SAAT dunia sibuk perang dagang, wong Palembang tetap sibuk jualan pempek, kalimat itu mungkin terdengar seperti gurauan, tapi denyutnya terasa nyata di sudut-sudut dan pinggiran kota Palembang, termasuk di kawasan 3-4 Ulu, Seberang Ulu I.
Di sana, asap dapur UMKM Pempek dan Kelempang Rizkyanti tetap mengepul, seolah tak terlalu peduli pada riuh rendah isu geopolitik yang kerap bikin pasar global berdebar.
Baru-baru ini, suasana dapur itu sedikit berbeda, ada tamu penting yang datang, siapa lagi kalau bukan Wakil Menteri Perdagangan Republik Indonesia, Dyah Roro Esti Widya Putri.
Bersama jajaran Pemerintah Kota Palembang, ia melakukan kunjungan bahkan menjadi semacam jembatan antara kebijakan pusat dan realitas di lapangan.
Di sela aktivitas produksi, Wamen Perdagangan melihat langsung bagaimana pempek dibuat, dari adonan ikan dan sagu, proses pengulenan, hingga akhirnya tersaji hangat.
Ia juga mencicipi hasilnya, sebuah simbol sederhana bahwa kebijakan ekonomi pada akhirnya harus bermuara pada rasa yang bisa dinikmati, bukan sekadar angka yang dilaporkan.
Kunjungan ini, menurut Dyah Roro Esti, bukan hanya seremoni sebab pemerintah pusat, katanya, ingin memastikan UMKM benar-benar mendapat dukungan konkret agar bisa naik kelas. Salah satu bentuknya adalah membuka akses pasar yang lebih luas, termasuk ke ritel modern.
Langkah itu sudah mulai terlihat, salah satunya produk UMKM yang dikunjungi, kini difasilitasi agar bisa masuk ke jaringan ritel seperti Alfamart.
Bagi pelaku usaha kecil sendiri, hal ini bukan hanya tambahan etalase, melainkan pintu masuk ke ekosistem perdagangan yang lebih besar dengan standar kualitas, kemasan, hingga konsistensi produksi yang lebih ketat.
Namun, dibalik kabar baik itu, ada cerita lain yang tak selalu muncul ke permukaan, seperti masuk ke ritel modern bukan perkara mudah. Ada standar yang harus dipenuhi, biaya yang harus disiapkan, hingga kemampuan menjaga pasokan secara berkelanjutan sehingga di soal inilah banyak UMKM sering kali mulai terseok. Pemerintah memang hadir, tapi pelaku usaha juga dituntut berlari lebih kencang.
Realita Lapangan
Di sinilah menariknya melihat UMKM Palembang, mereka seperti sudah terbiasa hidup dalam dua dunia, satu kaki berpijak di tradisi, satu lagi mencoba menapak di sistem modern.
Oleh karena itu perlu menjaga resep turun-menurun, selain itu tuntutan pasar memaksa mereka beradaptasi, dari kemasan yang lebih menarik hingga strategi pemasaran digital.
Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setda Kota Palembang, Isnaini Madani, menambahkan kondisi ekonomi kota saat ini relatif stabil. Bahkan, geliatnya terlihat cukup kuat meski dunia sedang tidak baik-baik saja.
Indikasinya bisa dilihat dari hal sederhana, keramaian warga, uji coba Car Free Night di kawasan Sudirman, misalnya, bukan hanya jadi ruang rekreasi, tapi juga pasar dadakan yang menghidupkan roda ekonomi. Orang datang untuk olahraga, tapi pulangnya sambil bawa belanjaan.
Di situlah, UMKM kembali menunjukkan daya tahannya, mereka tidak menunggu pasar datang tetapi mereka mendatangi pasar.
Meski begitu, tantangan tetap ada, sebab isu global seperti kenaikan harga bahan baku, fluktuasi nilai tukar, hingga perubahan pola konsumsi pelan-pelan ikut terasa dampaknya.
Mungkin tidak langsung menghantam, tapi cukup untuk membuat pelaku usaha harus berpikir dua kali sebelum mengambil keputusan.
Oleh sebab itu, perlu dukungan pemerintah yang lebih bukan saja akses pasar.
Selain itu, pendampingan berkelanjutan, kemudahan perizinan, hingga stabilitas harga bahan baku menjadi faktor yang tak kalah penting. Tanpa itu, naik kelas bisa menjadi hanya slogan yang sulit dicapai.
Namun, di tengah segala keterbatasan, ada satu hal yang tidak berubah, yaitu semangat bertahan. UMKM Palembang sudah terlalu akrab dengan naik-turun keadaan, dari krisis ekonomi, pandemi, hingga sekarang terkait bayang-bayang ketidakpastian global dan semua itu pernah mereka lalui.
Mungkin karena itu, mereka tidak mudah panik, selama dapur masih bisa menyala dan pembeli masih datang, roda usaha harus terus berputar. Soal geopolitik, biarlah jadi urusan para pemimpin dunia.
Di tingkat bawah, yang penting adalah bagaimana hari ini bisa tetap jualan, besok masih bisa produksi, dan lusa tetap punya pelanggan.
Kunjungan Wamen Perdagangan pada akhirnya, menjadi pengingat ada jarak yang harus terus dijembatani.
Antara kebijakan dan kebutuhan, antara harapan dan kenyataan, dan di tengah semua itu, pempek tetap digoreng, adonan tetap diuleni, dan transaksi tetap terjadi masyarakat dari kalangan bawah dan tas tetap menikmatinya, karena di Palembang, ekonomi tidak selalu bicara besar, ekonomi cukup hadir dalam satu piring pempek dan cuka untuk menghidupi banyak orang. (***)