Taiwan Beats Bawa 50 Pelaku Industri Musik Taiwan ke Indonesia, LaLaLa Fest Tak Lagi Cuma Panggung
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 19 menit yang lalu
- visibility 6
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto ;ekraf.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Festival musik di Indonesia mulai didorong menjadi lebih dari tempat menonton pertunjukan. Kehadiran Taiwan Beats di Jakarta memperlihatkan arah baru itu ketika sekitar 50 delegasi industri musik Taiwan masuk ke rangkaian networking dan business matching untuk mencari peluang kerja sama di Indonesia.
Langkah itu menjadi bagian dari Taiwan Beats in Jakarta yang berlangsung pada 21–25 Agustus 2026 di Jakarta dan Bali.
Program ini mempertemukan pelaku industri dari Indonesia dan Taiwan melalui pertukaran industri, seminar, kunjungan, business matching hingga showcase musik.
Untuk industri musik Indonesia sendiri, menariknya bukan hanya kedatangan musisi Taiwan, tetapi terbukanya jalur pertemuan langsung dengan pelaku bisnis di balik industri tersebut.
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif Irene Umar mengatakan pertemuan dua ekosistem musik itu dapat membuka ruang pertukaran talenta, kolaborasi karya, promosi budaya hingga perluasan pasar.
Menurut Irene, Indonesia memiliki modal besar berupa talenta dan komunitas musik yang terus berkembang. Taiwan mempunyai ekosistem industri kreatif dinilai telah berkembang dalam pengelolaan industri budaya.
Pertemuan keduanya kemudian diarahkan bukan berhenti pada pertunjukan, melainkan membangun hubungan yang bisa berlanjut menjadi kerja sama industri.
Oleh sebab itu kolaborasi Taiwan Beats dengan LaLaLa Fest 2026 menjadi penting. Festival digelar di Jakarta diperluas fungsinya menjadi ruang business-to-business (B2B) dengan mempertemukan pelaku industri musik lintas negara.
Sekitar 50 delegasi industri musik Taiwan mengikuti sesi networking dan business matching. Mereka dipertemukan dengan pelaku industri Indonesia untuk membuka peluang kerja sama, pertukaran talenta dan promosi karya.
Artinya, panggung festival tidak lagi menjadi tujuan akhir. Pertunjukan justru menjadi pintu masuk untuk mempertemukan musisi, promotor, label, publisher dan pelaku industri lainnya.
Program Taiwan Beats sendiri diinisiasi Bureau of Audiovisual and Music Industry Development (BAMID) Kementerian Kebudayaan Taiwan dan dikembangkan bersama Taiwan Creative Content Agency (TAICCA).
Indonesia menjadi salah satu tujuan program pengembangan pasar musik Taiwan di Asia Tenggara.
Rangkaian di Indonesia mencakup Jakarta dan Bali, termasuk showcase musik serta agenda industri.
Dengan pola tersebut, Taiwan tidak hanya membawa artis untuk tampil, tetapi juga memperkenalkan ekosistem industrinya kepada pasar regional.
Sedangkan untuk Indonesia sendiri, diharapkan pola kerja sama dapat membuka peluang untuk pelaku musik lokal, memiliki kesempatan membangun koneksi dengan jaringan industri luar negeri tanpa harus menunggu karya mereka lebih dulu menembus pasar internasional.
Irene menegaskan kreativitas tidak seharusnya berhenti sebagai karya. Musisi dan pelaku ekonomi kreatif perlu mendapat ruang untuk memperluas pasar, membangun jejaring internasional, mengembangkan kekayaan intelektual dan memperoleh nilai ekonomi yang lebih besar.
Jika hal ini berlanjut, tentu festival musik di Indonesia berpotensi memainkan peran yang lebih besar dalam industri kreatif. Bukan hanya mendatangkan penonton, tetapi juga mempertemukan bisnis, talenta dan pasar yang sebelumnya berada di negara berbeda. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
