Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Industri Kreatif & UKM » Kerajinan Tak Cukup Dirangkai, Harus Diantar Sampai Laku, Jangan Sampai Emak-Emak Kita Kalah Sama Emak-Emak Vietnam!

Kerajinan Tak Cukup Dirangkai, Harus Diantar Sampai Laku, Jangan Sampai Emak-Emak Kita Kalah Sama Emak-Emak Vietnam!

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Senin, 9 Jun 2025
  • visibility 913
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sumselterkini.co.id, – Ada banyak hal yang bisa dipajang di etalase, tapi ingat, sebagus apa pun etalasenya, kalau yang lewat cuma kucing sama cicak, tetap saja dagangan nganggur. Nah, kalau bicara kerajinan dan ekonomi kreatif (ekraf), Sumsel ini sebenarnya wah.., kaya bukan main dari anyaman hingga tenunan, dari batok kelapa sampai limbah sabut.

Tapi seperti pepatah Palembang bilang, “Kalo emas dak diasah, tetap bae serupo batu di pinggir kali”. Maksudnya sebagus apa pun potensi, kalau tidak diasah, dibina, dan ditampilkan dengan benar, tetap tidak akan bernilai di mata pasar.

Ekraf itu bukan soal punya bahan bagus saja, tapi soal bagaimana mengemasnya, mempromosikannya, dan membuatnya laku di pasaran, jangan sampai kita sibuk bikin etalase, tapi lupa bawa pembelinya.

Baru-baru ini, Gubernur Sumsel H. Herman Deru melantik pengurus baru Dekranasda Sumsel 2025–2030. Acaranya mewah, semangatnya menggelegar, isinya sarat motivasi. Tapi ya, jangan hanya gegap gempita di awal. Kalau boleh kita bilang, jangan seperti pesta hajatan yang ramai pas malam resepsi, tapi sepi waktu cuci piring.

Pak Gubernur benar tugas Dekranasda bukan cuma ngopi-ngopi di pameran, tapi ngoprek strategi. Harus bisa bikin perajin bukan cuma bisa bikin bros bunga dari manik-manik, tapi tahu caranya masuk marketplace, tahu cara kirim barang ke luar negeri, tahu cara bertahan di pasar yang makin cerewet ini.

Nah, ini dia selama ini banyak program ekraf di daerah itu cuma sebatas pesan, ajakan, dan pelantikan, tapi tindakan nyatanya kadang kalah cepat dari jemuran kena hujan. Meski belum secara resmi disebut masuk dalam 12 provinsi prioritas pengembangan ekraf oleh pemerintah pusat. Namun demikian, ada pengakuan dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) bahwa Palembang, ibu kota Sumsel memiliki potensi ekraf yang cukup kuat, terutama dalam sektor kuliner (pempek, kemplang, kerupuk).

Yang jelas disebut dalam peta ekraf itu, adalah Sumatera Barat (Sumbar) yang menjadi satu dari 12 provinsi prioritas, masak iya, kita kalah lincah dari Aceh yang sudah punya kampung tenun sampai program “Aceh Creative Economy”? Atau Sumatera Barat yang melesat dengan “Galeri Rendang Dunia”?. Mereka bukan cuma ngelola kerajinan, tapi brand image, packaging, dan sudah ekspor.

Dan kalau bicara contoh emak-emak luar negeri, Vietnam punya kelompok ibu-ibu pengrajin sedotan bambu yang hasilnya diekspor ke Eropa. Di Thailand, ibu-ibu desa Ban Chiang bikin keramik bermotif kuno yang jadi koleksi museum dunia.

Lalu di India, para perempuan Rajasthan memproduksi tekstil block print warna-warni yang jadi langganan butik-butik Eropa. Pemerintah mereka? Jangan tanya. Ada pelatihan, subsidi modal, bahkan akses logistik langsung dari desa ke pelabuhan ekspor. Lah kita? masih bingung mau buat gedung Dekranasda atau pakai tenda biru sebelah pos ronda.

Di Indonesia, contoh sukses ekraf lokal juga banyak, Dari emak-emak di Tasikmalaya yang rajin bikin bordir kelas internasional, ibu-ibu di Bali yang bikin perak dan perhiasan dengan ukiran detail, hingga perajin rajut di Malang yang bahkan pernah jadi bahan liputan media luar negeri. Tapi kuncinya satu pendampingan yang konsisten, bukan hanya datang waktu ada acara seremonial.

Ketua Dekranasda Sumsel, Ibu Hj. Febrita Lustia HD, sudah bilang pentingnya regenerasi perajin dan akses pasar global. Itu sinyal bagus. Tapi kita ingatkan lagi “nasi tak bisa jadi lontong kalau cuma direbus sebentar,” artinya program bagus tak akan jadi hasil kalau cuma semangat sebentar.

Perlu solusi nyata, misalnya bentuk klinik ekraf di setiap kabupaten, lengkap dengan pelatihan rutin dan pendampingan digital marketing, buat jaringan kerja sama dengan Tokopedia, Shopee, hingga Etsy untuk buka toko global, sediakan mobil keliling kerajinan naik kelas yang bawa produk ke pameran nasional. Gandeng SMK dan kampus desain untuk bantu kembangkan branding produk lokal dan buat program sinergi dengan dinas koperasi dan pariwisata, biar kerajinan tak hanya dijual, tapi juga jadi bagian dari paket wisata.

Mengutip Steve Jobs, pendiri Apple Inc., “Innovation distinguishes between a leader and a follower”. [“Inovasi adalah pembeda antara seorang pemimpin dan pengikut”].

Maksudnya, orang atau pihak yang berani menciptakan hal baru, berpikir beda, dan menghadirkan solusi inovatif akan menjadi pemimpin, mereka memimpin perubahan, bukan sekadar mengikuti arus. Dan kata orang Palembang bilang, “Kalau dak becak, dak akan ke tengah pasar”, kalau tidak bergerak, ya jangan harap dapat tempat di tengah keramaian ekonomi global.

Motor penggerak emak-emak

Kita berharap Dekranasda Sumsel ini tidak hanya jadi papan nama berbingkai emas di kantor provinsi, tapi jadi motor penggerak emak-emak desa yang siap ekspor kerajinan ke Milan dan Tokyo, karena ketika emak-emak mulai produktif, ekonomi ikut aktif. Saat perajin naik kelas, daerah bisa ikut melesat. Jangan tunggu acara pelantikan lima tahun lagi baru sadar, bahwa potensi kita sudah kalah start dari yang lain.

Membangun ekonomi kreatif bukan perkara mendirikan stan, memajang kain, atau sekadar melantik pengurus sambil mengangkat tangan kanan di podium ber-AC. Ekraf itu bukan dunia peresmian semata, tapi dunia perjuangan berkeringat di dapur anyaman, berdebu di bengkel batok kelapa, dan berpeluh saat menjual produk di pameran yang pembelinya lebih banyak liat-liat daripada beli-beli. Maka dari itu, dibutuhkan kerja nyata, bukan cuma narasi manis dalam sambutan seremoni.

Kita harus mulai berpikir seperti kutipan Steve Jobs, kalau Sumsel ingin jadi pemimpin dalam peta ekraf nasional, bukan pengikut yang cuma tepuk tangan lihat Sumbar dan Aceh panen apresiasi, maka jalannya cuma satu berinovasi dan bergerak cepat. Bukan nunggu anggaran turun dulu baru mulai kerja, kalau cuma nunggu itu, bisa-bisa nanti kerajinan kita dikira fosil warisan, bukan produk kreatif masa kini.

Kita juga jangan sampai seperti pepatah Palembang, jualan di pasar kalangan, tapi idak nimbang dagangan. Artinya, sudah masuk dunia ekonomi kreatif, tapi tak pernah benar-benar ukur potensi dan evaluasi kualitas. Terjun ke ekraf itu harus tahu siapa target pasarnya, bagaimana selera pasar berubah, dan apa saja yang bisa dilakukan agar produk lokal kita bisa masuk ke pasar global, bahkan kalau perlu ikut tampil di London Fashion Week atau Tokyo Gift Show. Kenapa tidak?

Mari belajar dari negara lain, seperti Jepang, Korea Selatan, bahkan Kenya yang memberi ruang besar bagi emak-emak kreatif di desa. Mereka diberi pelatihan, modal lunak, sampai saluran distribusi. Bahkan di Thailand, pemerintah mendukung komunitas tenun dan kerajinan lewat program khusus bernama OTOP (One Tambon One Product) yang sukses mendongkrak devisa negara. Padahal kemplang kita enak, jumputan kita cantik, dan tangan-tangan emak-emak kita tak kalah lincah kalau diberi ruang berkreasi.

Kalau semuanya bergerak bersama Dekranasda, pemda, koperasi, pelaku industri kecil, dan komunitas kreatif, maka Sumsel bisa benar-benar menjadi rumah besar ekraf, bukan rumah contoh yang cuma dibangun untuk dipamerkan saat tamu datang. Jangan sampai Dekranasda hanya jadi lemari cantik di ruang tamu, indah tapi kosong isinya.

Jangan tunggu nasi jadi bubur, baru mikir lauknyo, jangan tunggu peluang hilang baru kita gerak. Justru sekaranglah saatnya kita rapatkan barisan, siapkan strategi, dan mulai memajukan kerajinan lokal dengan cara kreatif, kolaboratif, dan tidak pamrih. Karena kalau bukan kita yang membanggakan produk sendiri, jangan heran kalau suatu saat nanti anak cucu kita lebih kenal batik Korea daripada songket Palembang. Jadi, ayo gerak!. Jangan cuma rame di seremoni, tapi sepi waktu aksi. Sapu lidi bisa kuat kalau diikat rapat, bukan cuma dijejer buat foto-foto. Saatnya rame dalam aksi, sepi dalam pamrih. Biar Sumsel nantinya tak cuma masuk peta, tapi jadi pusat!, semoga sukses.[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ponpes di Sungai Lilin Kesulitan Air Bersih, Pj Bupati Apriyadi Langsung Kirim Air PDAM

    Ponpes di Sungai Lilin Kesulitan Air Bersih, Pj Bupati Apriyadi Langsung Kirim Air PDAM

    • calendar_month Kamis, 21 Sep 2023
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 962
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, – Mendapatkan laporan kesulitan air bersih di Pondok Pesantren Al-Qur’an Nazzalal Furqun Kecamatan Sungai Lilin, Rabu (20/9/2023) Pj Bupati Apriyadi Mahmud langsung mendistribusikan air PDAM ke Ponpes tersebut. “Kami ucapkan terima kasih kepada bapak Pj Bupati Apriyadi bersama pihak PDAM Tirta Randik yang respon cepat langsung mengirimkan air bersih,” ungkap Pengasuh Ponpes, KH Muhammad […]

  • Pangdam Minta Personel Harus Selalu Siaga Antisipasi Karhutla, Kebakaran Jangan Terulang Lagi

    Pangdam Minta Personel Harus Selalu Siaga Antisipasi Karhutla, Kebakaran Jangan Terulang Lagi

    • calendar_month Rabu, 14 Apr 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 851
    • 0Komentar

    Pangdam II/Swj Mayjen TNI Agus Suhardi mengatakankan, kepada setiap personel yang terlibat dalam pelaksanaan latihan harus siap digerakan setiap saat dalam penanggulangan Karhutlah yang berada di wilayah Provinsi Sumsel. Oleh karena itu pada latihan kali ini, dititik beratkan kepada materi bantuan TNI kepada pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana Karhutla terutama pada pengerahan unsur TNI seperti […]

  • Gaet Swasta, Perikanan Muba Siapkan Bibit Unggulan 

    Gaet Swasta, Perikanan Muba Siapkan Bibit Unggulan 

    • calendar_month Senin, 13 Jul 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 844
    • 0Komentar

    DEMI meningkatkan  ketersediaan bibit ikan lele dan nila  unggul untuk pemenuhan kebutuhan budidaya ikan, Dinas Perikanan Kabupaten Muba menggandeng pihak swasta. Plt Kepala Dinas Perikanan Muba Hendra Tris Tomy, S.STP, M.Dev mengungkapkan, kerjasama dengan pihak swasta dipilih  untuk memenuhi kebutuhan bibit ikan bagi pembudidaya. “Ya kita menggandeng swasta yaitu DHD Farm, dalam mengembangkan bibit lele […]

  • TAWA TAPI TAHU :“Mouse Tanpa Kabel, Kisah Si Tikus Sakti Penakluk Touchpad & Filosofi Hidup Bebas Tanpa Tali Pusar”

    TAWA TAPI TAHU :“Mouse Tanpa Kabel, Kisah Si Tikus Sakti Penakluk Touchpad & Filosofi Hidup Bebas Tanpa Tali Pusar”

    • calendar_month Rabu, 6 Agt 2025
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.048
    • 0Komentar

    MOUSE tanpa kabel laptop, alias wireless mouse, adalah penemuan teknologi yang kelihatan sepele, tapi diam-diam menyelamatkan banyak jari dari tragedi scroll tak berkesudahan. Di tengah dunia per-touchpad-an yang bikin jempol kayak habis nyangkul sawah digital, hadir si tikus sakti ini lincah, ringan, dan tanpa buntut kabel yang menjuntai kayak benang layangan putus. Tapi siapa sangka, […]

  • TKDD dan DIPA Muba Meningkat, Ini Pesan Dodi kepada OPD

    TKDD dan DIPA Muba Meningkat, Ini Pesan Dodi kepada OPD

    • calendar_month Rabu, 19 Des 2018
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 850
    • 0Komentar

    Sekayu – Bupati Musi Banyuasin Dodi Reza Alex Noerdin langsung menyerahkan DIPA dan TKDD ke perangkat daerah di Guest House Griya Bumi Serasan Sekate yang sehari sebelumnya telah diserahkan dari Gubernur Sumsel. Pada Kabupaten Musi Banyuasin menerima 22 DIPA yang diperuntukkan bagi 17 Satker dengan total alokasi anggaran sebesar Rp218 miliar lebih dengan rincian DIPA […]

  • Jalin Silaturahmi, Sekda Sumsel Safari Ramadhan

    Jalin Silaturahmi, Sekda Sumsel Safari Ramadhan

    • calendar_month Rabu, 13 Apr 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 843
    • 0Komentar

    GUBERNUR Sumsel H Herman Deru diwakili Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Sumsel, SA Supriono menggelar sholat Isya dan tarawih berjamaah dalam rangka Bulan Ramadhan 1443 H di Kantor Perwakilam Bank Indonesia (BI), Selasa (12/4). Dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan Sekda, Gubernur Herman Deru  menegaskan,  bulan suci ramadhan tahun ini merupakan bulan suci ramadhan yang penuh barokah […]

expand_less
WordPress Archive Radio Player Shoutcast & Icecast WordPress Plugin Radio Player With Playlist – Shoutcast and Icecast Radius – Business Training WordPress Theme Raint – Digital Agency Elementor Template Kit Ramom School – Multi Branch School Management System Ramsay – Personal CV/Resume WordPress Theme Ranbron – Business and Consulting WordPress Theme Randai Theater Entertainment & Performing Arts Elementor Template Kit Randai – Theater Entertainment & Performing Arts FSE WordPress Theme Rango | Elegant Fashion WooCommerce WordPress Theme