BUMN

UMK Binaan Pusri Ramai Diborong,Tukang Pijat Ikut Ramai di Sekojo

ist

Efek domino Teras Janantara, picu pergerakan ekonomi lintas usaha

AKTIVITAS ekonomi di kawasan Sekojo, Palembang menunjukkan pola yang berkembang sejak hadirnya Teras Janantara di lingkungan Rumah BUMN Sumatera Selatan. Peningkatan kunjungan ke tenant kuliner tidak hanya berdampak pada penjualan makanan, tetapi juga mendorong pertumbuhan layanan jasa di sekitarnya.

Pengunjung yang datang untuk menikmati kuliner kini cenderung memperpanjang waktu berada di lokasi setelah membeli makanan, sebagian beralih ke layanan lain dalam satu kawasan. Pola ini membentuk pergerakan ekonomi yang saling terhubung antar unit usaha.

Teras Janantara menghadirkan beragam pilihan kuliner dari pelaku Usaha Mikro dan Kecil (UMK) binaan. Menu yang ditawarkan mencakup makanan tradisional hingga produk kekinian, yang mampu menarik berbagai segmen pengunjung, terutama pada sore hingga malam hari.

Lonjakan kunjungan berdampak langsung pada peningkatan transaksi di tenant kuliner. Pelaku UMK mulai merasakan stabilitas penjualan karena adanya arus pengunjung yang lebih konsisten. Kondisi ini juga membuka peluang pembelian tambahan di luar kebutuhan utama.

Dampak tersebut tidak berhenti di sektor kuliner. Layanan pijat yang berada di kawasan yang sama ikut mengalami peningkatan kunjungan. Klinik Pijat Urut ITMI yang dikelola komunitas difabel mencatat pertambahan pengguna layanan seiring ramainya aktivitas di Teras Janantara.

VP TJSL PT Pusri Palembang, Rahmawati, mengatakan  konsep yang dibangun memang diarahkan untuk menciptakan keterhubungan antar pelaku usaha dalam satu ekosistem.

“Yang kami dorong bukan hanya transaksi di satu titik, tetapi bagaimana pengunjung bisa bergerak dari satu layanan ke layanan lain. Di situ terjadi efek ekonomi yang lebih luas,” ujarnya.

Menurutnya, peningkatan kunjungan ke tenant kuliner menjadi pintu masuk bagi tumbuhnya aktivitas usaha lain di kawasan tersebut.

“Kami melihat ada perubahan perilaku pengunjung. Setelah makan, mereka tidak langsung pulang. Ada yang menikmati minuman, ada juga yang memanfaatkan layanan pijat. Ini yang membuat perputaran ekonomi menjadi lebih panjang,” kata dia.

Kedekatan lokasi menjadi faktor utama yang mendorong keterhubungan ini.

Pengunjung tidak perlu berpindah jauh untuk mengakses layanan lain, setelah makan, pilihan untuk beristirahat melalui layanan pijat menjadi alternatif yang mudah dijangkau.

Pengelola kawasan juga mulai mengembangkan integrasi layanan untuk memperkuat pola konsumsi tersebut. Paket kombinasi antara minuman tradisional dan layanan pijat menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan daya tarik kawasan.

Koperasi Saha Karya Sriwijaya sebagai pengelola kawasan berperan dalam menjaga keseimbangan antar pelaku usaha. Sistem koperasi memungkinkan pelaku UMK berbagi ruang dan pasar, sehingga tidak hanya bergantung pada masing-masing tenant.

Selain itu, peningkatan trafik pengunjung turut memberikan dampak pada aktivitas di lingkungan sekitar.

Kawasan yang sebelumnya relatif sepi di luar jam kerja kini mulai hidup hingga malam hari dan menciptakan peluang ekonomi baru.

Rahmawati menambahkan, pendekatan berbasis kolaborasi menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan program.

“Kami optimistis, dengan sinergi yang terbangun, UMK binaan tidak hanya bertahan tetapi juga berkembang dan memiliki daya saing yang lebih kuat,” katanya.

Fenomena ini menunjukkan  pengembangan UMK dapat dilakukan melalui penataan kawasan yang terintegrasi.

Pergerakan pengunjung yang terhubung antarunit usaha menjadi faktor penting dalam menciptakan efek ekonomi berantai yang berkelanjutan. (***)

To Top