Rabu, 23 Sep 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kebijakan » “Ketika Alam Disuruh Bangun Sendiri, Tapi Manusia Masih Ngorok”

“Ketika Alam Disuruh Bangun Sendiri, Tapi Manusia Masih Ngorok”

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Jumat, 30 Mei 2025
  • visibility 810
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sumselterkini.co.id, – Kalau ekosistem bisa ngomong, mungkin lahan gambut dan bekas tambang di Sumatera Selatan sudah teriak-teriak minta tolong sambil pegang papan bertuliskan “Kami bukan tempat main monopoli!”.

Menteri Lingkungan Hidup/Kepala BPLH, Hanif Faisol Nurofiq, belum lama ini blusukan ke Sumatera Selatan. Tapi ini bukan blusukan ala politisi menjelang pemilu yang bawa cangkul buat foto doang. Pak Menteri datang beneran, nyemplung ke Desa Jadi Mulya (OKI), ngecek Desa Mandiri Peduli Gambut (DMPG), lalu loncat ke Muara Enim ngecek lahan pascatambang yang katanya mau direklamasi tapi nyatanya masih kayak bekas ulangan anak SMA banyak yang bolong.

Nah, ini yang menarik. Di satu sisi, masyarakat diajak jaga gambut, diajak nanem, nyiram, jagain kelembapan lahan. Bagus! Rakyat dikasih peran jadi ‘Bodyguard Ekosistem’. Tapi di sisi lain, ada perusahaan tambang yang abis garuk-garuk isi perut bumi, lalu tinggalin lahan bekas seperti mantan ninggalin chat nggak dibalas.

Pak Menteri bilang ada 400–500 hektare lahan bekas tambang PT Musi Prima Coal yang belum direklamasi. Itu setara 700-an lapangan bola! Gede. Kalau mau dijadikan taman kota, bisa bikin healing massal satu provinsi. Tapi nyatanya, lahannya masih bolong-bolong kayak jalan di kampung pas musim hujan.

Kalau negara lain, urusan beginian nggak main-main. Lihat aja Kanada. Di sana, setiap perusahaan tambang wajib punya Reclamation Plan sebelum mulai nambang, dan harus nyetor dana jaminan pemulihan dulu, bukan nanti-nanti pas sudah mau kabur.

Di Finlandia, perusahaan tambang juga nggak bisa main lari-lari manja. Negara mewajibkan perusahaan bertanggung jawab sampai tanah bisa ditanami kembali atau dijadikan ekowisata. Di kita? Kadang tanggung jawabnya kayak status hubungan “ini masih tanggung atau sudah bubar?”

Lucunya, kadang perusahaan tambang ini malah ngerasa lahan pascatambang itu bakal sembuh sendiri. Kayak luka disiram minyak angin. Padahal, lahan rusak itu nggak bisa disembuhin cuma pakai doa dan plester daun sirih. Harus ada langkah konkret, dana real, dan niat yang nggak PHP.

Makanya, pernyataan tegas Pak Hanif soal sanksi patut diapresiasi, tapi jangan cuma berhenti di ancaman. Kalau cuma ancaman tanpa tindakan, perusahaan akan pikir ini cuma sinetron. Dikasih deadline, disanksi administrasi, eh ujung-ujungnya nongkrong bareng di acara seremoni ulang tahun dinas.

Perlu juga kita pertanyakan kok bisa ada ratusan perusahaan tambang yang belum reklamasi? Ini kayak punya 100 utang tapi lupa bayar semua. Apa fungsi pengawasan daerah? Kenapa bisa kecolongan terus? Apa memang sudah kebal terhadap laporan?

Pak Herdi dari DLHP Sumsel sih bilang, “Selama ini kami cuma bisa kasih peringatan.” Lah, itu kayak satpam pasar yang cuma bisa ngomel ke maling tapi nggak bisa nangkap. Kita butuh otoritas daerah yang bisa garang seperti kucing kalau ada ikan asin dicolong.

Intinya begini jangan cuma masyarakat kecil yang disuruh jaga alam. Perusahaan gede juga harus ditarik kupingnya. Kalau masyarakat jadi penjaga, perusahaan harus jadi penanggung jawab. Bukan malah sebaliknya.

Dan satu lagi, mari kita revisi definisi “pembangunan berkelanjutan”. Jangan sampai artinya berubah jadi “bangun-nya terus, pulih-nya belakangan”. Kalau kita mau Indonesia tetap hijau bukan cuma di peta, tapi juga di lapangan, ya semua pihak harus kerja nggak bisa cuma nungguin alam pulih sendiri kayak luka hati pas ditinggal mantan.

Mari kita jaga gambut dengan semangat gotong royong, dan tuntut pertambangan dengan aturan yang nggak bisa dinego. Jangan sampai desa-desa sudah rajin siram gambut, tapi korporasi masih hobi tinggalin bekas tambang kayak eks pacar bikin trauma lingkungan.

Perlindungan lingkungan tak bisa dijalankan dengan pola timpang masyarakat disuruh gotong royong jaga gambut, sementara perusahaan tambang tinggalin lahan rusak seenaknya. Model pengelolaan berbasis masyarakat seperti DMPG layak diperluas, tapi harus diiringi dengan penegakan hukum tegas pada pelaku kerusakan lingkungan—terutama korporasi yang hobi garuk, lalu kabur.

Reklamasi bukan pilihan, tapi kewajiban. Pemerintah daerah dan pusat perlu bersinergi bukan cuma dalam ucapan, tapi dalam tindakan yang konkret. Kalau negara lain bisa menerapkan sistem tanggung jawab lingkungan yang ketat, kenapa kita masih mentolerir pembiaran? Sudah saatnya hukum lingkungan kita berhenti jadi macan ompong. Biar lahan pulih, bukan malah makin hancur karena manusia yang sibuk berdalih.[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sebagai Mitra Pemerintah, Gubernur Inginkan Insan Pers Tetap Sajikan Berita Profesional & Berimbang

    Sebagai Mitra Pemerintah, Gubernur Inginkan Insan Pers Tetap Sajikan Berita Profesional & Berimbang

    • calendar_month Selasa, 9 Feb 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 922
    • 0Komentar

    PERAN media atau pers sangat penting dalam penanganan pandemi Covid-19 yang saat ini tengah dilakukan oleh berbagai pemangku kepentingan. Produksi pers  dinilai  efektif dalam memutus penyebaran virus berbahaya tersebut, karena pers  bisa mempengaruhi pola pikir masyarakat terhadap pencegahan Covid-19  melalui edukasi  yang disajikan lewat media, utamanya terkait dengan penerapan protokol kesehatan. “Di masa pandemi Covid-19 saat ini, pers selalu menjadi […]

  • Gubernur : Utusan   Sumsel  Mesti Jadi Tauladan Bagi Daerah Lain

    Gubernur : Utusan Sumsel Mesti Jadi Tauladan Bagi Daerah Lain

    • calendar_month Selasa, 21 Des 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 760
    • 0Komentar

    GUBERNUR Sumsel H. Herman Deru melepas peserta Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) dari PWNU Sumsel dan PCNU Kab/Kota se Sumsel untuk mengikuti kegiatan Muktamar NU ke-34 di Provinsi Lampung 22-23 Desember. Selain istiqomah, gubernur juga berpesan kepada peserta ini untuk menjaga nama baik daerah. Menurut Bapak Rumah Tahfidz tersebut, sebagai provinsi yang tertua Provinsi Sumsel tentu […]

  • Sekolah Rakyat Klaim 3.500 Prestasi, Apa yang Diraih Siswa?

    Sekolah Rakyat Klaim 3.500 Prestasi, Apa yang Diraih Siswa?

    • calendar_month Minggu, 2 Agt 2026
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 31
    • 0Komentar

    SUMSELTERKINI.CO.ID – Sekolah Rakyat menjadi salah satu program pendidikan yang menarik perhatian publik karena menyasar anak-anak dari keluarga miskin dan rentan yang selama ini memiliki keterbatasan mengakses pendidikan. Dalam satu tahun penyelenggaraannya, Sekolah Rakyat mengklaim para siswanya berhasil mengumpulkan sekitar 3.500 prestasi dari berbagai ajang, mulai tingkat sekolah hingga internasional. Jumlah tersebut menjadi indikator awal […]

  • Desak  Bupati OKU Lebih Serius Promosikan Objek Wisata Goa Putri

    Desak  Bupati OKU Lebih Serius Promosikan Objek Wisata Goa Putri

    • calendar_month Kamis, 31 Jan 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.656
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, Baturaja – Gubernur Sumatera Selatan H Herman Deru didampingi Bupati OKU Drs Kuryana Aziz dan rombongan menyempatkan diri meninjau langsung kondisi objek wisata Goa Putri dan Museum Manusia Purba Goa Harimau yang berada di desa Padang Bindu Kecamatan Semidang Aji Kabupaten OKU, Rabu (30/1/2019) . Kunjungan Gubernur Sumsel ke objek wisata kebanggan warga OKU […]

  • Nanas dijual per 3 Buah di Sei-Selayur Rp10.000

    Nanas dijual per 3 Buah di Sei-Selayur Rp10.000

    • calendar_month Senin, 27 Nov 2017
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.098
    • 0Komentar

    Mampu menjual nanas mencapai 100 buah per harinya

  • Negeri Sakura Pilihan Milanium Daerah di Sumsel Ini Untuk Magang Kerja Aku Pejabat Pemdanya, Ini Alasannya..

    Negeri Sakura Pilihan Milanium Daerah di Sumsel Ini Untuk Magang Kerja Aku Pejabat Pemdanya, Ini Alasannya..

    • calendar_month Sabtu, 11 Des 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 806
    • 0Komentar

    PEMERINTAH Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI)  ingin mengirim lebih banyak tenaga muda untuk mengikuti program magang di perusahaan ternama Jepang. Selain gaji yang besar, pembelajaran etos serta keterampilan kerja mampu jadi modal pemuda OKI untuk berwirausaha. Hal tersebut disampaikan Bupati OKI melalui Asisten Bidang Administrasi dan Umum Setda OKI, H. M. Lubis saat menerima audiensi […]

expand_less
WordPress Archive Give – Square Gateway Give – Stripe Gateway Give – Tributes Give – Zapier Giver – Senior Care WordPress Theme Givoxin – Charity Elementor Template Kit Giza – Creative Resume WordPress Theme Gizmos – Electronics & Tech Shop WordPress Theme Glamping – Luxury Camping & Campground Elementor Template Kit Glamr – Hair Salon & Hairdresser WordPress Theme