PERTUMBUHAN ekonomi Sumatera Selatan yang mencapai 5,35 persen secara tahunan (year-on-year) menjadi sinyal positif di tengah dinamika ekonomi nasional dan global.
Di saat yang sama, munculnya gerakan ‘Sultan Muda’ dengan 9.008 anak muda yang aktif dalam dunia usaha dan ekspor memunculkan pertanyaan yang relevan, apakah akselerasi ekonomi ini memiliki keterkaitan nyata dengan geliat wirausaha muda, atau hanya berjalan beriringan sebagai dua fenomena yang belum sepenuhnya terhubung secara struktural.
Gubernur Sumatera Selatan H. Herman Deru dalam arahannya saat membuka kegiatan Sultan Muda XporA 2026 kemarin menegaskan peran generasi muda sangat penting dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi daerah.
Ia menekankan pola pikir menjadi kunci utama, anak muda seharusnya mampu memposisikan usaha bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan sebagai bagian dari passion agar muncul upaya ekstra dalam mengembangkan bisnis.
Apalagi pertumbuhan ekonomi 5,35 persen bukan hanya angka dalam statistik, tetapi peluang yang harus dimanfaatkan secara maksimal oleh generasi muda.
Pernyataan tersebut memperlihatkan adanya optimisme pemerintah daerah gerakan kewirausahaan muda dapat menjadi salah satu motor penggerak ekonomi, jumlah 9.008 Sultan Muda yang tercatat menunjukkan basis pelaku usaha baru yang cukup besar.
Jika dikelola dengan baik, tentu kelompok ini berpotensi memperluas basis produksi, membuka lapangan kerja, serta meningkatkan nilai tambah melalui aktivitas ekspor.
Namun demikian, penting untuk melihat lebih dalam apakah kontribusi tersebut sudah terukur secara konkret. Hingga saat ini, belum ada pemaparan rinci mengenai seberapa besar kontribusi langsung para Sultan Muda terhadap indikator makro ekonomi seperti Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), ekspor daerah, maupun penyerapan tenaga kerja.
Tanpa data yang terukur, klaim gerakan ini menjadi mesin baru ekonomi masih berada pada tahap potensi, belum sepenuhnya terbukti sebagai faktor dominan.
Sementara itu, Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sumatera Selatan, Arifin Susanto, menerangkan komitmen lembaganya dalam mendukung pengembangan Sultan Muda.
Dukungan tersebut mencakup peningkatan literasi keuangan hingga integrasi sistem pembayaran digital melalui e-money.
Jika ekosistem ini, jelasnya terus tumbuh secara konsisten, dampaknya akan sangat besar terhadap pembangunan ekonomi daerah.
Namun pendekatan dilakukan tidak hanya berhenti pada pembentukan komunitas, tetapi juga menyentuh aspek fundamental seperti akses keuangan dan digitalisasi.
Sebab dua faktor ini memang menjadi prasyarat penting dalam pengembangan usaha modern, terutama bagi pelaku usaha muda yang ingin menembus pasar ekspor.
Perlu pendampingan
Meski demikian, tantangannya tetap ada, salah satu isu yang perlu diperhatikan adalah kualitas dari para pelaku usaha itu sendiri.
Kuantitas 9.008 anggota merupakan capaian yang signifikan, tetapi keberhasilan program tidak hanya ditentukan dengan jumlah, melainkan keberlanjutan usaha, daya saing produk, serta kemampuan menembus pasar global secara konsisten.
Oleh karena itu, tanpa pendampingan yang berkelanjutan, tidak semua pelaku usaha baru mampu bertahan dalam jangka panjang.
Selain itu, aspek hilirisasi dan standar ekspor juga menjadi tantangan tersendiri, pasalnya banyak pelaku usaha muda yang masih berada pada tahap produksi dasar dan belum sepenuhnya memenuhi standar internasional, baik dari sisi kualitas, kemasan, maupun sertifikasi.
Jika hal ini tidak segera diatasi, potensi ekspor yang diharapkan dari gerakan Sultan Muda bisa terhambat.
Maka, setidaknya peran pemerintah daerah dan OJK menjadi sangat strategis, tidak saja dalam hal memfasilitasi, tetapi juga dapat memastikan adanya sistem pembinaan yang berstruktur. Program pelatihan, akses pembiayaan yang inklusif, serta pendampingan teknis untuk ekspor perlu diperkuat agar para pelaku usaha muda tidak hanya lahir, tetapi juga tumbuh dan bertahan.
Penting juga untuk membangun mekanisme evaluasi yang transparan dan berbasis data, sebab dengan adanya indikator yang jelas, kontribusi Sultan Muda terhadap ekonomi daerah dapat diukur secara objektif.
Hal ini tentu tidak hanya meningkatkan kredibilitas program, tetapi juga menjadi dasar perumusan kebijakan yang lebih tepat sasaran di masa mendatang.
Pertumbuhan ekonomi 5,35 persen yang dicapai Sumatera Selatan sejatinya merupakan hasil dari berbagai faktor, termasuk sektor unggulan seperti pertanian, pertambangan, dan industri pengolahan.
Oleh karena itu, mengaitkan secara langsung angka tersebut dengan satu program tertentu perlu dilakukan secara hati-hati dan proporsional. Namun demikian, tidak dapat dipungkiri gerakan kewirausahaan muda memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu pilar baru dalam struktur ekonomi daerah.
Dengan demikian, Sultan Muda dapat dipandang sebagai investasi jangka panjang dalam pembangunan ekonomi. Jika ekosistemnya terus diperkuat dan didukung kebijakan yang konsisten, bukan tidak mungkin dalam beberapa tahun ke depan kontribusinya akan semakin nyata dan terukur.
Jadi, pertumbuhan ekonomi Sumatera Selatan saat ini memang memberikan ruang optimisme, dan kehadiran 9.008 Sultan Muda menjadi modal sosial yang sangat berharga.
Namun, untuk menjadikannya sebagai mesin baru ekonomi, diperlukan langkah lanjutan yang lebih konkret, terukur, dan berkelanjutan.
Pendekatan yang seimbang antara optimisme dan evaluasi menjadi kunci agar program ini tidak hanya menjadi simbol, tetapi benar-benar menjadi penggerak ekonomi daerah di masa depan. (***)