PSEL Palembang Ditargetkan Meluncur Desember, Ini Progresnya
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 17 menit yang lalu
- visibility 5
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Pengolahan sampah menjadi energi listrik mulai diarahkan menjadi salah satu solusi persoalan sampah di Kota Palembang. Pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Kecamatan Kertapati ditargetkan dapat diluncurkan pada Desember 2026.
Progres pembangunan fasilitas di Jalan Mayor Jenderal Satibi Darwis itu ditinjau Menteri Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia Zulkifli Hasan bersama Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru dan Wali Kota Palembang Ratu Dewa, Rabu (4/11/2026).
Dalam kunjungannya, Zulkifli Hasan melihat langsung perkembangan pembangunan fasilitas yang diharapkan mampu mengubah persoalan sampah menjadi sumber energi alternatif.
Menurut dia, keberadaan PSEL menjadi kebanggaan bagi masyarakat Palembang. Teknologi yang digunakan juga diharapkan dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam menangani persoalan sampah perkotaan.
“Ini menjadi kebanggaan bagi masyarakat Palembang, dengan teknologi yang diterapkan, fasilitas ini diharapkan bisa menjadi contoh bagi daerah lain di Indonesia dalam menangani persoalan sampah,” ujar Zulkifli Hasan.
Meski demikian, kata Zulkifli pengolahan menggunakan teknologi insinerator merupakan bagian dari penanganan sampah di sektor hilir. Artinya, upaya mengurangi dan memilah sampah sejak dari sumbernya tetap tidak boleh diabaikan.
Persoalan sampah, menurutnya tidak cukup diselesaikan hanya dengan membangun fasilitas pengolahan. Pengurangan sampah rumah tangga, pemilahan, serta pengelolaan sampah yang dapat didaur ulang tetap menjadi bagian penting dari sistem pengelolaan lingkungan.
Gubernur Sumsel Herman Deru mengatakan pembangunan PSEL merupakan langkah strategis untuk menjawab persoalan sampah perkotaan yang semakin kompleks.
Ia berharap sampah yang selama ini menjadi beban lingkungan dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
“Kita ingin mengubah cara pandang terhadap sampah. Sampah bukan hanya sesuatu yang harus dibuang, tetapi juga memiliki potensi untuk dimanfaatkan menjadi energi listrik yang memberikan nilai tambah,” kata Herman Deru.
Namun, menurut Herman Deru, keberhasilan fasilitas tersebut tidak hanya bergantung pada teknologi yang digunakan. Dukungan pemerintah pusat dan daerah, ketersediaan pasokan sampah, infrastruktur, serta kesiapan pengelolaan operasional juga menjadi faktor penting.
Ia berharap fasilitas tersebut dapat diluncurkan pada Desember mendatang. Jika terealisasi sesuai target, Palembang diharapkan menjadi kota pertama di Indonesia yang memiliki teknologi pengolahan sampah seperti itu.
“Kalau Desember ini bisa dilaunching, maka Palembang akan menjadi kota pertama di Indonesia yang memiliki teknologi pengolahan sampah seperti ini,” ungkapnya.
Sementara itu, pihak pengelola PSEL, Satriawan Ming, menjelaskan fasilitas tersebut direncanakan beroperasi selama 24 jam sehari dan tujuh hari dalam seminggu.
Harapannya menghasilkan energi listrik dari sampah, keberadaan fasilitas PSEL juga membutuhkan kesiapan sistem pengelolaan secara menyeluruh.
Ketersediaan sampah sebagai bahan baku, misalnya, harus dijaga agar operasional fasilitas dapat berlangsung secara konsisten. Begitu pula dengan pengendalian emisi, pengelolaan residu pembakaran, dan pemantauan dampak lingkungan.
Aspek tersebut penting, karena teknologi pengolahan sampah tidak serta-merta menghilangkan seluruh persoalan lingkungan. Tanpa pengawasan yang memadai, proses pengolahan justru berpotensi memunculkan persoalan baru.
Oleh sebab itu, transparansi mengenai kapasitas pengolahan sampah, jumlah energi listrik yang dihasilkan, serta hasil pemantauan kualitas emisi perlu menjadi bagian dari pengelolaan fasilitas.
Disamping itu, masyarakat juga perlu dilibatkan dalam pengurangan dan pemilahan sampah dari rumah tangga. Sampah yang masih memiliki nilai guna sebaiknya tetap diarahkan untuk digunakan kembali atau didaur ulang.
PSEL diharapkan tidak hanya menjadi fasilitas pengolahan sampah, tetapi juga bagian dari perubahan sistem pengelolaan sampah Palembang yang lebih terintegrasi.
Target peluncuran Desember mendatang menjadi langkah awal. Keberhasilan sesungguhnya akan terlihat dari konsistensi operasional, manfaat energi yang dihasilkan, serta sejauh mana fasilitas tersebut mampu mengurangi persoalan sampah tanpa mengabaikan perlindungan lingkungan. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
