Kamis, 15 Okt 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Features » Pusri & Kopi Tebat Benawa, Cerita Kopi dari Lereng Dempo

Pusri & Kopi Tebat Benawa, Cerita Kopi dari Lereng Dempo

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Rabu, 22 Apr 2026
  • visibility 79
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Di KAKI Gunung Dempo, Pagar Alam, Sumatera Selatan, kopi bukan hanya  tanaman perkebunan, kopi sudah lama menjadi bagian dari kehidupan petani di sana bahkan menjadi sumber kehidupan, bahkan sekaligus sebagai identitas wilayah.

Dari sanalah Program Kopi Tebat Benawa hadir, sebuah inisiatif Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Pusri yang mencoba merangkai satu hal penting, bagaimana pertanian bisa tetap produktif tanpa meninggalkan alam dan petaninya.

Program ini tidak berdiri di atas konsep yang rumit, program  tumbuh dari praktik yang sederhana tapi berdampak serta yang mendampingi petani kopi di Desa Tebat Benawa untuk mengelola kebun dengan pendekatan agroforestri.

Di satu lahan, kopi tidak berdiri sendiri, kopi tumbuh berdampingan dengan pohon pelindung seperti petai, jengkol, dan tanaman buah lain. Pola ini bukan hanya mempercantik lanskap, tapi juga menjaga tanah tetap subur dan mengurangi risiko erosi di wilayah perbukitan.

VP TJSL Pusri, Rahmawati, menerangkan program ini memang dirancang untuk memberi dampak yang bisa dirasakan langsung oleh masyarakat (petani).

Menurutnya, Kopi Tebat Benawa menjadi salah satu program unggulan TJSL, karena menyentuh tiga aspek sekaligus, yaitu ekonomi, sosial, dan lingkungan.

Harapannya, setidaknya program ini tidak berhenti sebagai proyek jangka pendek, tetapi berkembang menjadi praktik yang berkelanjutan.

Dari sisi budidaya juga, perubahan  dilakukan juga cukup mendasar, pasalnya petani mulai dikenalkan dengan metode petik merah, yakni memanen buah kopi yang sudah matang sempurna.

Cara ini sederhana, tapi efeknya besar terhadap kualitas rasa kopi yang dihasilkan, dengan proses pascapanen yang lebih terkontrol, kopi dari Tebat Benawa mulai memiliki karakter yang lebih konsisten dan bernilai jual lebih baik.

Namun, yang menarik dari program ini bukan hanya soal kualitas produk, ada proses sosial yang ikut bergerak pula.

Bahkan, petani yang sebelumnya bekerja secara individu mulai terorganisir dalam kelompok tani. Hal ini dinilai penting karena dalam pertanian rakyat, biasanya posisi tawar petani sering lemah karena rantai distribusi yang panjang.

Oleh sebab itu, dengan kelompok yang lebih solid, petani punya ruang untuk bernegosiasi yang lebih kuat dan tidak sepenuhnya bergantung pada tengkulak atau jalur distribusi tradisional.

Dari sisi lingkungan, setidaknya pendekatan yang digunakan juga mencoba menutup siklus produksi.

Bahkan limbah kulit kopi yang sebelumnya tidak termanfaatkan kini diolah menjadi kompos, disamping itu pengolahan juga diintegrasikan dengan penggunaan pupuk NPK Kopi yang juga merupakan produk Pusri.

Circular economy

Pendekatan ini menjadi contoh sederhana dari konsep circular economy di tingkat petani, artinya apa yang keluar dari kebun, kembali lagi ke kebun.

Meski demikian, tentu di balik semua capaian itu, ada satu hal yang sering luput dibicarakan dalam program-program seperti ini, yaitu proses adaptasi, sebab perubahan pola tanam, cara panen, hingga pengolahan tidak terjadi dalam satu malam.

Petani perlu waktu untuk menyesuaikan diri, sekaligus membuktikan  praktik baru ini benar-benar memberi manfaat yang lebih baik dibanding cara lama.

Sehingga  tahap itu, peran pendampingan menjadi penting, dan program seperti Kopi Tebat Benawa tidak hanya soal bantuan teknis, tetapi juga proses belajar bersama. Petani bukan cuma sebagai objek penerima program, tetapi sebaliknya bagian dari proses perubahan itu sendiri.

Dari kaki Dempo, cerita ini pelan-pelan menunjukkan satu hal sederhana namun penting, yaitu bagaimana keberlanjutan tidak lahir dari slogan, tetapi dari praktik kecil yang konsisten.

Dari cara petani memilih buah kopi, dari cara mereka mengelola tanah, hingga dari cara mereka membangun kebersamaan dalam kelompok.

Kopi Tebat Benawa mungkin hanya satu titik kecil di peta perkebunan Indonesia.

Namun kesederhaaan itu, ada pemahaman lebih luas bahwa pertanian masa depan bukan saja soal produksi, tetapi tentang bagaimana manusia, ekonomi, dan alam bisa tetap berjalan berdampingan tanpa saling mengorbankan.

Oleh karena itu di tengah perjalanannya, Pusri hadir bukan sebagai pusat cerita, tetapi sebagai bagian dari proses yang mencoba memastikan perubahan bisa tumbuh, pelan tapi pasti, dari akar yang paling dasar tanah dan petaninya. (***)

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pagi-pagi Buta Walikota Blusukan di Daerah Lunjuk Jaya, 2 Masalah Ini Biasa Jadi Penyebab Keluhan Warganya, Nah yang Satu Ini JugaTetap Jadi Perhatian!

    Pagi-pagi Buta Walikota Blusukan di Daerah Lunjuk Jaya, 2 Masalah Ini Biasa Jadi Penyebab Keluhan Warganya, Nah yang Satu Ini JugaTetap Jadi Perhatian!

    • calendar_month Selasa, 12 Okt 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 696
    • 0Komentar

    WALIKOTA Palembang H. Harnojoyo nampaknya tidak merasa lelah untuk terus menanggapi setiap keresahan masyarakat. Seperti yang dilakukannya, di Jalan Lunjuk Jaya Palembang, kemarin. Walikota Palembang menyempatkan diri untuk mendengarkan aspirasi masyarakat Lunjuk Jaya terkait jalan rusak serta kondisi selokan yang kerap kali menjadi penyebab genangan air. “Tadi kita sudah meminta warga setempat untuk langsung melaporkan […]

  • Sumsel Pamerkan Inovasi Pindang Patin Dalam Kemasan Kaleng di Gedung KPK, Bisa Tahan 1 Tahun

    Sumsel Pamerkan Inovasi Pindang Patin Dalam Kemasan Kaleng di Gedung KPK, Bisa Tahan 1 Tahun

    • calendar_month Kamis, 5 Nov 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.090
    • 0Komentar

    INOVASI pengalengan pindang ikan patin yang merupakan makanan khas di Sumsel menjadi bahan presentasi andalan Provinsi Sumsel dalam rangka penilaian dan pemberian penghargaan Innovative Goverment Award (IGA) 2020 gelaran Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) di Gedung Merah Putih, KPK RI, Jakarta,kemarin. Dalam presentasinya ia menjelaskan Potensi Sumber Daya Alam (SDA) di Provinsi Sumsel begitu luar biasa. […]

  • Laporkan 2 Hal Ini, HNU Berkunjung ke KSP

    Laporkan 2 Hal Ini, HNU Berkunjung ke KSP

    • calendar_month Kamis, 24 Jun 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.632
    • 0Komentar

    BERTEMPAT di Kantor Staf Presiden (KSP) Republik Indonesia di Jakarta, Kamis (24/6/2021), Kepala KSP Jenderal Purnawirawan Dr. Moeldoko menerima silaturahmi Penjabat (Pj.) Bupati Muara Enim Dr. Nasrun Umar, SH, MM. Pada kesempatan ini Pj. Bupati hadir didampingi Asisten II Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Muara Enim Riswandar, SH, MH, Staf Ahli Pemkab Muara Enim bidang ekonomi dan […]

  • Bupati Muba Beri Kuliah Umum Pelepasan Mahasantri Penerima Beasiswa Luar Negeri

    Bupati Muba Beri Kuliah Umum Pelepasan Mahasantri Penerima Beasiswa Luar Negeri

    • calendar_month Senin, 8 Mar 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 842
    • 0Komentar

    BUPATI Muba Dodi Reza Alex mendapat kesempatan memberikan kuliah umum bertajuk Pelepasan Mahasantri Penerima Beasiswa Universitas Luar Negeri Program Mujahadah Pembibitan Kader Ulama Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah Indralaya  di Aula Pondok Pesantren Al – Ittifaqiah Indralaya,Ogan Ilir. Turut didampingi Kepala Bappeda Drs Iskandar Syahrianto MSi, Kadisdikbud Musni Wijaya SSos MSi, Kadinsos Drs Ahmad Nasuhi SH MM, […]

  • Mentan RI Tunjuk Sumsel Jadi Provinsi Pertama Pengekspor Pangan di Indonesia

    Mentan RI Tunjuk Sumsel Jadi Provinsi Pertama Pengekspor Pangan di Indonesia

    • calendar_month Senin, 23 Des 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.421
    • 0Komentar

    MENTERI Pertanian RI, Dr.H. Syahril Yasin Limpo, SH, MH menunjuk Provinsi Sumatera Selatan menjadi provinsi pertama yang mengekspor pangan di Indonesia. “Saya dan Pak Gubernur sudah MoU, kami berkomitmen menjadikan Sumsel sebagai sumber ekspor beras di Indonesia. Mudah-mudahan ini berhasil kebetulan ada anggota DPR, DPD, Dirjen, Bupati dan OPD, punya komitmen sampai dengan camat. Indonesia […]

  • Bedah Rumah Baznas Palembang, Warga IT III Ini Tempati Rumah Yang Layak Huni

    Bedah Rumah Baznas Palembang, Warga IT III Ini Tempati Rumah Yang Layak Huni

    • calendar_month Rabu, 12 Agt 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.474
    • 0Komentar

    RITA, Istri dari Erdilah merasa terharu setelah rumahnya dibedah menjadi rumah layak tinggal, melalui Program bedah rumah Pemerintah Kota bersama Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kota Palembang. Ketua Baznas Kota Palembang, Saim Marhadan, dan Camat Ilir Timur III Palembang, Rusmeidi Saputra melakukan pemotongan pita secara simbolis. Wakil Walikota Palembang, Fitrianti Agustida diwakili oleh Camat Ilir Timur […]

expand_less
WordPress Archive Castx – Superior Podcast WordPress Theme Catalog | Buy Sell / Marketplace Responsive WordPress Theme Catalog Mode for WooCommerce Catana – Fashion & Minimal WooCommerce WordPress Theme Categories Accordion WooCommercre WordPress Plugin Category Merger for WooCommerce Caterico – Catering Services & Restaurant Elementor Template Kit Catlux – Painting & Wallpapering Elementor Template Kit Cavalier – Gaming Studio WordPress Theme + RTL Cavalier – We Sell the Trends. Woocommerce Theme