Begini Penampakan Rumah Sakit Lapangan untuk Korban Gempa NTT
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 19 menit yang lalu
- visibility 5
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : kemkes.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Sejumlah tenda medis kini berdiri di Stadion Golo Dukal, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT). Fasilitas yang disiapkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI ini menjadi rumah sakit lapangan untuk menjaga pelayanan kesehatan bagi warga terdampak gempa tetap berjalan.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin meninjau langsung persiapan rumah sakit lapangan tersebut pada Selasa (18/8/2026). Fasilitas ini disiapkan untuk mendukung pelayanan RSUD Ruteng yang terdampak gempa.
“Di sini sudah kita pasang lima tenda. Empat untuk pasien, masing-masing bisa menampung 20 pasien, kemudian satu khusus untuk ruang operasi karena ruangnya steril dan bisa dibuat terisolasi. Kita harapkan besok sudah mulai beroperasi,” ujar Budi.
Sebanyak lima tenda telah disiapkan pada tahap awal. Empat tenda digunakan untuk pasien, sedangkan satu lainnya diperuntukkan sebagai ruang operasi. Rumah sakit lapangan ini juga dilengkapi tenda khusus untuk instalasi gawat darurat (IGD).
Tiga tenda rawat inap masing-masing memiliki kapasitas 20 pasien. Dengan demikian, kapasitas awal rumah sakit lapangan mencapai sekitar 60 tempat tidur.
Kapasitas tersebut masih akan ditambah. Kemenkes menyiapkan tenda tambahan yang dikirim dari Bali sehingga jumlah tempat tidur nantinya dapat ditingkatkan menjadi sedikitnya 100.
“Kita akan tambah lagi sehingga minimal menjadi 100 rawat inap. Kita sedang kirim tenda tambahan dari Bali,” kata Budi.
Area rawat inap dilengkapi lantai khusus untuk memudahkan mobilisasi pasien, tenaga kesehatan, dan peralatan medis. Lantai tersebut juga membantu menjaga kebersihan serta mengurangi risiko air masuk ke dalam tenda ketika hujan.
Tenda yang digunakan merupakan tenda standar tanggap bencana yang dapat disesuaikan dengan kondisi cuaca dan kebutuhan pelayanan kesehatan di lapangan.
Salah satu fasilitas utama yang disiapkan adalah ruang operasi. Tenda ini dirancang sebagai ruang steril yang dapat diisolasi untuk menjaga keamanan pasien selama tindakan pembedahan.
Ruang operasi dilengkapi meja operasi, lampu operasi, serta area untuk menyiapkan peralatan medis. Sebelum digunakan, ruangan tersebut akan dibersihkan dan disterilisasi.
“Ini ruang operasi. Nanti disterilisasi. Ruang ini steril dan bisa diisolasi. Fasilitas seperti ini pernah digunakan saat bencana di Sumedang dan juga bencana di Aceh,” jelas Budi.
Keberadaan ruang operasi menjadi penting untuk menangani pasien dengan trauma akibat gempa, termasuk korban yang mengalami patah tulang atau luka serius karena tertimpa bangunan.
Dengan adanya fasilitas tersebut, pasien yang membutuhkan tindakan pembedahan dapat segera ditangani tanpa harus menunggu hingga rumah sakit utama kembali berfungsi sepenuhnya.
Kemenkes juga akan menerapkan konsep rumah sakit lapangan serupa di Kabupaten Nagekeo. Langkah ini dilakukan untuk memperkuat pelayanan kesehatan di wilayah yang fasilitas rumah sakit rujukannya turut terdampak gempa.
“Kita akan replikasi rumah sakit lapangan ini selain di Ruteng juga di Nagekeo,” ujar Budi.
Pembangunan rumah sakit lapangan menjadi bagian dari respons cepat Kemenkes untuk menjaga pelayanan kesehatan tetap tersedia selama proses pemulihan pascagempa di NTT.
Selain menyiapkan fasilitas sementara, Kemenkes juga mengerahkan tenaga kesehatan, termasuk dokter spesialis, serta menyiapkan kebutuhan medis untuk menangani pasien yang membutuhkan perawatan lanjutan dan tindakan operasi.
Dengan dukungan rumah sakit lapangan, tenaga medis, dan logistik kesehatan, warga terdampak gempa diharapkan tetap mendapatkan pelayanan medis yang cepat dan aman meski sejumlah fasilitas kesehatan mengalami kerusakan. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
