Minggu, 8 Nov 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kebijakan » “Ketika Alam Disuruh Bangun Sendiri, Tapi Manusia Masih Ngorok”

“Ketika Alam Disuruh Bangun Sendiri, Tapi Manusia Masih Ngorok”

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Jumat, 30 Mei 2025
  • visibility 830
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sumselterkini.co.id, – Kalau ekosistem bisa ngomong, mungkin lahan gambut dan bekas tambang di Sumatera Selatan sudah teriak-teriak minta tolong sambil pegang papan bertuliskan “Kami bukan tempat main monopoli!”.

Menteri Lingkungan Hidup/Kepala BPLH, Hanif Faisol Nurofiq, belum lama ini blusukan ke Sumatera Selatan. Tapi ini bukan blusukan ala politisi menjelang pemilu yang bawa cangkul buat foto doang. Pak Menteri datang beneran, nyemplung ke Desa Jadi Mulya (OKI), ngecek Desa Mandiri Peduli Gambut (DMPG), lalu loncat ke Muara Enim ngecek lahan pascatambang yang katanya mau direklamasi tapi nyatanya masih kayak bekas ulangan anak SMA banyak yang bolong.

Nah, ini yang menarik. Di satu sisi, masyarakat diajak jaga gambut, diajak nanem, nyiram, jagain kelembapan lahan. Bagus! Rakyat dikasih peran jadi ‘Bodyguard Ekosistem’. Tapi di sisi lain, ada perusahaan tambang yang abis garuk-garuk isi perut bumi, lalu tinggalin lahan bekas seperti mantan ninggalin chat nggak dibalas.

Pak Menteri bilang ada 400–500 hektare lahan bekas tambang PT Musi Prima Coal yang belum direklamasi. Itu setara 700-an lapangan bola! Gede. Kalau mau dijadikan taman kota, bisa bikin healing massal satu provinsi. Tapi nyatanya, lahannya masih bolong-bolong kayak jalan di kampung pas musim hujan.

Kalau negara lain, urusan beginian nggak main-main. Lihat aja Kanada. Di sana, setiap perusahaan tambang wajib punya Reclamation Plan sebelum mulai nambang, dan harus nyetor dana jaminan pemulihan dulu, bukan nanti-nanti pas sudah mau kabur.

Di Finlandia, perusahaan tambang juga nggak bisa main lari-lari manja. Negara mewajibkan perusahaan bertanggung jawab sampai tanah bisa ditanami kembali atau dijadikan ekowisata. Di kita? Kadang tanggung jawabnya kayak status hubungan “ini masih tanggung atau sudah bubar?”

Lucunya, kadang perusahaan tambang ini malah ngerasa lahan pascatambang itu bakal sembuh sendiri. Kayak luka disiram minyak angin. Padahal, lahan rusak itu nggak bisa disembuhin cuma pakai doa dan plester daun sirih. Harus ada langkah konkret, dana real, dan niat yang nggak PHP.

Makanya, pernyataan tegas Pak Hanif soal sanksi patut diapresiasi, tapi jangan cuma berhenti di ancaman. Kalau cuma ancaman tanpa tindakan, perusahaan akan pikir ini cuma sinetron. Dikasih deadline, disanksi administrasi, eh ujung-ujungnya nongkrong bareng di acara seremoni ulang tahun dinas.

Perlu juga kita pertanyakan kok bisa ada ratusan perusahaan tambang yang belum reklamasi? Ini kayak punya 100 utang tapi lupa bayar semua. Apa fungsi pengawasan daerah? Kenapa bisa kecolongan terus? Apa memang sudah kebal terhadap laporan?

Pak Herdi dari DLHP Sumsel sih bilang, “Selama ini kami cuma bisa kasih peringatan.” Lah, itu kayak satpam pasar yang cuma bisa ngomel ke maling tapi nggak bisa nangkap. Kita butuh otoritas daerah yang bisa garang seperti kucing kalau ada ikan asin dicolong.

Intinya begini jangan cuma masyarakat kecil yang disuruh jaga alam. Perusahaan gede juga harus ditarik kupingnya. Kalau masyarakat jadi penjaga, perusahaan harus jadi penanggung jawab. Bukan malah sebaliknya.

Dan satu lagi, mari kita revisi definisi “pembangunan berkelanjutan”. Jangan sampai artinya berubah jadi “bangun-nya terus, pulih-nya belakangan”. Kalau kita mau Indonesia tetap hijau bukan cuma di peta, tapi juga di lapangan, ya semua pihak harus kerja nggak bisa cuma nungguin alam pulih sendiri kayak luka hati pas ditinggal mantan.

Mari kita jaga gambut dengan semangat gotong royong, dan tuntut pertambangan dengan aturan yang nggak bisa dinego. Jangan sampai desa-desa sudah rajin siram gambut, tapi korporasi masih hobi tinggalin bekas tambang kayak eks pacar bikin trauma lingkungan.

Perlindungan lingkungan tak bisa dijalankan dengan pola timpang masyarakat disuruh gotong royong jaga gambut, sementara perusahaan tambang tinggalin lahan rusak seenaknya. Model pengelolaan berbasis masyarakat seperti DMPG layak diperluas, tapi harus diiringi dengan penegakan hukum tegas pada pelaku kerusakan lingkungan—terutama korporasi yang hobi garuk, lalu kabur.

Reklamasi bukan pilihan, tapi kewajiban. Pemerintah daerah dan pusat perlu bersinergi bukan cuma dalam ucapan, tapi dalam tindakan yang konkret. Kalau negara lain bisa menerapkan sistem tanggung jawab lingkungan yang ketat, kenapa kita masih mentolerir pembiaran? Sudah saatnya hukum lingkungan kita berhenti jadi macan ompong. Biar lahan pulih, bukan malah makin hancur karena manusia yang sibuk berdalih.[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sisir Seluruh Jalan Hingga Pasang Stiker di Warung dan Rumah, Muba Ingin PPKM Darurat Sukses, Mari Semua Sadar, Covid-19 Nya Lenyap, Kita Hidup Normal Kembali

    Sisir Seluruh Jalan Hingga Pasang Stiker di Warung dan Rumah, Muba Ingin PPKM Darurat Sukses, Mari Semua Sadar, Covid-19 Nya Lenyap, Kita Hidup Normal Kembali

    • calendar_month Minggu, 18 Jul 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 987
    • 0Komentar

    SUMSELTERKINI.CO.ID- PEMERINTAH Kecamatan Babat Supat Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), melaksanakan kegiatan sosialisasi terkait PPKM Darurat serta pemasangan stiker himbauan pada Warung dan Rumah Makan di wilayah Kecamatan Babat Supat. “Sosialisasi ini dilaksanakan untuk memberikan informasi pada pemilik warung dan rumah makan agar tidak melayani makan/minum ditempat sesuai dengan Instruksi Bupati Muba Nomor 025 Tahun 2021 […]

  • Terabas Alam, Camat Jirak Jaya Ajak Kades dan JTA Perangi Karhutla

    Terabas Alam, Camat Jirak Jaya Ajak Kades dan JTA Perangi Karhutla

    • calendar_month Senin, 10 Agt 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.045
    • 0Komentar

    SETELAH satu hari sebelumnya yakni Sabtu (8/8/2020) Bupati Muba Dr Dodi Reza Alex Noerdin Lic Econ MBA turun langsung ke lapangan memantau titik hot spot lewat jalur udara yang juga langsung menjadi pilot pesawat pesawat jenis BN2T/PK – WMR berkapasitas 10 tempat duduk. Kali ini, Minggu (9/8/2020) dengan menggunakan motor trail, Camat Jirak Jaya, anggota […]

  • Diduga Simpan Narkoba, Warga Lalan Diringkus Polisi

    Diduga Simpan Narkoba, Warga Lalan Diringkus Polisi

    • calendar_month Sabtu, 15 Sep 2018
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 913
    • 0Komentar

    SUMSELTERKINI.CO.ID, SEKAYU – Jumadi alias Jum (40) warga Desa Madya Mulya, Kecamatan Lalan, Kabupaten Musibanyuasin (Muba) diringkus jajaran Polsek Lalan, Kamis (13/9/2018). Pelaku diringkus diringkus di areal persawahan lindung P.1 Desa Madya Mulya, Kec lalan Kabupaten  Muba . Kapolres Muba, AKBP Andes Purwati, SE, MM melalui Kapolsek Lalan IPTU Binton Simbolon, SH membenarkan kejadian penangkapan […]

  • Bupati OKI Terima Penghargaan Green Leadership Nirwasita Tantra

    Bupati OKI Terima Penghargaan Green Leadership Nirwasita Tantra

    • calendar_month Minggu, 28 Agt 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 546
    • 0Komentar

    Bupati Ogan Komering Ilir, H. Iskandar, SE menerima penghargaan Green Leadership Nirwasita Tantra 2022 dari Gubernur Sumatera Selatan H. Herman Deru pada Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia tingkat Provinsi Sumatera Selatan. Penghargaan di terima oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten OKI, Aris Panani, SP, M. Si di Hutan Wisata Punti Kayu Palembang, Sabtu (27/8/2022). Nirwasita […]

  • Dukung Program UHC, 95 % Warga OKI Terlindungi JKN

    Dukung Program UHC, 95 % Warga OKI Terlindungi JKN

    • calendar_month Rabu, 17 Mei 2023
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.003
    • 0Komentar

    Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) menarget 95 persen warganya terlindung program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dalam rangka mendukung pencapaian Universal Health Coverage (UHC) atau cakupan kesehatan menyeluruh bagi seluruh masyarakat. Wakil Bupati Ogan Komering Ilir, H.M. Djafar Shodiq mengatakan untuk mencapai target UHC yang telah ditentukan maka dibutuhkan dukungan dari seluruh pihak terutama dalam […]

  • Intip Apple MixC Shenzhen di Cina, Apa Saja Daya Tariknya ?

    Intip Apple MixC Shenzhen di Cina, Apa Saja Daya Tariknya ?

    • calendar_month Selasa, 2 Mei 2023
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 753
    • 0Komentar

      SHENZHEN, CHINA Apple mempratinjau Apple MixC Shenzhen, toko kedua di kota yang semarak ini. Toko baru akan berfungsi sebagai ruang yang dapat diakses dan inklusif bagi anggota tim Apple untuk menyatukan yang terbaik dari Apple untuk komunitas lokal.   “Kami sangat bersemangat untuk membuka Apple Store baru yang cantik di Shenzhen dan memperdalam hubungan […]

expand_less
WordPress Archive Give – Square Gateway Give – Stripe Gateway Give – Tributes Give – Zapier Giver – Senior Care WordPress Theme Givoxin – Charity Elementor Template Kit Giza – Creative Resume WordPress Theme Gizmos – Electronics & Tech Shop WordPress Theme Glamping – Luxury Camping & Campground Elementor Template Kit Glamr – Hair Salon & Hairdresser WordPress Theme