Kamis, 22 Okt 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Inspirasi » Kartini Masa Depan, Perempuan di Era Notifikasi [Ketika jempol perempuan tak hanya mengetik, tapi mengubah dunia]

Kartini Masa Depan, Perempuan di Era Notifikasi [Ketika jempol perempuan tak hanya mengetik, tapi mengubah dunia]

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Jumat, 18 Apr 2025
  • visibility 1.352
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sumselterkini.co.id, – “Kartini zaman now tuh, kalau berjuang bukan lagi pakai surat ke Belanda. Tapi pakai email, feed Instagram, dan aksi literasi digital. Serius!” ujar Naya sambil menyesap es kopi susu di lobi Kemkomdigi.

Ia mengenakan blazer warna lilac dan pin kecil bertuliskan “Cipayung Plus Squad”. Di sampingnya, Wiwik dari Kopri PMII tampak sibuk membetulkan hijabnya yang sedikit miring gara-gara semangat debat soal algoritma dan keamanan anak di ruang digital.

“Dulu Kartini nulis di surat. Kita nulisnya di caption panjang-panjang. Tapi isinya tetap  memperjuangkan ruang aman buat perempuan dan anak. Bedanya, sekarang musuhnya bukan cuma patriarki, tapi juga akun anonim yang iseng ngirim DM gak sopan,” timpal Wiwik dengan mimik setengah kesel, setengah lucu.

Hari itu, di tengah lalu lintas Jakarta yang makin mirip benang kusut dililit headphone, sembilan perempuan muda dari organisasi besar yang namanya lebih panjang dari antrean skincare diskonan menghadap Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid.

Tapi ini bukan pertemuan biasa yang penuh basa-basi dan kopi pahit tanpa gula. Bukan juga ruang jumpa formal dengan kalimat klise macam “kami akan tindak lanjuti.”
Ini seperti dapur ide hangat, ramai, dan kadang meletup kayak popcorn.

Topiknya PP Tunas, sebuah regulasi baru seputar perlindungan anak di dunia digital. Tapi alih-alih dibaca sebagai dokumen hukum yang bikin ngantuk, PP ini dijadikan bahan diskusi segar layaknya resep masakan baru yang akan dicoba bareng.

“Aku tuh seneng banget pas Bu Menteri bilang, kita bisa kerja bareng. Bukan cuma pasang foto Kartini tiap April, tapi beneran turun ke lapangan. Ke sekolah, ke kampus, ke grup WA emak-emak,” kata Rani dari Sarinah GMNI.

“Betul, Rin,” sahut Lita dari IMM. “Literasi digital tuh kayak sabun cuci tangan. Kelihatannya sederhana, tapi kalau nggak ada, ya semua jadi rawan kotor. Hoaks merajalela, konten aneh-aneh berseliweran, dan anak-anak kita bisa ‘keracunan sinyal’ tanpa sadar.”

Anak-anak makin canggih buka aplikasi, tapi kadang belum cukup kuat pas harus menyaring konten. Perempuan makin vokal di medsos, tapi juga makin sering jadi sasaran kekerasan berbasis gender online (KBGO).

“Kita tuh kayak lagi main sepak bola, tapi lapangannya penuh ranjau,” celetuk Mela dari Hikmahbudhi.
“Betul. Dan sekarang kita harus jadi wasit, pelatih, sekaligus pemainnya,” tambah Siska dari PMKRI yang sejak tadi rajin nyatet poin penting pakai iPad mininya.

Tak mau berhenti di kata-kata manis, pertemuan itu menyulap idealisme jadi aksi. Ada rencana bikin pelatihan relawan literasi digital, penyuluhan ke sekolah, sampai buka kanal pelaporan KBGO yang gampang diakses.

Bu Meutya menyambut dengan senyum yang soft power banget. “Kami siap bantu fasilitasi. Kartini hari ini ya kalian semua. Dan ini bukan cuma urusan perempuan, tapi masa depan bangsa.”

Seketika ruangan itu terasa seperti panggung sejarah baru. Tapi kali ini bukan dengan lampu minyak dan surat kaligrafi, melainkan dengan WiFi stabil dan niat kolaborasi.

Kartini tidak pernah tahu apa itu TikTok, apalagi VPN. Tapi ia paham satu hal perjuangan perempuan harus terus relevan. Dan kini, relevansi itu hadir dalam bentuk keberanian perempuan muda masuk ke dunia digital dengan misi mulia membuatnya aman, sehat, dan suportif.

Kalau dulu perjuangan perempuan harus menembus tembok adat dan dominasi laki-laki, sekarang tembok itu bernama algoritma, filter bubble, dan hate speech. Tapi semangatnya sama jangan sampai generasi kita, apalagi anak-anak, tumbuh di ruang yang penuh toksisitas digital.

Kartini mungkin tak menyangka bahwa 145 tahun setelah ia lahir, akan ada sekelompok perempuan dengan hoodie bertuliskan “Sisters Online, Strong Offline” datang ke kantor kementerian.

Kartini masa kini bukan cuma duduk manis di ruang tamu sambil nonton sinetron. Dia bisa rapat di Zoom jam 10, edukasi literasi digital jam 12, dan lapor akun palsu jam 3 sore. Jangan sampai Kartini cuma jadi nama jalan macet atau patung yang dilirik waktu macet di lampu merah.

Sekarang, Kartini hidup di tiap jempol perempuan yang berani bersuara, dari story Instagram sampai forum RT. Perjuangannya? Sudah ganti format dari tulisan tangan ke Google Docs, tapi isinya masih sama bikin dunia lebih adil dan aman buat semua.
Namun semangatnya tetap  emak-emak bisa jadi garda depan revolusi digital.[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Resep Malbi Palembang Asli, Daging Empuk, Gurih, Harum, Bumbunya Meresap Sampai ke Dalam

    Resep Malbi Palembang Asli, Daging Empuk, Gurih, Harum, Bumbunya Meresap Sampai ke Dalam

    • calendar_month Jumat, 14 Agt 2026
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 37
    • 0Komentar

    SUMSELTERKINI.CO.ID – Resep malbi Palembang asli pasti punya cara sendiri untuk membuat sepiring nasi terasa jauh lebih istimewa. Daging sapi yang dimasak perlahan bersama rempah, kecap manis, bawang, dan bumbu khas menghasilkan rasa gurih-manis yang pekat, aroma harum yang menggoda perut, dan bikin lidah ingin pencicipinya, ditambah dengan tekstur daging empuk yang mudah dikunyah, menjadi […]

  • Pengusaha  Empek-empak Harus Berterima Kasih Kepada Gubernur, Alasannya?

    Pengusaha  Empek-empak Harus Berterima Kasih Kepada Gubernur, Alasannya?

    • calendar_month Rabu, 7 Nov 2018
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.055
    • 0Komentar

    SUMSELTERKINI.CO.ID, PALEMBANG – “Mengajak Bapak- Ibu yang datang dari seluruh Indonesia meyakinkan bahwa kalau beli pempek di Palembang ini pasti asli. Saya harap jangan satu kilo belinya, belilah dua atau tiga kilo, ini manejemen pempek Palembang ini dalam komunikasi. Jangan lupa meskipun bercanda, ini manajemen saya bahwa pempek itu harus dibawa sebanyak-banyaknya,” jelas Gubernur Sumatera […]

  • Audiensi Dirut Pusri dengan Gub.Sumsel, ini yang dipaparkan, Asa HD salah satunya terkait

    Audiensi Dirut Pusri dengan Gub.Sumsel, ini yang dipaparkan, Asa HD salah satunya terkait

    • calendar_month Rabu, 5 Mar 2025
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 976
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, – Gubernur Sumsel H. Herman Deru menerima audiensi Direktur Utama (Dirut) PT. Pupuk Sriwijaya (Pusri) Daconi Khotob beserta jajaran di Ruang Kerjanya (Rabu, 5/3/2025). Selain bersilaturahmi, pertemuan tersebut juga membahas soal progres pembangunan Pabrik Pusri III-B. Terkait soal pendangkalan Sungai Musi yang kerap dikeluhkan selama ini, menurut HD sebenarnya dirinya telah lama mengupayakan solusi. […]

  • Kapan Kita Harus Diimunisasi?

    Kapan Kita Harus Diimunisasi?

    • calendar_month Minggu, 22 Nov 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 5.771
    • 0Komentar

    IMUNISASI sebagai bagian dari upaya pencegahan kesakitan dan infeksi penyakit menular, tidak hanya dilakukan pada anak, tetapi juga pada orang dewasa dan lansia. Jadwal imunisasi sudah ditentukan berdasarkan kelompok umur dan frekuensi pemberian dengan mempertimbangkan efektivitas dan keamanan dari vaksin yang akan diberikan. Frekuensi pemberian ada yang cukup satu kali, maupun lebih dari satu kali […]

  • Kurir Sabu 8 Kilogram Dituntut 20 Tahun Penjara

    Kurir Sabu 8 Kilogram Dituntut 20 Tahun Penjara

    • calendar_month Rabu, 4 Mar 2020
    • account_circle Yosep Indra Praja
    • visibility 980
    • 0Komentar

    JAKSA Penuntut Umum (JPU) Imam Murtadlo SH, menuntut Oktomi Yumzen terdakwa 8 kilo sabu dengan pidana penjara selama 20 tahun penjara. selain itu, JPU juga menjatuhkan denda Rp 1 miliar subsider 6 bulan kurungan. Dalam persidangan yang berlangsung di Pengadilan Negeri (PN) Kls 1 A Khusus Palembang, Rabu (4/3). ” Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan […]

  • Sebut Ponpes Sebagai Pengembangan Nilai Moral yang Baik Untuk Generasi Muda & Mampu Jaga Kemurnian Al-Qur’an, Berakhlak, Berbudi Pekerti, Cerdas, Berkualitas, Maju Sejahtera, Wabup Muba : Semoga Hasilkan Hafidz -Hafidzah Al-Qur’an

    Sebut Ponpes Sebagai Pengembangan Nilai Moral yang Baik Untuk Generasi Muda & Mampu Jaga Kemurnian Al-Qur’an, Berakhlak, Berbudi Pekerti, Cerdas, Berkualitas, Maju Sejahtera, Wabup Muba : Semoga Hasilkan Hafidz -Hafidzah Al-Qur’an

    • calendar_month Senin, 14 Jun 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 3.303
    • 0Komentar

    WAKIL Bupati Musi Banyuasin Beni Hernedi menghadiri dan sekaligus melakukan peletakan batu pertama pembangunan Pondok Pesantren Darul Qur’an Al-Madani di Dusun II Desa Pangkalan Jaya Kecamatan Babat Toman, Sabtu (12/6/2021). Dalam sambutannya Beni mengatakan pondok pesantren ini bisa menjadi wadah keberkahan bukan hanya bagi para santri-santri tau juga untuk Kabupaten Muba kedepan. “Pemerintah Kabupaten Muba […]

expand_less
WordPress Archive Entox – Car Rental Marketplace Elementor Template Kit Entox – Rental Marketplace WordPress Theme Entré – Interior Design WordPress Theme Entrepreneur – Booking for Small Businesses Entrepreneur – Booking for Small Businesses WordPress Theme EnvArch – Architecture & Single Property Elementor Template Kit Envato Market Affiliate Forms for Elementor Envira Gallery – Albums Addon Envira Gallery | Breadcrumbs Addon Envira Gallery | CSS Addon