Sabtu, 17 Okt 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Haji & Umroh » Di Tengah Haji, Ada Peluh, Pelukan, Pelayanan & Cinta [“Ketika Irjen jadi Ojol di Tanah Suci”]

Di Tengah Haji, Ada Peluh, Pelukan, Pelayanan & Cinta [“Ketika Irjen jadi Ojol di Tanah Suci”]

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Senin, 9 Jun 2025
  • visibility 714
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sumselterkini.co.id, – Di bawah terik mentari Makkah yang menyengat, panasnya bukan kaleng-kaleng, bisa bikin kulit keriput dalam seminggu dan air mata netes tanpa sebab, seorang pria berseragam PPIH berlari kecil menyeberangi jalan. Bukan untuk mengejar bus haji yang salah rute, bukan pula sedang terburu-buru ikut tawaf tambahan, tapi karena di pelukannya, ada seorang jemaah lansia yang tubuhnya lunglai, seperti cucian basah yang lupa diperas. Ia stroke, bingung, dan diturunkan di hotel yang bukan tempatnya menginap.

Pria itu bukan sopir bus, bukan porter hotel, apalagi duta besar. Dia Irjen Kemenag, Khairunas, yang biasanya sibuk dengan laporan dan evaluasi, kini menjelma jadi pelayan kemanusiaan dalam bentuk paling tulus pelukan. Lupakan jabatan, ini bukan soal pangkat, tapi panggilan nurani. Sebab, di tanah suci, kadang pelayanan terbaik bukan soal sistem, melainkan soal siapa yang mau turun tangan, bukan sekadar menunjuk tangan.

“Saya juga lagi sakit, masih minum obat,” katanya. Tapi toh, kalau nurani sudah bicara, rasa lemas pun kalah suara. Seperti petani yang tetap membajak sawah walau bajunya bolong dan air matanya nyangkut di ujung topi.

Ada yang bilang, di Mina dan Jamarat, jemaah haji itu seperti semut dalam parade semangat, sabar, dan saling dorong dalam doa. Tapi urusan logistik, wah, kadang seperti nonton sinetron episode ke-107 sudah ketebak tapi tetap bikin naik darah. Jemaah diturunkan bukan di hotelnya, seperti anak kecil diturunkan di rumah tetangga yang bukan keluarga.

“Ini kelalaian syarikah!” seru Khairunas, sambil mencatat di atas clipboard batinnya. Mungkin dalam hati dia menambahkan kok bisa-bisanya sistem sekompleks haji, masih ngasal naruh orang kayak supir ojek baru di Palembang yang nyasar ke Muara Enim.

Lucunya, ini bukan kejadian satu-dua kali. Padahal, syarikah itu tugasnya membantu, bukan malah bikin jemaah bingung seperti ditinggal rombongan pengajian di halte terminal. Kapan koordinasi berubah jadi teka-teki silang, kami pun tak tahu.

Yang membedakan pemimpin sejati dengan pejabat selfie adalah siapa yang rela berkeringat di barisan terdepan, bukan hanya di barisan foto. Di tengah ribuan jemaah yang letih, orang seperti Khairunas jadi teladan bukan sekadar jadi penonton yang menyalahkan skenario, tapi ikut main di panggung.

Ada banyak petugas haji yang bekerja dalam diam. Mereka siaga di bawah panas, tegak berdiri saat jemaah minta dipapah, dan tetap tersenyum meski kaki sudah pegal seperti habis ikut lomba gerak jalan. Di sinilah haji menemukan makna horizontalnya antara manusia, sesama hamba yang saling menguatkan.

Khairunas memang inspektur, tapi inspektur bukan hanya tugas menginspeksi formulir dan absen. Ia melihat, mencatat, dan merasakan. Ketika syarikah menurunkan jemaah sembarangan, itu bukan cuma salah teknis, tapi bisa berdampak pada nyawa. Maka tak heran, ia ingin itu jadi evaluasi keras, karena kalau pelayanan haji hanya soal tender dan teknis, ya kita tinggal bikin rapat, bukan ibadah.

“Ke depan ini jadi bahan rekomendasi,” katanya tegas, di balik kata rekomendasi, ada suara hati  jangan main-main dengan jemaah yang sudah menjual sawah, nyicil 10 tahun, dan menabung sambil ngojek demi bisa mencium Hajar Aswad sekali seumur hidup.

Panasnya Makkah memang tiada ampun. Ia menyengat kulit, memanaskan ubun-ubun, dan kadang membuat sandal jemaah meleleh seperti es krim ditaruh di knalpot. Tapi justru di tengah suhu yang bisa bikin kompor iri, kita melihat manusia-manusia yang tetap menyalakan lentera nurani.

Kisah Khairunas yang seharusnya duduk tenang mengecek laporan dari balik meja, malah memilih berlari kecil menggendong jemaah stroke seperti bapak menggendong anak pulang dari pasar mengingatkan kita bahwa pelayanan haji bukan tentang prosedur, tapi tentang perasaan. Bukan soal seberapa tinggi jabatan, tapi seberapa dalam empati yang ditanamkan. Pelukan Khairunas pada jemaah lansia bukan hanya adegan menyentuh, tapi simbol  bahwa pelayanan terbaik adalah saat jabatan tunduk pada kemanusiaan.

Tindakan kecil bisa jadi makna besar, satu pelukan bisa jadi selimut sejuk bagi lansia yang bingung. Satu keputusan turun tangan bisa menghangatkan ribuan hati yang merasa diperhatikan. Dan satu evaluasi yang tajam bisa menyelamatkan banyak jemaah dari kekacauan yang sama tahun depan.

Ibadah haji adalah puncak ritual, tapi di baliknya ada puncak pengabdian. Bukan hanya pada Tuhan, tapi juga pada sesama, ketika ada syarikah yang sembrono, menjatuhkan jemaah seperti menurunkan karung beras ke sembarang gudang, di situlah ujian pelayanan muncul.

Kita tak hanya dituntut marah, tapi juga memperbaiki. Tak hanya mencatat salah, tapi menyiapkan solusi, karena bangsa yang kuat bukan bangsa yang bebas dari salah, tapi bangsa yang cepat mengevaluasi dan terus belajar dari peluh sendiri.

Sebagaimana kata Nelson Mandela.”What counts in life is not the mere fact that we have lived. It is what difference we have made to the lives of others that will determine the significance of the life we lead”.
(Yang penting dalam hidup bukan sekadar bahwa kita pernah hidup, tetapi perbedaan apa yang telah kita buat dalam kehidupan orang lain yang menentukan arti dari hidup kita.) – [ pidato Nelson Mandela, 18 Juli 2003, yang didokumentasikan oleh Nelson Mandela Foundation].

Jadi, selama matahari masih menyala di langit Makkah, selama sandal jemaah masih berderap di jalanan Jamarat, selama ada satu petugas yang rela berlari demi satu jemaah yang lemah, maka kita tahu, ibadah ini belum selesai. Sebab ia akan terus hidup, selama masih ada pelayanan yang tulus, peluh yang ikhlas, dan cinta yang tidak pura-pura.

Di bawah langit panas Makkah, kita tak sedang sekadar membantu jemaah, kita sedang belajar arti ibadah  tentang membantu mereka yang rapuh, tentang berlari kecil meski lutut lemah, dan tentang cinta yang tetap asli di tengah peluh suci. Semoga, tahun depan, bus syarikah bisa belajar membedakan hotel, dan semua jemaah bisa turun tepat sasaran, bukan jadi kontestan dadakan acara “Jemaah Tersesat Episode Armuzna”.[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ini Cara Dodi untuk Bantu Peserta Tes CPNS yang Tak Penuhi ‘Passing Grade’, Apa Itu ?

    Ini Cara Dodi untuk Bantu Peserta Tes CPNS yang Tak Penuhi ‘Passing Grade’, Apa Itu ?

    • calendar_month Senin, 12 Nov 2018
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.183
    • 0Komentar

    SUMSELTERKINI.CO.ID, PALEMBANG – Bupati Muba H Dodi Reza Alex menjelaskan sebanyak 2.361 peserta penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) yang telah mengikuti Tes Kompetensi Dasar (TKD) dipastikan tidak memenuhi passing grade yang telah ditentukan. Namun, ia menjelaskan, para peserta tidak usah berkecil hati, ia akan melayangkan surat kepada Kemenpan RB untuk mengajukan tiga opsi bagi […]

  • Fogging massal di OKI, putus mata rantai DBD

    Fogging massal di OKI, putus mata rantai DBD

    • calendar_month Sabtu, 20 Jan 2024
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 813
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, – Penjabat Bupati Ogan Komering Ilir, Ir. Asmar Wijaya, M. Si memimpin langsung pengasapan dan fogging massal untuk pemberantasan sarang nyamuk. Kegiatan fogging massal tersebut dilaksanakan serentak di 33 puskesmas di 18 Kecamatan se Kabupaten OKI, Jum’at (3/11/2023) pagi. Pj. Bupati, Asmar mengatakan fogging serentak merupakan bagian dari upaya Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN)  agar […]

  • Kasus COVID Muba Terkini, Bertambah 17 Kasus Sembuh, 20 Positif, 2 Meninggal Dunia

    Kasus COVID Muba Terkini, Bertambah 17 Kasus Sembuh, 20 Positif, 2 Meninggal Dunia

    • calendar_month Kamis, 1 Jul 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.068
    • 0Komentar

    GUGUS Tugas Penanganan COVID-19 Muba, Kamis (1/7/2021) mengkonfirmasi ada penambahan 17 kasus sembuh, 20 positif, dan 2 meninggal dunia. “Ada penambahan 17 kasus sembuh, 20 positif, dan 2 meninggal dunia per 1 Juli 2021,” ungkap Jubir Gugus Tugas Penanganan COVID-19 Muba, dr Povi Pada Indarta SP P. Povi merinci, adapun penambahan kasus positif yakni kasus […]

  • Empat Lawang Sumsel, Polisi Amankan Petani yang Tanam Ganja di Kebun Kopi

    Empat Lawang Sumsel, Polisi Amankan Petani yang Tanam Ganja di Kebun Kopi

    • calendar_month Senin, 8 Nov 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 822
    • 0Komentar

    POLISI berhasil mengamankan petani di Desa Padang Tepung, Kabupaten Empat Lawang, Sumsel, HS (38) setelah diketahui menanam ganja di kebun kopi miliknya. Wakapolres Empat Lawang, Kompol Hendri Karoma, mengatakan terungkapnya ladang ganja ini setelah petugas mendapati informasi dari masyarakat bahwa ada ganja yang ditanam tersangka di kebun kopi miliknya. Kemudian tim mulai melakukan perjalanan menuju […]

  • Akhor Sebut Era Milenial, Era Politik Gagasan

    Akhor Sebut Era Milenial, Era Politik Gagasan

    • calendar_month Minggu, 18 Feb 2018
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.337
    • 0Komentar

    Problem – problem warga yang ada bisa diselesaikan dengan baik dan tepat sasaran.

  • PINGGIR JALAN : “Bendera Dijemur Seperti Sarung, Parjo Tetap Kibarkan Semangat 17-an!”

    PINGGIR JALAN : “Bendera Dijemur Seperti Sarung, Parjo Tetap Kibarkan Semangat 17-an!”

    • calendar_month Minggu, 3 Agt 2025
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 486
    • 0Komentar

    PAGI minggu pukul 07.00 di Jalan RE Marthadinata, Palembang, udara masih adem. Pohon-pohon tua berdiri tenang, daunnya bergoyang pelan, seolah menyambut tamu bulanan pedagang bendera musiman. Dari ujung Jalan May Zen sampai Sei Selayur, suasana mirip lomba fashion show, tapi pesertanya bukan model, melainkan bendera merah putih yang dijemur di tali plastik. Iya, betul… dijemur…..Bukan […]

expand_less
WordPress Archive WooCommerce Moneris Gateway WooCommerce MSRP Pricing CURCY - WooCommerce Multi Currency - Currency Switcher Woocommerce Multilingual WooCommerce Multiple Currencies WooCommerce Multiple Customer Addresses WooCommerce Multipurpose Responsive WordPress Theme – WizeStore WooCommerce MultiStep Checkout Wizard WooCommerce MultiVendor Marketplace Stripe Connect WooCommerce Name Your Price