Karhutla, Api Padam, Kabut Asap Muncul Lagi, Bara Masih Membara di Bawah Tanah
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 2 menit yang lalu
- visibility 3
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : bnpb
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Kabut asap akibat karhutla belum tentu hilang ketika kobaran api di permukaan berhasil dipadamkan. Di lahan gambut, bara dapat bertahan di bawah tanah dan kembali menghasilkan asap, sehingga penanganannya membutuhkan pembasahan lahan secara lebih menyeluruh.
Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan yang ditemukan Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto saat meninjau penanganan kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, kemarin.
Dari patroli udara menggunakan helikopter, Suharyanto melihat pemadaman dilakukan secara bersamaan dari darat dan udara. Tim di lapangan menyemprot kawasan yang terbakar, sedangkan armada water bombing menjatuhkan air untuk menekan api dari udara.
Namun, karakter gambut membuat air yang mengenai permukaan belum otomatis mengakhiri kebakaran.
“Kalau kebakaran di provinsi lain, disiram water bombing langsung padam, lahan gambut tidak. Mungkin api padam di permukaan tapi ke dalam tanah ada bara, sehingga muncul asap,” kata Suharyanto.
Bara yang bertahan di dalam tanah menjadi persoalan karena tidak selalu terlihat dari udara. Ketika masih aktif, bara tersebut dapat terus menghasilkan asap meskipun kobaran api sudah tidak tampak.
Asap yang terus muncul kemudian membawa persoalan lain bagi masyarakat. Jika terkumpul dalam jumlah besar, asap dapat menurunkan jarak pandang dan berdampak terhadap kesehatan.
Karena itu, menurut Suharyanto, faktor yang paling dibutuhkan untuk membantu mengatasi kebakaran gambut adalah air dalam jumlah yang mampu membasahi lahan. Hujan alami dinilai menjadi cara paling efektif dan efisien untuk kondisi tersebut.
Persoalannya, hujan belum tentu tersedia ketika dibutuhkan. Berdasarkan prediksi BMKG yang disampaikan Suharyanto, dalam beberapa waktu ke depan belum ada pertumbuhan awan hujan di wilayah Kalimantan Barat.
Kondisi itu membuat BNPB memilih tetap menyiapkan armada operasi modifikasi cuaca di Lanud Supadio. Dua unit armada disiagakan sehingga dapat segera bergerak ketika muncul pertumbuhan awan yang memungkinkan dilakukannya operasi modifikasi cuaca.
Upaya tersebut juga tidak hanya menyasar lokasi yang sudah terbakar. BNPB berencana melakukan pembasahan pada kawasan gambut yang belum terbakar agar kelembapannya terjaga dan lahan tidak mudah terbakar.
Dengan pendekatan itu, penanganan karhutla tidak berhenti pada upaya mengejar api yang sudah muncul, menjaga gambut tetap basah menjadi bagian dari upaya mencegah kebakaran meluas maupun muncul di lokasi lain.
Penanganan karhutla sendiri menjadi perhatian Presiden Prabowo Subianto, pada akhir Juli, Presiden menggelar rapat terbatas dan meminta seluruh pihak bersatu dalam menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan.
Suharyanto mengatakan arahan tersebut menjadi dasar bagi seluruh pihak untuk memperkuat penanganan karhutla di lapangan. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
