Sabtu, 19 Sep 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Seni & Budaya » Reog Gak Cuma Nari, Tapi Juga Bisa Antar Ponorogo ke Panggung Dunia

Reog Gak Cuma Nari, Tapi Juga Bisa Antar Ponorogo ke Panggung Dunia

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Senin, 26 Mei 2025
  • visibility 1.218
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sumselterkini.co.id, – “Reog itu bukan sekadar atraksi pentas. Ia adalah orkestra budaya yang kalau digoyang sedikit, bisa menghidupi 21 ribu perut, menggerakkan ekonomi, dan bikin turis mancanegara mangap saking kagumnya. Ponorogo, siap-siap, sampeyan bukan lagi kota kecil di Jawa Timur sampeyan bisa jadi kota kreatif dunia.”

Begitulah kira-kira kalau Reog bisa ngomong sambil narik selendang, pasti dia bilang, “Wes wayahe aku tampil di panggung internasional, ojok mung pentas hajatan manten karo karnaval agustusan tok!”

Dalam dunia yang serba digital, kadang kita lupa bahwa seni rakyat itu lebih dari sekadar konten TikTok dan filter Instagram. Tapi Ponorogo tak mau terlena. Ia memilih Reog sebagai jurus pamungkas untuk masuk ke jejaring kota kreatif dunia, UNESCO Creative Cities Network (UCCN). Bukan main, gaes!

Bupati Sugiri yang gayanya kalau ngomong bisa bikin suasana kayak acara wayangan plus stand-up comedy bilang dengan penuh keyakinan, “Reog itu bukan cuma tari, tapi industri!” Dari 21 ribu orang yang ‘digendong’ oleh Reog, Ponorogo telah membuktikan bahwa kreativitas bisa lebih tajam dari cangkul pembangunan.

Artinya, kehormatan seseorang dari ucapannya, dan kehormatan bangsa dari budayanya. Nah, Reog itu bukan cuma kehormatan, tapi juga kebanggaan yang bisa dijual (dengan cara baik) ke mancanegara. Jepang saja punya Kabuki, Korea punya K-pop, Brazil punya Samba, masa kita diem aja, padahal punya Reog?

Negara-negara seperti Belanda, yang dulunya cuma tahu Indonesia dari batik dan kopi, kini mulai mengintip Reog. Bahkan turis dari Jerman yang biasanya kaku kalau nonton opera, bisa joget bareng pas lihat Reog pentas. Beberapa kampus seni di Prancis bahkan mulai belajar koreografi Reog, ya meskipun mereka masih bingung cara megang barongan-nya.

PCF 2025 bukan sekadar festival. Ini semacam gladi resik buat masuk daftar UCCN. Temanya “Pring Harmonic”  bahasa halusnya dari gotong royong, tapi versi modern.

Sugiri cerdas, dia tahu kalau mau Reog mendunia, maka harus dikemas, dikolaborasi, dikomersialisasi tanpa menghilangkan esensinya. Museum Reog didirikan, monumen dibuat, festival digelar, dan semua itu disambut dengan gendang dangdut yang tak kalah semangat.

Kalau Solo bisa jadi kota kriya dan Ambon jadi kota musik, Ponorogo juga boleh dong jadi kota seni rakyat yang beneran rakyat. Yang bukan sekadar dipajang saat tamu datang, tapi juga jadi nadi ekonomi.

Dessy Ruhati dari Kemenekraf sudah pasang badan. Ia bilang pemerintah siap mendampingi dari A sampai Z. Mulai dari pelatihan SDM sampai bikin produk Reog yang bisa dijual ke Amazon (bukan hutan, tapi marketplace). “Kreativitas itu bukan cuma hiburan, tapi juga kekuatan pembangunan,” ujarnya, dengan tatapan tajam seperti Warok sebelum maju pentas.

Di belakang layar, ada juga Kota Malang, Makassar, dan Kabupaten Tangerang yang siap sprint buat masuk UCCN. Tapi Ponorogo punya nilai lebih Reog itu kompleks!. Ada tari, musik, kostum, filosofi, mitologi, hingga pengaruh kuliner (nasi pecel khas Reog misalnya).

Kalau kata simbah”Kebo nusu gudel”, artinya yang tua bisa belajar dari yang muda, dan yang muda bisa bikin yang tua bangga. Dunia mungkin sedang gandrung sama budaya Korea, tapi Indonesia punya warisan yang bisa bikin panggung dunia lebih berwarna.

Ponorogo sedang melangkah mantap menuju pengakuan dunia. Tapi ini bukan hanya soal masuk UCCN, ini soal mengangkat kembali harga diri budaya lokal, menghidupkan ekonomi rakyat, dan membuktikan bahwa seniman desa juga bisa jadi bintang dunia.

Jadi, kalau nanti Reog tampil di Paris Fashion Week, jangan kaget kalau Warok jadi brand ambassador parfum karena kreativitas memang tidak kenal batas.

Ponorogo bukan sekadar kota yang tiap malam minggu digemparkan oleh alunan gamelan dan atraksi Reog di alun-alun. Ia sedang menapaki jalan panjang menuju pengakuan dunia, membawa serta semangat rakyat kecil, harapan seniman kampung, dan mimpi-mimpi bocah SD yang masih bangga ikut arak-arakan Reog keliling kampung.

Kalau selama ini kita hanya tahu Hollywood, Bollywood, atau bahkan K-Pop sebagai simbol budaya global, maka sudah waktunya Reog bikin “Rog-wood” versi kita sendiri. Bayangkan, satu barongan bisa mengalahkan satu season drama Korea dalam menyampaikan nilai, makna, dan rasa.

Dan kalau pada akhirnya Ponorogo masuk ke UNESCO Creative Cities Network, itu bukan cuma kemenangan satu kabupaten. Itu perayaan untuk semua daerah yang percaya bahwa budaya lokal, jika dirawat dengan cinta dan dijual dengan cerdas, bisa bikin dunia jatuh hati.

Karena dalam dunia yang makin serba instan ini, yang dicari bukan cuma kecepatan dan kecanggihan tapi keunikan, keaslian, dan jati diri. Dan di situlah Reog, dengan segala keperkasaannya, menari bukan hanya untuk Ponorogo, tapi untuk Indonesia.Maka, jangan ragu. Reog ora mung goyang, tapi juga bisa go international. Ora mung dadak merak, tapi juga dadak mendunia.[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • titik-api-sumsel

    Waspada… Info dari LAPAN, Hotspot di Sumsel Meningkat

    • calendar_month Kamis, 27 Jul 2017
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.349
    • 0Komentar

    Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) meliris bahwa titik panas (hotspot) di  Sumatera Selatan mulai mengalami kenaikan.

  • Pilkada Serentak di 7 Daerah di Sumsel 2020, Berapa Anggaran Yang di Usulkan dari Masing-masing KPU ?

    Pilkada Serentak di 7 Daerah di Sumsel 2020, Berapa Anggaran Yang di Usulkan dari Masing-masing KPU ?

    • calendar_month Minggu, 8 Sep 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.211
    • 0Komentar

    KOMISI (KPU) Sumsel menyebutkan di Sumsel pada 2020 ada 7 daerah yang akan melaksanakan Pilkada secara serentak. 7 daerah yang melaksanakan Pilkada itu diperkirakan membutuhkan dana keselurahan senilai Rp395 miliar. Masing-masing KPU di daerah yang menjalankan Pilkada tersebut telah mengajukan usulan anggaran, seperti contoh : KPU Kabupaten Musi Rawas (Mura) yang mengusulkan anggaran tersebesar Rp […]

  • Pj Bupati Bersama Forkopimda Muba Ikuti Apel Kehormatan dan Renungan Suci 

    Pj Bupati Bersama Forkopimda Muba Ikuti Apel Kehormatan dan Renungan Suci 

    • calendar_month Kamis, 17 Agt 2023
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.083
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, – Tepat pukul 00.00 WIB menyambut hari Peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia ke-78, Penjabat Bupati Musi Banyuasin Drs H Apriyadi MSi mengikuti Upacara Penghormatan Renungan Suci untuk memberi penghormatan kepada para pahlawan, di Taman Makam Pahlawan Kusuma Bangsa Sekayu, Rabu (17/8/2023). Pelaksanaan upacara diawali dengan pembacaan naskah apel kehormatan dan renungan suci oleh Letkol Inf […]

  • Di Milad NU, Plt Bupati Muba Minta Dukungan Tuntaskan Muba Maju Berjaya

    Di Milad NU, Plt Bupati Muba Minta Dukungan Tuntaskan Muba Maju Berjaya

    • calendar_month Senin, 31 Jan 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 793
    • 0Komentar

    PERINGATAN Hari Lahir Nahdlatul Ulama ke-96, di Lapangan Sepak Bola Desa Beji Mulyo Kecamatan Tungkal Jaya, Minggu (30/1/2022). Peringatan Hari lahir NU ke-96 tersebut mengangkat tema ‘Menuju Satu Abad NU : Kemandirian dalam Berkhidmad untuk Peradaban Dunia’, dirangkaikan dengan pengajian umum dan pelantikan Pimpinan Anak Cabang (PAC) Muslimat NU Tungkal Jaya, PAC Fatayat NU Tungkal […]

  • BI Mencabut dan Menarik 20 Jenis Pecahan Rupiah, Pecahan Berapa Saja ?

    BI Mencabut dan Menarik 20 Jenis Pecahan Rupiah, Pecahan Berapa Saja ?

    • calendar_month Selasa, 31 Agt 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 775
    • 0Komentar

    BANK Indonesia (BI) mencabut dan menarik 20 jenis pecahan Uang Rupiah Khusus (URK) Tahun Emisi 1970 sampai dengan 1990 dari peredaran, melalui Peraturan Bank Indonesia (PBI) No.23/12/PBI/2021, terhitung sejak 30 Agustus 2021. “Dengan demikian, terhitung tanggal dimaksud URK tersebut tidak lagi berlaku sebagai alat pembayaran yang sah di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia,” kata Direktur […]

  • Ridwan Kamil Dianggap Tepat jadi Pendamping Ganjar

    Ridwan Kamil Dianggap Tepat jadi Pendamping Ganjar

    • calendar_month Kamis, 7 Sep 2023
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 718
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, – Pengamat politik Ade Reza Hariyadi menganggap wajar jika nama mantan Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil alias Kang Emil kembali mengemuka dalam bursa bakal calon wakil presiden (cawapres) sebagai pendamping Ganjar Pranowo di Pilpres 2024. Reza menyebut Ridwan Kamil bisa menutupi kelemahan Ganjar di Jawa Barat (Jabar). “Karena bagaimanapun juga basis politik suara […]

expand_less
WordPress Archive Bakery.co – Bakery Shop Elementor Template Kit Bakery | WordPress Cake & Food Theme Bakevo – Bakery & Cookies WordPress Theme Baller – Basketball Team & Sports Club Elementor Template Kit Baltoo – Tattoo Studio and Artist Elementor Template Kit Bambini – Kindergarten & Pre-School Theme Bame – eSports and Gaming WordPress Theme Bandco – Consulting Business WordPress Theme Bankai – Card Payment & Online Banking Elementor Template Kit Banshee – News & Magazine WordPress Elementor Template Kit