“Lapang Dada”: Belajar Menerima Tanpa Harus Memperlebar Dada
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 10
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : Ilustrasi /AI
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Kalau ada ungkapan dalam bahasa Indonesia yang bisa membuat orang membayangkan hal yang aneh, mungkin saya salah satunya. Nama saya “lapang dada.” Jangan buru-buru mengambil meteran untuk mengukur ukuran dada. Saya tidak membuat dada seseorang bertambah lebar seperti binaragawan. Saya juga bukan hasil latihan push-up selama berbulan-bulan.
Saya hanyalah sebuah ungkapan, saya sering muncul ketika seseorang berkata, “Cobalah lapang dada menerima kritik.” Kalau dipikir-pikir lucu juga. Kalau benar-benar harus memiliki dada yang lapang, mungkin tukang jahit akan kebingungan.
“Pak, ukuran bajunya berapa?”
“Dada saya sekarang sedang lapang, jadi dilebihkan saja sepuluh sentimeter.”
Untungnya, bahasa Indonesia tidak bekerja seperti itu.
Saya Bukan Soal Ukuran Dada
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), lapang dada berarti sabar, ikhlas, dan mau menerima sesuatu dengan tenang, meskipun hal itu tidak sesuai dengan harapan. Jadi, ketika guru berkata,”Belajarlah menerima kekalahan dengan lapang dada.” Yang dimaksud tentu bukan memperbesar ukuran dada, yang dimaksud adalah memperbesar hati.
Mengapa Harus “Lapang”?
Pertanyaannya menarik, kenapa bukan “dada panjang”, “dada tinggi”, atau “dada luas”?
Dalam bahasa Indonesia, kata lapang sering menggambarkan sesuatu yang tidak sempit, jalan yang lapang membuat perjalanan lebih nyaman. Halaman yang lapang membuat anak-anak bebas bermain. Begitu juga hati dan pikiran, saat seseorang memiliki “dada yang lapang”, ia tidak mudah sesak oleh rasa marah, kecewa, atau dendam. Masalah memang datang. Namun, ia tidak membiarkan masalah itu memenuhi seluruh ruang dalam dirinya.
Saya Sering Datang Saat Keadaan Tidak Menyenangkan
Anehnya, saya hampir tidak pernah dipanggil ketika semuanya berjalan mulus, saya justru sering muncul saat nilai ulangan kurang bagus. Saat tim kesayangan kalah, saat pendapat kita tidak diterima, dan saat teman mengkritik, bahkan saat rencana yang sudah disusun rapi tiba-tiba berubah.
Di saat-saat seperti itulah orang berkata, “Sudahlah, terimalah dengan lapang dada, memang tidak mudah, namun, justru di situlah saya belajar menjadi berarti.
Saya Bukan Berarti Pasrah
Banyak orang mengira lapang dada sama dengan menyerah. Padahal kami berbeda, lapang dada bukan berarti berhenti berusaha dan lapang dada berarti mampu menerima kenyataan terlebih dahulu, lalu memikirkan langkah berikutnya dengan kepala dingin.
Misalnya seorang pemain sepak bola yang gagal mencetak gol, kalau ia marah-marah sepanjang pertandingan, peluang berikutnya bisa ikut hilang. Namun, kalau ia menerima kegagalannya dengan lapang dada, ia masih punya kesempatan mencetak gol berikutnya.
Saya Sering Disalahartikan
Ada juga yang menganggap saya berarti tidak boleh sedih. Padahal, sedih itu manusiawi, dan kecewa juga wajar. Yang penting, jangan tinggal terlalu lama di sana, lapang dada bukan berarti tidak punya perasaan. Lapang dada justru menunjukkan seseorang cukup kuat untuk mengelola perasaannya.
Bukan Tentang Menang atau Kalah
Dalam kehidupan, tidak semua keinginan akan menjadi kenyataan. Ada perlombaan yang dimenangkan, ada juga yang harus diterima kekalahannya, ada cita-cita yang tercapai, ada pula yang harus diperjuangkan lebih lama. Di situlah saya hadir, bukan untuk menghapus rasa kecewa, melainkan untuk mengingatkan bahwa hidup tetap berjalan.
Lapang Dada dan Pelajaran Bahasa Indonesia
Saya hanyalah dua kata sederhana, namun, dibalik nama saya tersimpan pelajaran bahasa Indonesia tidak selalu dimaknai secara harfiah, seperti buah hati, buah pikiran, besar kepala, atau cuci tangan, saya juga merupakan ungkapan yang memiliki makna khusus.
Bahasa menjadi indah karena tidak semua kata harus dimengerti apa adanya, kadang, dua kata sederhana mampu menyimpan pelajaran hidup yang panjang. Saya bukan dada yang lebih lebar, saya bukan ukuran baju, saya adalah lapang dada sebuah pengingat menerima kenyataan dengan sabar bukan tanda kelemahan, melainkan tanda kedewasaan.
Oleh karena itu pada akhirnya, orang yang paling kuat bukan selalu yang paling keras suaranya, melainkan yang tetap mampu tersenyum, belajar, dan melangkah maju meski keadaan tidak selalu berpihak kepadanya. (***)
Catatan Redaksi: Artikel ini merupakan tulisan edukatif mengenai makna ungkapan dalam bahasa Indonesia. Penjelasan disusun berdasarkan penggunaan umum dalam bahasa Indonesia dan merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), dengan penyajian bergaya naratif agar mudah dipahami pembaca.
- Penulis: Irwan Wahyudi
