Orangutan Terancam Karhutla, Pemerintah Minta Warga Jadi Mata Pertama Penyelamatan
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 32 menit yang lalu
- visibility 3
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : kehutanan.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah (Kalteng) tak hanya menjadi ancaman bagi manusia. Orangutan dan satwa liar lain yang berada di sekitar kawasan terdampak juga menghadapi bahaya, termasuk akibat asap.
Karena itu, masyarakat diminta tidak membiarkan satwa yang ditemukan dalam kondisi terdampak karhutla tanpa penanganan. Warga yang menemukan orangutan atau satwa liar lainnya dapat segera melaporkannya melalui jalur pengaduan yang disiapkan tim penyelamatan.
Menteri Kehutanan Raja Antoni mengatakan mekanisme pelaporan tersebut sebenarnya sudah berjalan. Namun, jalurnya kini akan diperkuat dan lebih gencar disosialisasikan agar masyarakat mengetahui ke mana harus menghubungi ketika menemukan satwa yang membutuhkan pertolongan.
“Dan kita berharap nanti setiap masyarakat yang menemukan orang utan atau satwa liar lainnya di kampung mereka, telepon ke nomor ini,” ujar Raja Antoni saat mengecek kondisi orangutan di Nyaru Menteng, Kalteng, Sabtu (5/9/2026).
Laporan dari masyarakat nantinya akan menjadi pintu awal bagi tim untuk bergerak. Tim yang paling dekat dengan lokasi akan diarahkan melakukan penyelamatan.
Personelnya berasal dari unsur yang selama ini memang sudah bekerja dalam penanganan satwa liar, mulai dari Balai KSDA Kementerian Kehutanan hingga organisasi konservasi seperti BOS Foundation (BOSF), Orangutan Foundation International (OFI), dan OFI UK.
Dengan pola tersebut, penanganan diharapkan tidak menunggu kondisi satwa semakin parah.
Pemerintah juga akan memperbanyak patroli penyelamatan. Jika sebelumnya dilakukan secara berkala, patroli akan ditingkatkan menjadi setiap hari di tengah kewaspadaan terhadap dampak karhutla.
Langkah ini menjadi penting karena ancaman terhadap orangutan tidak selalu terlihat seperti api yang membakar habitatnya.
Asap karhutla juga dapat mengganggu kondisi pernapasan satwa, sebab itu, kesiapan penanganan medis ikut menjadi perhatian.
Raja Antoni mengatakan ketersediaan dokter hewan akan dipastikan. Jika tenaga medis di Kalteng tidak mencukupi, pemerintah membuka kemungkinan mendatangkan dokter hewan dari daerah lain, termasuk dari Jawa.
Peralatan pendukung seperti tabung oksigen dan nebulizer juga disiapkan untuk menghadapi gangguan pernapasan pada orangutan yang terdampak asap. “Kalau kurang nanti kita juga bisa kirimkan, di-BKO-kan dari Jawa atau dari tempat lain untuk membantu teman-teman di sini,” katanya.
Raja Antoni menegaskan penguatan ini bukan berarti pemerintah membentuk satgas baru. Yang dilakukan adalah mempererat kembali kerja sama antara Kementerian Kehutanan, Balai KSDA Kalteng, dan organisasi konservasi yang selama ini telah terlibat dalam penyelamatan satwa.
Upaya penyelamatan ini lanjutnya tetap berjalan beriringan dengan penanganan sumber masalahnya, yakni pemadaman dan pencegahan meluasnya karhutla.
Sebab, semakin luas kebakaran dan asap yang muncul, semakin besar pula risiko yang harus dihadapi satwa liar di habitatnya. “Selain berusaha memadamkan apinya, mencegah asapnya, tentu ini tadi, bekerja sama lebih erat lagi, berkolaborasi lagi, agar tadi tidak menimpa banyak orangutan kita di Kalimantan Tengah,” ujar Raja Antoni. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
