Jumat, 9 Okt 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Seni & Budaya » Reog Gak Cuma Nari, Tapi Juga Bisa Antar Ponorogo ke Panggung Dunia

Reog Gak Cuma Nari, Tapi Juga Bisa Antar Ponorogo ke Panggung Dunia

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Senin, 26 Mei 2025
  • visibility 1.228
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sumselterkini.co.id, – “Reog itu bukan sekadar atraksi pentas. Ia adalah orkestra budaya yang kalau digoyang sedikit, bisa menghidupi 21 ribu perut, menggerakkan ekonomi, dan bikin turis mancanegara mangap saking kagumnya. Ponorogo, siap-siap, sampeyan bukan lagi kota kecil di Jawa Timur sampeyan bisa jadi kota kreatif dunia.”

Begitulah kira-kira kalau Reog bisa ngomong sambil narik selendang, pasti dia bilang, “Wes wayahe aku tampil di panggung internasional, ojok mung pentas hajatan manten karo karnaval agustusan tok!”

Dalam dunia yang serba digital, kadang kita lupa bahwa seni rakyat itu lebih dari sekadar konten TikTok dan filter Instagram. Tapi Ponorogo tak mau terlena. Ia memilih Reog sebagai jurus pamungkas untuk masuk ke jejaring kota kreatif dunia, UNESCO Creative Cities Network (UCCN). Bukan main, gaes!

Bupati Sugiri yang gayanya kalau ngomong bisa bikin suasana kayak acara wayangan plus stand-up comedy bilang dengan penuh keyakinan, “Reog itu bukan cuma tari, tapi industri!” Dari 21 ribu orang yang ‘digendong’ oleh Reog, Ponorogo telah membuktikan bahwa kreativitas bisa lebih tajam dari cangkul pembangunan.

Artinya, kehormatan seseorang dari ucapannya, dan kehormatan bangsa dari budayanya. Nah, Reog itu bukan cuma kehormatan, tapi juga kebanggaan yang bisa dijual (dengan cara baik) ke mancanegara. Jepang saja punya Kabuki, Korea punya K-pop, Brazil punya Samba, masa kita diem aja, padahal punya Reog?

Negara-negara seperti Belanda, yang dulunya cuma tahu Indonesia dari batik dan kopi, kini mulai mengintip Reog. Bahkan turis dari Jerman yang biasanya kaku kalau nonton opera, bisa joget bareng pas lihat Reog pentas. Beberapa kampus seni di Prancis bahkan mulai belajar koreografi Reog, ya meskipun mereka masih bingung cara megang barongan-nya.

PCF 2025 bukan sekadar festival. Ini semacam gladi resik buat masuk daftar UCCN. Temanya “Pring Harmonic”  bahasa halusnya dari gotong royong, tapi versi modern.

Sugiri cerdas, dia tahu kalau mau Reog mendunia, maka harus dikemas, dikolaborasi, dikomersialisasi tanpa menghilangkan esensinya. Museum Reog didirikan, monumen dibuat, festival digelar, dan semua itu disambut dengan gendang dangdut yang tak kalah semangat.

Kalau Solo bisa jadi kota kriya dan Ambon jadi kota musik, Ponorogo juga boleh dong jadi kota seni rakyat yang beneran rakyat. Yang bukan sekadar dipajang saat tamu datang, tapi juga jadi nadi ekonomi.

Dessy Ruhati dari Kemenekraf sudah pasang badan. Ia bilang pemerintah siap mendampingi dari A sampai Z. Mulai dari pelatihan SDM sampai bikin produk Reog yang bisa dijual ke Amazon (bukan hutan, tapi marketplace). “Kreativitas itu bukan cuma hiburan, tapi juga kekuatan pembangunan,” ujarnya, dengan tatapan tajam seperti Warok sebelum maju pentas.

Di belakang layar, ada juga Kota Malang, Makassar, dan Kabupaten Tangerang yang siap sprint buat masuk UCCN. Tapi Ponorogo punya nilai lebih Reog itu kompleks!. Ada tari, musik, kostum, filosofi, mitologi, hingga pengaruh kuliner (nasi pecel khas Reog misalnya).

Kalau kata simbah”Kebo nusu gudel”, artinya yang tua bisa belajar dari yang muda, dan yang muda bisa bikin yang tua bangga. Dunia mungkin sedang gandrung sama budaya Korea, tapi Indonesia punya warisan yang bisa bikin panggung dunia lebih berwarna.

Ponorogo sedang melangkah mantap menuju pengakuan dunia. Tapi ini bukan hanya soal masuk UCCN, ini soal mengangkat kembali harga diri budaya lokal, menghidupkan ekonomi rakyat, dan membuktikan bahwa seniman desa juga bisa jadi bintang dunia.

Jadi, kalau nanti Reog tampil di Paris Fashion Week, jangan kaget kalau Warok jadi brand ambassador parfum karena kreativitas memang tidak kenal batas.

Ponorogo bukan sekadar kota yang tiap malam minggu digemparkan oleh alunan gamelan dan atraksi Reog di alun-alun. Ia sedang menapaki jalan panjang menuju pengakuan dunia, membawa serta semangat rakyat kecil, harapan seniman kampung, dan mimpi-mimpi bocah SD yang masih bangga ikut arak-arakan Reog keliling kampung.

Kalau selama ini kita hanya tahu Hollywood, Bollywood, atau bahkan K-Pop sebagai simbol budaya global, maka sudah waktunya Reog bikin “Rog-wood” versi kita sendiri. Bayangkan, satu barongan bisa mengalahkan satu season drama Korea dalam menyampaikan nilai, makna, dan rasa.

Dan kalau pada akhirnya Ponorogo masuk ke UNESCO Creative Cities Network, itu bukan cuma kemenangan satu kabupaten. Itu perayaan untuk semua daerah yang percaya bahwa budaya lokal, jika dirawat dengan cinta dan dijual dengan cerdas, bisa bikin dunia jatuh hati.

Karena dalam dunia yang makin serba instan ini, yang dicari bukan cuma kecepatan dan kecanggihan tapi keunikan, keaslian, dan jati diri. Dan di situlah Reog, dengan segala keperkasaannya, menari bukan hanya untuk Ponorogo, tapi untuk Indonesia.Maka, jangan ragu. Reog ora mung goyang, tapi juga bisa go international. Ora mung dadak merak, tapi juga dadak mendunia.[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Jokowi Siap Beli Karet Petani Sumsel Rp7500-8.000/Kg

    Jokowi Siap Beli Karet Petani Sumsel Rp7500-8.000/Kg

    • calendar_month Minggu, 25 Nov 2018
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.076
    • 0Komentar

    SUMSELTERKINI.CO.ID, PALEMBANG – Presiden RI, Joko Widodo menginstruksikan Menteri PU untuk membeli getah karet langsung dari petani di Sumsel. Harga beli karet yang ditawarkan Jokowi berkisar Rp7.500-8000  per kilogram. Pernyataan tersebut disampaikannya saat acara Silaturahmi Presiden RI dengan perangkat desa dan Kader pembangunan desa Provinsi Sumsel,  di Palembang Sport and Convention Center (PSCC) Minggu (25/11/2018) […]

  • Tenun Bukan Sekadar Kain: Saat UMKM Kediri Menganyam Asa hingga Afrika dan Eropa!

    Tenun Bukan Sekadar Kain: Saat UMKM Kediri Menganyam Asa hingga Afrika dan Eropa!

    • calendar_month Jumat, 18 Jul 2025
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 615
    • 0Komentar

    DI  sebuah sudut kota yang aromanya lebih harum dari tahu takwa yang baru digoreng, tenun Kediri diam-diam mengukir prestasi. Jangan salah tenun kediri bukan kain sembarang kain,  karena hasil anyaman sejarah, budaya, dan peluh perajin yang sejak zaman Kerajaan Kediri sudah paham, hidup itu harus sabar dan telaten… kayak narik benang satu-satu di alat tenun […]

  • Total Kasus Positif Covid-19 Sumsel 1.869 Orang, Sembuh 68 Orang

    Total Kasus Positif Covid-19 Sumsel 1.869 Orang, Sembuh 68 Orang

    • calendar_month Kamis, 25 Jun 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 885
    • 0Komentar

    TOTAL kasus positif covid-19 di Sumsel sebanyak 1,869 orang sementara yang bebas dari covid-19 sebanyak 68 pasien. dan kasus positif baru hanya 14 orang. Sedangkan pasien yang meninggal dunia bertambah 1 orang asal Palembang jadi totalnya 75 orang. Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Sumsel Yusri mengatakan, pasien sembuh hari ini tercatat 68 orang […]

  • Dampak Covid,  Pemkot dan BAZNAS Palembang Salurkan Bantuan, Untuk Penggali Kubur

    Dampak Covid, Pemkot dan BAZNAS Palembang Salurkan Bantuan, Untuk Penggali Kubur

    • calendar_month Kamis, 30 Sep 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 863
    • 0Komentar

    UNTUK menunjukan rasa terimakasih kepada para penggali kubur yang terus berjasa selama masa pandemi, Pemerintah Kota dan BAZNAS berinisiatif memberikan penghargaan bagi mereka. Ketua BAZNAS Kgs. M. Ridwan Nawawi menjelaskan bahwa program ini direncanakan akan menjangkau 30 orang penggali kubur dari seluruh penjuru kota Palembang. Bantuan yang diberikan berbentuk Sembako dan Uang tunai. “Pemberian bantuan […]

  • Angkutan Lebaran, Gubernur Minta Pengawasan Extra Terhadap Keselamatan Transportasi

    Angkutan Lebaran, Gubernur Minta Pengawasan Extra Terhadap Keselamatan Transportasi

    • calendar_month Jumat, 8 Jun 2018
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 854
    • 0Komentar

    SUMSELTERKINI.ID, Palembang – Gubernur Sumsel Alex Noerdin menghadiri sekaligus menjadi Inspektur Upacara pada Gelar Pasukan Kesiapan Angkutan Lebaran Tahun 2018/ 1439 H di Terminal Alang-Alang Lebar KM. 12 Palembang, Jumat (8/6/2018). Dalam kesempatan itu Alex meminta petugas benar-benar memberikan pengawasan extra terhadap keselamatan bertransportasi. “Sebagaimana diketahui bahwa angkutan Lebaran yang dilaksanakan setiap tahun merupakan tugas […]

  • GOR Berstandar Internasional Di Muaraenim Diresmikan

    GOR Berstandar Internasional Di Muaraenim Diresmikan

    • calendar_month Kamis, 24 Des 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.254
    • 0Komentar

    GUBERNUR Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), H Herman Deru meresmikan Gedung Olahraga (GOR) Sepak Takraw sekaligus menutup Kejuaraan Bupati CUP 2020 di Sport Center Muara Enim, Rabu (23/12/20). Ia mengatakan, Pemerintah Provinsi memiliki program pembangunan fasilitas olahraga di 17 kabupaten/kota. Program tersebut sebagai bentuk untuk mewujudkan Sumsel menuju prestasi olahraga secara original. “Prestasi olahraga secara original […]

expand_less
WordPress Archive Bakery.co – Bakery Shop Elementor Template Kit Bakery | WordPress Cake & Food Theme Bakevo – Bakery & Cookies WordPress Theme Baller – Basketball Team & Sports Club Elementor Template Kit Baltoo – Tattoo Studio and Artist Elementor Template Kit Bambini – Kindergarten & Pre-School Theme Bame – eSports and Gaming WordPress Theme Bandco – Consulting Business WordPress Theme Bankai – Card Payment & Online Banking Elementor Template Kit Banshee – News & Magazine WordPress Elementor Template Kit