Selasa, 15 Sep 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Musik & Film » “Rapa’i & Distorsi, Saat Metalcore & Tradisi Duduk Semeja, Anak-Anak pun Ikut Joget dalam Doa”

“Rapa’i & Distorsi, Saat Metalcore & Tradisi Duduk Semeja, Anak-Anak pun Ikut Joget dalam Doa”

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Rabu, 23 Jul 2025
  • visibility 573
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

“Loh, itu suara apa, Mak?”
“Itu… suara kemarahan yang teratur, Nak. Tapi pakai irama Aceh. Makanya tetap sopan.”
“Kenapa orang marah malah bikin lagu?”
“Karena kalau marah cuma diem, bisa meledak jadi jerawat, Nak.”

BEGITULAH kira-kira dialog imajiner antara anak dan ibunya saat mendengarkan lagu Hitam, kolaborasi mencengangkan antara band metalcore Killa The Pia dan komunitas musik tradisi Rapai Pasee Raja Buwah, yang baru saja diluncurkan lewat program AKTIF Musik Kementerian Ekonomi Kreatif.

Lagu itu bukan sembarang lagu, bukan cuma gebukan drum dan pekikan distorsi gitar yang membuat kuping berdansa ala ninja ngamuk, tapi juga mengandung pukulan-pukulan Rapa’i yang seolah bilang, “Kami dari Aceh masih punya cara elegan untuk melawan kekerasan tanpa harus lempar sendal”

Ibarat mie instan dan durian, duet ini terasa janggal tapi justru nikmat kalau tahu cara masaknya. Rapa’i itu tradisi tua, sakral, dan penuh ritme spiritual. Sedangkan metalcore?, adalah musik untuk orang-orang yang mungkin pernah tersesat di toko gitar, terus nggak bisa pulang karena keasyikan scream-scream-an.

Tapi di tangan program AKTIF Musik Kemenekraf, keduanya tidak dipaksa kawin paksa, justru dipertemukan secara estetik, kayak mantan yang akhirnya sadar mereka lebih cocok jadi band daripada pasangan.

Kita harus akui, ini langkah cerdas. Kenapa? Karena “Tak ada rotan, akar pun jadi. Tapi kalau ada Rapa’i dan distorsi, kenapa nggak sekalian bikin gebrakan budaya?”

Lagu “Hitam” dirilis pas Hari Anak Nasional, 23 Juli 2025, bukan kebetulan karena lagu ini bukan cuma tentang musik keras, tapi tentang keberanian menyuarakan yang tak terdengar khususnya suara anak-anak.

“Kami ingin suara mereka tidak dikubur dalam diam,” kata Madon, vokalis Killa The Pia, dengan nada serius tapi rambut masih acak-acakan ala pahlawan dalam komik Jepang.

Dan benar saja, lagu ini bukan untuk disetel sambil makan bubur kacang hijau, lagu ini buat direnungkan. Untuk ditarik ke dalam, disaring, lalu diubah jadi komitmen.

Komitmen untuk tidak memukul anak hanya karena dia pecahin piring, atau marahin anak hanya karena dia tanya, “Ayah, kenapa ayah galak padahal kata mama ayah baik?”

Program AKTIF Musik bukan cuma ngajak rekaman lalu ditinggal begitu saja. Kemenekraf juga memastikan semua hal teknis dari kekayaan intelektual hingga urusan lisensi beres. Ini penting karena kadang, bakat anak muda itu seperti nasi goreng tengah malam: nikmat, tapi rawan disabotase tetangga.

Yang lebih penting adalah negara hadir, bukan sekadar numpang nampang di peluncuran, tapi hadir lewat fasilitasi, advokasi, dan publikasi. Anak-anak butuh ruang aman. Musik bisa jadi tameng, bahkan bisa jadi pelindung mental.

Pepatah lama bilang “Kalau tak sanggup jadi pohon rindang, jadilah gitar yang menyuarakan kebenaran”

Lagu ini mungkin berjudul Hitam, tapi bukan berarti gelap. Justru di situlah sinarnya. Lagu ini bicara soal tekanan, ketakutan, dan perjuangan, tapi dalam bentuk seni. Dalam bentuk tarikan napas keras yang tidak memukul, melainkan mengajak berdialog.

Bahkan mungkin, 10 tahun lagi, anak-anak yang sekarang mendengarkan Hitam sambil makan mie rebus akan bilang “Lagu itu yang bikin aku sadar… bahwa marah harus punya nada. Dan suara kita layak didengar.”

Lagu Hitam adalah bukti bahwa musik bukan cuma buat joget TikTok atau dijadikan backsound patah hati. Musik bisa jadi gerakan, perlawanan, dan bahkan pelukan bagi anak-anak yang tak pernah punya panggung untuk bicara.

Dari Rapa’i yang mistik hingga scream metalcore yang epik, inilah duet yang lahir bukan dari algoritma, tapi dari keresahan. Aceh tak cuma mengirim kopi dan tsunami ke sejarah, tapi juga mengirim sinyal bahwa masa depan kreatif bisa dimulai dari tabuhan.

Sambil menggulung kabel setelah konser perdana Hitam, Madon nyeletuk ke salah satu anak kecil penonton

“Nak, kamu suka musik keras kayak om?”

Anak itu jawab polos,
“Iya om… Tapi aku lebih suka kalau Ayah nggak keras lagi.”

Dan di situlah semua suara jadi hening, karena ternyata, anak-anak tak butuh banyak hal, mereka cuma butuh didengarkan.

“Loh, itu suara apa, Mak?”
“Itu… suara kemarahan yang teratur, Nak. Tapi pakai irama Aceh. Makanya tetap sopan.”
“Kenapa orang marah malah bikin lagu?”
“Karena kalau marah cuma diem, bisa meledak jadi jerawat, Nak.”

Begitulah kira-kira dialog imajiner antara anak dan ibunya saat mendengarkan lagu Hitam, kolaborasi mencengangkan antara band metalcore Killa The Pia dan komunitas musik tradisi Rapai Pasee Raja Buwah, yang baru saja diluncurkan lewat program AKTIF Musik Kementerian Ekonomi Kreatif.

Dan ini bukan sembarang lagu. Ini bukan cuma gebukan drum dan pekikan distorsi gitar yang membuat kuping berdansa ala ninja ngamuk, tapi juga mengandung pukulan-pukulan Rapa’i yang seolah bilang, “Kami dari Aceh masih punya cara elegan untuk melawan kekerasan tanpa harus lempar sendal.”

Ibarat mie instan dan durian, duet ini terasa janggal tapi justru nikmat kalau tahu cara masaknya. Rapa’i itu tradisi tua, sakral, dan penuh ritme spiritual.

Sedangkan metalcore?, itu adalah musik untuk orang-orang yang mungkin pernah tersesat di toko gitar, terus nggak bisa pulang karena keasyikan scream-scream-an.

Tapi di tangan program AKTIF Musik Kemenekraf, keduanya tidak dipaksa kawin paksa. Justru dipertemukan secara estetik, kayak mantan yang akhirnya sadar mereka lebih cocok jadi band daripada pasangan.

Kita harus akui, ini langkah cerdas. Kenapa?, karena “Tak ada rotan, akar pun jadi. Tapi kalau ada Rapa’i dan distorsi, kenapa nggak sekalian bikin gebrakan budaya?”

Lagu “Hitam” dirilis pas Hari Anak Nasional, 23 Juli 2025, bukan kebetulan karena lagu ini bukan cuma tentang musik keras, tapi tentang keberanian menyuarakan yang tak terdengar khususnya suara anak-anak.

“Kami ingin suara mereka tidak dikubur dalam diam,” kata Madon, vokalis Killa The Pia, dengan nada serius tapi rambut masih acak-acakan ala pahlawan dalam komik Jepang.

Dibuat untuk direnungkan

Dan benar saja, lagu ini bukan untuk disetel sambil makan bubur kacang hijau. Lagu ini buat direnungkan. Untuk ditarik ke dalam, disaring, lalu diubah jadi komitmen.

Komitmen untuk tidak memukul anak hanya karena dia pecahin piring, atau marahin anak hanya karena dia tanya, “Ayah, kenapa ayah galak padahal kata mama ayah baik?”

Program AKTIF Musik bukan cuma ngajak rekaman lalu ditinggal begitu saja. Kemenekraf juga memastikan semua hal teknis dari kekayaan intelektual hingga urusan lisensi beres. Ini penting. Karena kadang, bakat anak muda itu seperti nasi goreng tengah malam: nikmat, tapi rawan disabotase tetangga.

Dan yang lebih penting: negara hadir. Bukan sekadar numpang nampang di peluncuran, tapi hadir lewat fasilitasi, advokasi, dan publikasi. Anak-anak butuh ruang aman. Musik bisa jadi tameng, bahkan bisa jadi pelindung mental.

Pepatah lama bilang “Kalau tak sanggup jadi pohon rindang, jadilah gitar yang menyuarakan kebenaran.”

Lagu ini mungkin berjudul Hitam, tapi bukan berarti gelap. Justru di situlah sinarnya. Lagu ini bicara soal tekanan, ketakutan, dan perjuangan, tapi dalam bentuk seni. Dalam bentuk tarikan napas keras yang tidak memukul, melainkan mengajak berdialog.

Bahkan mungkin, 10 tahun lagi, anak-anak yang sekarang mendengarkan Hitam sambil makan mie rebus akan bilang “Lagu itu yang bikin aku sadar… bahwa marah harus punya nada. Dan suara kita layak didengar.”

Lagu Hitam adalah bukti bahwa musik bukan cuma buat joget TikTok atau dijadikan backsound patah hati. Musik bisa jadi gerakan, perlawanan, dan bahkan pelukan bagi anak-anak yang tak pernah punya panggung untuk bicara.

Dari Rapa’i yang mistik hingga scream metalcore yang epik, inilah duet yang lahir bukan dari algoritma, tapi dari keresahan. Aceh tak cuma mengirim kopi dan tsunami ke sejarah, tapi juga mengirim sinyal bahwa masa depan kreatif bisa dimulai dari tabuhan.

Sambil menggulung kabel setelah konser perdana Hitam, Madon nyeletuk ke salah satu anak kecil penonton “Nak, kamu suka musik keras kayak om?”

Anak itu jawab polos…, “Iya om… Tapi aku lebih suka kalau Ayah nggak keras lagi”

Di situlah semua suara jadi hening. Karena ternyata, anak-anak tak butuh banyak hal. Mereka cuma butuh didengarkan.

Yuk, dengarkan “Hitam” bukan hanya dengan telinga, tapi juga dengan hati, karena kadang, yang terdengar keras… justru sedang berjuang paling dalam.[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pilkada Ditunda, KPU RI  : Tunggu Perppu, Pemda Jangan Diutak Atik Dulu Anggaran

    Pilkada Ditunda, KPU RI  : Tunggu Perppu, Pemda Jangan Diutak Atik Dulu Anggaran

    • calendar_month Rabu, 22 Apr 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.182
    • 0Komentar

    KOMISI Pemillihan Umum [KPU] RI meminta agar Pemerintah Daerah tidak mengutak –atik anggaran sebelum adanya Peraturan Pengganti Perundang- undangan (Perppu),sebab setelah disepakati di NPHD. Hal itu, diungkapkan Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI Arief Budiman Arief dalam Talk Live Sumsel Visual Firtual Fest 2020, bersama Ketua KPU Sumsel Kelly Mariana, Asisten I Pemprov Sumsel Ahmad […]

  • Politik dan Sepakbola

    Politik dan Sepakbola

    • calendar_month Senin, 19 Feb 2018
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.681
    • 0Komentar

    Kehadiran beberapa pejabat tinggi, menteri dan gubernur DKI Jakarta membuat aura pertandingan begitu bergairah.

  • Jangan Khawatir, Suku Cadang Tersedia di Seluruh Indonesia, Hyundai Kembali Tampilkan STARGAZER di Palembang

    Jangan Khawatir, Suku Cadang Tersedia di Seluruh Indonesia, Hyundai Kembali Tampilkan STARGAZER di Palembang

    • calendar_month Kamis, 22 Des 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 631
    • 0Komentar

    Palembang, Sumselterkini – Hyundai menampilkan STARGAZER kini hadir di Kota Palembang, dan ini sebagai tolak ukur baru di kelas Multi Purpose Vehicle (MPV) dengan ragam fitur dan teknologi unggulan seperti Hyundai Bluelink dan Hyundai Smartsense. Hyundai juga memberikan layanan purna jual menyeluruh dan ketersediaan suku cadang di seluruh Indonesia serta Hyundai Assurance Program bagi pelanggan […]

  • Panen Raya Padi Sawah Lebak Dangkal

    Panen Raya Padi Sawah Lebak Dangkal

    • calendar_month Senin, 17 Agt 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.458
    • 0Komentar

    PANEN Raya padi sawah lebak dangkal dilaksanakan di Desa Sungai Pinang, Kecamatan Rambutan Kabupaten Banyuasin.Selain panen, juga dilaksanakan perluasan areal tanam baru IP 200. Gubernur Sumsel Herman Deru mengatakan di tengah pandemi dan puncak kemarau petani Banyuasin tetap bisa panen padi. Ini juga sebagai bentuk apresiasinya pada petani yang masih mau mempertahankan lahan pertaniannya di era […]

  • Jelang Ramadhan, Tak Perlu Aksi Borong Barang

    Jelang Ramadhan, Tak Perlu Aksi Borong Barang

    • calendar_month Rabu, 7 Apr 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.111
    • 0Komentar

    PEMERINTAH Kota Palembang terus menjaga kestabilan harga serta ketersediaan bahan pangan jelang Bulan Suci Ramadhan serta Hari Raya Idul Fitri 1442 Hijriah. Bahkan inflasi di Kota Palembang juga terhitung tidakjauh dari Provinsi Sumatera Selatan. Berbagai upaya dilakukan Pemkot Palembang, salah satunya melakukan  operasi pasar, langkah ini dilakukan guna memantau ketersediaan pangan. Ketersediaan cukup, lalu harga […]

  • Kenapa Terjadi Konflik Tanah ? Ini Alasannya Kata Deru

    Kenapa Terjadi Konflik Tanah ? Ini Alasannya Kata Deru

    • calendar_month Senin, 15 Apr 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 865
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, Palembang – Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel), Herman Deru meyakini konflik yang terjadi di Bidang Agraria pada dasarnya bermula dari tapal batas tanah. Ia berasumsi bahwa tanah diciptakan tuhan tidak bertambah sementara orang yang membutuhkan tanah selalu bertambah. Herman Deru mencontohkan, ada sungai yang bercabang dua, namanya sama sebagai batas wilayah provinsi dengan kemajuan teknologi, menggunakan […]

expand_less
WordPress Archive WooCommerce Adyen Payment Gateway with latest API. WooCommerce Affiliate Automatic Amazon WordPress Plugin WooCommerce Affiliates – Boost Your Earnings with Affiliate Marketing WooCommerce Affiliates Coupon WooCommerce Ajax Cart & Added To Cart Popup – Floating/Sliding/Popup All in One Cart/Checkout Plugin WooCommerce Ajax-Enabled Enhanced Layered Navigation WooCommerce AliExpress Dropship WooCommerce Alipay Cross Border Payment Gateway WooCommerce All In One Offline Payment Solution WooCommerce Amazon Fulfillment