Minggu, 8 Nov 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kesehatan » Dosen Rawa & Daun Kalakai Penyelamat Stunting

Dosen Rawa & Daun Kalakai Penyelamat Stunting

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Minggu, 26 Okt 2025
  • visibility 2.852
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

BIASANYA dosen riset di laboratorium dingin ber-AC, lengkap dengan jas putih dan bau alkohol 70%, namun dosen yang satu ini tampil beda, ia malah risetnya di rawa, berkaos oblong, ditemani nyamuk, dan kadang diseruduk kodok.
Siap lagi kalau bukan Helmina Wati, Dosen Jurusan Farmakologi dan Farmasi Klinis di Universitas Borneo Lestari (UNBL), Kalimantan Selatan.

Daripada sibuk nyari bahan riset dari luar negeri yang namanya susah diucap, Helmina justru nemuin harta karun di belakang rumah warga, tanaman kalakai, si pakis rawa yang selama ini cuma dianggap “sayur penggembira”.

“Orang Banjar itu kadang rendah hati banget” kata Helmina sambil ketawa. “Daun aja yang bisa nyelamatin gizi bangsa, masih dikira cuma buat sayur santan”.

Di Desa Sungai Besar, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, kalakai tumbuh subur tanpa perlu dipupuk. Tapi nasibnya mirip mantan yang disia-siakan, ada, tapi tak dianggap.
Padahal kandungan zat besinya tinggi banget, 290 mg per 100 gram!
Kalah, deh… bayam Popeye.

Tahun 2024, lewat Hibah Pengabdian kepada Masyarakat Kosa Bangsa dari Kemdiktisaintek, Helmina dan tim turun tangan.
Bukan cuma bawa teori, tapi bawa niat tulus (dan sepatu boot).

“Waktu itu kasus stunting di sini ada 13 anak,” katanya. “Saya pikir, masa iya di tengah rawa banyak nutrisi, tapi anaknya malah kurang gizi? Kan ironi banget”.

Bahkan Helmina dan timnya lalu bereksperimen.
Mereka ambil daun kalakai muda, keringin, halusin, campur jahe.
Jadilah serbuk instan kalakai jahe,  minuman herbal yang bikin tubuh hangat dan hati tenang.

Rasanya? “Kayak minum jamu yang lagi bahagia,” kata salah satu warga sambil nyeruput.

Selain enak, minuman ini juga kaya zat besi, vitamin C, dan antioksidan, cocok buat ibu hamil, anak-anak, sampai bapak-bapak yang sering ngeluh “mudah capek tapi nggak tahu kenapa”

Kata Helmina, efeknya bukan cuma bikin segar, tapi juga bantu tingkatkan kadar hemoglobin dan cegah anemia.
“Kalau orang kota punya suplemen mahal, kita punya kalakai. Lebih alami, nggak bikin kantong anemia,” ujarnya ngakak.

Ternyata, riset Helmina bukan cuma soal minuman sehat, tapi juga pemberdayaan.
Ia ngajak ibu-ibu PKK dan Kelompok Wanita Tani (KWT) buat ikut produksi.

Dari yang dulu cuma jago bikin tumis kangkung, sekarang bisa bikin puding kalakai, teh herbal, sampai serbuk instan yang dikemas rapi.

“Awalnya bingung juga, ini daun pakis mau diapain?” cerita Bu Narti, salah satu ibu PKK. “Tapi sekarang malah ketagihan. Rumah saya kayak pabrik jamu mini”.

Selain jadi lebih sehat, mereka juga punya penghasilan tambahan. “Dulu kami cuma makan kalakai, sekarang kalakai yang makan kami” kata Bu Narti sambil ngakak, maksudnya, jualan kalakai bikin dapur ngebul.

Program Helmina bukan cuma bikin ramai dapur warga, tapi juga nurunin angka stunting.
Data terbaru menunjukkan, jumlah anak stunting di desa itu turun dari 13 jadi 7 kasus.

“Bukan karena kalakai aja,” jelas Helmina, “tapi karena kesadaran warga naik. Mereka mulai ngerti pentingnya gizi dan kesehatan”

Kata kader posyandu setempat, sejak ada program ini, ibu-ibu jadi rajin ikut penyuluhan dan nggak lagi ngira “gemuk itu sehat”
Bahkan, sekarang anak-anak mereka lebih doyan makan sayur ketimbang jajanan warna-warni yang biasanya lebih mirip karet gelang daripada makanan.

Kesehatan Nggak Harus Ribet

Yang menarik dari Helmina, ia selalu bilang bahwa kesehatan itu nggak perlu rumit.
“Kadang kita sibuk nyari suplemen dari luar negeri, padahal di rawa depan rumah udah ada apotek alami,” katanya.

Ia menyebut pendekatannya sebagai teknologi kesehatan lokal berbasis empati. Artinya, bukan bikin alat canggih yang warga nggak paham, tapi ngajak mereka pakai apa yang udah ada di sekitar.

“Kalakai ini teknologi juga, cuma versi tradisional,” candanya.
“Bedanya, kalau alat medis perlu baterai, kalakai cukup disiram”

Helmina nggak sendirian. Ia berkolaborasi dengan tim dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Liling Triasmono, Agung Biworo, dan Muhammad Iwan. Mereka bareng-bareng ngerancang model pengabdian plus riset plus pemberdayaan  paket komplit.

Dengan dukungan hibah dari Kemdiktisaintek, mereka juga kembangkan Kebun Tanaman Obat Keluarga (TOGA) di desa itu.
Sekarang, warga punya lebih dari 100 jenis tanaman obat, dari jahe, serai, sampai daun insulin.

“Kalau dulu sakit kepala buru-buru cari apotek, sekarang tinggal cari pot,” kata Helmina sambil ketawa.

Cerita Helmina ini bukan cuma soal daun, tapi soal pandangan hidup.
Bahwa sehat itu nggak cuma urusan rumah sakit dan dokter.
Sehat itu juga soal mengenal lingkungan, menghargai alam, dan mau belajar bareng.

Di tangan Helmina, rawa bukan cuma tempat berlumpur.
Ia jadi ruang belajar, tempat sains dan kemanusiaan bersatu.
Tempat di mana ibu-ibu jadi ilmuwan, anak-anak tumbuh sehat, dan daun pakis bisa bikin bangsa lebih kuat.

Atau seperti kata pepatah Banjar versi Helmina “Kalau mau tubuh sehat, jangan cuma cari obat, tapi cari semangat”.[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tenun Nusantara Dibawa ke Panggung Dunia, Kemenekraf Raih Guinness World Records

    Tenun Nusantara Dibawa ke Panggung Dunia, Kemenekraf Raih Guinness World Records

    • calendar_month Senin, 17 Agt 2026
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 95
    • 0Komentar

    SUMSELTERKINI.CO.ID – Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Kemenekraf/Bekraf) membawa wastra tenun Nusantara ke panggung dunia pada perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Sebanyak 306 pegawai Kemenekraf mengenakan tenun tradisional dari berbagai daerah dan meraih Guinness World Records di Jakarta, Senin (17/8/2026). Kemenekraf mencatat pencapaian itu dalam kategori Largest Gathering of People Wearing Traditional Indonesian Woven Textiles. Jumlah […]

  • HUT RI ke 79, 40 Capaska OKI kibarkan bendera merah putih

    HUT RI ke 79, 40 Capaska OKI kibarkan bendera merah putih

    • calendar_month Sabtu, 17 Agt 2024
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 839
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, – 40 orang Calon Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Capaska) Kabupaten OKI tahun 2024 resmi dikukuhkan menjadi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) oleh Pj. Bupati OKI Ir. Asmar Wijaya M.Si. Nantinya Paskibraka OKI 2024 akan bertugas menaikkan dan menurunkan duplikat bendera sang saka merah putih pada peringatan HUT RI ke-79 tingkat Kabupaten OKI pada 17 […]

  • Bikin Kebijakan Yang Tak Bikin Masyarakat Gamang

    Bikin Kebijakan Yang Tak Bikin Masyarakat Gamang

    • calendar_month Rabu, 16 Sep 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 901
    • 0Komentar

    GUBERNUR Sumsel H Herman Deru menegaskan, masa pandemi belum berlalu, dan respon masyarakat sangat variatif dalam menghadapi pandemi ini. Untuk itu kebijakan yang dibuat jangan sampai membuat masyarakat gamang. “Saya kumpulkan bupati dan walikota untuk samakan persepsi dalam menentukan kebijakan yang dilakukan. Yang pasti sebagai pemimpin, kita tidak boleh menunjukkan ketegangan dan kepanikan dalam menghadapi […]

  • Pengawasan ke Arsipan, Muba Juara I di Sumsel, 10 Besar Nasional

    Pengawasan ke Arsipan, Muba Juara I di Sumsel, 10 Besar Nasional

    • calendar_month Sabtu, 13 Mar 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 917
    • 0Komentar

        ARSIP Nasional Republik Indonesia ( ANRI) baru-baru ini mengumumkan hasil pengawasan kearsipan Pemerintah Daerah yang menyebutkan Kabupaten Muba sebagai peringkat satu Sumsel dan  10 besar  Nasional Penghargaan Pengawasan Kearsipan Tahun 2020. “Dari hasil penilaian ANRI, capaian nilai 94.47 (sangat memuaskan),” ungkap Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Musi Banyuasin, Yohanes Yubhar, kemarin. Aspek […]

  • Nah Bahaya Kalau Benar, Empat Wanita di Australia Alami Keguguran setelah Disuntik Vaksin Pfizer

    Nah Bahaya Kalau Benar, Empat Wanita di Australia Alami Keguguran setelah Disuntik Vaksin Pfizer

    • calendar_month Senin, 11 Okt 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 846
    • 0Komentar

    BEREDAR sebuah narasi di media sosial menyebutkan ada 4 orang wanita di Australia mengalami keguguran setelah disuntik vaksin Pfizer. Faktanya, dilansir dari kumparan.com yang mengutip dari AFP, Juru Bicara BPOM Australia (TGA) menegaskan tidak ada kaitan antara vaksin COVID-19 dengan keguguran. Seorang ahli virus dari Departemen Ilmu Biologi A&M University-Texarkana, Texas, Amerika Serikat, Benjamin Neuman […]

  • Humas Berfungsi menyampaikan Kebijakan Pemerintah, Sehingga Informasi Dikemas Harus Diterima

    Humas Berfungsi menyampaikan Kebijakan Pemerintah, Sehingga Informasi Dikemas Harus Diterima

    • calendar_month Minggu, 7 Mar 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.029
    • 0Komentar

    HUMAS pemerintah harus mampu menjawab berbagai informasi yang berkaitan dengan kinerja pemerintah. Sehingga, setiap program yang diimplementasikan dapat didukung sepenuhnya oleh seluruh elemen masyarakat di mana pun berada. Humas berfungsi menyampaikan informasi tentang kebijakan pemerintah yang dimiliki, ujar Staf Ahli Menteri Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Bidang Komunikasi dan Media Massa, Widodo Muktiyo pada Forum Tematik […]

expand_less
WordPress Archive WhatsApp Chat Support – WordPress Plugin WhatsApp Chat WordPress WhatsApp Chat – WordPress WhatsApp Chat WhatsApp Click to Chat Plugin for WordPress Wheel of Fortune – HTML5 Casino Game Whistle – Sports Club WordPress White Hall – Municipal and Government WordPress Theme White Label Branding for WordPress White Label Branding for WordPress Multisite White Label – Business And Company Theme