Jumat, 30 Okt 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Seni & Budaya » Reog Gak Cuma Nari, Tapi Juga Bisa Antar Ponorogo ke Panggung Dunia

Reog Gak Cuma Nari, Tapi Juga Bisa Antar Ponorogo ke Panggung Dunia

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Senin, 26 Mei 2025
  • visibility 1.236
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sumselterkini.co.id, – “Reog itu bukan sekadar atraksi pentas. Ia adalah orkestra budaya yang kalau digoyang sedikit, bisa menghidupi 21 ribu perut, menggerakkan ekonomi, dan bikin turis mancanegara mangap saking kagumnya. Ponorogo, siap-siap, sampeyan bukan lagi kota kecil di Jawa Timur sampeyan bisa jadi kota kreatif dunia.”

Begitulah kira-kira kalau Reog bisa ngomong sambil narik selendang, pasti dia bilang, “Wes wayahe aku tampil di panggung internasional, ojok mung pentas hajatan manten karo karnaval agustusan tok!”

Dalam dunia yang serba digital, kadang kita lupa bahwa seni rakyat itu lebih dari sekadar konten TikTok dan filter Instagram. Tapi Ponorogo tak mau terlena. Ia memilih Reog sebagai jurus pamungkas untuk masuk ke jejaring kota kreatif dunia, UNESCO Creative Cities Network (UCCN). Bukan main, gaes!

Bupati Sugiri yang gayanya kalau ngomong bisa bikin suasana kayak acara wayangan plus stand-up comedy bilang dengan penuh keyakinan, “Reog itu bukan cuma tari, tapi industri!” Dari 21 ribu orang yang ‘digendong’ oleh Reog, Ponorogo telah membuktikan bahwa kreativitas bisa lebih tajam dari cangkul pembangunan.

Artinya, kehormatan seseorang dari ucapannya, dan kehormatan bangsa dari budayanya. Nah, Reog itu bukan cuma kehormatan, tapi juga kebanggaan yang bisa dijual (dengan cara baik) ke mancanegara. Jepang saja punya Kabuki, Korea punya K-pop, Brazil punya Samba, masa kita diem aja, padahal punya Reog?

Negara-negara seperti Belanda, yang dulunya cuma tahu Indonesia dari batik dan kopi, kini mulai mengintip Reog. Bahkan turis dari Jerman yang biasanya kaku kalau nonton opera, bisa joget bareng pas lihat Reog pentas. Beberapa kampus seni di Prancis bahkan mulai belajar koreografi Reog, ya meskipun mereka masih bingung cara megang barongan-nya.

PCF 2025 bukan sekadar festival. Ini semacam gladi resik buat masuk daftar UCCN. Temanya “Pring Harmonic”  bahasa halusnya dari gotong royong, tapi versi modern.

Sugiri cerdas, dia tahu kalau mau Reog mendunia, maka harus dikemas, dikolaborasi, dikomersialisasi tanpa menghilangkan esensinya. Museum Reog didirikan, monumen dibuat, festival digelar, dan semua itu disambut dengan gendang dangdut yang tak kalah semangat.

Kalau Solo bisa jadi kota kriya dan Ambon jadi kota musik, Ponorogo juga boleh dong jadi kota seni rakyat yang beneran rakyat. Yang bukan sekadar dipajang saat tamu datang, tapi juga jadi nadi ekonomi.

Dessy Ruhati dari Kemenekraf sudah pasang badan. Ia bilang pemerintah siap mendampingi dari A sampai Z. Mulai dari pelatihan SDM sampai bikin produk Reog yang bisa dijual ke Amazon (bukan hutan, tapi marketplace). “Kreativitas itu bukan cuma hiburan, tapi juga kekuatan pembangunan,” ujarnya, dengan tatapan tajam seperti Warok sebelum maju pentas.

Di belakang layar, ada juga Kota Malang, Makassar, dan Kabupaten Tangerang yang siap sprint buat masuk UCCN. Tapi Ponorogo punya nilai lebih Reog itu kompleks!. Ada tari, musik, kostum, filosofi, mitologi, hingga pengaruh kuliner (nasi pecel khas Reog misalnya).

Kalau kata simbah”Kebo nusu gudel”, artinya yang tua bisa belajar dari yang muda, dan yang muda bisa bikin yang tua bangga. Dunia mungkin sedang gandrung sama budaya Korea, tapi Indonesia punya warisan yang bisa bikin panggung dunia lebih berwarna.

Ponorogo sedang melangkah mantap menuju pengakuan dunia. Tapi ini bukan hanya soal masuk UCCN, ini soal mengangkat kembali harga diri budaya lokal, menghidupkan ekonomi rakyat, dan membuktikan bahwa seniman desa juga bisa jadi bintang dunia.

Jadi, kalau nanti Reog tampil di Paris Fashion Week, jangan kaget kalau Warok jadi brand ambassador parfum karena kreativitas memang tidak kenal batas.

Ponorogo bukan sekadar kota yang tiap malam minggu digemparkan oleh alunan gamelan dan atraksi Reog di alun-alun. Ia sedang menapaki jalan panjang menuju pengakuan dunia, membawa serta semangat rakyat kecil, harapan seniman kampung, dan mimpi-mimpi bocah SD yang masih bangga ikut arak-arakan Reog keliling kampung.

Kalau selama ini kita hanya tahu Hollywood, Bollywood, atau bahkan K-Pop sebagai simbol budaya global, maka sudah waktunya Reog bikin “Rog-wood” versi kita sendiri. Bayangkan, satu barongan bisa mengalahkan satu season drama Korea dalam menyampaikan nilai, makna, dan rasa.

Dan kalau pada akhirnya Ponorogo masuk ke UNESCO Creative Cities Network, itu bukan cuma kemenangan satu kabupaten. Itu perayaan untuk semua daerah yang percaya bahwa budaya lokal, jika dirawat dengan cinta dan dijual dengan cerdas, bisa bikin dunia jatuh hati.

Karena dalam dunia yang makin serba instan ini, yang dicari bukan cuma kecepatan dan kecanggihan tapi keunikan, keaslian, dan jati diri. Dan di situlah Reog, dengan segala keperkasaannya, menari bukan hanya untuk Ponorogo, tapi untuk Indonesia.Maka, jangan ragu. Reog ora mung goyang, tapi juga bisa go international. Ora mung dadak merak, tapi juga dadak mendunia.[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kasus COVID-19 Meningkat, Gugus Tugas Terus Ingatkan Warga OKI

    Kasus COVID-19 Meningkat, Gugus Tugas Terus Ingatkan Warga OKI

    • calendar_month Minggu, 10 Mei 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 876
    • 0Komentar

    GUGUS tugas Percepatan Penanganan Covid-19 tak henti mengingatkan masyarakat agar benar-benar menaati imbauan pemerintah. Apalagi dengan kian bertambahnya jumlah pasien positif Covid-19 di Provinsi Sumatera Selatan dan Kabupaten OKI. “Semua daerah berpeluang terpapar Covid-19 untuk itu penting bagi masyarakat untuk displin mematuhi himbauan pemerintah, memakai masker, rutin cuci tangan dan hindari kerumunan” ungkap Juru Bicara […]

  • Dalam Talkshow, 3 Poin Ini Disampaikan Gubernur Untuk Kaum Milenial

    Dalam Talkshow, 3 Poin Ini Disampaikan Gubernur Untuk Kaum Milenial

    • calendar_month Kamis, 26 Sep 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.065
    • 0Komentar

    KALANGAN mahasiswa sebagai generasi milenial dituntut  untuk dapat me –image diri dalam menyampaikan pendapat.  Harapan tersebut diungkapkan Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) H. Herman Deru ketika membuka Talkshow Milenial dengan tema “Peranan Dana Bagi Hasil Sektor Hulu Migas Pada Pembangunan Daerah Provinsi Sumsel” yang digelar di Hotel Aston Palembang, Kamis (26/9/2019). Menurut  Herman Deru, setidaknya ada tiga point […]

  • Tidak Gunakan Rambu, Galian Aspal Di Jalan Arisan Buntal Makan Korban

    Tidak Gunakan Rambu, Galian Aspal Di Jalan Arisan Buntal Makan Korban

    • calendar_month Jumat, 13 Agt 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.555
    • 0Komentar

    PERBAIKAN jalan poros dalam Kota Kayuagung, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), memakan korban. Hal itu disebabkan, lantaran galian aspal rusak yang belum selesai dikerjakan, apalagi di beberapa titik perbaikan tersebut tidak terdapat tanda atau rambu. Salah satu korban bernama Rendi, yang mengalami kecelakaan tunggal di jalan desa arisan buntal Kecamatan Kayuagung, sekitar Pukul 20.00 WIB, […]

  • Perkuat Penanganan di Hulu, Duta Perubahan Perilaku bagikan 60 ribu Masker di Lokasi Pusat Aktifitas Warga Jakarta

    Perkuat Penanganan di Hulu, Duta Perubahan Perilaku bagikan 60 ribu Masker di Lokasi Pusat Aktifitas Warga Jakarta

    • calendar_month Sabtu, 14 Agt 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 826
    • 0Komentar

    PEMERINTAH melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus memperkuat upaya pencegahan penyebaran COVID-19 dengan membagikan masker kepada masyarakat. Melalui program Gerakan Mobil Masker, 60 Duta Perubahan Perilaku bagikan masker kepada masyarakat di wilayah DKI Jakarta. Berdasarkan data Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 Provinsi DKI Jakarta, kasus akumulatif COVID-19 per Senin (12/8) menjadi 836.687 setelah ada penambahan […]

  • Beri Bantuan Warga Terdampak Banjir

    Beri Bantuan Warga Terdampak Banjir

    • calendar_month Selasa, 23 Jan 2024
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 857
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, – Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) melalui Dinas Kesehatan Kabupaten Muba turun langsung ke Desa-desa dalam Kecamatan Sanga Desa, Selasa (23/1/2024). Kedatangan Dinkes bersama rombongan keluarga Pangeran H. Anang Mahidi untuk melihat kondisi warga dan menyampaikan bantuan bagi warga yang terdampak banjir sejak beberapa hari belakangan. Kepala Dinas Kesehatan Muba dr H Azmi Dariusmansyah […]

  • Arab Saudi Puji Haji Indonesia, Petugas Jadi Termotivasi

    Arab Saudi Puji Haji Indonesia, Petugas Jadi Termotivasi

    • calendar_month Selasa, 26 Mei 2026
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 46
    • 0Komentar

    PEMERINTAH Arab Saudi memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan ibadah haji Indonesia tahun 2026. Apresiasi tersebut membuat para petugas haji Indonesia semakin termotivasi untuk meningkatkan pelayanan kepada jemaah, terutama menjelang puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna). Apresiasi itu disampaikan langsung Menteri Haji dan Umrah Kerajaan Arab Saudi, Tawfiq bin Fawzan Al-Rabiah saat mengunjungi layanan […]

expand_less
WordPress Archive Bakery.co – Bakery Shop Elementor Template Kit Bakery | WordPress Cake & Food Theme Bakevo – Bakery & Cookies WordPress Theme Baller – Basketball Team & Sports Club Elementor Template Kit Baltoo – Tattoo Studio and Artist Elementor Template Kit Bambini – Kindergarten & Pre-School Theme Bame – eSports and Gaming WordPress Theme Bandco – Consulting Business WordPress Theme Bankai – Card Payment & Online Banking Elementor Template Kit Banshee – News & Magazine WordPress Elementor Template Kit