Sejak 1950 Jadi Rumah Orang Aceh di Perantauan, Taman Iskandar Muda Kini Buka Jalan bagi Talenta Muda
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 17 menit yang lalu
- visibility 5
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : ekrag.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Sejak berdiri pada 24 Agustus 1950, Taman Iskandar Muda menjadi wadah yang menyatukan masyarakat Aceh di perantauan. Kini, organisasi tersebut didorong membuka ruang yang lebih besar bagi generasi muda untuk mengembangkan potensi, gagasan, dan talenta mereka.
Pesan itu disampaikan Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) Teuku Riefky Harsya saat membuka Musyawarah Besar (Mubes) XXI Taman Iskandar Muda di Aula Masjid Baiturrahman, Kompleks DPR/MPR RI, Jakarta, Sabtu (22/8/2026).
Teuku Riefky menilai, Taman Iskandar Muda memiliki modal sosial yang kuat karena selama puluhan tahun menjadi tempat masyarakat Aceh di perantauan menjaga hubungan, identitas, dan kepedulian terhadap daerah asal.
Namun, menurut dia, kekuatan tersebut perlu diteruskan kepada generasi berikutnya dengan cara yang lebih sesuai dengan perkembangan zaman.
“Ke depan, Taman Iskandar Muda akan semakin kuat, inklusif, dan dekat dengan generasi muda sehingga bukan hanya menjadi tempat berkumpul dan mempererat silaturahmi, tetapi juga menjadi ruang untuk bertukar pikiran, mengembangkan potensi, serta melahirkan gagasan-gagasan baru yang bermanfaat bagi masyarakat Aceh,” kata Teuku Riefky.
Ia mengatakan regenerasi menjadi bagian penting agar Taman Iskandar Muda tetap memiliki peran di tengah perubahan generasi masyarakat Aceh di perantauan.
Ruang tersebut, lanjutnya, dapat menjadi tempat bagi anak-anak muda Aceh untuk tumbuh, berkreasi, berinovasi, sekaligus membangun jejaring yang dapat membawa manfaat lebih luas.
“Tugas kita bukan hanya menjaga apa yang telah diwariskan oleh generasi sebelumnya, tetapi juga membuka ruang seluas-luasnya bagi generasi muda untuk tumbuh, berkreasi, berinovasi, dan berani bermimpi besar,” ujarnya.
Potensi Talenta Muda Aceh
Perhatian terhadap generasi muda tidak lepas dari besarnya potensi yang dimiliki anak-anak muda Aceh. Teuku Riefky menyebut generasi tersebut memiliki peluang untuk mengambil peran dalam berbagai bidang, termasuk dunia usaha, kepemimpinan, pendidikan, politik, hingga ekonomi kreatif.
Ia melihat talenta-talenta muda Aceh dapat menjadi bagian penting dalam membawa nama Aceh lebih jauh, tidak hanya di tingkat nasional tetapi juga ke panggung internasional.
Oleh karena itu, keberadaan organisasi masyarakat Aceh di perantauan menurutnya dapat diarahkan menjadi bagian dari ekosistem yang mempertemukan generasi muda dengan pengalaman, jejaring, dan kesempatan baru.
“Di antara generasi muda Aceh saat ini terdapat calon pengusaha, pemimpin daerah, politisi, cendekiawan, serta talenta-talenta kreatif yang berpotensi membawa nama Aceh semakin membanggakan di tingkat nasional maupun dunia,” kata Teuku Riefky.
Mubes XXI Taman Iskandar Muda yang dihadiri sekitar 350 peserta menjadi salah satu momentum untuk membicarakan arah organisasi ke depan. Forum tersebut tidak hanya membahas keberlanjutan organisasi, tetapi juga menjadi ruang pemilihan Ketua Umum Pengurus Pusat Taman Iskandar Muda periode 2026-2030.
Tema yang diangkat dalam Mubes kali ini adalah “Memperkuat Transformasi dan Kolaborasi Masyarakat Aceh di Perantauan Menuju Taman Iskandar Muda yang Modern, Bermanfaat, dan Berkelanjutan”.
Tema tersebut menempatkan transformasi dan kolaborasi sebagai bagian dari upaya membawa organisasi menghadapi kebutuhan masyarakat Aceh di perantauan yang terus berubah.
Menjaga Identitas, Mengikuti Perubahan
Taman Iskandar Muda didirikan dengan semangat mempersatukan masyarakat Aceh di perantauan. Dalam perjalanannya, organisasi ini menjalankan berbagai kegiatan sosial, pendidikan, keagamaan, dan kemasyarakatan.
Teuku Riefky menilai warisan tersebut tetap penting untuk dipertahankan. Namun, keberlanjutan organisasi juga membutuhkan keterlibatan generasi baru agar hubungan antara masyarakat Aceh di perantauan dengan daerah asal tetap hidup.
“Taman Iskandar Muda bukan sekadar paguyuban. Di dalamnya ada sejarah, persaudaraan, kenangan tentang tanah leluhur, semangat menjaga marwah, dan yang paling penting ikatan batin sesama Aceh di perantauan,” ujarnya.
Ia berharap Taman Iskandar Muda terus menjadi jembatan antara Aceh dan daerah lain, khususnya Jakarta, sekaligus menjadi ruang bersama yang terbuka bagi generasi muda.
Ketua Umum Taman Iskandar Muda periode 2022-2026, Muslim Armas, juga berharap Mubes XXI menghasilkan gagasan yang memberikan manfaat bagi masyarakat Aceh maupun masyarakat Indonesia.
“Mudah-mudahan kita selalu guyub, bersatu, kompak, dan solid untuk kebaikan bagi bangsa dan negara,” kata Muslim.
Mubes XXI turut dihadiri Anggota Komisi III DPR RI Nasir Djamil serta sejumlah pengurus dan tokoh masyarakat Aceh, di antaranya Ketua Dewan Penasehat Surya Darma, Ketua Majelis Mufakat Sulaiman AB, Ketua Panitia Pelaksana Mubes Sanusi Hasyim, dan Sekretaris Panitia Mawardi A. Gani.
Menteri Ekraf Teuku Riefky Harsya hadir didampingi Direktur Pengembangan Fasilitas Kekayaan Intelektual Muhammad Fauzy dan Direktur Fasilitasi Infrastruktur Fahmy Akmal.
Bagi Taman Iskandar Muda, perjalanan sejak 1950 kini memasuki momentum baru. Identitas dan persaudaraan masyarakat Aceh tetap menjadi fondasi, sementara generasi muda diharapkan mengisi ruang berikutnya dengan gagasan, kreativitas, dan kontribusi yang lebih luas. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
