Rabu, 7 Okt 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Musik & Film » “Rapa’i & Distorsi, Saat Metalcore & Tradisi Duduk Semeja, Anak-Anak pun Ikut Joget dalam Doa”

“Rapa’i & Distorsi, Saat Metalcore & Tradisi Duduk Semeja, Anak-Anak pun Ikut Joget dalam Doa”

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Rabu, 23 Jul 2025
  • visibility 578
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

“Loh, itu suara apa, Mak?”
“Itu… suara kemarahan yang teratur, Nak. Tapi pakai irama Aceh. Makanya tetap sopan.”
“Kenapa orang marah malah bikin lagu?”
“Karena kalau marah cuma diem, bisa meledak jadi jerawat, Nak.”

BEGITULAH kira-kira dialog imajiner antara anak dan ibunya saat mendengarkan lagu Hitam, kolaborasi mencengangkan antara band metalcore Killa The Pia dan komunitas musik tradisi Rapai Pasee Raja Buwah, yang baru saja diluncurkan lewat program AKTIF Musik Kementerian Ekonomi Kreatif.

Lagu itu bukan sembarang lagu, bukan cuma gebukan drum dan pekikan distorsi gitar yang membuat kuping berdansa ala ninja ngamuk, tapi juga mengandung pukulan-pukulan Rapa’i yang seolah bilang, “Kami dari Aceh masih punya cara elegan untuk melawan kekerasan tanpa harus lempar sendal”

Ibarat mie instan dan durian, duet ini terasa janggal tapi justru nikmat kalau tahu cara masaknya. Rapa’i itu tradisi tua, sakral, dan penuh ritme spiritual. Sedangkan metalcore?, adalah musik untuk orang-orang yang mungkin pernah tersesat di toko gitar, terus nggak bisa pulang karena keasyikan scream-scream-an.

Tapi di tangan program AKTIF Musik Kemenekraf, keduanya tidak dipaksa kawin paksa, justru dipertemukan secara estetik, kayak mantan yang akhirnya sadar mereka lebih cocok jadi band daripada pasangan.

Kita harus akui, ini langkah cerdas. Kenapa? Karena “Tak ada rotan, akar pun jadi. Tapi kalau ada Rapa’i dan distorsi, kenapa nggak sekalian bikin gebrakan budaya?”

Lagu “Hitam” dirilis pas Hari Anak Nasional, 23 Juli 2025, bukan kebetulan karena lagu ini bukan cuma tentang musik keras, tapi tentang keberanian menyuarakan yang tak terdengar khususnya suara anak-anak.

“Kami ingin suara mereka tidak dikubur dalam diam,” kata Madon, vokalis Killa The Pia, dengan nada serius tapi rambut masih acak-acakan ala pahlawan dalam komik Jepang.

Dan benar saja, lagu ini bukan untuk disetel sambil makan bubur kacang hijau, lagu ini buat direnungkan. Untuk ditarik ke dalam, disaring, lalu diubah jadi komitmen.

Komitmen untuk tidak memukul anak hanya karena dia pecahin piring, atau marahin anak hanya karena dia tanya, “Ayah, kenapa ayah galak padahal kata mama ayah baik?”

Program AKTIF Musik bukan cuma ngajak rekaman lalu ditinggal begitu saja. Kemenekraf juga memastikan semua hal teknis dari kekayaan intelektual hingga urusan lisensi beres. Ini penting karena kadang, bakat anak muda itu seperti nasi goreng tengah malam: nikmat, tapi rawan disabotase tetangga.

Yang lebih penting adalah negara hadir, bukan sekadar numpang nampang di peluncuran, tapi hadir lewat fasilitasi, advokasi, dan publikasi. Anak-anak butuh ruang aman. Musik bisa jadi tameng, bahkan bisa jadi pelindung mental.

Pepatah lama bilang “Kalau tak sanggup jadi pohon rindang, jadilah gitar yang menyuarakan kebenaran”

Lagu ini mungkin berjudul Hitam, tapi bukan berarti gelap. Justru di situlah sinarnya. Lagu ini bicara soal tekanan, ketakutan, dan perjuangan, tapi dalam bentuk seni. Dalam bentuk tarikan napas keras yang tidak memukul, melainkan mengajak berdialog.

Bahkan mungkin, 10 tahun lagi, anak-anak yang sekarang mendengarkan Hitam sambil makan mie rebus akan bilang “Lagu itu yang bikin aku sadar… bahwa marah harus punya nada. Dan suara kita layak didengar.”

Lagu Hitam adalah bukti bahwa musik bukan cuma buat joget TikTok atau dijadikan backsound patah hati. Musik bisa jadi gerakan, perlawanan, dan bahkan pelukan bagi anak-anak yang tak pernah punya panggung untuk bicara.

Dari Rapa’i yang mistik hingga scream metalcore yang epik, inilah duet yang lahir bukan dari algoritma, tapi dari keresahan. Aceh tak cuma mengirim kopi dan tsunami ke sejarah, tapi juga mengirim sinyal bahwa masa depan kreatif bisa dimulai dari tabuhan.

Sambil menggulung kabel setelah konser perdana Hitam, Madon nyeletuk ke salah satu anak kecil penonton

“Nak, kamu suka musik keras kayak om?”

Anak itu jawab polos,
“Iya om… Tapi aku lebih suka kalau Ayah nggak keras lagi.”

Dan di situlah semua suara jadi hening, karena ternyata, anak-anak tak butuh banyak hal, mereka cuma butuh didengarkan.

“Loh, itu suara apa, Mak?”
“Itu… suara kemarahan yang teratur, Nak. Tapi pakai irama Aceh. Makanya tetap sopan.”
“Kenapa orang marah malah bikin lagu?”
“Karena kalau marah cuma diem, bisa meledak jadi jerawat, Nak.”

Begitulah kira-kira dialog imajiner antara anak dan ibunya saat mendengarkan lagu Hitam, kolaborasi mencengangkan antara band metalcore Killa The Pia dan komunitas musik tradisi Rapai Pasee Raja Buwah, yang baru saja diluncurkan lewat program AKTIF Musik Kementerian Ekonomi Kreatif.

Dan ini bukan sembarang lagu. Ini bukan cuma gebukan drum dan pekikan distorsi gitar yang membuat kuping berdansa ala ninja ngamuk, tapi juga mengandung pukulan-pukulan Rapa’i yang seolah bilang, “Kami dari Aceh masih punya cara elegan untuk melawan kekerasan tanpa harus lempar sendal.”

Ibarat mie instan dan durian, duet ini terasa janggal tapi justru nikmat kalau tahu cara masaknya. Rapa’i itu tradisi tua, sakral, dan penuh ritme spiritual.

Sedangkan metalcore?, itu adalah musik untuk orang-orang yang mungkin pernah tersesat di toko gitar, terus nggak bisa pulang karena keasyikan scream-scream-an.

Tapi di tangan program AKTIF Musik Kemenekraf, keduanya tidak dipaksa kawin paksa. Justru dipertemukan secara estetik, kayak mantan yang akhirnya sadar mereka lebih cocok jadi band daripada pasangan.

Kita harus akui, ini langkah cerdas. Kenapa?, karena “Tak ada rotan, akar pun jadi. Tapi kalau ada Rapa’i dan distorsi, kenapa nggak sekalian bikin gebrakan budaya?”

Lagu “Hitam” dirilis pas Hari Anak Nasional, 23 Juli 2025, bukan kebetulan karena lagu ini bukan cuma tentang musik keras, tapi tentang keberanian menyuarakan yang tak terdengar khususnya suara anak-anak.

“Kami ingin suara mereka tidak dikubur dalam diam,” kata Madon, vokalis Killa The Pia, dengan nada serius tapi rambut masih acak-acakan ala pahlawan dalam komik Jepang.

Dibuat untuk direnungkan

Dan benar saja, lagu ini bukan untuk disetel sambil makan bubur kacang hijau. Lagu ini buat direnungkan. Untuk ditarik ke dalam, disaring, lalu diubah jadi komitmen.

Komitmen untuk tidak memukul anak hanya karena dia pecahin piring, atau marahin anak hanya karena dia tanya, “Ayah, kenapa ayah galak padahal kata mama ayah baik?”

Program AKTIF Musik bukan cuma ngajak rekaman lalu ditinggal begitu saja. Kemenekraf juga memastikan semua hal teknis dari kekayaan intelektual hingga urusan lisensi beres. Ini penting. Karena kadang, bakat anak muda itu seperti nasi goreng tengah malam: nikmat, tapi rawan disabotase tetangga.

Dan yang lebih penting: negara hadir. Bukan sekadar numpang nampang di peluncuran, tapi hadir lewat fasilitasi, advokasi, dan publikasi. Anak-anak butuh ruang aman. Musik bisa jadi tameng, bahkan bisa jadi pelindung mental.

Pepatah lama bilang “Kalau tak sanggup jadi pohon rindang, jadilah gitar yang menyuarakan kebenaran.”

Lagu ini mungkin berjudul Hitam, tapi bukan berarti gelap. Justru di situlah sinarnya. Lagu ini bicara soal tekanan, ketakutan, dan perjuangan, tapi dalam bentuk seni. Dalam bentuk tarikan napas keras yang tidak memukul, melainkan mengajak berdialog.

Bahkan mungkin, 10 tahun lagi, anak-anak yang sekarang mendengarkan Hitam sambil makan mie rebus akan bilang “Lagu itu yang bikin aku sadar… bahwa marah harus punya nada. Dan suara kita layak didengar.”

Lagu Hitam adalah bukti bahwa musik bukan cuma buat joget TikTok atau dijadikan backsound patah hati. Musik bisa jadi gerakan, perlawanan, dan bahkan pelukan bagi anak-anak yang tak pernah punya panggung untuk bicara.

Dari Rapa’i yang mistik hingga scream metalcore yang epik, inilah duet yang lahir bukan dari algoritma, tapi dari keresahan. Aceh tak cuma mengirim kopi dan tsunami ke sejarah, tapi juga mengirim sinyal bahwa masa depan kreatif bisa dimulai dari tabuhan.

Sambil menggulung kabel setelah konser perdana Hitam, Madon nyeletuk ke salah satu anak kecil penonton “Nak, kamu suka musik keras kayak om?”

Anak itu jawab polos…, “Iya om… Tapi aku lebih suka kalau Ayah nggak keras lagi”

Di situlah semua suara jadi hening. Karena ternyata, anak-anak tak butuh banyak hal. Mereka cuma butuh didengarkan.

Yuk, dengarkan “Hitam” bukan hanya dengan telinga, tapi juga dengan hati, karena kadang, yang terdengar keras… justru sedang berjuang paling dalam.[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Bismillah hir rahman nir rahim, Besok, Dou Srikandi Deklarasi & langsung Daftar ke KPU Palembang, Ribuan Pendukung & Simpatisan Siap Kawal

    Bismillah hir rahman nir rahim, Besok, Dou Srikandi Deklarasi & langsung Daftar ke KPU Palembang, Ribuan Pendukung & Simpatisan Siap Kawal

    • calendar_month Selasa, 27 Agt 2024
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.484
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, – Besok jika tak ada halangan, ‘Duo Srikandi’ pasangan calon [paslon] Walikota-Wakil Walikota Palembang Hj. Fitrianti Agustinda, SH [Finda] dan Nandriani Octarina S.Psi. CHA akan mendeklarasi dan mendaftar ke KPU Kota Palembang, Rabu [28/8/2024].   Deklarasikan tersebut akan dihadiri ribuan relawan dan simpatisannya di Psoko Kemenangan Jalan Kampus POM IX, Ilir Barat 1 Palembang, […]

  • Update COVID-19 Muba: Penambahan 1 Kasus Sembuh, 2 Konfirmasi Positif

    Update COVID-19 Muba: Penambahan 1 Kasus Sembuh, 2 Konfirmasi Positif

    • calendar_month Jumat, 11 Sep 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.074
    • 0Komentar

    GUGUSTugas Penanganan COVID-19 Muba, Kamis (10/9/2020) mengkonfirmasi penambahan 1 kasus sembuh, dengan demikian ada sebanyak 79 kasus sembuh COVID-19 di Muba. “Kasus sembuh yakni kasus 107 yang mendapatkan perawatan di RSMH Palembang,” ungkap Jubir Gugus Tugas Penanganan COVID-19 Muba, dr Povi Pada Indarta SP P. Lanjutnya, meski ada penambahan 1 kasus sembuh namun adapula penambahan […]

  • Inilah Perangkat Daerah dengan Unit Pengelola Terbaik Versi Pernilaian Internal Pemkab. Muba.

    Inilah Perangkat Daerah dengan Unit Pengelola Terbaik Versi Pernilaian Internal Pemkab. Muba.

    • calendar_month Sabtu, 2 Nov 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 706
    • 0Komentar

    SEKRETARIS Dinkominfo Muba Dicky Meiriando SSTP MH mengatakan Aplikasi SIKD memang sangat bermanfaat dan membantu tugas perangkat daerah dalam kearsipan dan persuratan. Dan terkait penerapan ia menuturkan Dinkominfo Muba telah sudah ada server, dan jaringan yang masih bisa digunakan. “Tim IT kita sudah menghubungi Tim IT ANRI bahwa kita sudah siap, tinggal dukungan dan kesiapan dari […]

  • Tutup Tahun, Pemkab Banjar Gelar Peringatan Maulid Nabi

    Tutup Tahun, Pemkab Banjar Gelar Peringatan Maulid Nabi

    • calendar_month Jumat, 31 Des 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 628
    • 0Komentar

    BUPATI Banjar H.Saidi Mansyur mengatakan, sangat bersyukur dapat berkumpul dan bersilaturahmi pada pembacaan maulid al-Azab dalam rangka Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW saat akhir tahun 2021. Karena momentum ini dapat mempererat jalinan silaturahmi dan ukhuwah islamiah, agar dalam melaksanakan fungsi dan tanggung jawab mendapatkan kebaikan dari Allah SWT. Hal tersebut disampaikan Saidi Mansyur pada peringatan […]

  • Asa Pj Bupati Muba kepada JCH Muba

    Asa Pj Bupati Muba kepada JCH Muba

    • calendar_month Minggu, 12 Mei 2024
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.107
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, –  Diiringi doa dan harapan, Pj Bupati Muba H Sandi Fahlepi didampingi  Sekda Musi Banyuasin H Apriyadi Bersama Kakan Kemenag Muhammad Makki, Kabag Kesra Setda Muba H Opi Palopi, pada hari ini Jum’at (10/5/2024) secara resmi melepas 270 jemaah calon haji asal Kabupaten Musi Banyuasin di Hotel Gambo & Residence Sekayu. Rasa haru bercampur […]

  • 3.852 Juta Dosis Vaksin Siap Pakai AstraZeneca, Telah Tiba di Indonesia

    3.852 Juta Dosis Vaksin Siap Pakai AstraZeneca, Telah Tiba di Indonesia

    • calendar_month Rabu, 28 Apr 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 716
    • 0Komentar

    SEBANYAK 3,852 juta dosis vaksin siap pakai AstraZeneca dari Covax Facility kembali tiba di Indonesia, Senin (26/04/2021). Kedatangan vaksin ini merupakan tahap kesembilan kedatangan vaksin sejak 6 Desember 2020. Pesawat Emirates yang membawa vaksin tersebut memiliki nomor penerbangan EK-9258 dan tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, sekira pukul 18.26 WIB. “Alhamdulillah dengan mengucap puji syukur […]

expand_less
WordPress Archive WooCommerce Adyen Payment Gateway with latest API. WooCommerce Affiliate Automatic Amazon WordPress Plugin WooCommerce Affiliates – Boost Your Earnings with Affiliate Marketing WooCommerce Affiliates Coupon WooCommerce Ajax Cart & Added To Cart Popup – Floating/Sliding/Popup All in One Cart/Checkout Plugin WooCommerce Ajax-Enabled Enhanced Layered Navigation WooCommerce AliExpress Dropship WooCommerce Alipay Cross Border Payment Gateway WooCommerce All In One Offline Payment Solution WooCommerce Amazon Fulfillment