarti Indonesia akan terus mengalami kekeringan hingga tahun depan?

Jawabannya tidak sesederhana itu. El Niño memang memengaruhi pola iklim global, tetapi dampaknya di Indonesia sangat bergantung pada musim yang sedang berlangsung. Ketika fenomena ini bertepatan dengan musim kemarau, curah hujan cenderung berkurang sehingga risiko kekeringan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), hingga gangguan terhadap sektor pertanian meningkat.

Apa Itu El Niño?

El Niño adalah fenomena iklim yang terjadi ketika suhu permukaan laut di bagian tengah hingga timur Samudra Pasifik mengalami pemanasan lebih tinggi dari kondisi normal. Perubahan suhu tersebut memengaruhi sirkulasi atmosfer dan mengubah pola pembentukan awan serta distribusi hujan di berbagai wilayah dunia, termasuk Indonesia.

Dalam kondisi El Niño, wilayah Indonesia umumnya menerima curah hujan yang lebih sedikit dibandingkan kondisi normal. Akibatnya, musim kemarau bisa berlangsung lebih kering atau lebih lama di sejumlah daerah.

Meski demikian, tidak semua wilayah mengalami dampak yang sama. Tingkat pengaruhnya dipengaruhi oleh kondisi atmosfer dan fenomena iklim lain yang terjadi pada waktu yang bersamaan.

Mengapa Dampak El Niño Baru Terasa Saat Musim Kemarau?

BMKG menjelaskan bahwa pengaruh terbesar El Niño terhadap Indonesia muncul ketika fenomena tersebut bertemu dengan musim kemarau.

Saat memasuki musim hujan, pembentukan awan dan curah hujan masih dipengaruhi banyak faktor lain sehingga dampak El Niño tidak selalu dominan. Sebaliknya, ketika musim kemarau tiba, berkurangnya pasokan uap air membuat hujan semakin jarang terjadi sehingga kondisi kering menjadi lebih nyata.

Karena itu, meskipun El Niño diperkirakan bertahan hingga awal 2027, dampak utamanya diperkirakan terkonsentrasi pada periode musim kemarau di Indonesia.

Kemarau Diperkirakan Lebih Kering

Berdasarkan pemantauan BMKG, sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan mengalami musim kemarau yang lebih kering dibandingkan kondisi normal. Selain curah hujan yang menurun, sejumlah daerah juga diperkirakan mengalami durasi kemarau yang lebih panjang.

BMKG juga memproyeksikan puncak musim kemarau terjadi pada Agustus hingga September, sehingga periode tersebut menjadi waktu yang perlu diwaspadai oleh masyarakat maupun pemerintah daerah.

Kondisi ini dapat menyebabkan berkurangnya ketersediaan air di sungai, waduk, embung, maupun sumber air masyarakat apabila hujan tidak segera turun.

Potensi IOD Positif Dapat Memperkuat Kekeringan

Selain El Niño, BMKG juga memantau peluang munculnya fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) Positif pada September hingga Desember 2026.

IOD Positif merupakan kondisi ketika suhu permukaan laut di Samudra Hindia bagian barat lebih hangat dibandingkan bagian timur. Fenomena ini dapat mengurangi peluang terbentuknya hujan di Indonesia.

Jika El Niño dan IOD Positif terjadi pada saat yang bersamaan ketika musim kemarau berlangsung, peluang terjadinya kekeringan di sejumlah wilayah dapat meningkat.

Risiko Karhutla Semakin Tinggi

Salah satu dampak yang paling sering muncul saat musim kemarau panjang adalah meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan.

Vegetasi yang mengering lebih mudah terbakar, terutama di kawasan gambut yang banyak terdapat di Sumatra dan Kalimantan. Kondisi tersebut membuat titik panas atau hotspot cenderung bertambah selama periode kemarau.

Karena itu, wilayah yang selama ini memiliki riwayat kebakaran hutan memerlukan pengawasan lebih intensif agar api tidak meluas dan menimbulkan kabut asap.

Dampaknya Tidak Hanya pada Lingkungan

Kemarau panjang juga memengaruhi berbagai sektor kehidupan, di bidang pertanian, berkurangnya curah hujan dapat menghambat pertumbuhan tanaman apabila pasokan air tidak mencukupi. Karena itu, penyesuaian jadwal tanam dan pemilihan varietas yang lebih tahan terhadap kondisi kering menjadi salah satu langkah yang dapat dilakukan.

Di sektor sumber daya air, pengelola waduk dan bendungan perlu memperhitungkan cadangan air agar kebutuhan masyarakat, irigasi, hingga pembangkit listrik tenaga air tetap dapat terpenuhi.

Sementara itu, kualitas udara juga berpotensi menurun apabila kebakaran hutan meningkat. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), serta memperbesar kemungkinan terjadinya heat stroke ketika suhu udara menjadi sangat panas.

Langkah Mitigasi yang Dilakukan BMKG

Untuk mengurangi dampak kekeringan dan karhutla, BMKG memperkuat pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di sejumlah wilayah prioritas.

Operasi ini dilakukan dengan memanfaatkan potensi awan yang tersedia untuk membantu meningkatkan peluang terjadinya hujan pada daerah yang membutuhkan. Selain mendukung upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan, OMC juga diarahkan untuk membantu menjaga ketersediaan air di beberapa daerah tangkapan air, waduk, dan danau.

Pelaksanaan OMC dilakukan melalui koordinasi dengan berbagai instansi, termasuk BNPB, Kementerian Kehutanan, TNI, Polri, serta pemerintah daerah.

Apa yang Bisa Dilakukan Masyarakat?

Menghadapi musim kemarau yang lebih kering, masyarakat dapat melakukan berbagai langkah sederhana untuk mengurangi dampaknya.

Menghemat penggunaan air bersih menjadi salah satu cara paling efektif, terutama di daerah yang mulai mengalami penurunan debit air. Selain itu, masyarakat diimbau menghindari pembakaran lahan atau sampah secara terbuka karena dapat memicu kebakaran yang sulit dikendalikan saat vegetasi mengering.

Pada saat kualitas udara memburuk, penggunaan masker ketika beraktivitas di luar ruangan dapat membantu mengurangi paparan asap. Sementara itu, saat cuaca sangat panas, menjaga asupan cairan dan membatasi aktivitas berat di bawah terik matahari juga penting dilakukan untuk mencegah gangguan kesehatan.

El Niño  diperkirakan bertahan hingga awal 2027 tidak berarti Indonesia akan terus-menerus mengalami kekeringan sepanjang periode tersebut. Dampak terbesarnya muncul ketika fenomena ini berlangsung bersamaan dengan musim kemarau.

Kewaspadaan perlu ditingkatkan terutama pada masa puncak kemarau, ketika risiko kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, serta gangguan terhadap sektor pertanian dan sumber daya air cenderung meningkat. Dengan memahami cara kerja El Niño dan mengikuti informasi cuaca dari BMKG, masyarakat maupun pemerintah dapat mengambil langkah antisipasi lebih dini untuk mengurangi dampaknya. (***)

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Bawakan Cerita ‘Puyang Ramedan’, Antarkan Pelajar Muba Ini Wakili Sumsel ke Tingkat Nasional

    Bawakan Cerita ‘Puyang Ramedan’, Antarkan Pelajar Muba Ini Wakili Sumsel ke Tingkat Nasional

    • calendar_month Rabu, 17 Jul 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 902
    • 0Komentar

    DINAS Perpustakaan Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) menggelar Lomba Bercerita Tingkat SD/MI, dengan tujuan menggairahkan budaya minat membaca bagi para siswa. Perlombaan dikuti oleh seluruh Kabupaten/Kota Se Sumsel dan salah satunya adalah Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), Selasa  (17/7/2019). Menurut laporan Kepala Dinas Perpustakaan Kabupaten Muba, Drs Yohanes Yubhar menyampaikan bahwa, Kabupaten Muba mengutus dua orang peserta dari […]

  • Potensi Tanaman Pangan, PON Papua Mendatangkan Investor ke Merauke

    Potensi Tanaman Pangan, PON Papua Mendatangkan Investor ke Merauke

    • calendar_month Jumat, 15 Okt 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.010
    • 0Komentar

    GELARAN Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua menarik para investor datang ke Kabupaten Merauke untuk berinvestasi dalam bidang pangan. Karena, gema dari ajang ini luas menggaung ke berbagai wilayah di tanah air, melalui medium itu akhirnya investor mengetahui potensi pengelolaan tanaman pangan dari Merauke saat ini. Dilansir dari InfoPublik.id, Bupati Merauke, Romanus Mbaraka, mengatakan saat […]

  • Pembukaan TMMD ke 104 di Gandus, Walikota Palembang-Danrem Kompoi Naik Motor

    Pembukaan TMMD ke 104 di Gandus, Walikota Palembang-Danrem Kompoi Naik Motor

    • calendar_month Selasa, 26 Feb 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.529
    • 0Komentar

        Sumselterkini.co.id, Palembang – Cuaca pagi di wilayah Pulokerto – Gandus, Palembang sangat bersahabat saat jarum jam menunjuk angka 09.00 WIB di Selasa [26/2/2019]. Matahari memancarkan sinarnya yang sangat menyengat terasa di kulit. Meski demikian Acara Pembukaan TMMD ke 104 di Gandus tetap ramai di kunjungai warga setempat. Tak lama kemudian, Rombongan Pemerintah Kota Palembang […]

  • Siapa Penemu Hukum Newton? Kisah Isaac Newton, Apel, Gravitasi, dan Rasa Penasaran

    Siapa Penemu Hukum Newton? Kisah Isaac Newton, Apel, Gravitasi, dan Rasa Penasaran

    • calendar_month Selasa, 11 Agt 2026
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 10
    • 0Komentar

    SUMSELTERKINI.CO.ID – Penemu Hukum Newton adalah Isaac Newton, ilmuwan asal Inggris yang pemikirannya masih menjadi bagian penting dalam pelajaran fisika sampai sekarang. Namanya tentu tidak asing bagi siapa pun yang pernah belajar tentang gaya, gerak, percepatan, dan gravitasi. Namun dibalik rumus seperti F = ma sering membuat dahi siswa berkerut, ada kisah panjang tentang seorang […]

  • Tunda Vaksinasi Jika Anak Dalam Kondisi Ini

    Tunda Vaksinasi Jika Anak Dalam Kondisi Ini

    • calendar_month Sabtu, 5 Feb 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 674
    • 0Komentar

    SEGERAKAN vaksinasi COVID-19 untuk anak usia 12-17 tahun, kecuali jika anak dalam kondisi demam (37.5 derajat Celsiu atau lebih), baru sembuh dari COVID-19 kurang dari 3 bulan, dan berada dalam kondisi kurang dari 1 bulan setelah imunisasi lain. Tunda juga jika memiliki Hipertensi, Diabetes Melitus, penyakit-penyakit menahun, kelainan bawaan, defisiensi imun primer, penyakit autoimun, atau […]

  • Dampak Erupsi, Dompet Dhuafa Buka Layanan Cuci Baju Gratis

    Dampak Erupsi, Dompet Dhuafa Buka Layanan Cuci Baju Gratis

    • calendar_month Selasa, 14 Des 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 746
    • 0Komentar

    DOMPET Dhuafa (DD) Jawa Timur dan Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa buka layanan cuci baju gratis di pengungsian Pesantren Ulul Albab, Candipuro, Lumajang. Adapun layanan yang diberi nama Pojok Laundry diperuntukkan bagi penerima manfaat yang terdampak atau penyintas awan panas guguran Semeru. Namun hal ini juga diperuntukkan untuk relawan-relawan kemanusiaan yang hingga kini masih […]

expand_less
WordPress Archive ProRange | Painting & Renovation Theme Pros & Cons Widget for Elementor Proshop Storefront WooCommerce Theme Prospect – Creative Multipurpose WordPress Theme ProUI – Responsive Bootstrap Admin Template ProVision Image Editor for WordPress / WooCommerce with Folders File Manager Psych – Mental Health Counselor Elementor Template Kit Psychare – WordPress Theme for Psychologists & Life Coaches PsycheKit – Psychologist & Hypnotherapy Elementor Template Kit Psycholox : Psychology & Counseling WordPress Theme