Haji Selesai, Kemabruran Tak Boleh Berhenti, Menhaj Ingatkan Jemaah soal Tanggung Jawab Setelah Pulang
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 43 menit yang lalu
- visibility 5
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : haji.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Perjalanan haji tidak semestinya berakhir ketika jemaah kembali ke tanah air. Justru setelah meninggalkan Tanah Suci, perubahan sikap dan perilaku menjadi bagian penting untuk menunjukkan kemabruran yang diperoleh selama menjalankan ibadah.
Menteri Haji dan Umrah Mochammad Irfan Yusuf mengingatkan jemaah agar pengalaman spiritual selama berhaji tidak berhenti sebagai kenangan. Nilai-nilai yang didapat selama berada di Tanah Suci perlu dibawa ke kehidupan sehari-hari dan memberi manfaat bagi keluarga maupun lingkungan sekitar.
“Haji selesai, tetapi kemabruran tidak boleh selesai. Ukuran haji mabrur bukan hanya apa yang dilakukan di Tanah Suci, melainkan bagaimana kita hidup setelah kembali,” ujar Irfan Yusuf saat menghadiri Doa Syukur dan Pengajian Manasik Jemaah Haji 1447 H serta Jemaah Haji 1448 H di Kabupaten Jombang, Rabu (26/8/2026).
Menurutnya, perubahan itu dapat terlihat dari hal-hal sederhana. Akhlak semakin baik, ibadah yang lebih kuat, serta kepedulian kepada sesama menjadi bagian dari gambaran seorang jemaah yang mampu menjaga kemabrurannya.
Oleh sebab itu, jemaah yang telah menunaikan ibadah haji juga diharapkan tidak menyimpan pengalamannya untuk diri sendiri. Mereka dapat menjadi sumber pembelajaran bagi masyarakat, terutama calon jemaah yang sedang mempersiapkan keberangkatan.
Pengalaman mengenai kondisi di Tanah Suci, pengaturan waktu, menjaga kesehatan, kedisiplinan hingga menjaga kekhusyukan dinilai penting untuk dibagikan kepada calon jemaah haji.
“Jemaah yang sudah berhaji adalah sumber pembelajaran. Ceritakan pengalaman yang sebenarnya, apa yang harus disiapkan, bagaimana menjaga kesehatan, disiplin, dan kekhusyukan selama berada di Tanah Suci,” katanya.
Persiapan Haji 1448 H Tak Perlu Menunggu Dekat Keberangkatan
Pesan mengenai kemabruran juga beriringan dengan persiapan jemaah haji 1448 H yang saat ini masih memiliki waktu cukup panjang sebelum keberangkatan. Irfan meminta calon jemaah menggunakan waktu tersebut untuk mempersiapkan berbagai kebutuhan sejak dini.
Persiapan bukan hanya menyangkut administrasi dan manasik haji. Kondisi fisik serta kesiapan mental juga perlu mendapat perhatian agar jemaah mampu mengikuti seluruh rangkaian ibadah dengan baik.
Salah satu yang ditekankan adalah istithaah kesehatan haji. Calon jemaah diminta tidak menunggu sampai mendekati keberangkatan untuk mulai memperhatikan kondisi tubuh.
Pemeriksaan kesehatan secara berkala, pengendalian penyakit penyerta, menjaga pola makan, cukup beristirahat dan rutin berolahraga menjadi bagian dari persiapan yang perlu dilakukan.
“Pemeriksaan kesehatan bukan penghambat keberangkatan. Justru itulah ikhtiar kita agar jemaah mampu menjalankan seluruh rangkaian ibadah dengan aman, sehat, dan kembali ke tanah air dalam kondisi terbaik,” tegasnya.
Manasik Haji Harus Membekali Jemaah Menghadapi Kondisi Nyata
Persiapan jemaah juga tidak berhenti pada pemahaman tata cara ibadah. Bimbingan manasik diharapkan mampu membuat jemaah lebih mandiri ketika menghadapi situasi nyata di Arab Saudi.
Jemaah perlu memahami pola pergerakan selama berada di Arafah, Muzdalifah dan Mina, termasuk penggunaan transportasi serta mekanisme pelayanan yang tersedia.
Kemampuan tersebut penting karena jutaan jemaah dari berbagai negara menjalankan ibadah dalam waktu dan lokasi yang sama. Dalam kondisi seperti itu, kedisiplinan dan kepatuhan terhadap arahan petugas ikut menentukan keselamatan bersama.
Irfan menilai jemaah yang semakin siap secara fisik, mental dan pengetahuan akan lebih mudah menjalankan ibadah secara tertib.
Tiga Target Besar Penyelenggaraan Haji
Dalam kesempatan tersebut, Menteri Haji dan Umrah kembali menjelaskan arah penyelenggaraan haji Indonesia melalui konsep Tri Sukses Haji.
Sukses pertama adalah sukses ritual, yakni memastikan jemaah dapat menjalankan ibadah secara sah, benar dan tertib hingga mencapai kemabruran.
Target kedua berkaitan dengan ekosistem ekonomi haji. Penyelenggaraan haji diharapkan tidak hanya berorientasi pada pelayanan ibadah, tetapi juga mampu menghadirkan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi umat dan pelaku usaha Indonesia.
Sementara target ketiga adalah sukses keadaban dan peradaban. Haji diharapkan membentuk pribadi yang semakin jujur, disiplin, sabar dan memiliki kepedulian terhadap orang lain.
“Tri Sukses Haji hanya bisa terwujud melalui kolaborasi. Pemerintah, petugas, KBIHU, keluarga, dan jemaah harus berjalan bersama untuk menghadirkan penyelenggaraan haji yang semakin baik,” ujarnya.
Masyarakat juga diminta berhati-hati terhadap tawaran perjalanan ibadah yang tidak sesuai ketentuan. Irfan mengingatkan calon jemaah agar memastikan penyelenggara umrah memiliki izin resmi sebagai PPIU dan tidak mudah tergiur tawaran haji cepat maupun penggunaan visa yang tidak semestinya.
Keberhasilan haji tidak hanya diukur dari selesainya seluruh rangkaian ritual di Tanah Suci. Bagi jemaah yang telah pulang, tantangan berikutnya justru bagaimana nilai ibadah tersebut tetap hidup dalam keseharian dan memberi dampak bagi orang-orang di sekitarnya. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
