Sabtu, 26 Sep 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Musik & Film » Cerita di Balik FSAI 2025, 10 Kota, 10 Tahun &10.000 Asa

Cerita di Balik FSAI 2025, 10 Kota, 10 Tahun &10.000 Asa

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Senin, 12 Mei 2025
  • visibility 876
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sumselterkini.co.id, – Bukan cuma popcorn dan gala premiere, Festival Sinema Australia Indonesia (FSAI) kini menjelma jadi etalase diplomasi budaya, generator ekonomi kreatif, dan arena berbagi cerita antarnegara.

Menteri Teuku Riefky tahu betul kalau mau jualan masa depan, ya mulai dari cerita yang bisa bikin orang duduk dan mikir. Apalagi film luar negeri yang dibawa masuk lewat Festival Sinema Australia Indonesia (FSAI) bukan kegiatan santai, tapi bentuk kerja diplomatik yang sangat serius. Apalagi kalau nontonnya di CGV Pacific Place, sambil ngomong soal kerja sama budaya lintas benua.

FSAI 2025 yang diluncurkan Jumat, 9 Mei lalu, bukan cuma urusan popcorn dan tiket premiere. Tahun ini spesial, karena FSAI genap berusia 10 tahun dan akan menjelajah ke 10 kota di seluruh Indonesia., Jakarta, Mataram, Bandung, Surabaya, Manado, Makassar, Padang, Denpasar, Yogyakarta, dan Semarang akan kebagian euforia sinema Australia.

Tapi jangan salah, ini bukan acara rutinan yang asal ada. Ini adalah bagian dari strategi besar ekonomi kreatif yang makin berani tampil di panggung global.

Menteri Riefky tampak sangat optimistis. Di hadapan media, ia menyampaikan bahwa film bukan lagi urusan hiburan receh. Film kini adalah urusan ekonomi, urusan strategi budaya, bahkan urusan politik lunak antarnegara. “Kita tidak hanya menonton, tapi membangun kerja sama, membuka lapangan kerja, dan mempromosikan identitas bangsa,” ujarnya.

Memang tak bisa dipungkiri, sektor film Indonesia sedang berlari. Berdasarkan data Cinepoint, jumlah penonton film lokal di tahun 2024 menembus 82 juta orang. Itu bukan angka kaleng-kaleng.

Bahkan, 21 film Indonesia berhasil menjaring lebih dari 1 juta penonton masing-masing. Tahun ini pun baru bulan Mei, tapi jumlah penonton film lokal sudah tembus 33,9 juta. Ini bukan sekadar tren, tapi sinyal kuat bahwa perfilman nasional tengah menemukan momentumnya.

Dan di titik ini, FSAI hadir sebagai katalis. Bukan sekadar tempat nonton bareng, tapi ruang diplomasi budaya yang cair. Ada masterclass untuk mahasiswa dan sineas muda, ada ruang diskusi antara filmmaker dua negara, ada potensi koproduksi dan distribusi lintas batas. Di balik layar, FSAI sedang membuka pintu-pintu kerja sama yang kelak bisa jadi jalan emas bagi industri perfilman Indonesia untuk menembus pasar global.

Deputi Bidang Kreativitas Media, Agustini Rahayu, yang mendampingi Menteri Riefky, juga tak datang sekadar berfoto. Mereka tahu betul, kalau ingin membawa film Indonesia ke level dunia, tak bisa cuma mengandalkan bakat. Perlu jejaring, kolaborasi, dan kerja diplomatik yang konsisten.

Duta Besar Australia untuk Indonesia, Roderick Brazier, juga tak main-main. Ia menyebut bahwa momen 10 tahun FSAI adalah peluang emas bagi dua negara untuk memperkuat hubungan lewat medium film.

“Ini bukan cuma soal produksi film, tapi juga bagaimana kita memperkuat reputasi bersama di mata dunia,” ujarnya.

Sektor kreatif film

Kalau kita mau jujur, Australia sudah cukup lama menjadikan sektor kreatif terutama film dan animasi sebagai salah satu motor ekonomi non-tradisional.

Tak heran, mereka bisa bikin film-film berkualitas dengan pasar global seperti Happy Feet, Mad Max, sampai The Dry. Pemerintahnya juga aktif mengembangkan skema insentif untuk koproduksi film internasional. Nah, Indonesia bisa belajar banyak dari situ. Bukan untuk meniru mentah-mentah, tapi untuk mengadopsi semangat membangun ekosistem kreatif yang sehat dan berdaya saing.

Lalu apa yang kita punya? Banyak! Kita punya pasar yang besar, SDM muda yang kreatif, cerita-cerita lokal yang autentik, dan penonton yang setia. Tapi kadang kita kurang percaya diri, atau malah terlalu sibuk saling menjegal antarproduser.

Padahal kalau dikawal dengan baik, ekosistem perfilman Indonesia bisa jadi raksasa baru di Asia Tenggara. Dan FSAI ini bisa jadi gerbang awal ke arah sana.

Pemerintah harus melihat ini sebagai investasi jangka panjang. Bukan hanya soal berapa juta tiket terjual, tapi soal berapa banyak pelaku kreatif yang diberdayakan. Dari penulis skenario, editor, teknisi lampu, aktor lokal, sampai kru katering syuting. Semuanya adalah bagian dari rantai ekonomi kreatif yang bernilai.

Yang lebih penting lagi, lewat kerja sama seperti ini, kita bisa menanamkan cerita kita ke dunia. Film bukan cuma tentang yang ada di layar, tapi juga tentang siapa yang punya suara.

Kalau kita tak punya panggung, cerita kita akan hilang, digantikan narasi dari luar. Maka film bisa jadi alat penting untuk menjaga identitas, sembari tetap bersaing secara ekonomi.

Festival Sinema Australia Indonesia 2025 bukan sekadar pesta film tahunan. Ia adalah simbol bahwa ekonomi kreatif Indonesia, khususnya film, sudah waktunya naik kelas.

Lewat diplomasi budaya, masterclass sineas, dan kerja sama koproduksi, FSAI membuka banyak pintu bagi anak muda kita yang bukan hanya ingin terkenal di TikTok, tapi juga ingin berkarier di industri film yang profesional.

Menteri Teuku Riefky sadar,  pertumbuhan ekonomi hari ini tak bisa lagi mengandalkan tambang dan ladang semata. Di era baru, yang dijual adalah cerita, kreativitas, dan kolaborasi. Dan film adalah medium yang lengkap ia menyentuh hati, menyampaikan pesan, menciptakan nilai ekonomi, dan memperkuat nama bangsa.

Kalau negara lain bisa menjual “branding” lewat film, kenapa Indonesia tidak? FSAI 2025 adalah salah satu jawabannya. Jadi jangan anggap remeh, karena kadang langkah besar dimulai dari menonton film bersama. Tapi yang penting, setelah nonton jangan lupa bangun ekosistemnya.[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Warga Pemulutan Akui Sayang Dengan Pak Alex Noerdin

    Warga Pemulutan Akui Sayang Dengan Pak Alex Noerdin

    • calendar_month Minggu, 17 Mar 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 983
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, Ogan Ilir- Ratusan Warga Pipa Putih Kecamatan Pemulutan Ogan Ilir (OI) sudah sejak lama menanti kedatangan mantan Gubernur Sumsel Alex Noerdin, akhirnya impian warga Pemulutan tersebut kesampaikan. Alex Noerdin yang saat ini mencalonkan diri sebagai caleg DPR RI nomor urut dua dari partai Golkar Dapil Sumsel II hadir langsung di tengah-tengah warga. Mengenakan baju koko […]

  • Komisi VI DPR RI Tinjau Pembangunan LRT Palembang

    Komisi VI DPR RI Tinjau Pembangunan LRT Palembang

    • calendar_month Kamis, 8 Feb 2018
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.356
    • 0Komentar

    Pelaksanaan Asian Games yang akan digelar pada tahun ini.

  • Maret 2022, Kinerja Ekspor dan Impor Indonesia Tembus Rekor Tertinggi Sepanjang Sejarah

    Maret 2022, Kinerja Ekspor dan Impor Indonesia Tembus Rekor Tertinggi Sepanjang Sejarah

    • calendar_month Selasa, 19 Apr 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 552
    • 0Komentar

    KINERJA ekspor dan impor di bulan Maret 2022 berhasil menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah dan ini perlu dipertahankan. Nilai ekspor pada Maret 2022 tercatat mencapai 26,50 miliar Dolar Amerika Serikat (AS) dan nilai ini meningkat signifikan sebesar 29,42 persen (month-to-month/mtm) atau sebesar 44,36 persn (year-on-year/yoy). Di saat yang bersamaan, nilai impor pada Maret 2022 mencapai […]

  • Pernyataan Sikap, Komunitas Pers Minta Kapolri Cabut Pasal 2d dalam Maklumatnya

    Pernyataan Sikap, Komunitas Pers Minta Kapolri Cabut Pasal 2d dalam Maklumatnya

    • calendar_month Jumat, 1 Jan 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.018
    • 0Komentar

    KEPALA Kepolisian Negara Republik Indonesia mengeluarkan maklumat Nomor: Mak/1/I/2021 tentang Kepatuhan terhadap Larangan Kegiatan, Penggunaan Simbol dan Atribut Serta Penghentian Kegiatan Front Pembela Islam (FPI), yang ditandatangani 1 Januari 2021. Polri beralasan, maklumat ini untuk memberikan perlindungan dan menjamin keamanan serta keselamatan masyarakat pasca dikeluarkan keputusan bersama tentang larangan kegiatan, penggunaan simbol dan atribut serta […]

  • Pererat Silaturahmi Warga NU,Muba Gelar Lailatul Ijtima

    Pererat Silaturahmi Warga NU,Muba Gelar Lailatul Ijtima

    • calendar_month Rabu, 27 Jan 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.073
    • 0Komentar

    PEMKAB Muba menggelar Lailatul Ijtima guna menjaga tali silaturahmi dengan keluarga besar Nahdlatul Ulama /NU di Sumsel. Bupati Musi Banyuasin Dr Dodi Reza Alex Noerdin Lic Econ MBA yang juga Mustasyar Pimpinan Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Sumsel mengatakan kegiatan Lailatul Ijtima, merupakan media bagi semua untuk bersilaturahmi antara seluruh stakeholder baik ulama, umara, dan masyarakat.  “Akan […]

  • Jual Beras Medium, PT Kopsri Bentuk 31 Agen Baru di Daerah

    Jual Beras Medium, PT Kopsri Bentuk 31 Agen Baru di Daerah

    • calendar_month Jumat, 20 Jul 2018
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.101
    • 0Komentar

    Program pemerintah dalam menjaga stabilitas harga pangan disambut positif dari kalangan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) Palembang.

expand_less
WordPress Archive Liberty – A Clean Personal WordPress Blog Theme Licenses Manager for WooCommerce Life Coach – Public Speaker Personal Page WordPress theme Life Coach WordPress Theme LifeCoach | Mentor & Trainer Template Kit Lifeline Donation Pro – WordPress plugin to get donations Lifest – Insurance Agency WordPress Theme Lifevent – Event Conference WordPress Theme LiftSupply – Single Product WooCommerce WordPress theme Light – Minimalist WordPress portfolio theme